Kantor Baruku, Kisah
Laluku<http://coretanpena-erwin.blogspot.com/2008/05/kantor-baruku-kisah-laluku.html>
Diposting
oleh Erwin Arianto di Rabu, Mei 07,
2008<http://coretanpena-erwin.blogspot.com/2008/05/kantor-baruku-kisah-laluku.html>

Kutemukansebuah kertas surat kumal telah termakan oleh waktu yang jatuh dari
arsip lamaku saat aku membereskan tumpukan kertas di kamarku. dan kubaca
sebuah surat itu.

"Aku yang selalu menunggu ketika kau pulang dengan segenap tenaga mengayun
kakiku agar langkah

sepeda motor mus berputar semakin cepat dan membuatmu nyaman akan selalu
bersamaku, itu janjiku

ketika kau berikan cintamu kepadaku. Aku pun yang selalu menjadi pelabuhan
ketika kau merasa sedih dan senang. ku ucapkan terimakasih atas cinta yang
kau berikan, dan kau datang di saaat yang tepat saat aku hancur dengan
kekasihku.

Sepenggal kisah cinta yang kita alami walau berakhir tidak akan pernah
hilang untuk selamanya.

Setahun atau pun seribu tahun kemudian ketika jasadku menyentuh tanah dan
kembali bangun, cintamu akan selalu abadi dalam hidupku.

Salam Cinta Astried Suwandri"

Sepenggal kertas kusam itu menceritakan kisah laluku yang sangat indah
dengan Astried Suwandri, seorang yang hadir dalam kisah ku yag dulu
segelumit kisah yang sangat teringini batin ini.

kertas kusam itu membuka lembaran kisah lamanya yang telah tersimpan rapi
dalam lemari kotak bersejarah yang menjadi saksi hidup ketika cinta kembali
bersemi setelah peninggalan (Alm) Wida seorang calon pengantin ku yang
berpulang saat kami akan menikah. pertama kali bersemi sepuluh tahun lamanya
dulu.teringat olehnya seorang wanita yang pernah menjadi bagian indah dalam
sejarah hidupku hingga kini abadi tidak terlupakan.

Kini sepuluh tahun lamanya telah berlalu, dunia telah berubah, zaman telah
berubah bahkan wajahnya pun mulai pudar dalam bayangan ingatanku. Mimpi
kembali mempertemukan kami walau hanya sekejab bayangan itu kembali seolah
memanggilku untuk kembali mencarinya. Tapi dimana.. dimana akan ku cari?
Inilah jawaban yang tak pernah kudapatkan. (EA)

************************************************

Aku menarik nafas panjang memulai awal mula aku berkerja ditempat baruku.
Aku menyebutnya sebagai awal hidup setelah aku menikah. Rutinitas baru dan
segalanya sungguh baru, setelah mengerti dengan jenis pekerjaan yang harus
aku lakukan dan kini aku mendapat posisi Manajerial seperti yang aku impikan
selama ini. aku kembali ke kantorku melalui sebuah lift yang cukup panjang ,
bandingkan sendiri sebuah kantor besar dengan gedung 60 lantai. Perjalanan
panjang menuju kembali ke ruangku.

Tidak ada yang aneh untuk saat ini. Namun ketika sebuah pintu lift terbuka
dengan seorang wanita muncul, membuatku mencuri pandang sesaat akan sosok
wanita itu. Terasa tidak asing, ditambah senyumnya seolah memberikan
kehangatan di ruang dingin ini.untuk sesaat aku mulai menduga duga siapa
gerangan wanita ini. Mengapa aku begitu seolah mengenalnya.

"Maaf sepertinya anda mengikutin saya terus..!!" ujar wanita itu

"oh tidak.. maaf.. saya…!!" aku mencari alasan

"anda kenapa..!!" ujarnya

"tidak.. saya Cuma pengen ke…!" ujarku bingung

"anda ingin ikut saya juga ke wc wanitan..!" wanita itu menunjukkan dirinya
seolah berada tepat di garis pengumuman besar Toilet wanita

"maaf.. bukan maksud saya..!" aku merasa malu tak menyadari berada di depan
toilet wanita..

"ok kalau gitu bisa biarkan saya tenang di dalam toilet ini!!"

"oh ya silakan..!" aku tersenyum malu

Terlalu mengikuti naluriku tak menyadari berada didepan toilet wanita
membuatku malu tak berujung. Dengan tarikan nafas akhirnya aku pun perlahan
meninggalkan wanita itu. Sesekali aku mencoba untuk berbalik berharap dia
mau mengenalku walau hanya sesaat untuk membuang rasa penasaranku akan dia.
Dan tanpa kusadari wanita itu meliriku sekilas sambil tersenyum di balik
pintu toilet.

