Salam, 
Benar Pak ! 
Telah  ditunggu selama lebih dari 1500 tahun akan kenyataan dari teori agama 
ini( seperti juga teori agama Nasrani dalam gospel), yang terbukti tidak 
membuat manusia dan dunia menjadi lebih baik, bahkan makin terpuruk seperti 
sekarang. Sadarlah akan kenyataan!
There is something wrong tetapi non of my business!
Wasalam,
Wal Suparmo



--- Pada Jum, 9/7/10, Mujiarto Karuk <[email protected]> menulis:


Dari: Mujiarto Karuk <[email protected]>
Judul: -:: Milist NB::- Hai, Muslim ! Apa Karyamu ?
Kepada: [email protected], [email protected]
Cc: [email protected], [email protected]
Tanggal: Jumat, 9 Juli, 2010, 1:44 PM


  









Berhenti, tak ada tempat di jalan ini. 
Sikap lamban, berarti mati. 
Mereka yang bergerak, mereka yang maju 
ke muka. Mereka yang menunggu, 
meski sejenak, pasti tergilas.
 
(Iqbal)
 
***
 
SEBAGAI agama yang dihadirkan dengan misi rahmatan lil ‘aalamiin, lingkup Islam 
menyentuh semua aspek kehidupan. Seorang muslim dituntut memahami Islam tidak 
sepotong-sepotong, tetapi harus secara komprehensip dan kaffah (menyeluruh) .
 
Di samping konsolidasi pemahaman ke dalam, umat juga dituntut untuk melakukan 
syiar Islam bil hikmah ke pihak-pihak yang belum ber-Islam. Salah satu 
instrumen dakwah yang paling gampang bisa dilihat dan mempunyai daya tarik 
adalah sejauh mana performance umat Islam memberi kontribusi bagi kemajuan dan 
kemakmuran dunia. Tantangan ke depan semakin rumit dan kompleks. Umat Islam 
harus bertindak optimis dan proaktif untuk menjawabnya.
 
Sebagai kholifatullah fil ardli, umat Islam hadir membawa misi Ilahiyah. Dunia 
ini harus diproses menjadi mazra’ah al-akhirah (lahan akhirat). Ini memerlukan 
kualitas pemahaman sehingga sanggup memberi inspirasi etos kerja tingkat tingi. 
Jangan sampai kemiskinan dan kegagalan terjadi karena disengaja oleh prilaku 
hidup kita sendiri.
 
Genderang globalisasi telah ditabuh. Bebas bersaing dan bertanding. Di tengah 
gemuruhnya kehidupan dan panasnya api persaingan, mata batin tetap harus tajam, 
waspada dan lincah menghadapi tantangan, dan sigap menangkap setiap peluang. 
Karena hanya mereka yang mampu mencipta dan menangkap peluang yang kelak akan 
menjadi pemenang. Kewaspadaan, reaksi batin, kecepatan dan keuletan merupakan 
perangkat mutlak yang harus dimiliki oleh seorang calon pemenang. 
 
Hidup adalah perjuangan, dan perjuangan pasti mengandung resiko. Tak ada satu 
gerak pun di muka bumi ini yang berlalu tanpa resiko. Mereka yang ketakutan 
akan resiko adalah potret dari umat pengecut dan melawan fitnah alamiah.
 
Hidup terasa indah justru di saat kita keluar dari arena permainan yang penuh 
resiko sebagai pemenang. Sebaliknya, pengecut adalah mereka yang hadir di bumi 
dan kehilangan arah, rendah kemauan, serta membiarkan waktu berlalu tanpa 
makna. Sedikitpun tanpa merasa berdosa.
 
Kita hadir di dunia bagai biduk perahu yang telah lepas dari tali tambatnya. 
Kini hanya ada samudera terbentang di hadapan kita. Waspadalah! Kayuhlah terus, 
melaju dengan gagah perwira. Jangan gelisah apalagi mengumbar sumpah serapah. 
Sebab gerutu dan cacian tidak akan pernah menyelesaikan suatu masalah. 
Berhentilah menyalahkan nasib. Tegarkan kaki, gerakkan tangan, cerahkan 
pikiran, dan dayakan semua aset kemampuan yang dimiliki agar kehadiran kita di 
muka bumi ini penuh arti.
 
Islam memiliki pandangan positif terhadap etos kerja. Kesadaran kerja dalam 
Islam bermakna pahala. Bukan semata bernilai gaji dan menepis status gengsi. 
Tidak hanya untuk memuliakan diri sendiri, tetapi lebih dari itu kerja 
merupakan manifestasi dari realisasi iman.
 
Milenium III, umat Islam harus menyongsong kompetisi terbuka pasar global. Kita 
perlu mewaspadai petarung-petarung liar yang tidak menggunakan iman sebagai 
landasan bersaing. Sangat mungkin akan terjadi penggilasan kelompok-kelompok 
lemah oleh kelompok kuat. Mirip hukum rimba, yang lemah kian musnah, yang kuat 
semakin gagah.
 
Umat Islam harus mulai pasang kuda-kuda, benahi barisan umat, dan pertajam visi 
keilmuan jika tidak ingin menjadi santapan kaum kafir. Tidak bisa tidak, Islam 
harus semakin kokoh mewarnai dan membentuk pandangan setiap muslim. Yakni 
pandangan yang progresif, obsesif, dinamis dan optimis. Mampu melahirkan etos 
kerja yang tinggi, produktif, inovatif dan berstamina pantang menyerah.
 
Dengan cara ini, umat Islam akan memiliki daya saing kompetitif dan mengambil 
peran penting dalam pembentukan orde dunia yang bernuansa islami. Inilah salah 
satu modal dasar untuk mengukuhkan diri sebagai umat terbaik sebagaimana yang 
dikehendaki Allah Swt.
 
So, kini masihkah terbersit dalam benak kita untuk bersantai ria, merelakan 
begitu saja waktu berlalu tanpa makna tiada guna ?


***
 
Disadur dari Buletin Lembaga Dakwah Islam Gua Hiro, 2oo3
 
 
http://www.edumusli m.org/index. php?option= article&article_rf=203










Kirim email ke