Salam, 
Idem, dito dan yang melawan orang Yahudi akan musnah dan dikutuk oleh Yahve dan 
Allah..

Wasalam,
Wal Suparmo

--- Pada Sen, 7/6/10, aris dianto <[email protected]> menulis:


Dari: aris dianto <[email protected]>
Judul: -:: Milist NB::- kisah 25 nabi
Kepada: [email protected]
Tanggal: Senin, 7 Juni, 2010, 11:03 AM


  






NABI ISMAIL AS 

Sampai Nabi Ibrahim yang berhijrah meninggalkan Mesir bersama Sarah, isterinya 
dan Hajar, dayangnya di tempat tujuannya di Palestin. Ia telah membawa pindah 
juga semua binatang ternaknya dan harta miliknya yang telah diperolehinya 
sebagai hasil usaha niaganya di Mesir.

Al-Bukhari meriwayatkan daripada Ibnu Abbas r.a.berkata:
Pertama-tama yang menggunakan setagi (setagen) ialah Hajar ibu Nabi Ismail 
tujuan untuk menyembunyikan kandungannya dari Siti Sarah yang telah lama 
berkumpul dengan Nabi Ibrahim a.s. tetapi belum juga hamil. tetapi 
walaubagaimana pun juga akhirnya terbukalah rahsia yang disembunyikan itu 
dengan lahirnya Nabi Ismail a.s. Dan sebagai lazimnya seorang isteri sebagai 
Siti Sarah merasa telah dikalahkan oleh Siti Hajar sebagai seorang dayangnya 
yang diberikan kepada Nabi Ibrahim a.s. Dan sejak itulah Siti Sarah merasakan 
bahawa Nabi Ibrahim a.s. lebih banyak mendekati Hajar karena merasa sgt gembira 
dengan puteranya yang tunggal dan pertama itu, hal ini yang menyebabkan 
permulaan ada keratakan dalam rumahtangga Nabi Ibrahim a.s. sehingga Siti Sarah 
merasa tidak tahan hati jika melihat Siti Hajar dan minta pada Nabi Ibrahim 
a.s. supaya menjauhkannya dari matanya dan menempatkannya di lain tempat.

Untuk suatu hikmah yang belum diketahui dan disadari oleh Nabi Ibrahim Allah 
s.w.t. mewahyukan kepadanya agar keinginan dan permintaan Sarah isterinya 
dipenuhi dan dijauhkanlah Ismail bersama Hajar ibunya dan Sarah ke suatu tempat 
di mana yang ia akan tuju dan di mana Ismail puteranya bersama ibunya akan di 
tempatkan dan kepada siapa akan ditinggalkan.
Maka dengan tawakkal kepada Allah berangkatlah Nabi Ibrahim meninggalkan rumah 
membawa Hajar dan Ismail yang diboncengkan di atas untanya tanpa tempat tujuan 
yang tertentu. Ia hanya berserah diri kepada Allah yang akan memberi arah 
kepada binatang tunggangannya. Dan berjalanlah unta Nabi Ibrahim dengan tiga 
hamba Allah yang berada di atas punggungnya keluar kota masuk ke lautan pasir 
dan padang terbuka di mana terik matahari dengan pedihnya menyengat tubuh dan 
angin yang kencang menghembur-hamburka n debu-debu pasir.

