Salam,
Karena itu maka lagu DARAH RAKYAT , TETAP masih relevan.Dengan kata2 " RAKYAT 
YANG MENJADI HAKIM ".Hanya kata " AYO BERTONTAK ", sekarang diganti dengan 
" AYO PERJUANG SEKARANG" dsb.
Wasalam,
Wal Suparmo

--- Pada Sel, 4/5/10, Umar Said <[email protected]> menulis:


Dari: Umar Said <[email protected]>
Judul: -:: Milist NB::- Perkembangan yang menarik tentang Hari Buruh 1 Mei
Kepada: [email protected]
Tanggal: Selasa, 4 Mei, 2010, 2:08 AM


  






Tulisan ini juga disajikan dalam website http://umarsaid. free.fr yang sampai 
sekarang 
sudah dikunjungi lebih dari 604 050 kali



            Perkembangan yang menarik 
            tentang Hari Buruh 1 Mei  2010

Hari Buruh Sedunia 1 Mei telah dirayakan di banyak tempat di Indonesia, dengan 
sejumlah hal yang menarik untuk diperhatikan oleh kita semua, karena bisa 
mempunyai arti yang penting bagi perkembangan situasi bangsa dan negara  kita 
di kemudian hari.
Pertama-tama adalah betapa besarnya partisipasi kalangan mahasiswa dalam 
berbagai kegiatan  untuk merayakan hari besar gerakan buruh ini. Kedua, 
banyaknya kalangan buruh dari berbagai macam golongan yang mengadakan pawai 
atau demonstrasi di banyak kota negeri kita.. Ketiga, ikut sertanya kalangan 
Islam dalam jumlah yang lumayan besarnya. Ke-empat makin banyaknya bendera 
merah yang dikibarkan di banyak tempat. Ke-lima makin tingginya dan luasnya isi 
tuntutan yang disuarakan dalam aksi-aksi  pada Hari Buruh 1 Mei.
Semua itu menunjukkan bahwa situasi di negeri kita sudah mulai berubah, 
walaupun  perlahan-lahan dan belum banyak dan masih terbatas, dibandingkan 
dengan masa yang sangat gelap dan pengap sekali selama masa Orde Baru. Sebagian 
dari hal-hal itu dapat disaksikan dalam siaran TV  oleh pemirsa di seluruh 
negeri, sehingga bisa merupakan pendidikan untuk meningkatkan kesedaran  
politik bagi rakyat banyak.
Bersatunya  gerakan mahasiswa dengan gerakan buruh
Dari tayangan TV, ditambah dengan banyaknya berita-berita dalam media cetak, 
kelihatan jelas adanya perkembangan yang menggembirakan, yaitu partisipasi yang 
makin besar kalangan mahasiswa di negeri kita dalam aksi-aksi politik dan 
sosial. Kalau dalam menghadapi kasus-kasus  korupsi (contohnya BLBI, kejahatan 
di kalangan POLRI, penyelewengan di Kejaksaan ; kasus besar perpajakan, Bank 
Century, Gayus Tambunan, Syahril Johan dll dll)  berbagai aksi telah 
dilancarkan selama ini, maka partisipasi kalangan mahasiswa yang massif dalam 
perayaan Hari 1 Mei 2010 menunjukkan perkembangan yang penting bagi kemudian 
hari kehidupan bangsa kita.
Di banyak kota-kota di seluruh Indonesia, kalangan mahasiswa dari berbagai 
aliran politik dan ideologi (nasionalis, agama, kiri atau progressif)  mulai 
menyatukan perjuangan mereka dengan perjuangan gerakan buruh. Bersatunya 
gerakan mahasiswa dengan gerakan buruh merupakan pendorong yang amat  penting 
untuk berkembangna perjuangan revolusioner rakyat menuju perubahan-perubahan 
besar dan fundamental.
Sebab, bersatunya gerakan mahasiswa dengan gerakan buruh mengindikasikan 
menjauhnya jarak mereka dari partai-partai politik (yang duduk dalam DPR dan 
pemerintahan) , dan mendorong mereka untuk menjadi kekuatan rakyat yang lebih 
independen, dan bukan hanya embel-embel atau kakitangan atau alat dari golongan 
yang berkuasa saja.
Aksi-aksi bersama di seluruh negeri
Aksi-aksi bersama yang bisa diadakan oleh berbagai kalangan masyarakat di 
banyak kota besar dan kota kecil di Sumatera, Jawa, Kalimantan, Sulawesi, Nusa 
Tenggara dll dll untuk merayakan Hari Buruh 1 Mei 2010 mengindikasikan juga 
perkembangan lainnya yang menarik dan penting.
Ini berarti bahwa Hari Buruh 1 Mei yang selama puluhan tahun dilarang rejim 
militer Suharto, dan banyak kalangan tadinya menganggapnya berbahaya ( !)  
untuk negara dan bangsa,  sekarang ini sudah mulai mendapat simpati yang makin 
meluas. 
Aksi-aksi di berbagai kota besar dan kecil  pada pokoknya sudah tidak bisa lagi 
dilarang oleh penguasa-penguasa di Pusat maupun di daerah, baik polisi maupun 
militer. Kalau ada larangan atau pembatasan-pembatas an yang keterlaluan, sudah 
