> Wal Suparmo <wal.supa...@...> wrote:
> Orang Indonesia pribumi yang lahir
> sebelum Perang Dunia Kedua, mengukur
> umurnya dengan tanda2 kejaian alam
> seperti meletusnya GUNUNG atau BANJIR
> BESAR, dan berapa jumlah GENERASI
> yang dihasilkan. Pada hal meletusnya
> gunung dan banjir terjadi BER-KALI2
> dan orang desa  biasa meningkahkan.

Ooo iya betul juga, saya pernah bekerja diperbantukan di Palang Merah Indonesia 
yang waktu itu bertugas memberi pertolongan busung lapar di Krawang yang 
menghadapi paceklik dimana banyak yang kelaparan.

Datang kepada saya waktu itu nenek2 yang mau berobat, lalu saya tanya berapa 
umurnya, dia bilang 300 tahun.  Lalu saya tanya, buktinya apa kalo dia berumur 
300 tahun ???  Kebetulan ada manteri yang kenal sama nenek itu, si pak Manteri 
juga memperkuat klaim nenek itu, dia bilang benar koq dok dia sudah berumur 
sekitar 300 tahun.  Saya tanya ada suratnya enggak???  Malah dia ketawa, dia 
bilang zaman dulu sih belum ada surat2 seperti sekarang.

Lalu darimana tahu sudah umur 300 tahun, gampang koq dok jawabnya, dirumah si 
nenek ada pohon beringin, waktu si nenek baru lahir dirumah yang sama itu pohon 
beringinnya baru berumur 10 tahun dan sekarang pohon beringinnya sudah berumur 
310 tahun.  Jelas jawabannya mengharuskan aku menanya kepohon beringin apakah 
benar si pohon beringin itu sudah berumur 310 tahun.  Darimana orang2 kampung 
disitu tahu kalo pohon beringinnya sudah berumur 310 tahun ???  Dia bilang 
bahwa dulu kira2 10 tahun yang lalu, ada kiyai yang bermimpi ketemu bapak si 
nenek itu, katanya dalam mimpi itu si bapak menitip pesan kepada si kiay untuk 
mengingatkan anaknya yaitu si nenek agar jangan menebang pohon beringin itu 
karena sekarang sudah berumur 300 tahun lebih.  Gara2 mimpi si kiyai itulah 
semua orang kampung sekitar situ jadi paham bahwa pohon beringin itu sudah 
berumur 300an tahun.

Oleh karena itu, karena memang kondisi si nenek itu buruk, aku mengirimnya ke 
Rumah Sakit, di rumah sakit itulah aku minta agar si nenek di rontgen X-ray 
pinggulnya kiri kanan sampai ke tungkai kakinya.  Dari serial foto rontgent 
itulah aku berhasil menemukan bahwa nenek itu baru berumur sekitara 70-75 
tahunan, tapi udah pikun.

Tetapi berita ini tidak aku sampaikan kekampungnya.  Sekedar untuk pengetahuan 
ku sendiri.  Sampai sekarang foto x-ray ini masih aku simpan sebagai kenang2an 
masa lalu.

Ny. Muslim binti Muskitawati.












> anak permpuannya sesudah haid atau
> umur 12 tahun dan lelakinya sesudah sunat umur 15 tahun.Sehingga  misalnya 5 
> generasi bisa dihasilkan hanya dalam waktu  70 atau 75 tahun.Jadi orang 
> yang mengaku berumur lebih dari 100 tahun, sebenarnya paling2 berumur 90 atau 
> 95 tahun.
> 
> Wasalam,
> Wal Suparmo
> 
> --- Pada Jum, 4/6/10, muskitawati <muskitaw...@...> menulis:
> 
> 
> Dari: muskitawati <muskitaw...@...>
> Judul: -:: Milist NB::- Membohongi Umur Dihalalkan Islam ???
> Kepada: [email protected]
> Tanggal: Jumat, 4 Juni, 2010, 8:57 AM
> 
> 
>   
> 
> 
> 
> Membohongi Umur Dihalalkan Islam ???
> 
> Ini suatu topik yang tidak pernah dibicarakan didunia Islam, apakah seorang 
> muslimin yang membohongi umurnya tidak dianggap berdosa atau bersalah ???
> 
> Umur seseorang bisa dipastikan melalui "bone analysis" yaitu analysis bagian 
> ujung tulang2 dibagian epiphysis-nya.
> 
> Bukan cuma orang yang masih hidup yang bisa ditentukan umurnya, bahkan orang2 
> yang sudah mati dikuburan juga bisa ditentukan umurnya dengan ketepatan 95%. 
> Tulang2 manusia purba juga bisa dihitung umurnya waktu dia mati, dan kapan 
> dia matinya, atau sebab apa dia mati. Semua ini merupakan spesialisasi 
> tersendiri dalam ilmu kedokteran yang disebut sebagai "Forensic Medicine".
> 
> > "sunny" <ambon@> wrote:
> > BPS Temukan Warga Purwakarta
> > Berusia 150 Tahun Apakah mereka
> > yang berumur panjang ini,
> > karena tiap hari minum jamu
> > Nyonya Meneer
> 
> Ini contoh kebohongan yang biasa disantap muslimin di Indonesia dari sesama 
> muslim yang juga rajin berbohong.
> 
> Cobalah berpikir logis dan rasional, darimana anda tahu umur seseorang kalo 
> bukan dari akte kelahirannya, padahal akte kelahiran di Indonesia baru 
> diwajibkan pada tahun 1972.
> 
> Dizaman Belanda, cuma warganegara Belanda saja yang diwajibkan memiliki 
> sertifikat kelahiran, sedangkan pribuminya tidak perlu memiliki sertifikat 
> kelahiran. Lagipula sertifikat kelahiran itupun harus dikeluarkan rumah sakit 
> dimana orang tsb dilahirkan, artinya kalo tidak dilahirkan di rumah sakit 
> tidak mungkin punya sertifikat kelahiran.
> 
> Bukan maksud Belanda untuk melarang pribumi memiliki sertifikat lahir, tetapi 
> memang biaya sertifikat lahir itu cukup mahal dan penduduk miskin tidak 
> mungkin ada yang berminat memilikinya.
> 
> Lain dengan pegawai2 Belanda, biarpun gajinya kecil tapi karena sudah menjadi 
> keharusan dalam UU Belanda, maka mereka tetap mau keluar duit untuk 
> membayarnya.
> 
> Barulah setelah diatas tahun 1930-an, banyak orang2 pribumi yang juga jadi 
> pegawai Belanda, menjadi residen, menjadi bupati dll dan mereka ini semuanya 
> rata2 memiliki sertifikat kelahiran.
> 
> Indonesia juga baru2 saja mengeluarkan aturan tentang sertifikat kelahiran 
> untuk bayi2 yang dilahirkan oleh dukun2 atau bidan2.
> 
> Jadi pasti bohong absolut kalo ada yang mengaku dilahirkan tahun 1860 dimana 
> Pangeran Diponegoro baru kalah perang ditawan belanda.
> 
> Silahkan aja kalo ada yang masih mau membantahnya, karena yang namanya 
> kenyataan itu tidak mungkin terbantahkan.
> 
> Ny. Muslim binti Muskitawati.
> 
> >
>


Kirim email ke