Ismail dan Ibunya Hajar Ditingalkan di Makkah

Setelah berminggu-minggu berada dalam perjalanan jauh yang memenatkan tibalah 
pada akhirnya Nabi Ibrahim bersama Ismail dan ibunya di Makkah kota suci dimana 
Kaabah didirikan dan menjadi pujaan manusia dari seluruh dunia. di tempat di 
mana Masjidil Haram sekarang berada, berhentilah unta Nabi Ibrahim mengakhiri 
perjalanannya dan disitulah ia meninggalkan Hajar bersama puteranya dengan 
hanya dibekali dengan serantang bekal makanan dan minuman sedangkan keadaan 
sekitarnya tiada tumbuh-tumbuhan, tiada air mengalir, yang terlihat hanyalah 
batu dan pasir kering . Alangkah sedih dan cemasnya Hajar ketika akan 
ditinggalkan oleh Ibrahim seorang diri bersama dengan anaknya yang masih kecil 
di tempat yang sunyi senyap dari segala-galanya kecuali batu gunung dan pasir. 
Ia seraya merintih dan menangis, memegang kuat-kuat baju Nabi Ibrahim memohon 
belas kasihnya, janganlah ia ditinggalkan seorang diri di tempat yang kosong 
itu, tiada seorang manusia, tiada seekor
 binatang, tiada pohon dan tidak terlihat pula air mengalir, sedangkan ia masih 
menanggung beban mengasuh anak yang kecil yang masih menyusu. Nabi Ibrahim 
mendengar keluh kesah Hajar merasa tidak tergamak meninggalkannya seorang diri 
di tempat itu bersama puteranya yang sangat disayangi akan tetapi ia sedar 
bahwa apa yang dilakukan nya itu adalah kehendak Allah s.w.t. yang tentu 
mengandungi hikmat yang masih terselubung baginya dan ia sedar pula bahawa 
Allah akan melindungi Ismail dan ibunya dalam tempat pengasingan itu dan segala 
kesukaran dan penderitaan. Ia berkata kepada Hajar :

"Bertawakkallah kepada Allah yang telah menentukan kehendak-Nya, percayalah 
kepada kekuasaan-Nya dan rahmat-Nya. Dialah yang memerintah aku membawa kamu ke 
sini dan Dialah yang akan melindungi mu dan menyertaimu di tempat yang sunyi 
ini. Sesungguh kalau bukan perintah dan wahyunya, tidak sesekali aku tergamak 
meninggalkan kamu di sini seorang diri bersama puteraku yang sangat ku cintai 
ini. Percayalah wahai Hajar bahwa Allah Yang Maha Kuasa tidak akan melantarkan 
kamu berdua tanpa perlindungan- Nya. Rahmat dan barakah-Nya akan tetap turun di 
atas kamu untuk selamanya, insya-Allah. "

Mendengar kata-kata Ibrahim itu segeralah Hajar melepaskan genggamannya pada 
baju Ibrahim dan dilepaskannyalah beliau menunggang untanya kembali ke Palestin 
dengan iringan air mata yang bercurahan membasahi tubuh Ismail yang sedang 
menetak. Sedang Nabi Ibrahim pun tidak dapat menahan air matanya keetika ia 
turun dari dataran tinggi meninggalkan Makkah menuju kembali ke Palestin di 
mana isterinya Sarah dengan puteranya yang kedua Ishak sedang menanti. Ia tidak 
henti-henti selama dalam perjalanan kembali memohon kepada Allah perlindungan, 
rahmat dan barakah serta kurniaan rezeki bagi putera dan ibunya yang 
ditinggalkan di tempat terasing itu. Ia berkata dalam doanya:" Wahai Tuhanku! 
Aku telah tempatkan puteraku dan anak-anak keturunannya di dekat rumah-Mu { 
Baitullahil Haram } di lembah yang sunyi dari tanaman dan manusia agar mrk 
mendirikan solat dan beribadat kepada-Mu. Jadikanlah hati sebahagian manusia 
cenderung kepada mrk dan berilah mrk rezeki dari
 buah-buahan yang lazat, mudah-mudahan mrk bersyukur kepada-Mu."

