ALLAH MAHA PENGAMPUN
Salah
satu dari sekian banyak nama Allah Yang Maha Terpuji (Asmaul Husna)
adalah Al ‘Afuwwu (Maha Pengampun). Arti nama ini menyerupai arti Al
Ghafur (Maha Pengampun). Tapi perbedaannya adalah Al Ghafur bermakna
menutupi dosa dan Al ‘Afuwwu bermakna melebur dosa. Sehingga Al Ghafur
terkadang bermakna menutupi dosa seseorang dan tiadalah siksa baginya,
tapi Allah SWT tidak meridhai apa yang dilakukannya. Adapun Al Afuwwu
berarti melebur dosa dan Allah SWT juga meridhainya, sehingga
seakan-akan dosa itu tidak pernah ada.
Kata Al ‘Afuwwu merupakan
bentuk yang lebih tinggi (mubalaghah) dari kata ‘afwu dan ‘aafiy.
Karena Al ‘Afwwu berarti mengampuni setiap saat, setiap waktu. Jika
kita sedang membaca Alquran dan mendapati kata Al ‘Afuwwu,
perhatikanlah bahwa kata ini selalu beriringan dengan menyebutkan
dosa-dosa besar.
Mungkin karena makna inilah, rasul mengajarkan
kepada umatnya agar selalu berdoa di malam lailatul qadar dengan
menyebut nama Al ‘Afuwwu ini.
Diriwayatkan dari Aisyah RA: “ Aku
bertanya, Ya rasul, bagaimana pendapatmu ketika aku mengetahui bahwa
suatu malam itu adalah malam lailatul qadar? Doa apa yang mesti
kupanjatkan?” Rasul pun mengucapkan doa: “Ya Allah, sesungguhnya
Engkaulah Yang Maha Pengampun lagi Maha Mulia, Engkau jualah yang
mencintai ampunan, maka ampunilah hamba-Mu.” (HR. Tirmidzi).
Tiada
ada yang dapat mengampuni dosa-dosa apalagi dosa besar kecuali Al
‘Afuwwu (ampunan) dari Allah SWT. Allah SWT selalu menerima taubat para
hambaNya. Karena itu, Dia mengutus para rasul untuk memberikan
pengajaran, dan menganugerahi manusia dengan bermacam-macam
ketaatan/ibadah. Dialah Zat Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang.
Coba kita resapi ampunan Allah SWT dengan merenungkan apa yang telah
disampaikan RasulNya.
Tidak
ada suatu hari pun kecuali lautan yang membentang luas itu akan meminta
ijin kepada Tuhannya. Lautan itu berkata, “Ya Tuhanku, ijinkanlah aku
untuk menenggelamkan anak cucu Adam! Sesungguhnya, merekamenghamba
kepada selainMu!”
Sedang langit juga berkata, “Ya Tuhanku,
ijinkanlah aku runtuh agar menimpa anak cucu Adam. Sesungguhnya, mereka
telah memakan rezekiMu, sedang mereka menyembah kepada selainMu.”
Sedang
bumi pun berkata, “Ya Tuhanku, ijinkan aku menelan anak cucu Adam.
Sungguh, mereka telah menelan rezekiMu, tapi mereka menghamba kepada
selainMu!”
Allah pun menjawab, “Tinggalkan mereka semua! Karena jika kalian telah
menciptakan mereka, tentu kalian akan menyayangi mereka!”
Dalam sebuah hadist
“Sesungguhnya,
tatkala hamba yang bermaksiat menengadahkan kedua tangannya ke langit,
dan berkata, “Ya Tuhanku.” Maka malaikat akan menutupi suaranya.
Kemudian, hamba itu mengulanginya lagi, “Ya Tuhanku”, Malaikatpun
menutupi suaranya lagi. Hamba itu lalu mengulanginya lagi “Ya Tuhanku”
Malaikatpun menghalangi suaranya. Kemudian ketika si hamba
mengulanginya untk keempat kali, “Ya Tuhanku.” Maka berfirmanlah Allah,
“Sampai kapan engkau akan terus menutupi suara hambaKu ini? Aku
memenuhi panggilanmu, wahai hambaKu; Aku memenuhi panggilanmu, wahai
hambaKu; Aku memenuhi panggilanmu, wahai hambaKu; Aku memenuhi
panggilanmu, wahai hambaKu.”
Sungguh, siapakah yang seharusnya
mengatakan “Aku memenuhi panggilanmu?” Hamba ataukah Tuannya? Dalam
keagungan dan kebesaranNya, Allah telah menjawab seorang hamba yang
hina dan penuh dosa maksiat dengan perkataan, “Aku memenuhi
panggilanmu” Sementara si hamba berada dalam kelalaian dan berada jauh
dari ketaatan kepadaNya. Maha Besar Allah….. Al ‘Afuwwu sang Pengampun
dosa.