Aku merasa seperti pernah dekat denganya, mirip seperti dalam mimpi-mimpiku.
dengan nakal kucuri-curi pandang pada dia. untuk meyakinkan diri ini.

"Pak. DJoko, maaf ini surat dari bapak direktur tentang rencana audit
tahunan anda"

"oh.. i..ya" jawab ku tergagap karena terguran lita sekretraris Direktur itu
membuyarkan lamunanku.

"dan ini rencana Budget, dan target dari department ini dalam satu tahun"
ucap lita kembali menjelaskan Rencana kerja dan Budget Department yang aku
minta persetujuan Dari Directur Keuangna.

"oke Bu lita, terimakasih" ucapku merespon pemberian laporan yang diberikan
kepadaku.(EA)

*****************************************

Pulang kantor, ku lihat wanita yang kulihat di depan lift pagi tadi sedang
duduk sendiri di cafe dekat kantor sedang menikmati segelas Jus alpukat
waktu itu. aku coba menyapa wanita yang kutemui saat pertama ku menjejakan
kakiku di kantor ini. "Maaf, apakah kamu Astried" aku coba menyapanya. "ya
saya Astried" jawabnya deangan lugas saat itu.

Postur tubunhnya tak berubah sedikitpun. Wajah dan senyumyapun tak berubah.
Hanya terlihat sedikit lebih dewasa. Selain itu semuanya masih sama seperti
waktu yang lalu. Saat ini matanya menatapku tanpa berkedip, begitu juga
denganku. Aku benci melihat tatapan matanya. Tatapannya begitu tajam.
Tatapan yang selalu membuatku luluh.

"Kamu siapa ya.."tanya mungkin dia telah melupakan ku. "saya Manager Audit
baru disini" ucapku.

" Oh Ada Apa ya" tanya kembali.

"Kamu Astried Suwandri" aku menegas kan kembali bahwa sosok di depan ku
adalah Astried, seseok Cintaku yang ku tinggal menikah karena keinginan
Orang tuaku. dan kupersiap kan diri untuk sesuatu yang terjadi.

"kamu Ingat Aku?" tanyaku mencoba menanyakannya kepadanya. "Tidak" jawabnya
kepada ku saat itu.Wah waktu yang terlalu lama atau kepedihan yang sangat
dalam yang membuatnya melupakan aku. "Aku Djoko Susilo...." ucapku. dan
kulihat Wajah astrid berubah dan mengernyikat mukanya seakan dia berpikir
sesuatu.

"Mas.. Djo...ko" ucapny dengan sedikit terbata kepadaku. seakan tidak
mempercayai seseorang yang ada didepannya adalah aku.

"Kok diem?" tanyaku memecah keheningan diantara kami berdua. Tapi Astrid
belum bereaksi. Entah masih tak percaya dengan kedatanganku atau karena
menahan kekagetan hatinya melihat aku berdiri di hadapannya lagi.

"Astried??" tegurku lagi. Sedetik kemudian dia mulai tersadar dari
lamunannya. tanpa berkata aku sudah mengerti apa yang ingin ia tanyakan. Aku
langsung mengangguk. Pada anggukan pertama, airmataku sudah ikut mengalir.
Tanpa sadar ia langsung meraihku dalam pelukannya dan aku mulai menagis
disana. Ternyata rasanya masih sama seperti sepuluh tahun lalu. Tak ada yang
berubah. Setidaknya itulah yang kuinginkan saat ini.

"kenapa kamu datang lagi mas, setelah kamu dulu menghancurkan aku" ucapnya
kepadaku.

"maaf Astried... biar aku menjelaskan " UCapku kepadanya,

"MAAF!" Suara Astrid pun meninggi.

"Kamu mengatakan maaf setelah apa yang kamu lakukan?" dengan suara tinggi
beruapa sebuah pertanyaan.

Aku tak menjawab pertanyaan itu, karena aku pun tak tahu harus menjawab atau
berkata apa selain "maaf" atas apa yang aku lakukan.

"Kita udah pacaran selama setahunan waktu itu dan kamu tiba-tiba bilang
kalau kamu harus menikahi orang lain. Kamu tuh maunya apa sih?" kata Astried
dengan nada yang sama kerasnya diiringi isak tangis sesekali. dan kulihat
ruangan Kafe di dalam gedung kantor mulai sepi.

