terima kasih. salam dari saya
Quoting Deni Ramdan <[EMAIL PROTECTED]>: > > Sumuhun mas, mbo, jeng, de, kek, nek saya setuju dengan kang fairus fauzy, > jangan jauh2 dulu, sempurnakan dulu diri sendiri kalo bisa, kalo belum > sempurna ga usah ngomong deh (gw yakin manusia ga ada yang sempurna), kalo > udah merasa bersih dari dosa, sampai dosa terkecil baru ngomong, kita kaitkan > ke hal lain, saat ini banyak orang2 miskin, kalo merasa sempurna bikin mereka > sejahtera, kalo belum bisa membuat sejahtera mendingan diem deh. AGAMAKU > AGAMAKU, AGAMAMU AGAMAMU. > > Moderatornya lagi membiarkan isyu agama gentayangan seenaknya. > > fairus fauzy <[EMAIL PROTECTED]> wrote: To: > [email protected] > From: fairus fauzy <[EMAIL PROTECTED]> > Date: Tue, 3 Jun 2008 16:37:03 +0700 (ICT) > Subject: Balasan: :: Milist NB :: BINCANG-BINCANG SOAL ISU > :ÂYESUS TIDAK MATI DISALIB (Bagian 2) > > > Nabi Isa itu Tidak mati disalib...melainkan sebelum disalib dia telah diambil > rohnya oleh Allah(dengan kekuasaan Allah tentunya) dan Yang disalib itu > adalah murid nabi Isa yang dengan kekuasaan Allah tentunya(akal manusia tidak > akan bisa menelaah) dimiripkan untuk mengagntikan Nabi Isa disalib.Jadi Nabi > Isa telah Lahir dan Mati... > Mengenai Nabi Isa dibangkitkan lagi memang benar diajarkan Islam disebutkan > Nabi Isa akan bangkit..Namun Bukan bangkit sebagai Yesus melainkan akan > bangkit diakhir zaman untuk menyelamatkan umat dari Dajjal.... > Tentunya anda tau mengenai Dajjal bukan..?! > Saran saya kepada anda bahwa uruslah agama mu sendiri tidak perlu repot2 > mengurusi agama orang lain....Tidak perlu kalian menjelekkan agama selain > agama yang anda anut...(kecuali kalau agama anda mengajarkan untuk memusuhi > dan menjelekan agama lain) karena Islam tidak pernah mengajarkan umatnya > untuk menjelekan agama lain... > thnx > > dede wijaya <[EMAIL PROTECTED]> wrote: > SERI 4: BINCANG-BINCANG SOAL ISU:ÂYESUS TIDAK MATI DISALIB > (Bagian 1) > > > Âdan karena ucapan mereka: Âsesungguhnya kami telah membunuh Al Masih . > Padahala mereka tidak membunuhnya dan tidak menyalibnya, melainkan orang yang > diserupakan dengan Isa bagi mereka . (4:157). > ÂTetapi (yang sebenarnya) Allah telah mengangkat Isa kepadaNya (4:158). > ÂDan mereka itu membuat tipu daya, Allah membalas tipu daya mereka, dari > Allah sebaik-baiknya tipu daya (3:54). > > > Teman Muslim sering mencoba mengkoreksi Anda agar kembali sadar dari > kesesatan: > ÂIsa itu tidak dibunuh, dan tidak disalib seperti yang kalian percayai. Ini > adalah koreksi dari Allah bagi kalian. Yang disalib adalah seorang Isa-Isa-an > yang disamarkan Allah kepada orang-orang Yahudi. Sedangkan Isa yang asli > telah diselamatkan oleh Allah dengan mengangkatnya ke surga. Ketika > orang-orang kafir berkomplot untuk menipu daya Isa, mereka malahan dibalas > dengan tipu daya yang lebih canggih dari Allah. > > > Menghadapi dua koreksi: bahwa Isa tidak mati disalib, dan bahwa yang > disalib itu bukan Isa, tetapi ÂIsa-IsaanÂ; apa yang dapat Anda tanggapi? > > > Aneh, untuk peristiwa yang justru dianggap sangat berbobot bagi para > Muslim, ayat Surat 4:157 ini tampil tanpa diulang ditempat lain manapun, > melainkan diwahyukan secara solo, satu-satunya totally isolated. Padahal bagi > Muslim (tidak mesti bagi Quran) ayat ini dimaksudkan untuk mengkoreksi suatu > kesalahan fatal dari sekian miliar umat manusia yang telah terlanjur sesat, > dan berpotensi masuk