Dizaman sekarang sudah sama2 sepakat bahwa sikap membedakan orang atau disebut sebagai "diskriminasi" adalah tidak adil, tidak manusiawi, merupakan pelanggaran etika moral dan juga dianggap melanggar HAM.
Tapi dilain pihak waktu kita melamar kerjaan, ternyata para pelamar itu di-beda2kan, yang lulusan SMA gajinya lebih kecil dari yang bertitel sarjana, seorang ahli dibidang tertentu bergaji lebih besar dari mereka yang bukan ahli. Dan banyak lagi cara2 mem-beda2kan manusia atas berbagai dasar kepentingan masing2nya. Jadi diskriminasi yang dianggap melanggar HAM bukanlah tindakan atau sikap yang mem-beda2kan manusia atas dasar gendernya, ras-nya ataupun atas dasar agamanya. Karena mem-beda2kan manusia atas dasar predisposisinya yang terkait dalam gender, ras ataupun agama inilah yang dianggap sebagai pelanggaran HAM yang tidak boleh secara hukum dipraktekkan. Dalam kehidupan itu sendiri, memang setiap manusia ber-beda2 dalam kualitasnya itu sendiri dimana kualitas manusia satu bisa dimanfaatkan oleh manusia lainnya dalam kaitannya meningkatkan kualitas kehidupan secara keseluruhan itu sendiri. Itulah sebabnya, mem-beda2kan manusia atas dasar gender, ras atau agamanya sama sekali tidak memperbaiki kualitas kehidupan melainkan justru merusak kehidupan itu sendiri. Misalnya, pekerjaan kuli itu lebih banyak digunakan laki2 daripada perempuan karena perempuan umumnya lebih lembah dari laki2, oleh karena itu kalo yang diterima jadi kuli itu kebanyakan laki2 bukanlah karena adanya diskriminasi gender melainkan dari test masuk lamaran kerja itu sendiri dimana wanita banyak yang menolak melamar kerjaan jadi kuli dan laki2 lebih banyak mendominasi lamaran jadi kuli. Tapi kalo ada wanita yang memang melamar mau jadi kuli, maka salah kalo dia ditolak karena wanita, dia harus ditest dulu kalo memang kuat kenapa harus ditolak??? Bahkan dalam banyak contoh wanita2 secara fisik ada yang lebih kuat daripada laki2. Kaitan dengan kualitas tentunya berhubungan dengan pendidikan, latihan, pengalaman, dan juga berhubungan dengan bakat2 alamnya. Oleh karena itu wajar kalo dibandingkan dengan zaman purba dulu, maka rata2 manusia sekarang yang semuanya lulus SMA ditambah dengan lingkungan yang penuh dengan berbagai informasi seperti koran, majalah, TV, dan internet, maka tidak bisa disangkal kalo kualitas manusia sekarang jauh lebih baik ribuan kali lipat dengan manusia dizaman purba seperti dizaman kehidupan nabi Muhammad. Jadi, secara kualitas, tidak mungkin nabi Muhammad bisa dianggap sama atau lebih baik kualitasnya daripada manusia dizaman sekarang. Bahkan kalopun mendadak nabi Muhammad hidup lagi, bisa dipastikan dia cuma jadi pengangguran karena tidak punya keahlian apapun yang bisa dipertimbangkan siapapun untuk memberinya kerja dan gaji. > peni agustini <peni_agust...@...> wrote: > tuh kan keliatan gobloknya nih orang > kok mbedain dia ama Muhammad. jelas- > jelas gak ada bedanya gitu loh! sama- > sama manusia. terbukti to yang GOBLOK > itu yang bilang manusia dibumi ini beda > dengan Muhammad, wong sama manusianya > kok. persamaan secara mendasar aja gak > diakui, yakni manusia. apa dilahirkan > dari titisan batu yang muncrat dari > kawah gunung?? hahahahahahahaha > Demikian juga meskipun Muhammad itu nabi, sama sekali tidak punya kualitas untuk bisa disamakan dengan manusia sekarang yang jauh lebih baik kualitasnya dari Muhammad dizaman dulu. Nabi Muhammad tidak punya ijazah SMA, tidak pernah sekolah, bahkan buta huruf tidak bisa membaca. Boleh jadi, nabi Muhammad juga buta warna, berpenyakit kencing manis, juga allergi terhadap makanan tertentu, bahkan mungkin dia seorang schizophrenic dimana kesemua gangguan ini hanya bisa diperiksa oleh dokter ahli dengan bantuan alat2 kedokteran yang canggih dan tidak berpengaruh untuk dianggap sebagai nabi meskipun dengan segala kekurangan2 fisiknya. Nabi Muhammad itu berkulit hitam karena sepanjang hari dari kecilnya hidup dibawah sinar matahari yang tajam, dia juga berbadan pendek berhidung pesek. Diperkirakan tinggi badan nabi Muhammad hanya 149 cm, termasuk orang pendek dikampungnya sendiri dan dibawah rata2 tinggi orang Arab diwaktu itu. Biasanya orang yang berbadan pendek badannya lincah, pandai bawa diri, akalnya banyak, terkenal licik dan tidak pernah berterang mengutarakan apa yang ada dalam pikirannya. Jadi, Nabi itu bukanlah keahlian, bukanlah kelebihan, ada kalanya bisa jadi merupakan kekurangan, dan bagi yang mempercayainya bisa saja menjadi kelebihan, namun kelebihan2nya itu hanyalah merupakan khayalan atau angan2 mereka yang percaya yang tidak mungkin bisa dibuktikannya dengan uji coba secara realistis dengan fakta2. Ny. Muslim binti Muskitawati.