Kami memang dulu pernah berpacaran selama setahun, tapi selama itu juga aku
telah mengkhianatinya beberapa kali. Isak tangis Astried semakin sering.
Matanya tak sanggup menahan air mata yang mengalir dari kesedihannya.Aku
tahu bahwa yang pernah aku perbuat membuatnya sedih, hanya saja hal itu baru
ku sadari kini. Setelah aku mengaku semua perbuatanku padanya.

"pada awalnya , kamu yang selalu nolak lebih serius. Tapi waktu malah kamu
yang mengkhianati aku. Aku..." katanya yang tak menyelesaikan kalimatnya
karena air mata kesedihan semakin mengalir kencang. seakan menumpahkan
kekesalannya kepadaku yang tidak pernah terungkap semenjak aku menikah

"Orang tuaku memaksaku Tried. Aku sudah mencoba menolaknya, tetapi aku di
hujat orang tua ku habis-habisan, dan orang tuaku mengancam bunuh diri,"
kataku dengan jujur mengatakan alasanku untuk menikahi orang lain selain
Astrid pacarku yang aku sayangi. Dan Aku dan Astried telah menjalin hubungan
indah Selama kurang lebih satu tahun kisah indah yang selalu terukir dalam
memori hatiku.

Setelah berkata itu, aku memejamkan mataku sembari berharap tamparan
melayang di pipiku, meski aku tahu aku lebih berhak menerima lebih dari itu.
Tapi tamparan itu tak pernah datang.

"Jadi Apakah aku harus hamil dulu biar kita bisa menikah? Maaf, buat aku,
itu sama sekali bukan sebuah pilihan," bentak Astried lalu berlari
menjauhiku dan meninggalkan air matanya dalam jejak pelarian itu.

Aku ingin sekali mengejar dirinya, tapi aku tak mungkin melakukan itu. Aku
tak mau mengkhianati cinta untuk yang kedua kalinya. Aku memang selingkuh
dengan orang lain yang memberikan hubungan yang lebih intim, meski rasa
sayangku lebih besar pada Astried. Aku terlalu membiarkan gairahku
menyesatkan cinta yang aku miliki.

Seandainya dia menanyakan apakah Aku mencintai Istirku, Sungguh! Tapi
Istiriku ada di posisi nomor dua, sedangkan dia masih terus bertahan dan
selalu menduduki hatiku selalu menjadi yang pertama. Aku benci mengakui itu.
Sudah beribu-ribu cara aku lakukan untuk melupakannya tapi tak ada satupun
yang berhasil. Sampai satu titik aku merasa lelah dan aku tersadar. Aku
harus tetap menjalani hidupku.dengan atau tanpanya.

Walau kini harus kujalani hidup 1 kantor dengan astried, yang ada duniaku
akan terus berkecambuk antara penyesalan cinta yang ada. Sudahlah. Alasan
apapun yang aku berikan tak akan mampu mengusir kesedihan Astried dan tidak
akan mampu menghapus kesalahanku. Aku pun hanya mampu berkata, "maaf, aku
tak bisa menikahi dengan dirimu". Lebih baik aku jalani hidupku daripada
harus memberikan alasan-alasan yang tak berarti untuk Astried dan juga untuk
diriku.

Biarlah Dia menjadi indah dalam kenangan yang selalu bermain dan berputar
dalam ingatan ku, tentang kejadian lampau yang masih kuat akan angan ku yang
begitu menginginkannya menjadi istriku. Biarlah aku tetap Mencintaimu dalam
Relung hati, walau terus dalam penyesalan dan Keperihan Yang Dalam. Dan aku
akan terus mengatakan dalam hatiku, Teruslah Menjadi Kekasih Hati Dalam
nurani, Dan Semoga aku hanya bisa berharap ada seseorang yang bisa
membahagiakan mu Cintaku. wlau dalam hati aku terus mencintaimu Cintaku.(EA)

Cerpen ini hanya fiktif belaka, Jika ada kesamaan Nama tokoh, Pristiwa,
adalah kebetulan belaka, Dan jika terdapat Tanggapan, Celaan, atau kritik
Harap dikirim langsung pada email [EMAIL PROTECTED] Terimakasih

Depok 7 Mei 2008
http://coretanpena-erwin.blogspot.com/2008/05/kantor-baruku-kisah-laluku.html

-- 
Best Regard
Erwin Arianto,SE
エルイン アリアント (内部監査事務局)
-------------------------------------
SINCERITY, SPEED,  INOVATION & INDEPENDENCY

Kirim email ke