> Wal Suparmo <wal.supa...@...> wrote:
> Bukan soal singkong tetapi tahu/tempe.
> Makanan elit yang bergizi. Sebelum
> Perang Dunia kedua, di Sulawesi
> terutama di daerah Minahassa, tahu
> dan tempe dikenal sebagai makanan
> ternak dan di Minahassa sebagai makanan
> babi. Baru setelah kedatangan orang
> dari Jawa sebagai Romusuha, maka ada
> yang mau makan tahu dan tempe baru
> beberapa tahun setelah kemerderkaan.

Tempe di Indonesia termasuk makanan murah, karena pembuatannya berasal dari 
kedele yang sudah rusak, daripada dibuang maka dibuat tempe untuk makanan 
ternak dan makanan orang2 miskin.

Kedele segar itu harganya mahal bisa laku untuk eksport karena proteinnya masih 
utuh dan bagus, tetapi setelah lewat waktunya karena enggak laku dijual, maka 
protein-nya rusak jadi merupakan racun, kadar gizinya juga rendah, karena tidak 
laku dijual maka dibikin tempe yang bisa tahan lama.

Begitulah sejarah terciptanya tempe itu bukan karena teknologi tinggi, 
melainkan karena akal2an agar jangan merugi.

Tapi sekarang dengan banyaknya orang2 Indonesia di Amerika, maka pasaran tempe 
juga meningkat, tapi cara2 pembuatannya diawasi oleh FDA yang melarang 
membuatnya dari kedele yang sudah rusak.

Akibatnya, tempe di Amerika harganya enggak mungkiin bisa murah seperti di 
Indonesia.  Meskipun sama2 tempe-nya, asal kedelenya sama sekali berbeda.  
Tempe di Amerika dibuat dari kedele yang masih segar, sebaliknya kedele segar 
di Indonesia hanya untuk dieksport keluar negeri, dan kedele yang enggak laku 
yang akhirnya jadi rusak barulah dibikin tempe selain harganya murah sekali 
juga tahan disimpan sampai enam bulan.  Padahal di Amerika, kedele rusak itu 
enggak boleh diolah jadi makanan, harus dibuang ketempat sampah.

Ny. Muslim binti Muskitawati.





Kirim email ke