tumben suremben bener !
 

-----Original Message-----
From: [email protected] 
[mailto:[email protected]]on Behalf Of agus reminto
Sent: Tuesday, August 04, 2009 3:29 PM
To: [email protected]; [email protected]; 
[email protected]; [email protected]; 
[email protected]; [email protected]; [email protected]
Subject: Re: -:: Milist NB::- Jatuh Cinta kepada Manohara.


  



tumben???

----- Original Message ----- 
From: rifky  <mailto:[email protected]> pradana 
To: ekonomi-nasional@ <mailto:[email protected]> yahoogroups.com 
; eramus...@yahoogrou <mailto:[email protected]> ps.com ; 
Forum-Pembaca- <mailto:[email protected]> 
[email protected] ; mediac...@yahoogrou <mailto:[email protected]> 
ps.com ; Nongkrong_Bareng2@ <mailto:[email protected]> 
yahoogroups.com ; sab...@yahoogroups. <mailto:[email protected]> com ; 
syiar-islam@ <mailto:[email protected]> yahoogroups.com 
Sent: Tuesday, August 04, 2009 3:09 PM
Subject: -:: Milist NB::- Jatuh Cinta kepada Manohara.


Ngiri juga nonton mBah Surip (almarhum) beradu pipi dengan si molek jelita 
Manohara. Siapa yang beruntung akan mempersuntingnya ?.



*



Siang tadi, di sebuah stasiun televisi swasta, menyiarkan berita bahwa mBah 
Surip telah meninggal dunia. Ditayangkan pula, sekilas, sebuah sekuen ketika 
mBah Surip yang telah dengan cepat dan sigap mbonceng naik ojek menuju ke 
lokasi Manohara sedang syutting. Kemudian dengan rela dan legowo menungguinya, 
sampai selesai syuting, untuk ngobrol-ngobrol dengan manohara.



Setelah Manohara selesai syutting, mereka pun bertemu. Biasa, didahului dengan 
cipika cipiki (wuih, ngiri juga nontonnya, melihat simbah beradu pipi dengan si 
molek jelita Manohara) lalu duduk bercengkerama, ngobrol berdua. Weleh, sebuah 
tontonan yang kontras, dandanan mBah Surip dengan fashionnya Manohara yang 
lengkap dengan aksesoris pemanisnya.



Harus diakui, Manohara memang cantik jelita. Posturnya semampai, menatap 
wajahnya seperti tertarik auranya yang bagai mengandung magnit. Matanya, aduh 
tak tahan menantang tatapannya berlama-lama. Kulitnya pun aduhai.



Belum lagi jika memperhatikan mannernya, melihatnya tersenyum, bertutur kata 
dan tindak tanduknya, solah bawane kuwi lho ora nguwati ati.



Jatuh cinta ?. Ya, enggak, belum sampai taraf itu. Kalau ngiler, barangkali 
memang iya.



Tapi, siapa sih laki-laki (normal) yang nggak kesengsem sama jelitanya Manohara 
?. 



Bisa dimengerti jika Pangeran Kelantan di negeri Jiran itu juga sampai jatuh 
cinta sama Manohara. 



Coba perhatikan, foto-foto posenya Manohara sewaktu masih menjadi Ratu di 
kesultanan Kelantan. Sangat pas, sesuai, jika dimahkotai sebagai seorang ratu 
di sebuah kasultanan yang bercukupan harta benda semacam kesultanan Kelantan 
itu.   



Saya membayangkan, andai Manohara mampu bertahan, bukan tak mungkin ia akan 
mendunia seperti sosok Ratu Farah Diba, seumpamanya. Sayangnya, takdir 
menentukan jalan lain. Konon, perlakuan suaminya membuatnya tak betah dan tak 
mampu untuk bertahan lebih lama lagi.



Disadarinya juga, walau dari segi manner dan penampilan serta gaya busananya 
memang sudah siap menjadi the first lady yang dipuja, namun usianya yang masih 
tergolong remaja, membuka kemungkinan belum siap dan matangnya bekal mental 
untuk mengikuti aturan-aturannya gaya kerajaan. Konon, memang tak mudah hidup 
dengan aturan aristrokrat bergaya ningrat di lingkungan monarki yang masih 
menggenggam kekuasaan politik semacam Kelantan itu.