neraka! Bandingkan betapa beda seriusnya satu ayat solo > ini terhadap keseriusan Quran ketika mengulang-ulang ancaman akan siksaan api > neraka dan laknat Allah. Itu diperingatkan berulang hingga 783 ayat! Atau > rata-rata 1 ancaman laknat dan siksa neraka setiap ayat Quran! > > > Dengan ayat solo yang satu ini jelas bahwa Muslim tidak cukup mempunyai > referensi untuk membela kebenaran koreksinya. Satu ayat QS 4:157 itu tidak > membukti, jadi bagaiman mengkoreksi. Ia hany melemparkan satu ÂasumsiÂ. > Karena itu pakar Islam harus merekonstruksi pelbagai kisah dengan teori-teori > kemungkinan ini dan itu. Ada yang menteorikan bahwa Isa-Isa-an yang > disalibkan itu adalah Yudas Iskariot. Ada yang bilang itu Barabas atau Simon > dari Kirene. Sekte Ahmadiyah mengklaim bahwa memang Isa-lah yang disalib, > namun tidak sampai mati melainkan hanya pingsan saja, yang menjadi sembuh > didalam kesejukan kubur-batu, yang akhirnya keluar dan minggat ke Kashmir dan > wafat di sana dalam usia 120 tahun setelah menikah dan hidup sejahtera... > > > Ayat dan dongeng yang mengikutinya bisa menjadi mitos, namun segera > berbalik menjadi salah satu ayat yang paling bermasalah dari seluruh Quran, > jikalau mereka mau sedikit saja menelusurinya. Tanganilah isu ini dengan > bijak. Lakukanlah cara Âwarming up dan bertanya dari kejauhan: > > > ÂKami melihat Quran hanya menolak kematian Isa dalam satu ayat, namun > sebaliknya banyak ayat Quran justru mencatat tentang kematian Isa. Seperti QS > 5:117, 3:55, 4:159. Dan dalam Surat 19:33 kematian dan bahkan kebangkitan Isa > diakui Quran! Kita tidak bisa membayangkan ada kematian atau kebangkitan > terjadi di sorga. Maka kematian Isa dalam ayat ini pastilah sebuah > kematian/kebangkitan historis dalam satu rangkaian siklus kehidupan di > dunia: > ÂDan kesejahteraan atasku pada hari aku dilahirkan, pada hari aku wafat dan > pada waktu aku dibangkitkan hidup kembali. > Jadi kenapa kalian bisa lebih yakin bahwa Isa tidak mati dibunuh? > > > Dan mereka akan memberi alasan dari segi perlindungan Tuhan terhadap para > nabiNya. Mereka menolak penyaliban isa karena beralasan bahwa Tuhan pun > pasti akan menolaknya juga. Isa adalah nabi yang amat suci dan dekat dengan > Tuhan dan terjaga/terpelihara (maksum) didalamNya; tidak mungkin dia > dibiarkan terhina, teraniaya dan terbantai begitu rupa oleh manusia bejad. > Dan tidak mungkin Tuhan menunjukkan kelemahanNya dengan membiarkan pemaksaan > keji ini oleh kaum najis... > > > Nah, dari apa yang mereka gambarkan ini, Anda menangkap bahwa kematian Isa > yang mereka pikirkan adalah jenis Kematian Martir bagi Tuhan. Mereka tidak > mengenal Anak Domba Tuhan dalam Kematian Kurban bagi pengikut-pengikutNya. > Tidak sedikitpun mereka menafsirkan bahwa kematian Isa itu ada kaitannya > dengan pengorbanan dan penebusan bagi dosa manusia. Disnilah Anda dapat > melemparkan pertanyaan pancingan Anda: > > > ÂYa, Surat An Nisaa ayat 157 ini menegaskan (tanpa menjelaskan) bahwa Isa > tidak mati dalam kematian-martir melawan musuh-musuh Allah. Sedangkan > kematian Yesus seperti yang kami maksudkan adalah kematian-kurban. Anda tahu > membedakan kematian martir dan kematian kurban? > > > Mereka akan tergoda, dan mempersilahkan Anda untuk menjelaskannya dari > perspektif Kristiani. > > > PENJELASAN KEMATIAN YESUS > Pertama-tama jelaskan bahwa kematian martir itu adalah kematian yang > mempertahankan kebenaran dan bertahan