Salam,
Silahkan Anda percaya pada keyakinan Anda sesuai HAM.Sebab kita akan kembali 
kepada  perselisihan apa dan siapa Tuhan atau Allah itu, sesuai keyakinan 
masing2 yang sah2 saja.Asal jangan bernafsu  mempenaruhi orang lain dengan 
gospel dan dakwah.Di agama lain tidak ada doktrin  yang menyusahkan manusia 
lain seperti ini..
Wasalam,
Wal Suparmo

--- Pada Sab, 24/4/10, saleh w siregar <[email protected]> menulis:


Dari: saleh w siregar <[email protected]>
Judul: Re: Bls: -:: Milist NB::- Sudah Bosan Hidup!
Kepada: [email protected]
Tanggal: Sabtu, 24 April, 2010, 8:53 PM


  









Pak Parmo,,saya sudah membuka kamus untuk itu..
dan kalaupun itu memang ada, sebenarnya yang membuat defenisi terminal decease 
itu siapa kira2 ?? jsngan2 yang mendefensikan terminal decease itu, dokter yang 
sudah bosan hidup kali ato yang selama hidupnya sakit hati terus 
hehe...sehingga dia gak sembuh2 hehe..

kalo menurut saya, Tuhan itu gak gila hormat dan gila disembah..
kalo ada yang gila hormat dan Gila disembah, itu bukan tuhan..orang 
namanya..kalo dia gila hormat dan gila disembah, berarti dia bisa juga dimaki 
maki dan dihina..


buktinya, silhakan aja dunia ini, penuh dengan manusia2 bejad, Dia gak rugi 
hehe...
loh, Dia kan gak butuh kita, justru kita-lah yang butuh Dia..

Dia ma gampang aja,,kamu gak mau, yaudah, kuganti aja dengan mahluk yang lain 
sesudahmu hehe..

regards,

--- On Thu, 4/22/10, Wal Suparmo <wal.suparmo@ yahoo.com> wrote:


From: Wal Suparmo <wal.suparmo@ yahoo.com>
Subject: Re: Bls: -:: Milist NB::- Sudah Bosan Hidup!
To: Nongkrong_Bareng2@ yahoogroups. com
Date: Thursday, April 22, 2010, 8:48 AM


  






Salam,
Pak Saleh kalau memiliki kamus,silahkan se-kali2 membukanya untuk tahu apa 
artinya terminal decease seperti kanker dsb.
Dan lebih bermutu jika mengomentari pertanyaan " Pak Dukun " tentang  Tuhan 
atau Allah.
Terimakasih.
Wasalam,
Wal Suparmo

--- Pada Rab, 21/4/10, saleh w siregar <salehw_siregar@ yahoo.com> menulis:


Dari: saleh w siregar <salehw_siregar@ yahoo.com>
Judul: Re: Bls: -:: Milist NB::- Sudah Bosan Hidup!
Kepada: Nongkrong_Bareng2@ yahoogroups. com
Tanggal: Rabu, 21 April, 2010, 7:41 PM


  






hehe..
komentarnya Pak Parmo lumayan lucu dan menggelitik. ..

iya sih, memang ada penyakit,,tapi masa penyakit gak bisa sembuh ? 
kalo gak bisa sembuh, terus mau ngapain,kita hidup..apakah kita hidup hanya 
untuk sakit2-an hehe..
itu logikanya..

emang ada penyakit seperti SAKIT TERMINAL ( tak dapat disembuhkan ) ??
kecuali yang sudah bosan hidup

regards,


--- On Wed, 4/21/10, Wal Suparmo <wal.suparmo@ yahoo.com> wrote:


From: Wal Suparmo <wal.suparmo@ yahoo.com>
Subject: Bls: -:: Milist NB::- Sudah Bosan Hidup!
To: "IT" <Informasi_Teknologi @yahoogroups. com>, Nongkrong_Bareng2@ 
yahoogroups. com
Date: Wednesday, April 21, 2010, 12:22 AM


  