tidak digubris lagi. Pemerintah sudah tidak « berwibawa » lagi  dan tidak bisa 
bertindak sewenang-wenang pula menghadapi aksi-aksi bersama dari berbagai 
golongan ini. 
Partisipasi kalangan Islam adalah penting sekali.
Fenomena yang patut juga diperhatikan adalah partisipasi (walaupun belum besar 
dan masih sporadis atau terpencar-pencar) dari kalangan Islam dalam kegiatan 
Hari Buruh 1 Mei. Contoh yang cukup penting adalah pertemuan para pimpinan 
aktivis buruh dari berbagai organisasi yang berkumpul di aula kantor pengurus 
Besar Nahdlatul Ulama (PBNU), Jl Kramat Raya 164 Jakarta, dalam rangka 
persiapan aksi merayakan "May Day' 1 Mei .2010. Ketua PBNU KH Abbas Mu’in dalam 
kesempatan itu ikut berbicara. 
Di Jakarta, Bandung, Jogja, Semarang, Solo, Surabaya, Malang, Makasar, Medan, 
Lampung dan banyak kota-kota lainnya , golongan Islam dalam kalangan mahasiswa 
dan buruh, ikut secara aktif dalam berbagai kegiatan.
Hal ini juga juga menggembirakan, kalau mengingat bahwa dalam jangka yang lama 
sekali di masa yang lalu, kalangan Islam dalam berbagai golongan  umumnya 
bersikap memusuhi atau menjauhi gerakan buruh yang merayakan Hari Buruh 1 Mei.
Partisipasi golongan Islam dalam gerakan buruh adalah amat penting, mengingat 
bahwa sebagian terbesar kaum buruh Indonesia, yang ditindas atau diperas oleh 
klas reaksioner nasional  maupun internasional justru terdiri dari pemeluk 
Islam. Jadi perjuangan menghadapi penghisapan dan ketidakadilan oleh 
neo-liberalisme beserta antek-anteknya di dalam negeri adalah satu perjuangan 
dan  satu tujuan, antara golongan Islam dan non-Islam (termasuk golongan kiri). 
 Bendera merah berkibar di banyak tempat
Pemandangan yang menunjukkan  arti  penting lainnya adalah banyaknya bendera 
merah yang dikibarkan oleh berbagai golongan dalam  pawai atau demonstrasi 
dimana-mana. Ini berarti bahwa bendera merah yang sudah lama dianggap « momok » 
oleh kalangan  pendukung rejim militer Suharto sekarang sudah mulai juga 
berobah menjadi kebanggaan bagi mereka yang berjuang untuk melawan penindasan, 
pemerasan dan ketidakadilan.
Bendera merah yang banyak dikibarkan oleh gerakan buruh di dunia, dan oleh 
gerakan revolusioner atau gerakan kiri pada  umumnya, sudah menjadi simbul 
perjuangan bersama,   di banyak tempat di Indonesia dalam merayakan Hari 1 Mei.
Ini berarti bahwa bendera merah bukanlah lagi hanya milik golongan kiri saja, 
melainkan sudah menjadi milik bersama dari semua golongan yang melakukan 
perjuangan dengan sungguh-sungguh untuk kepentingan rakyat banyak,  terutama 
sekali rakyat miskin.
Tuntutan politik dan sosial-ekonomi kaum buruh
Sesuai dengan keadaan politik, ekonomi dan sosial yang dihadapi oleh kaum buruh 
atau rakyat dewasa ini di negeri kita, maka Hari Buruh 1 Mei 2010 telah 
digunakan untuk menyuarakan protes dan tuntutan kaum buruh serta rakyat luas 
tentang berbagai masalah besar yang mendesak.
Contohnya, kepada pemerintah dituntut agar berani melakukan perombakan-perombak 
an mendasar terhadap kebijakan ekonomi yang saat ini dianut, agar tidak 
menambah panjang jumlah korban pengangguran, sistem outsourcing serta PHK 
sepihak
Contoh lainnya, tuntutan supaya tanggal 1 Mei dijadikan hari libur nasional 
juga disuarakan, antara lain oleh pengunjuk rasa dari kota Malang, kabupaten 
Malang dan kota Batu, yang tergabung dalam Forum Perjuangan Rakyat Malang.
Dalam aksi-aksi di banyak tempat lainnya (Jakarta, Bandung, Jogya, Semarang, 
Surabaya, Makassar, Medan, Palembang, Lampung dll dll) telah disuarakan 
tuntutan segera dihentikannya perampasan upah, tanah dan kerja. Soal tanah kaum 
buruh menolak penggusuran, sedangkan soal upah mereka menuntut upah yang layak. 
Juga dituntut pendidikan gratis di semua jenjang pendidikan.
Dalam aksi-aksi yang dilakukan di Jakarta oleh 54 elemen  (macam-macam 
organisasi, serikat buruh, LSM) telah dikumandangkan berbagai kritik pedas 
terhadap situasi politik, ekoinomi dan  sosial dewasa ini sebagai akibat buruk 
dari sistem pemerintahan SBY, termasuk berbagai sikap yang terlalu 
menguntungkan neo-liberalisme. 
 