Kita pernah mendengar bagaimana istri Putra Mahkota kekaisaran Jepang, juga 
mengalami kesulitan beradaptasi dengan aturan yang begitu mengekang. Putri 
Diana, dikabarkan juga demikian. Maka tak heran, andai Manohara pun mengalami 
hal yang serupa.



Sayangnya lagi, seharusnya perkawinan antar dua suku bangsa, apalagi di tingkat 
elit tingkat nasionalnya, akan membawa berkah yang berujung kepada semakin 
membaiknya hubungan antar kedua bangsa itu.



Dulu, di zaman Majapahit, kita pernah mendengar dari tutur sejarahnya bahwa 
permaisuri Raja Majapahit juga berasal dari Cempa atau Champa. Konon, putri 
Cempa ini berayahkan Raja Cempa dan beribukan seorang wanita dari keturunan 
Timur Tengah. Oleh sebab itu, berkait dengan hubungan darah dengan ibundanya, 
maka Sunan Ampel di Denta Surabaya, mendapatkan keistimewaan diberikan status 
Tanah Perdikan bagi lahan pesantrennya.



Kembali ke pokok bahasan, si jelita Manohara. Rupanya, suratan takdir sejarah 
hubungan kedua negeri, Malaysia dan Indonesia, tak mendapatkan berkah dari 
perkawinannya Pangeran dari Kelantan dengan gadis jelita Manohara dari 
Indonesia. 



Justru hubungan menjadi memburuk, karena andil kisruhnya perkawinan mereka. 
Belum lagi ditambah dengan muncul kembali secara tiba-tiba (saat kampanye 
Pilpres) kasus Ambalat, dan terkahir soal silang sengketa berita tentang si 
Noordin Top.  



Mudah-mudahan di masa depan, hubungan kedua bangsa akan kembali mesra, seperti 
sewaktu masanya Presiden Soeharto di Indonesia dengan Perdana Menteri Mahathir 
Muhammad di Malaysia. Sehingga, ramalan bahwa kebangkitan peradaban Islam yang 
katanya justru akan muncul dari Asia Tenggara (Indonesia dan Malaysia) akan 
mewujud, tak hanya sekedar ramalan saja.



Ah, bosan bicara tentang sejarah dan politi. Lebih baik bagaimana jika kita 
teruskan lagi ke bahasan semula, jatuh cinta kepada Manohara ?. 



Si dara jelita ini, sungguh patut dikasihani, iba hati kita. Di usianya yang 
masih belia, harus menjadi korban keadaan kejamnya dunia, menjadi Janda 
Kembang. 



Siapa yang berminat mempersuntingnya ?. Siapa yang akan beruntung menikahinya ?.



Aha, antrian panjang berderet (seperti antrian jerigen kosong ketika rakyat 
Indonesia ngantri minyak tanah) semestinya akan terjadi. Jika dibuka sayembara 
bagi siapa saja yang berminat mempersuntingnya.



Saya tak heran, karena memang tak berlebihan, andai ada yang sampai mengadopsi 
tekadnya Djarum (Demi Jandamu Aku Rela Untuk Mati) demi mendapatkan kemenangan 
di sayembara, sehingga terwujud bersanding di pelaminan dengan Manohara.



Ah, tapi itu impian dari lelaki dari desa saja, karena siapa sanggup 
membelikannya tas kulit merek Hermes yang konon harga satu buahnya sama dengan 
1 buah mobil Kijang Innova. Atau jika dibandingkan dengan harganya tas dengan 
model serupa yang diproduksi oleh perajin kecil di Tajur Katulampa kota Bogor, 
akan berjumlah lebih dari seribu buah tas.



Ah, sudahlah. Biarlah keinginan itu dipendam dalam hati dan diwujudkan dalam 
mimpi saja.



Adakah anda juga sedang jatuh cinta kepada Manohara ?.



Jangan malu, katakan saja dengan syairnya mBah Surip (almarhum)...I Love You 
Full...!!!  



Catatan Kaki :

Artikel ini dapat dibaca di Politikana dan Kompasiana .



***








Kirim email ke