Salam,
Saya kira semua orang yang normal fikirannya , berharap bisa mati dengan 
damai.Dalam arti tanpa menderita atau merasa sakit.Padahal sedikit sekali 
kemungkinan hal itu bisa terjadi.Sudah mati dengan kesakitan yang hebat dan 
harta habis pula untuk berobat dengan harapan: selama masih ada kehidupan, 
masih ada harapan( untuk sembuh).Dan kesembuhan harus diusahakan semaksimal 
mungkin.Supaya tidak menyesal ( no regret).
Apalagi masih ada kepercayaan berdasar agama bahwa  mencabut nyawa sendiri 
adalah dosa.
Bagaimana jika pada kasus  SAKIT TERMINAL( tak dapat disembuhkan) , pasien 
menolak segala macam pengobatan dan pada detik terakhir biasanya dokter 
terpaksa memberikan obat (bius) untuk meringankan pendeitaan pasien.Sehingga 
pasien bisa mati dengan terlalu hebat menderita.Banyak dokter sendiri yang 
sudah melakukan hal itu.
Sekarang timbul pertanyaan mbah Dukun bahwa Tuhan/Allah sebenarnya sangat kejam 
dengan menciptakan manusia diluar kemauan manusia itu sendiri, untuk menderita 
di dunia dan malah gila hormat supaya disembah oleh manusia.Bagaimana komentar 
para pembaca berdasarkan LOGIKA bukan dongeng agama?
Wasalam,
Wal Suparmo

--- Pada Sel, 20/4/10, MANG UCUP <mang.u...@gmail. com> menulis:


Dari: MANG UCUP <mang.u...@gmail. com>
Judul: -:: Milist NB::- Sudah Bosan Hidup!
Kepada: "IT" <Informasi_Teknologi @yahoogroups. com>, "Nongkronh" 
<Nongkrong_Bareng2@ yahoogroups. com>
Tanggal: Selasa, 20 April, 2010, 9:11 AM


  

Pada awal bulan Februari yang lampau siaran TV Netwerk di Belanda mentayangkan 
reality show dimana seorang wanita lansia bunuh diri dihadapan kamera. 
Mengingat usianya sudah 99 tahun maka ia dibantu oleh Albert putera kandungnya 
dengan menggiling puluhan pil obat tidur sebelumnya untuk diramu dengan Yoghurt 
yang akhirnya diminum oleh nenek Moek Heringa, sebagai minuman terakhir di 
dalam hidupnya.

Nenek ini dalam keadaan sehat waalfiat. Ia tidak menderita sakit, stress entah 
apapun juga. Ia ingin melakukan bunuh diri ini hanya dengan satu alasan saja, 
karena ia merasa sudah bosan hidup, sehingga ia tidak mau menunggu untuk bisa 
hidup lebih lama lagi. Mang Ucup sendiri mendukung sepenuhnya keputusan mulia 
dari sang nenek tsb. 

Hidup itu bukanlah kewajiban melainkan hadiah, apabila ini hadiah, maka 
seyogiyanya kita harus diperkenankan juga untuk mengembalikan kembali kepada 
sang Pemberi. Bahkan disemua kitab ajaran agama di dunia ini menilai, bahwa 
kehidupan ini hanya sekedar pinjaman saja. Nah kalau saya sudah bosan 
meminjamnya, bukankah saya juga berhak untuk mengembalikannya lebih awal? Aneh 
bin nyata setiap manusia berhak untuk bisa hidup, tetapi tidak berhak untuk 
bisa mati!

Pada saat ini usia mang Ucup sudah mencapai 68 tahun, berarti sudah lebih dari 
cukup menjalani masa hidup saya. Disamping itu dengan saya melakukan bunuh 
diri, berarti saya bisa mengurangi beban bagi anggota keluarga yang 
ditinggalkan. Mereka tidak pelu bayar biaya rumah sakit, sedangkan saya sendiri 
tidak perlu menderita sebelumnya maut menjemput saya. Saya ingin mati secara 
wajar dirumah dalam lingkungan anggota keluarga yang saya kasihi. Pada jaman 
sekarang ini sudah jarang sekali di Eropa; orang bisa mati dengan wajar, tanpa 
harus mati di ICU rumah sakit dengan berbagai macam slang di hidung maupun 
dibadan. Apabila saya yang menentukan waktunya pulang ke alam baka, berarti 
sebelumnya saya bisa mengadakan pesta perpisahan terlebih dahulu dengan seluruh 
rekan-rekan maupun handai taulan saya; dalam suasana gembira dan penuh dengan 
rasa sukacita. 