terhadap pemaksaan dari musuh-musuh > Tuhan hingga akhir hayatnya karena dibunuh. Kematian demi kebenaran ini > merupakan akibat paksaan yang tidak bisa dihindari lagi kecuali menyangkal > cinta kasihnya kepada Tuhan dan kebenaranNya. Ia dibunuh dalam kemartiran, > dimana Tuhanlah yang menjadi pusat pembaktiannya. > > > Berbeda dengan kematian-kurban dimana seseorang merelakan jiwanya sendiri > untuk dikorbankan (masih bisa dihindari, tetapi ia merelakan) demi kasih yang > begitu besar untuk menyelamatkan jiwa-jiwa orang yang dikasihinya. Inilah > sebuah kematian Âtukar guling yang merupakan Âwin-win solution (semua > pihak > diuntungkan) demi menebus kematian para kekasihnya. > > > Kedua jenis kematian disini total berlandaskan kasih, dan tidak > diselewengkan dengan dalil-dalil manusia yang melekatkan kebencian dan dendam > atas nama Tuhan atau ÂperjuanganÂ. > ÂDan sekalipun aku membagi-bagikan segala sesuatu yang ada padaku, bahkan > menyerahkan tubuhku untuk dibakar (mati sahid, dll), tetapi jika aku tidak > mempunyai kasih, sedikitpun tidak ada faedahnya bagiku. Sebab, ÂAmarah > manusia tidak mengerjakan kebenaran dihadapan Tuhan. (I Kor 13:13; Yak > 1:20) > > > Quran tampaknya tidak mengenal kematian-kurban. Namun bila Anda jeli, > sesungguhnya Surat 19:33 di atas tersirat nubuat Isa akan kematian kurban > bagi dirinya. Yaitu Isa bahkan akan tetap menemui kesejahteraan (perfect > peace) pada hari ia wafat, karena ia merelakan kematiannya dalam > damai-sejahtera yang sejati. > > > Untuk melukiskan ujud kematian-kurban kepada teman Muslim, Anda dapat > memperlihatkan keseluruhan perikop Alkitab HAMBA TUHAN yang MENDERITA dalam > Yesaya 52:13 dst, 53:1-12. di situ kedatangan seorang Hamba yang akan > berkorban telah dinubuatkan sejak awal. Ia yang Âhamba akan menderita, > dihina, dianiaya dan mati disalibkan sebagai korban tebusan bagi umat yang > seharusnya dihukum mati karena dosa-dosanya. Ia sendiri berkata (Lukas > 24:26): > > > ÂBukankah Mesias harus menderita semuanya itu untuk masuk ke dalam > kemuliaanNya? > > > Jadi, berlainan dengan martir, kematian Yesus ini tak ada hubungannya > dengan emosi kebencian atau karena iming-iming mendapat upah surgawi, > melainkan justru Âiming-iming membayar harga tebusan yang dapat langsung > menyelamatkan jiwa umatNya! Dan kematian-kurban ini dinyatakan dalam bahasa > Yesus sendiri: > > > ÂAkulah gembala yang baik. Gembala yang baik memberikan nyawanya bagi > domba-dombanya... Aku memberikan nyawaKu untuk menerimanya kembali. Tidak > seorangpun mengambilnya (nyawa ini) daripadaKu, melainkan Aku memberikannya > menurut kehendakKu sendiri... (Yohanes 10:11,17,18). > > > > > (Bagian 2) > > KISAH PARA NABI SEGALA ZAMAN VS AL-QURAN > Jika Quran hanya mampu menyangkal kematian Isa dengan satu ayat yang > bersifat klaim, tanpa bukti dan saksi, maka tidak demikian halnya dengan > Alkitab. Pembuktian akan kebenaran kematian Yesus disalib serta > kebangkitanNya, tidak terkira kokohnya, internal maupun eksternal. Itu sudah > terlalu banyak ditulis para ahli tanpa ada sanggahan yang layak. Namun bukti > yang kita kupas dibawah ini akan menambahi ekstra, yang akan memberikan > perspektif baru kepada teman Muslim. Sebab kematian-kurban memang eksis bagi > Mesias, dan itu bukan bikinan atau diada-adakan oleh manusia. Ia sungguh > telah dijanjikan Tuhan dari mulutNya dan/atau dari tanganNya sendiri, dan > diteruskan turun-temurun sejak manusia