Salam,
Tidak ada pemaksaan dalam dakwah Islam alias tidak ada pemaksaan untuk masuk 
Islam. Semuanya dilakukan dengan suka rela demi rahmatan lil alamin atau Islam 
adalah kebahagiaan bagi seluruh dunia.Wanita yang masuk Islam 
sepenuhnya dengan  KESADARAN  atas FITRAHNYA hanya sebagai mahluk atau manusia 
klas dua karena berasal dari sempalan lelaki.Dan dengan demikian harus menurut 
apa kata kaum lelaki. Karena Islam  meninggikan derajat wanita yang harus 
selalu dilindungi oleh kaum lelaki demi kebahagian kaum wanita sendiri.,tanpa 
perlu bersuara.
Wasalam,
Wal Suparmo
Wasalam,
Wal Suparmo

--- Pada Rab, 21/4/10, Sutarmin <[email protected]> menulis:


Dari: Sutarmin <[email protected]>
Judul: -:: Milist NB::- RE: [Debate Religious Spirituality] Aku Adalah Kartini 
Indonesia !!!
Kepada: [email protected], 
[email protected]
Tanggal: Rabu, 21 April, 2010, 3:26 PM


  





 
beropini boleh saja sich gak ada yang larang……………


From: debate-religious- spirituality@ yahoogroups. com [mailto:debate- 
religious- spirituality@ yahoogroups. com] On Behalf Of muskitawati
Sent: Wednesday, April 21, 2010 3:19 PM
To: debate-religious- spirituality@ yahoogroups. com
Subject: [Debate Religious Spirituality] Aku Adalah Kartini Indonesia !!!
 
  



Aku Adalah Kartini Indonesia !!!

Kartini adalah orang Belanda, dia bukan warganegara Indonesia, bahkan selama 
hidupnya belum pernah dia mendengar ada negara bernama Indonesia.

Kartini memang adalah orang Belanda, tapi dia telah dinobatkan menjadi 
idealisme wanita Indonesia penentang Syariah Islam.

Ayah-ibunya dan nenek moyangnya beragama Islam Kejawen bukan Islam Habib. Tapi 
Kartini sendiri mengaku penganut Catholic sewaktu dia belajar di Belanda, dan 
memang dia rajin ke Gereja Catholic. Dia mengagumi wanita2 Barat bukan wanita2 
Arab. Setelah berada di Indonesia, ternyata dia juga menganut agama Buddha 
tanpa harus keluar dari agama Catholic bahkan tanpa menentang Islam Kejawen 
dari orang tuanya. Ternyata Kartini sangat rajin bersemedhi di kelenteng Buddha 
yang terletak persis dibelakang rumahnya.

Kartini ber-cita2 semua wanita di Indonesia bisa meneladani wanita2 Eropah 
dalam hal kebebasan memilih suami, kebebasan berbusana, kebebasan bersekolah, 
dan kebebasan memilih kepercayaan agamanya.

Kartini terang2an mengkritik Islam dengan poligaminya, meskipun Kartini sendiri 
adalah isteri keempat dari laki2 yang dipilih orang tuanya. Kartini tidak tega 
menolak keinginan orang tuanya yang sedang sakit sewaktu menikahkan dirinya.

Kartini mengkritik shalat 5 waktu karena merugikan umat dalam mengejar 
pelajaran2 sekolahnya maupun kesempatan2 sekolahnya. Juga Kartini menolak 
menghafalkan Quran ataupun mempelajari huruf2 Arab.

Jadi jelas disini, apa yang menjadi idealisme Kartini bukanlah hal yang baru. 
Yang membedakannya justru, karena Kartini ditunjuk, diangkat, dan dibanggakan 
bangsanya yang kemudian menjadi bangsa Indonesia sebagai model atau idealisme 
bagi wanita Indonesia.

Kalo Islam menggunakan sunah nabi Muhammad, maka wanita Indonesia menggunakan 
"sunah ibu kita Kartini".

Dengan perayaan hari Kartini, kita sudah membangun benteng kokoh untuk 
menentang Syariah Islam.

Kita butuh Kartini untuk menentang Syariah Islam, karena hingga detik ini belum 
ada siapapun di Indonesia yang berani menentang Syariah Islam seperti halnya 
Kartini.

Kenapa Kartini berani menentang Syariah Islam??? Karena dulu belum ada Republik 
Indonesia yang belakangan membuka kesempatan bagi Syariah Islam men-cabik2 
idealisme negeri ini dengan idealisme Islam Habib dan menghancurkan Islam 
Kejawen.

Akulah Kartini Indonesia, bukan Kartini Belanda, karena Kartini Belanda yang 
dulu sekarang sudah masuk jadi warganegara Indonesia.

Ny. Muslim binti Muskitawati.








Kirim email ke