Gerakan extra-parlementer mulai muncul.
 
Dari semua itu kiranya dapat kita lihat mulai munculnya perkembangan baru  
(walaupun belum banyak) di negeri kita. Perkembangan baru ini, walaupun masih 
sedikit, sudah makin tidak menguntungkan lagi bagi kekuatan-kekuatan sisa-sisa 
Orde Baru.
 
Lahirnya perkembangan baru ini didorong oleh  menghebatnya di seluruh negeri 
gerakan berbagai golongan masyarakat (terutama kalangan muda, mahasiswa, buruh, 
tani, perempuan) melawan korupsi dan bermacam-macam  kejahatan besar lainnya 
oleh kalangan atas.
 
Sudah menjadi pengetahuan umum bagi banyak orang bahwa kebanyakan korupsi yang 
melanda negeri kita  -- jangan lupa : sejak lama ! -- justru dilakukan oleh 
orang-orang (sipil maupun milliter, dan juga  swasta) yang biasanya pro Orde 
Baru dan reaksioner, yang anti berbagai politik Bung Karno, dan yang karenanya 
juga pro neo-liberalisme.
 
Dari segi ini pulalah kita bisa melihat bahwa gerakan besar-besaran --  oleh 
bermacam-macam golongan dalam masyarakat --untuk melawan korupsi dan berbagai 
ketidakberesan dewasa ini juga mengandung arti melawan sisa-sisa buruk Orde 
Barunya Suharto.  
 
Gerakan besar-besaran ini , yang dimotori terutama oleh gerakan buruh dan tani 
dan mahasiswa, bisa nantinya menjadi gerakan extra-parlementer. Negara dan 
bangsa kita sangat membutuhkan adanya gerakan extra-parlemneter yang kuat, dan 
yang mendapat dukungan yang luas dari rakyat. Gerakan extra-parlementer yang 
besar dan kuat adalah senjata, payung, dan sekaligus juga benteng bagi 
perjuangan rakyat dalam membela kepentingan- kepentingannya.
 
Sebab, berbagai indikasi sudah menunjukkan bahwa rakyat sudah tidak bisa –juga 
tidak boleh !!! – menggantungkan nasibnya hanya dan melulu kepada pemerintah, 
atau DPR, atau partai-partai politik, yang tidak pro-rakyat, terutama rakyat 
miskin.
 
Paris, 3 Mei 2010 
 
A.  Umar Said
 






Kirim email ke