pertama! > > > Lihat, Adam dan Hawa dikala itu masih hidup dalam kenaifan budaya alam > fauna dan flora. Keduanya tentu tidak bisa memahami apa itu > Âkematian-kurban. Maka Tuhan harus mengkomunikasikannya secara bertahap > dalam konsepsi, dengan ilustrasi, dan perlambangan darah yang harus ditumpah > sebagai kurban penebus dosa. Dan sejak itu, Tuhan terus berjanji kepada > manusia akan hal yang sama dari zaman ke zaman lewat nabi-nabiNya. > > > Namun cukup mengagetkan bahwa Muhammad justru tidak termasuk dalam deretan > nabi yang meneruskan janji istimewa itu kepada umatnya. Bahkan lebih dari > itu, Allah SWT tampaknya sengaja mengosongkan janji itu dari wahyu-wahyu yang > diturunkan kepadanya, walau masih bisa ditemukan jejak-jejak janji tersebut > yang akan kita bicarakan dibawah ini. > > > 1). Kisah di zaman Adam > Simaklah Kitab Kejadian 3:15, dimana Tuhan berkata kepada Iblis dalam > ungkapan yang visioner, dan karenanya harus dipahami secara visioner pula: > ÂBerfirmanlah TUHAN kepada ular (si Iblis) itu: > ÂAku akan mengadakan permusuhan antara engkau dan perempuan ini, antara > keturunanmu dan keturunannya. Keturunannya (akhirnya Yesus) akan meremukkan > kepalamu (mengalahkan total), dan engkau akan meremukkan tumitnya > (melukainya) > > > Tampak sejak awal di Taman Eden, kepada Adam dan Hawa telah dijanjikan > Tuhan akan datangnya satu sosok Mesias yang akan menyelamatkan keturunannya > dengan mengalahkan kuasa setan (meremukkan kepalanya), namun dengan > mengorbankan fisiknya (berdarah, remuk tumitnya). Ini adalah janji besar dari > mulut Tuhan sendiri, janji yang sayangnya tidak dapat ditemukan dalam Quran. > > > Tidak cukup janji mulut, Tuhan masih melanjutkannya dengan wujud tindakan, > yang tentu masih bersifat perlambangan visioner yang jauh ke depan. Ini kita > temukan dalam ayat 21, > Kejadian 3:21 > ÂDan TUHAN Allah membuat pakaian dari kulit binatang untuk manusia dan > untuk isterinya itu, lalu mengenakannya kepada mereka. > > > Tampak bahwa Tuhan melakukan sebuah penganugerahan kasih kepada Adam dan > Hawa dengan membuatkan cawat kulit binatang untuk menutupi ketelanjangan > (dosa) mereka. Tuhan sendirilah yang berinisiatif menggantikan cawat > daun-daunan yang dibuat oleh Adam dan Hawa bagi diri mereka (ayat 7), dikala > Ia baru Âterluka hatiNya oleh dosa pelanggaran Adam! Bukankah itu suatu > demonstrasi kasih Tuhan yang luar biasa ajaib? > > > Tuhan tidak berkenan dengan cawat daun itu karena hal yang amat prinsip. > Cawat daun Âmade in Adam-Hawa itu tidak absah dimata Tuhan karena itu > adalah lambang usaha diri manusia untuk menutupi ketelanjangan (dosa) mereka. > Manusia tidak bisa mengusahakannya, dengan amal apapun! Keadilan dan > kekudusan Tuhan tidak membiarkan satu dosa/kejahatan untuk dihapus oleh 1000 > pahala. Satu kejahatan perkosaan misalnya, tetap harus dihukum, sekalipun > sipemerkosa telah mendermakan pembangunan 1000 rumah ibadat! > > > Cawat daun-daun penutup itu hanya maya, khayalan manusia yang tidak > bertahan dan sia-sia. Hanya cawat kulit Âmade-in-TUHAN yang secara hakiki > mampu menutup/menebus dosa manusia! > > > Perhatikan bahwa Quran sesungguhnya juga berbicara tentang Âcawat daun > made in Adam, ÂLalu keduanya memakan (buah pohon itu) maka kelihatanlah > auratnya. Dan keduanya mulai menutupi dari daun-daun surga. (QS 20:121). > Namun entah kenapa Quran kembali mengosongkan apa yang justru jauh lebih > esensial