pendapat saya, anda adalah muskitawati selanjutnya 
huahahahahahahahhaahhaahhahaa.......................muskitawati pasti setuju 
dengan ide itu, kalo saya si nggak dah, serem.heehhehhehehehe





________________________________
From: MANG UCUP <[email protected]>
To: IT <[email protected]>; Nongkronh 
<[email protected]>
Sent: Tue, April 20, 2010 9:11:58 AM
Subject: -:: Milist NB::- Sudah Bosan Hidup!

  
Pada awal bulan Februari yang lampau siaran TV Netwerk di Belanda mentayangkan 
reality show dimana seorang wanita lansia bunuh diri dihadapan kamera. 
Mengingat 
usianya sudah 99 tahun maka ia dibantu oleh Albert putera kandungnya dengan 
menggiling puluhan pil obat tidur sebelumnya untuk diramu dengan Yoghurt yang 
akhirnya diminum oleh nenek Moek Heringa, sebagai minuman terakhir di dalam 
hidupnya.

Nenek ini dalam keadaan sehat waalfiat. Ia tidak menderita 
sakit, stress entah apapun juga. Ia ingin melakukan bunuh diri ini hanya dengan 
satu alasan saja, karena ia merasa sudah bosan hidup, sehingga ia tidak mau 
menunggu untuk bisa hidup lebih lama lagi. Mang Ucup sendiri mendukung 
sepenuhnya keputusan mulia dari sang nenek tsb. 

Hidup itu bukanlah 
kewajiban melainkan hadiah, apabila ini hadiah, maka seyogiyanya kita harus 
diperkenankan juga untuk mengembalikan kembali kepada sang Pemberi. Bahkan 
disemua kitab ajaran agama di dunia ini menilai, bahwa kehidupan ini hanya 
sekedar pinjaman saja. Nah kalau saya sudah bosan meminjamnya, bukankah saya 
juga berhak untuk mengembalikannya lebih awal? Aneh bin nyata setiap manusia 
berhak untuk bisa hidup, tetapi tidak berhak untuk bisa mati!

Pada saat 
ini usia mang Ucup sudah mencapai 68 tahun, berarti sudah lebih dari cukup 
menjalani masa hidup saya. Disamping itu dengan saya melakukan bunuh diri, 
berarti saya bisa mengurangi beban bagi anggota keluarga yang ditinggalkan. 
Mereka tidak pelu bayar biaya rumah sakit, sedangkan saya sendiri tidak perlu 
menderita sebelumnya maut menjemput saya. Saya ingin mati secara wajar dirumah 
dalam lingkungan anggota keluarga yang saya kasihi. Pada jaman sekarang ini 
sudah jarang sekali di Eropa; orang bisa mati dengan wajar, tanpa harus mati di 
ICU rumah sakit dengan berbagai macam slang di hidung maupun dibadan. Apabila 
saya yang menentukan waktunya pulang ke alam baka, berarti sebelumnya saya bisa 
mengadakan pesta perpisahan terlebih dahulu dengan seluruh rekan-rekan maupun 
handai taulan saya; dalam suasana gembira dan penuh dengan rasa sukacita. 

Sebagai lagu terakhir akan diputar lagu “My Way” sebab inilah jalan 
pilihan terakhir yang telah saya tentukan dan pilih sendiri. Pil kematian akan 
diminum dengan Champagne Dom Perignon, sehingga dengan mana saya akan bisa mati 
dengan senyuman tersungging dibibir.

Manula yang melakukan bunuh diri 
adalah seorang pahlawan yang memiliki keberanian. Untuk ini ia berhak 
mendapatkan pahala, karena dengan demikian menyatakan bahwa dirinya tidak 
egoist 
dan rakus ingin hidup terus-menerus tanpa menghiraukan sang generasi penerus. 
- Apabila mang Ucup bunuh diri berarti anak istri saya; akan bisa lebih awal 
dan juga lebih lama menikmati warisan saya. 
- Dan warisan tsb tidak perlu 
disunat lagi untuk biaya rumah sakit maupun rumah jompo. 
- Mengurangi beban 
negara untuk bayar uang pesiun. 
- Mengurangi kemacetan di jalanan
- 
Memberikan kesempatan kepada istri untuk bisa kawin lagi dengan pasangan yang 
lebih muda
- Mengosongkan rumah maupun tempat saya hidup sehingga tidak 
mempersesak isi dunia ini.
- Mengurangi populasi penduduk dunia yang sudah 
padat
- Tidak merepotkan orang lain yang merasa diwajibkan untuk merawat saya 
dimasa tua. 
- Tidak membebankan Dr untuk memberikan suntikan mati seperti 
halnya pada pasien yang sudah sekarat. (Eutanasia)

Dengan begitu banyak 
pahala yang bisa didapatkan saya yakin akan masuk surga dan disambut oleh 
ratusan bidadari yang bahenol.

Pandangan seperti yang saya uraikan 
tersebut diatas ini bukanlah pandangan konyol dari mang Ucup sendiri melainkan 
didukung oleh banyak warga di Belanda. Pada tahun 1991 seorang ahli hukum 
Belanda Huid Drion mengusulkan agar setiap senior diatas 65 tahun diberikan pil 
obat bunuh diri (My Last Will Pill), sehingga apabila mereka sudah bosan hidup 
seperti mang Ucup sekarang ini, tinggal sekali Gle...ek diminum; berakhirlah 
sudah hidupnya. 

Pendapat ini didukung oleh lebih dari 43% warga Belanda. 
Setiap tahun lebih dari 400 orang senior bunuh diri di Belanda. Dengan adanya 
pil bunuh diri -My Last Will Pill- para senior tidak perlu harus bunuh diri 
dengan cara yang sangat mengenaskan misalnya gantung diri, atau terjun bebas 
dari mall ataupun menabrakan dirinya di kereta api.

Prinsip hidup mang 
Ucup adalah ketika saya muda; saya berusaha untuk bisa hidup dengan baik dan 
setelah saya tua, saya berusaha agar bisa mati dengan baik pula. Berarti mati 
tanpa harus menderita, dimana jalan satu-satunya ialah dengan cara mati lebih 
awal alias bunuh diri.

Hampir setiap pasien yang menderita penyakit parah 
selalu mengajukan dua pertanyaan standard kepada Dr perawatnya: Apakah saya 
masih bisa sembuh? – Berapa lama lagi masa hidup saya? Tetapi jarang sekali 
yang 
bertanya: Kapan saya bisa mati?

Pada saat ini para manula yang memiliki 
pandangan hidup seperti mang Ucup sedang mengusahakan untuk bisa mengumpulkan 
tanda tangan sebanyak 40.000; agar gagasan -My Last Will Pill- ini bisa 
diterima 
oleh pemerintah Belanda untuk didiskusikan dan dikemudian hari disahkan menjadi 
undang-undang seperti halnya undang-undang Eutanasia – hak mati bagi orang yang 
sakit parah untuk mengurangi penderitaan sang pasien. Belanda adalah negara 
pertama di dunia ini yang mensahkan undang-undang diperkenannya Eutaniasia pada 
tahun 2001.

Saya kira gagasan -My last will Pill- ini adalah gagasan yang 
sangat baik sekali untuk dipraktekan juga di Indonesia. Bagaimana pendapat 
anda?

Mang Ucup
Email: mang.ucup<at>gmail.com
Homepage: www.mangucup. org

 


      

Kirim email ke