Mata Air Zamzam

Sepeninggal Nabi Ibrahim tinggallah Hajar dan puteranya di tempat yang 
terpencil dan sunyi itu. Ia harus menerima nasib yang telah ditakdirkan oleh 
Allah atas dirinya dengan kesabaran dan keyakinan penuh akan perlindungan- Nya. 
Bekalan makanan dan minuman yang dibawanya dalam perjalanan pada akhirnya habis 
dimakan selama beberapa hari sepeninggalan Nabi Ibrahim. Maka mulailah terasa 
oleh Hajar beratnya beban hidup yang harus ditanggungnya sendiri tanpa bantuan 
suaminya. Ia masih harus meneteki anaknya, namun air teteknya makin lama makin 
mengering disebabkan kekurangan makan .Anak yang tidak dapat minuman yang 
memuaskan dari tetek ibunya mulai menjadi cerewet dan tidak henti-hentinya 
menangis. Ibunya menjadi panik, bingung dan cemas mendengar tangisan anaknya 
yang sgt menyayat hati itu. Ia menoleh ke kanan dan ke kiri serta lari ke sana 
ke sini mencari sesuap makanan atau seteguk air yang dpt meringankan 
kelaparannya dan meredakan tangisan anaknya, namun
 sia-sialah usahanya. Ia pergi berlari harwalah menuju bukit Shafa kalau-kalau 
ia boleh mendapatkan sesuatu yang dapat menolongnya tetapi hanya batu dan pasir 
yang didapatnya disitu, kemudian dari bukit Shafa ia melihat bayangan air yang 
mengalir di atas bukit Marwah dan larilah ia berharwahlah ke tempat itu namun 
ternyata bahawa yang disangkanya air adalha fatamorangana {bayangan} belaka dan 
kembalilah ke bukit Shafa karena mendengar seakan-akan ada suara yang 
memanggilnya tetapi gagal dan melesetlah dugaannya. Demikianlah maka karena 
dorongan hajat hidupnya dan hidup anaknya yang sangat disayangi, Hajar 
mundar-mundir berlari sampai tujuh kali antara bukit Shafa dan Marwah yang pada 
akhirnya ia duduk termenung merasa penat dan hampir berputus asa.

Diriwayatkan bahawa selagi Hajar berada dalam keadaan tidak berdaya dan hampir 
berputus asa kecuali dari rahmat Allah dan pertolongan- Nya datanglah kepadanya 
malaikat Jibril bertanya:" Siapakah sebenarnya engkau ini?" " Aku adalah hamba 
sahaya Ibrahim". Jawab Hajar." Kepada siapa engkau dititipkan di sini?"tanya 
Jibril." Hanya kepad Allah",jawab Hajar.Lalu berkata Jibril:" Jika demikian, 
maka engkau telah dititipkan kepada Dzat Yang Maha Pemurah Lagi Maha Pengasih, 
yang akan melindungimu, mencukupi keperluan hidupmu dan tidak akan 
mensia-siakan kepercayaan ayah puteramu kepada-Nya."

Kemudian diajaklah Hajar mengikuti-nya pergi ke suatu tempat di mana Jibril 
menginjakkan telapak kakinya kuat-kuat di atas tanah dan segeralah memancur 
dari bekas telapak kaki itu air yang jernih dengan kuasa Allah .Itulah dia mata 
air Zamzam yang sehingga kini dianggap keramat oleh jemaah haji, berdesakan 
sekelilingnya bagi mendapatkan setitik atau seteguk air daripadanya dan kerana 
sejarahnya mata air itu disebut orang " Injakan Jibril ".
Alngkah gembiranya dan lega dada Hajar melihat air yang mancur itu. Segera ia 
membasahi bibir puteranya dengan air keramat itu dan segera pula terlihat wajah 
puteranya segar kembali, demikian pula wajah si ibu yang merasa sgt bahagia 
dengan datangnya mukjizat dari sisi Tuhan yang mengembalikan kesegaran hidup 
kepadanya dan kepada puteranya sesudah dibayang-bayangi oleh bayangan mati 
kelaparan yang mencekam dada.

Mancurnya air Zamzam telah menarik burung-burung berterbangan mengelilingi 
daerah itu menarik pula perhatian sekelompok bangsa Arab dari suku Jurhum yang 
merantau dan sedang berkhemah di sekitar Makkah. Mereka mengetahui dari 
pengalaman bahwa di mana ada terlihat burung di udara, nescaya dibawanya 
terdapat air, maka diutuslah oleh mrk beberapa orang untuk memeriksa kebenaran 
teori ini. Para pemeriksa itu pergi mengunjungi daerah di mana Hajar berada, 
kemudian kembali membawa berita gembira kepada kaumnya tentang mata air Zamzam 
dan keadaan Hajar bersama puteranya. Segera sekelompok suku Jurhum itu 
memindahkan perkhemahannya ke tempat sekitar Zamzam ,dimana kedatangan mrk 
disambut dengan gembira oleh Hajar karena adanya sekelompok suku Jurhum di 
sekitarnya, ia memperolehi jiran-jiran yang akan menghilangkan kesunyian dan 
kesepian yang selama ini dirasakan di dalam hidupnya berduaan dengan puteranya 
saja.