dari daun, yaitu Âcawat kulit made in TUHAN. > > > Sejumlah teman Muslim tidak mampu menyembunyikan keheranannya, kenapa cawat > kulit ini justru tidak muncul dalam Quran? Menjadi pertanyaan yang tak > terhindari: Apakah Alkitab atau AlQuran yang mewahyukan berita yang asli? > Mungkinkah ayat tentang Âcawat made in TUHAN ini sengaja dipalsukan > (ditambahkan) kepada Alkitab sejak ribuan tahun sebelum Muhammad, ataukah > Quran yang sengaja mengosongkannya dengan alasan ÂmengoreksinyaÂ? Agaknya > salah satu harus siap divonis sebagai keliru: yang Âmenambahi atau yang > Âmengosongi. > > > Kulit binatang muncul dari penyembelihan binatang. Ada kematian berdarah di > sini. Diperkenalkan TUHAN untuk pertama kalinya suatu simbol korban-darah > untuk Âcawat penutup dosa. Korban darah binatang ini telah > memvisualisasikan > sebuah analogi konsep kematian & penebusan yang dirancang TUHAN demi > menyelamatkan Adam serta seluruh keturunannya. Hukum Musa berkata, ÂNyawa > makhluk ada dalam darahnya...dan tanpa penumpahan darah (korban) tak ada > pengampunan (Imamat 17:11, Ibrani 9:22). Sebab penutupan/penghapusan dosa > manusia tidak bisa dilakukan oleh cawat daun: usaha-diri manusia melainkan > hanya oleh kasih-karunia Tuhan lewat kematian sang Mesias sebagai > korban-penebusan. > > > 2). Kisah di Zaman Abraham > Kisah dari pengorbanan anak Abraham yang berakhir dengan penebusan > kematiannya melalui seekor domba jantan, dicatat dengan lurus dalam Kejadian > 22:8 dan 13, > ÂTuhan yang akan menyediakan anak domba untuk korban bakaran bagiNya > ÂAbraham mengambil domba itu, lalu mengorbankannya sebagai korban bakaran > pengganti anaknya. > > > Sama dengan absennya identitas Isa gadungan di kayu salib, di sini Quran > kembali tidak menjelaskan siapa anak Abraham itu, dan lebih gawat lagi, > mengosongkan apa makna hakiki dari kisah mahabesar ini! (Disini, kita tidak > perlu masuk dalam kontroversi siapa sang anak itu, Ismael atau Ishak, agar > fokus terpenting kita, yaitu konsep PENEBUSANÂtidak mengabur). Bagaimana > duduk perkaranya? Ya, mungkinkah Tuhan mendadak menyuruh seorang bapak yang > sangat saleh untuk membunuh anaknya? Dosa apakah yang dilakukan si anak > sehingga ia layak dibunuh? Ada apakah dibalik sebuah teka-teki yang sangat > misterius bahkan tak masuk akal ini? Menguji iman? Oke, Tetapi tentu Tuhan > tidak kehabisan cara menguji, sehingga harus terpaksa memilih cara yang > melawan hukumNya. Dia sendiri telah melarang pembunuhan dan pengurbanan darah > anak (yang sering dilakukan oleh orang kafir, Imamat 18:21), masakan kini > tiba-tiba justru memerintah Abraham untuk berbalik membunuh? Dalam sebuah > pembunuhan keluarga > nabi. > > > Banyak teman Muslim beranggapan bahwa kisah ini hanya menyangkut ujian > Allah kepada Ibrahim. KELIRU. Dengan anggapan yang hanya sebatas demikian, > mereka tidak mampu menghilangkan antagonisme yang dimunculkan Tuhan. Mereka > belum menyadari bahwa itu adalah suatu penggambaran dahsyat akan sebuah > konsep penebusan yang dijanjikan Tuhan bagi manusia, yang diperagakan lewat > sebuah tamsil dimana sang kurban (anak domba) perlu dibunuh demi menebus sang > anak (anak Abraham). Demi keadilanNya, Tuhan memang mengharuskan semua orang > berdosa untuk dihukum mati. Dan orang-orang berdosa itu diibaratkan sebagai > anak Abraham yang harus disembelih, tetapi diselamatkan Tuhan dengan sebuah > tebusan Anak Domba Tuhan yang melambangkan Yesus