----- Forwarded by NURYANI YEID/YAMAHA on 05/06/2010 02:30 PM -----

Joko Purwanto <[email protected]> 
Sent by: 
05/06/2010 01:37 PM



To
vio prasetyo <[email protected]>, i 
<[email protected]>, 
[email protected], [email protected]
cc

Subject
(Be...GeN:2350) SRI (KANDI) MULYANI






SRI (KANDI) MULYANI 
 
Namanya identik dengan kepahlawanan, mengingatkan akan tokoh dalam 
pewayangan Sri Kandi. Tidaklah berlebihan kalau Sri Mulyani Indrawati 
(SMI) banyak mendapat pujian baik di rana internasional maupun nasional, 
mengingat prestasinya yang luar biasa.

Menteri keuangan Indonesia ini, akhir-akhir ini banyak mendapat serangan 
dari kalangan segelintir politikus egois dan arogan, berkaitan dengan 
kasus Bank Century.
Saya sebut egois dan arogan karena mereka merasa paling benar - apalagi 
dengan titel anggota DPR-nya. Segelintir mereka dipilih oleh hanya 300 
ribuan, sudah merasa tinggi derajadnya sebagai manusia Indonesia. 
Pemilihnya pun belum tentu sejalan dengan mereka. 

Dunia politik penuh dengan kebusukan, jauh dari kejujuran. Manakala dunia 
terancam krisis ekonomi global, yang dampaknya juga dapat mengimbas 
Indonesia, semua merasa cemas. Namun ketika keberhasilan mengatasi krisis 
tersebut dicapai, orang lupa bahwa ada pihak-pihak yang telah bekerja 
keras untuk mencegah krisis itu terjadi. 

Bangsa ini tidak biasa memberikan pujian terhadap 'lawan' yang berhasil 
meraih prestasi, sebaliknya suka menghujat habis-habisan manakala ada 
celah untuk menyerang lawannya.

Mentalitas politikus kita sangat menyedihkan. Maunya menang sendiri, 
merasa benar sendiri.

Belajarlah dari politikus Amerika. Lihatlah, ketika hasil perhitungan 
suara menunjukkan Obama sebagi pemenang, dengan elegan Bush mengucapkan 
selamat. Begitu pula menjelang detik-detik pelantikan Obama, secara khusus 
Obama dan Bush beramah-tamah.

Bagaimana dengan Indonesia ? Dendam kesumat Megawati terhadap SBY, 
misalnya, membuat keduanya tidak bisa bertemu sebagaimana 2 kepala negara 
Amerika tsb. Inilah contoh karakter politikus kita, yang jauh dari elegan 
ataupun kejujuran. Hatinya kelam, diliputi kedengkian. Sulit menerima 
kenyataan bahwa orang lain menerima amanah, karunia dan nikmat dari Yang 
Maha Kuasa.

Serangan membabi buta terhadap SMI tidak lain hanyalah skenario serangan 
politik terhadap kepemimpinan RI 1. 

Para penyerang, akan bersorak kegirangan manakala Sri Mulyani tidak lagi 
di Kabinet. Kenapa ? Karena selama ini kebijakan ekonomi Sri Mulyani 
banyak menghantam bisnis konglomerat (yang juga pengurus partai besar). 
Kalau Srikandi kita ini tidak lagi di kabinet, maka mereka akan semaunya 
sendiri mengutak-atik aturan-aturan bisnis di negeri ini - termasuk pajak.

Pengganti Sri Mulyani tidak akan serta merta bisa mengatasi perekonomian. 
Dia masih butuh waktu berbulan-bulan untuk mempelajari segala-sesuatunya, 
termasuk memanage internal instansinya. Akibatnya, roda perekonomian juga 
terganggu.

Ada yang diuntungkan dengan situasi dan kondisi buruk ini :
1. Lawan politik pemerintah. Mereka akan dapat banyak amunisi untuk 
menyerang. Kondisi ekonomi paska Sri Mulyani akan jadi senjata utama.

2. Politikus-pebisnis. Kelompok ini sudah lama berseberangan dengan Sri 
Mulyani. Tentu saja karena selama ini kebijakan ekonomi Sri Mulyani 
membuat meraka terpojok, seperi kasus pajak tambang dll. Kelompok ini 
bagaikan bunglon, mudah berganti kulit. Tengoklah ke belakang, sebelum 
pilpres mereka berbondong-bondong mendukung calon - berlatar belakang 
saudagar - yang cenderung menguntungkan bisnisnya. Ketika kandidat 
dukungannya itu jeblok di pilpres, dengan secepat kilat mereka ganti 
haluan : merapat ke pemenang pilpres.

Partai pun jadi alat tunggangan. Tiba-tiba partainya ganti haluan, tidak 
oposisi lagi. Tapi ketika hingar bingar di senayan sehubungan dengan 
pemungutan suara atas kasus Bang Century, mereka barbalik 180 derajat.


Ada pepata dalam bahasa Jawa : "Becik ketitik, olo ketoro." Maknanya : 
kebaikan dan keburukan pada akhirnya akan terungkap.

Apa yang dituduhkan terhadap Sri Mulyani selama ini, dia hadapi dengan 
tenang dan tegar. Coba bandingkan dengan anggota DPR dari PKS yang 
tersandung kasus Bank Century (Misbachum), betapa gelisahnya dia manakala 
diwawancarai wartawan. Jawabannya muter-muter tidak karuan. Kalau dia 
merasa benar, kenapa harus gelisah ?
Konyolnya, 'gang'nya di DPR berbondong-bondong membackupnya.

Akhirnya, dengan kesedihan dan rasa kehilangan yang luar biasa, kita 
ucapkan selamat jalan buat Srikandi Indonesia. Orang lain lebih menghargai 
kemampuannya dari pada "segelintir manusia dominan yang picik" yang 
bercokol di negeri ini.

Sedangkan kita, silent mojority, hanya bisa mengelus dada.
Mudah-mudahan Tuhan YME tetap memberikan keasabaran di hati kita.
Kita tidak berdaya menghadapi kaum arogan.
Senjata kita hanya berupa DOA.

Kepada kaum arogan, ingatlah :"Takutlah terhadap orang yang teraniaya 
(didzolimi). Karena doanya sangat makbul. Meskipun dia orang kafir" (Sabda 
Rasulullah SAW). 
 
http://myindon.blogspot.com/2010/05/srikandi-mulyani.html


-- 

http://groups.google.com/group/blessinggeneration?hl=id?hl=id
 
"Allah berkuasa memberi kepada kalian berkat yang melimpah ruah, supaya 
kalian selalu mempunyai apa yang kalian butuhkan; bahkan kalian akan 
berkelebihan untuk berbuat baik dan beramal."

Kirim email ke