Hajar bersyukur kepada Allah yang dengan rahmatnya telah membuka hati 
orang-orang itu cenderung datang meramaikan dan memecahkan kesunyian lembah di 
mana ia ditinggalkan sendirian oleh Ibrahim.


Nabi Ismail Sebagai Qurban

Nabi Ibrahim dari masa ke semasa pergi ke Makkah untuk mengunjungi dan 
menjenguk Ismail di tempat pengasingannya bagi menghilangkan rasa rindu hatinya 
kepada puteranya yang ia sayangi serta menenangkan hatinya yang selalu rungsing 
bila mengenangkan keadaan puteranya bersama ibunya yang ditinggalkan di tempat 
yang tandus, jauh dari masyarakat kota dan pengaulan umum.
Sewaktu Nabi Ismail mencapai usia remajanya Nabi Ibrahim a.s. mendapat mimpi 
bahwa ia harus menyembelih Ismail puteranya. Dan mimpi seorang nabi adalah 
salah satu dari cara-cara turunnya wahyu Allah , maka perintah yang diterimanya 
dalam mimpi itu harus dilaksanakan oleh Nabi Ibrahim. Ia duduk sejurus 
termenung memikirkan ujian yang maha berat yang ia hadapi. Sebagai seorang ayah 
yang dikurniai seorang putera yang sejak puluhan tahun diharap-harapkan dan 
didambakan ,seorang putera yang telah mencapai usia di mana jasa-jasanya sudah 
dapat dimanfaatkan oleh si ayah , seorang putera yang diharapkan menjadi 
pewarisnya dan penyampung kelangsungan keturunannya, tiba-tiba harus dijadikan 
qurban dan harus direnggut nyawa oelh tangan si ayah sendiri.

Namun ia sebagai seorang Nabi, pesuruh Allah dan pembawa agama yang seharusnya 
menjadi contoh dan teladan bagi para pengikutnya dalam bertaat kepada Allah 
,menjalankan segala perintah-Nya dan menempatkan cintanya kepada Allah di atas 
cintanya kepada anak, isteri, harta benda dan lain-lain. Ia harus melaksanakan 
perintah Allah yang diwahyukan melalui mimpinya, apa pun yang akan terjadi 
sebagai akibat pelaksanaan perintah itu.
Sungguh amat berat ujian yang dihadapi oleh Nabi Ibrahim, namun sesuai dengan 
firman Allah yang bermaksud:" Allah lebih mengetahui di mana dan kepada siapa 
Dia mengamanatkan risalahnya." Nabi Ibrahim tidak membuang masa lagi, berazam 
{niat} tetap akan menyembelih Nabi Ismail puteranya sebagai qurban sesuai 
dengan perintah Allah yang telah diterimanya. Dan berangkatlah serta merta Nabi 
Ibrahim menuju ke Makkah untuk menemui dan menyampaikan kepada puteranya apa 
yang Allah perintahkan.