Mesias. Agar perlambangannya > tidak salah, maka Nabi Yahya diutus untuk mengkonfirmasikan hal tersebut > ketika Yesus secara fisik datang menghampirinya: > "Lihatlah Anak domba Allah, yang menghapus dosa dunia (Yohanes 1:29). > > > Sesungguhnya konsep penebusan ini sudah dilukiskan juga di dalam Surat > Quran 37:107 dengan penggambaran yang sesuai, yaitu satu Âkurban yang > besar/agung bagi tebusan sang anak! Namun kejelasan konsep ini terhalang > oleh terjemahan tafsiran yang apriori menjuruskan makna Âkurban itu kepada > pengertian yang amat dipersempit, dipatok menjadi Âseekor binatang > sembelihanÂ, padahal wahyu aslinya samasekali tidak memuat teks kata-kata > seperti itu. Bandingkan dengan kritis sejumlah terjemahan berikut ini: > > > Dan Kami tebus anak itu dengan seekor sembelihan yang besar (terjemahan > Depag) > Dan kami menebusnya dengan sembelihan yang besar (terjemahan Disbintalad) > We ransomed his son with a noble sacrifice (satu./sebuah kurban > agung/mulia, terjemah N.J. Dawood) > And We ransomed him with a mighty sacrifice (sebuah kurban perkasa, > terjemah Arberry) > Then We ransomed him with a tremendous victim (sebuah kurban yang dahsyat, > terjemah Mohammed Pickthall) > And We ransomed him with a great sacrifice (kurban yang besar/hebat, > terjemah Yusuf Ali) > > > Itu adalah gambaran sebuah konsep penebusan, yang datang secara vertikal > dari atas ke bawah (dari Tuhan bagi anak-Nya), dengan korban yang amat besar > nilainya (dahsyat). Sedemikian besar korban itu sehingga pewahyuan Quran > sengaja memakai kata asli yang sama dengan salah satu diantara 99 nama/asma > Allah, yaitu Al-Azhim (Yang Maha-Agung). > > > ÂWa fa dainaahu bi dzibhin Âazhiim. > > > Jadi konteks dan makna kisah dan ayat-ayat tersebut sebenarnya tidak ada > hubungannya sama sekali dengan pemberian sedekahan dari manusia bagi > sesamanya (yang bersifat horizontal) pada hari raya Kurban/Haji. Tuhan > sendiri secara Âvertikal dari atas yang menyediakan (menganugerahkan > tebusan > keselamatanNya kepada manusia, dan bukan manusia Abraham yang > mengusahakannya! (kembali sama dengan analogi penebusan dari Cawat Kulit > Âmade-in TuhanÂ: sebuah anugerah, bukan cawat daun yang diusahakan Adam). > Teman Muslim akan mendapat pencerahan apabila berani bertanya 3 hal sederhana > berikut ini di dalam keheningannya: > > > > Apa perlu-perlunya sang anak itu ditebus oleh Tuhan? > > Bila Tuhan hanya ingin menguji iman Ibrahim (yang toh sudah diketahuiNya), > Allah cukup melepaskan anaknya tanpa perlu tebusan kurban. Ujian iman telah > berakhir pada waktu malaikat berseru kepada Ibrahim: ÂSTOP, jangan bunuh > anakmu! > > > > Dan kenapa Tuhan memerlukan kematian-kurban? > > Pakar Islam sulit menjawabnya dari sumbernya. Quran, kecuali mencoba > mendalil logis tanpa dapat membuyarkan antagonisme dan misteri intinya: > kenapa Allah sampai memilih memerintahkan sebuah pembunuhan keluarga nabi? > Itulah. Kematian-kurban ini adalah gambaran analogis dari kematian seorang Al > Masih, yang diperlukan sebagai kurban penebus (untuk mengganti) kematian yang > harus dikenakan kepada setiap manusia (karena semua manusia itu berdosa). > Sebab Hukum Keadilan Tuhan tetap berkata tanpa pandang bulu bahwa setiap > manusia berdosa harus dihukum mati (Roma 6:23); namun Hukum KASIH Tuhan kini > dapat berkata, ÂAnak Manusia memberikan nyawaNya menjadi tebusan bagi banyak > orang (Matius 20:28). > > > (Teologi Islam tidak