akhir2 ini sering nyalain lilin krn sering mati listrik




________________________________
From: MANG UCUP <[email protected]>
To: IT <[email protected]>; Nongkronh 
<[email protected]>
Sent: Thu, December 17, 2009 8:57:06 AM
Subject: -:: Milist NB::- Lilin Natal

  

Lilin dalam bahasa Inggris disebut Candle yang
diserap dari bahasa Latin Cardere yang berarti Kelap-kelip. Lilin sudah
dikenal oleh bangsa Mesir sejak 3.000 tahun sebelum Masehi. Orang
Yahudi setiap Jumat sore 18 menit sebelum matahari terbenam selalu
menyalakan lilin untuk menyambut dimulainya hari Sabat. Pada jaman
Dinasti Sung (960-1279) mereka menggunakan lilin sebagai jam waktu.
Dengan cara jam-lilin yang diikat dengan logam berat. Begitu lilin
habis terbakar, benda berat itu terjatuh ke dalam wadah, yang serentak
menghasilkan bunyi nyaring dan keras. Lilin selain bisa digunakan
sebagai alat penerang bisa digunakan juga sebagai alat terapi (Candle
Healing).

Pada saat sekarang ini Lilin dan Natal sudah merupakan satu kesatuan
yang sukar untuk bisa dipisah lagi. Rasanya kalau kita merayakan Natal
tanpa adanya Lilin berarti ada sesuatu yang kurang. Maka tidaklah heran
apabila omset penjualan Lilin di Eropa 45% dilakukan pada saat
menjelang Natal. Sebenarnya tidak ada satu ayatpun dalam Alkitab yang
mengkaitkan antara Lilin dan Natal. Budaya Lilin ini diambil dari sejak
jaman Rumawi ketika mereka merayakan pesta Saturnalia (penyembahan Dewa
Saturn).

Bagi
umat Kristen, lilin itu merupakan simbol dari kelahiran Yesus yang
membawakan terang ke dalam dunia ini. Yoh 1:5 Terang itu bercahaya di
dalam kegelapan dan kegelapan itu tidak menguasainya dan (9a) Terang
yang sesungguhnya, yang menerangi setiap orang,… Disamping itu
kehadiran malaikat membawa kabar gembira bagi para gembala di padang di
mana kemuliaan Tuhan bersinar terang di tengah malam (Lukas 2:8-12)
merupakan analogi terhadap peran Yesus sebagai terang dunia. 

Lilin dapat membawa terang untuk melawan kegelapan. Terang selalu
menguasai kegelapan dan tidak pernah ditelan oleh kegelapan, betapapun
kecilnya terang itu. Lilin itu ikhlas berkorban membakar dirinya
sendiri agar dapat menjadi terang. Tanpa pengorbanan, sulit menjadi
terang. Lilin melambangkan keberanian untuk memberikan terang. Dan
mereka yang berada di dalam kegelapan pada suatu saat pasti akan
membutuhkan terang.

Umat Katolik sering menyalakan Lilin sambil berdoa. Lilin yang menyala
melambangkan suatu kurban, yang dilakukan sekaligus dengan
mempersembahkan doa dan menerima kehendak Tuhan. Sedangkan lilin
liturgi misalnya untuk Paskah minimum 51% bahan dasarnya harus dari
lilin lebah. Menurut St. Agustinus, lilin lebah merupakan lambang tubuh
Kristus, lambang kemanusiaan-Nya yang lahir dari seorang perawan
(seperti lilin lebah yang dihasilkan oleh lebah); sumbunya adalah jiwa
Kristus; dan nyala api adalah pikiran-Nya.

Lilin dalam dekorasi Advent Krans pada umumnya terdiri dari lima lilin.
Setiap minggu yang dilewati dinyalakan satu lilin, selama empat minggu
berturut-turut. Simbol warna lilin yang digunakan adalah tiga lilin
warna ungu sebagai lambang penyesalan dan pertobatan. Satu lilin merah
melambangkan sukacita. Sedangkan lilin besar yang ditengah berwarna
putih melambangkan Lilin Kristus. Lilin ini baru dinyalakan pada hari
Natal.

Alkisah ada Empat Lilin yang sedang menyala dengan kelap-kelip kecil.
Apabila kita datang dengan menghampirinya secara perlahan, kita akan
bisa mendengar suara lilin itu berbicara dengan lembut. Lilin Pertama:
“Aku adalah Damai, hanya sayangnya tidak ada lagi membutuhkan sinarku.
Aku merasa lelah” Api lilin tersebut mulai mengecil dan akhirnya padam.

Lilin Kedua: “Aku adalah Kepercayaan, tetapi tidak ada lagi yang bisa
dipercaya. Aku merasa sedih dan kecewa” Setelah itu datanglah angin
lembut yang menghembus padam Lilin tersebut.

Setelah itu Lilin Ketiga pun turut berbicara: “Aku adalah Harapan.
Tetapi sekarang ini sudah tidak ada yang bisa diharapkan lagi. Mereka
telah berubah menjadi egoist. Dimana mereka lebih saling mementingkan
diri sendiri daripada sesamanya.” Akhirnya padam pulalah Lilin yang
ketiga ini.

Setelah ketiga Lilin tersebut padam datanglah seorang anak kecil.
“Kenapa ketiga lilin ini padam?” Melihat itu ia merasa bersedih hati.
Berserulah Lilin yang ke empat: “Aku adalah Kasih, selama aku masih
menyala. Aku dapat membagikan api kasihku kepada mereka yang telah
padam agar bisa menyala kembali.” 

Setelah itu diambilah lilin yang ke empat oleh anak tersebut untuk
menyalakan kembali, ketiga lilin yang telah padam. Dengan api kasih,
kita dapat menghidupkan kembali rasa damai, kepercayaan maupun harapan
yang telah padam. Agar mereka bisa menyala dan terang kembali. Tidak
percaya? Cobalah, karena Natal adalah waktu yang tepat untuk saling
berbagi kasih dan menyalakan kembali api yang telah padam.

Selamat Hari Natal untuk para pembaca dan rekan-rekan yang budiman.
Disamping itu dengan ini juga saya mohon maaf, apabila ada pembaca yang
merasa tersinggung ataupun merasa kurang nyaman pada saat membaca
oret-oretan saya. Artikel ini adalah tulisan Mang Ucup yang yang
terakhir untuk tahun 2009, sebab saya akan pergi berlibur dahulu untuk
beberapa hari yang mendatang ini. Sampai jumpa kembali di tahun 2010.

Mang Ucup
Email: mang.ucup<at>gmail.com
Homepage: www.mangucup.org 





      

Kirim email ke