Nabi Ismail sebagai anak yang soleh yang sgt taat kepada Allah dan bakti kepada 
orang tuanya, ketika diberitahu oleh ayahnya maksud kedatangannya kali ini 
tanpa ragu-ragu dan berfikir panjang berkata kepada ayahnya:" Wahai ayahku! 
Laksanakanlah apa yang telah diperintahkan oleh Allah kepadamu. Engkau akan 
menemuiku insya-Allah sebagai seorang yang sabar dan patuh kepada perintah. Aku 
hanya meminta dalam melaksanakan perintah Allah itu , agar ayah mengikatku 
kuat-kuat supaya aku tidak banyak bergerak sehingga menyusahkan ayah, kedua 
agar menanggalkan pakaianku supaya tidak terkena darah yang akan menyebabkan 
berkurangnya pahalaku dan terharunya ibuku bila melihatnya, ketiga tajamkanlah 
parangmu dan percepatkanlah perlaksanaan penyembelihan agar menringankan 
penderitaan dan rasa pedihku, keempat dan yang terakhir sampaikanlah salamku 
kepada ibuku berikanlah kepadanya pakaian ku ini untuk menjadi penghiburnya 
dalam kesedihan dan tanda mata serta
 kenang-kenangan baginya dari putera tunggalnya." Kemudian dipeluknyalah Ismail 
dan dicium pipinya oleh Nabi Ibrahim seraya berkata:" Bahagialah aku mempunyai 
seorang putera yang taat kepada Allah, bakti kepada orang tua yang dengan 
ikhlas hati menyerahkan dirinya untuk melaksanakan perintah Allah."

Saat penyembelihan yang mengerikan telah tiba. Diikatlah kedua tangan dan kaki 
Ismail, dibaringkanlah ia di atas lantai, lalu diambillah parang tajam yang 
sudah tersedia dan sambil memegang parang di tangannya, kedua mata nabi Ibrahim 
yang tergenang air berpindah memandang dari wajah puteranya ke parang yang 
mengilap di tangannya, seakan-akan pada masa itu hati beliau menjadi tempat 
pertarungan antara perasaan seorang ayah di satu pihak dan kewajiban seorang 
rasul di satu pihak yang lain. Pada akhirnya dengan memejamkan matanya, parang 
diletakkan pada leher Nabi Ismail dan penyembelihan di lakukan . Akan tetapi 
apa daya, parang yang sudah demikian tajamnya itu ternyata menjadi tumpul 
dileher Nabi Ismail dan tidak dapat berfungsi sebagaimana mestinya dan 
sebagaimana diharapkan.

Kejadian tersebut merupakan suatu mukjizat dari Allah yang menegaskan bahwa 
perintah pergorbanan Ismail itu hanya suatu ujian bagi Nabi Ibrahim dan Nabi 
Ismail sampai sejauh mana cinta dan taat mereka kepada Allah. Ternyata keduanya 
telah lulus dalam ujian yang sangat berat itu. Nabi Ibrahim telah menunjukkan 
kesetiaan yang tulus dengan pergorbanan puteranya. untuk berbakti melaksanakan 
perintah Allah sedangkan Nabi Ismail tidak sedikit pun ragu atau bimbang dalam 
memperagakan kebaktiannya kepada Allah dan kepada orang tuanya dengan 
menyerahkan jiwa raganya untuk dikorbankan, sampai-sampai terjadi seketika 
merasa bahwa parang itu tidak lut memotong lehernya, berkatalah ia kepada 
ayahnya:" Wahai ayahku! Rupa-rupanya engkau tidak sampai hati memotong leherku 
karena melihat wajahku, cubalah telangkupkan aku dan laksanakanlah tugasmu 
tanpa melihat wajahku."Akan tetapi parang itu tetap tidak berdaya mengeluarkan 
setitik darah pun dari daging Ismail walau ia
 telah ditelangkupkan dan dicuba memotong lehernya dari belakang.

Dalam keadaan bingung dan sedih hati, karena gagal dalam usahanya menyembelih 
puteranya, datanglah kepada Nabi Ibrahim wahyu Allah dengan firmannya:" Wahai 
Ibrahim! Engkau telah berhasil melaksanakan mimpimu, demikianlah Kami akan 
membalas orang-orang yang berbuat kebajikkan ."Kemudian sebagai tebusan ganti 
nyawa Ismail telah diselamatkan itu, Allah memerintahkan Nabi Ibrahim 
menyembelih seekor kambing yang telah tersedia di sampingnya dan segera 
dipotong leher kambing itu oleh beliau dengan parang yang tumpul di leher 
puteranya Ismail itu. Dan inilah asal permulaan sunnah berqurban yang dilakukan 
oleh umat Islam pada tiap hari raya Idul Adha di seluruh pelosok dunia. 







Kirim email ke