Sebagai lagu terakhir akan diputar lagu “My Way” sebab inilah jalan pilihan 
terakhir yang telah saya tentukan dan pilih sendiri. Pil kematian akan diminum 
dengan Champagne Dom Perignon, sehingga dengan mana saya akan bisa mati dengan 
senyuman tersungging dibibir.

Manula yang melakukan bunuh diri adalah seorang pahlawan yang memiliki 
keberanian. Untuk ini ia berhak mendapatkan pahala, karena dengan demikian 
menyatakan bahwa dirinya tidak egoist dan rakus ingin hidup terus-menerus tanpa 
menghiraukan sang generasi penerus. 
- Apabila mang Ucup bunuh diri berarti anak istri saya; akan bisa lebih awal 
dan juga lebih lama menikmati warisan saya. 
- Dan warisan tsb tidak perlu disunat lagi untuk biaya rumah sakit maupun rumah 
jompo. 
- Mengurangi beban negara untuk bayar uang pesiun. 
- Mengurangi kemacetan di jalanan
- Memberikan kesempatan kepada istri untuk bisa kawin lagi dengan pasangan yang 
lebih muda
- Mengosongkan rumah maupun tempat saya hidup sehingga tidak mempersesak isi 
dunia ini.
- Mengurangi populasi penduduk dunia yang sudah padat
- Tidak merepotkan orang lain yang merasa diwajibkan untuk merawat saya dimasa 
tua. 
- Tidak membebankan Dr untuk memberikan suntikan mati seperti halnya pada 
pasien yang sudah sekarat. (Eutanasia)

Dengan begitu banyak pahala yang bisa didapatkan saya yakin akan masuk surga 
dan disambut oleh ratusan bidadari yang bahenol.

Pandangan seperti yang saya uraikan tersebut diatas ini bukanlah pandangan 
konyol dari mang Ucup sendiri melainkan didukung oleh banyak warga di Belanda. 
Pada tahun 1991 seorang ahli hukum Belanda Huid Drion mengusulkan agar setiap 
senior diatas 65 tahun diberikan pil obat bunuh diri (My Last Will Pill), 
sehingga apabila mereka sudah bosan hidup seperti mang Ucup sekarang ini, 
tinggal sekali Gle...ek diminum; berakhirlah sudah hidupnya. 

Pendapat ini didukung oleh lebih dari 43% warga Belanda. Setiap tahun lebih 
dari 400 orang senior bunuh diri di Belanda. Dengan adanya pil bunuh diri -My 
Last Will Pill- para senior tidak perlu harus bunuh diri dengan cara yang 
sangat mengenaskan misalnya gantung diri, atau terjun bebas dari mall ataupun 
menabrakan dirinya di kereta api.

Prinsip hidup mang Ucup adalah ketika saya muda; saya berusaha untuk bisa hidup 
dengan baik dan setelah saya tua, saya berusaha agar bisa mati dengan baik 
pula. Berarti mati tanpa harus menderita, dimana jalan satu-satunya ialah 
dengan cara mati lebih awal alias bunuh diri.

Hampir setiap pasien yang menderita penyakit parah selalu mengajukan dua 
pertanyaan standard kepada Dr perawatnya: Apakah saya masih bisa sembuh? – 
Berapa lama lagi masa hidup saya? Tetapi jarang sekali yang bertanya: Kapan 
saya bisa mati?

Pada saat ini para manula yang memiliki pandangan hidup seperti mang Ucup 
sedang mengusahakan untuk bisa mengumpulkan tanda tangan sebanyak 40.000; agar 
gagasan -My Last Will Pill- ini bisa diterima oleh pemerintah Belanda untuk 
didiskusikan dan dikemudian hari disahkan menjadi undang-undang seperti halnya 
undang-undang Eutanasia – hak mati bagi orang yang sakit parah untuk mengurangi 
penderitaan sang pasien. Belanda adalah negara pertama di dunia ini yang 
mensahkan undang-undang diperkenannya Eutaniasia pada tahun 2001.

Saya kira gagasan -My last will Pill- ini adalah gagasan yang sangat baik 
sekali untuk dipraktekan juga di Indonesia. Bagaimana pendapat anda?

Mang Ucup
Email: mang.ucup<at>gmail.com
Homepage: www.mangucup. org











Kirim email ke