Soal musik klasik nihhh
Musisi Klasik Masih Gengsi Masukkan Unsur Folklore
Dibandingkan dengan musisi-musisi klasik dunia, musisi klasik Indonesia dinilai
masih gengsi mengangkat musik folklore dalam negeri. Padahal, jika musik
folklore dimasukkan dalam komposisi klasik, hasilnya akan luar biasa dan
mengangkat budaya Indonesia di mata asing.
Pernyataan itu terungkap dari pianis Ananda Sukarlan dalam sebuah diskusi di
Jakarta belum lama ini. Dalam diskusi itu juga terungkap bahwa musisi klasik
Australia pun sangat menghargai musik folklore (musik rakyat) Indonesia. Ini
terbukti dari aransemen musik mereka yang terpengaruh oleh gamelan Jawa dan
angklung Sunda.
Mereka saja bisa, mengapa kita malah gengsi memasukkan unsur musik kita
sendiri ke musik klasik yang notabene dari barat? tutur Ananda yang dikenal
concern terhadap musik lokal itu.
Ananda menambahkan, musik Indonesia harus menjadi tuan di negeri sendiri.
Pasalnya, jelas dia, musik Indonesia tak kalah dengan musik-musik dari luar. AS
dan Jepang, misalnya, memiliki jenis musik klasik sendiri. Dalam arti, ada
penggabungan antara unsur folklore negeri mereka dengan aransemen klasik.
Jangan sampai kita seperti Singapura dan Malaysia yang mendatangkan
musisi-musisi klasik dari Barat, yang tidak mengetahui sama sekali mengenai
musik lokal. Ini bisa terlihat dari hall-hall untuk pertunjukkan klasik mereka
yang hanya dipenuhi oleh musisi Barat, nggak ada musisi lokalnya sama sekali
tegas dia.
Menurut dia, ini mengerikan karena jika tidak ada penggabungan itu, maka
identitas lokal bisa hilang. Jadi jangan gengsi memasukkan unsur folklore
dalam musik klasik, karena ini penting untuk menjaga identitas kita, tutur
pria yang menelurkan Nusantara Symphony itu.
Seni Tidak Instan
Dalam diskusi itu kembali diperdebatkan mengenai bagaimana memasyarakatkan
musik klasik kepada masyarakat secara luas. Pasalnya, saat ini masyarakat masih
sulit menerima musik klasik. Di sisi lain, mereka seperti terbius oleh
musik-musik yang memiliki teknik musik yang dangkal dan tidak memiliki
kedalaman.
Musik-musik semacam ini, kata Ananda, cepat diterima dan diperdengarkan
(langsung enak didengar), tapi cepat juga dilupakan. Di sisi lain, kendati
musik klasik sulit diterima telinga sebagian besar orang, tetapi memiliki
keabadian.
Ini karena kedalaman musiknya. Memang pertama-tama sulit mendengar musik
klasik. Tapi lama-kelamaan, musik ini memberi impact yang bagus, tutur dia.
Dedy Panigoro, penggemar musik klasik sekaligus pendukung konser-konser Ananda
mengatakan, musik klasik yang termasuk dalam seni, bukan suatu yang bisa
berkembang secara natural. Dalam arti, jelas dia, memang harus diedukasi kepada
masyarakat. Konser-konser yang dilakukan musisi klasik seperti Ananda adalah
salah satu cara untuk edukasi itu.
Menurut saya, yang instant-instan itu bukan seni. Seni butuh usaha untuk
memasyarakatkannya, tegas dia.
Keduanya berharap, musik klasik lambat laun bisa diterima oleh telinga
masyarakat Indonesia, dan ikut meramaikan seni Tanah Air. (ovi)
www.chendrapanatan.com
http://chendrapanatan.blogspot.com
http://chendraefblogger.blogspot.com
---------------------------------
Be a better friend, newshound, and know-it-all with Yahoo! Mobile. Try it now.
---------------------------------
Be a better friend, newshound, and know-it-all with Yahoo! Mobile. Try it now.