berdaya menjawab pertanyaan, bagaimanakah Allah SWT > itu dapat Maha-adil (yang harus menghukum), padahal Ia juga Mahakasih (yang > akan mengampuni)? Dapatkah Allah mengampuni seseorang tanpa memperkosa > hakekat diriNya yang Maha-adil? > > > Ketika Tuhan tidak menghukum karena KasihNya, Tuhan menjadi tidak Adil; dan > ketika menghukum karena AdilNya, Tuhan menjadi tidak Kasih. Ketegangan > (ÂKontradiksiÂ) ini hanya mungkin direkonsiliasikan dalam kematian-kurban > sebagai PenebusÂPembayar harga kematianÂyang mempertemukan Keadilan Tuhan > dengan Kasih Tuhan. Kini Ia tetap Mahaadil ketika mengampuni dalam KasihNya, > karena Tuhan sendiri telah membayar harga Keadilan itu lewat kematian Al > Masih, Kalimatullah yang diinkarnasikan ke dalam dunia!) > > > > Dan bila itu tebusan bagi sang anak, kenapa menebus (binatang) justru > dianggap bernilai sangat Âagung-mulia ketimbang yang ditebusnya (manusia)? > > Tak ada jawaban selain 2 kemungkinan. Pertama, kalau kita rela dibohongi > dengan pelbagai terjemahan/tafsiran yang tidak lurus. Kedua, kecuali si > penebus itu adalah benar Sang Penebus! Itulah kematian-kurban yang > sebesar-besar dahsyat, mulia, agung, perkasa, pemenang, seperti yang telah > kita bicarakan di muka. Sebab seberapakah besar dan dahsyatnya korban kita > jikalau itu hanya terbatas pada pemberian sedekah di hari raya? Korban > semacam ini tidak mempunyai nilai-tebusan (atoning value), kecuali nilai > sosial dan religi. > > > > > SERI 4: > BINCANG-BINCANG SOAL ISU:ÂYESUS TIDAK MATI DISALIB > (Bagian 3) > > > 3). Kisah di Zaman Musa > Rupa-rupanya kisah Taurat tentang konfrontasi Musa melawan Firaun adalah > topik favorit yang dicatat Quran. Begitu favoritnya sehingga Quran merasa > perlu mencatatnya berulang-ulang hingga 27 kali! Meski demikian, tidak > sekalipun didalamnya Muhammad mencatat peristiwa yang paling inti dari Kisan > Keluaran dari Taurat Musa ini, yaitu kisah PASKAH! > > > (bersambung) > 4) Kisah di Zaman Daud > 5) Kisah di Zaman Nabi Yesaya > 6) Kisah di Zaman Nabi Yohanes (Nabi Yahya) > (Bagian 4) > > > ÂNubuat Adikodrati Ke Depan VS ÂJejak KAKI KEBELAKANG > 1). Absennya Novum > 2). Siapakah sosok Isa-Isaan yang diklaim Quran? > 3). Memulihkan suasana keraguan, atau menambahinya? > 4). Dan siapa saksi-saksi-nya? > > MUSTAHIL ADA WAHYU TUHAN YANG BOLEH KADALUARSA > > > SERI 5: > BINCANG-BINCANG SOAL ISU: ÂALKITAB-MU PALSU > > > > > > > > > SERI 4: BINCANG-BINCANG SOAL ISU:ÂYESUS TIDAK MATI DISALIB > (Bagian 1) > > > Âdan karena ucapan mereka: Âsesungguhnya kami telah membunuh Al Masih . > Padahala mereka tidak membunuhnya dan tidak menyalibnya, melainkan orang yang > diserupakan dengan Isa bagi mereka . (4:157). > ÂTetapi (yang sebenarnya) Allah telah mengangkat Isa kepadaNya (4:158). > ÂDan mereka itu membuat tipu daya, Allah membalas tipu daya mereka, dari > Allah sebaik-baiknya tipu daya (3:54). > > > Teman Muslim sering mencoba mengkoreksi Anda agar kembali sadar dari > kesesatan: > ÂIsa itu tidak dibunuh, dan tidak disalib seperti yang kalian percayai. Ini > adalah koreksi dari Allah bagi kalian. Yang disalib adalah seorang Isa-Isa-an > yang disamarkan Allah kepada orang-orang Yahudi. Sedangkan Isa yang asli > telah diselamatkan oleh Allah dengan mengangkatnya ke surga. Ketika > orang-orang kafir berkomplot untuk menipu daya Isa, mereka malahan dibalas > dengan tipu daya yang lebih canggih dari Allah. > > > Menghadapi dua koreksi: bahwa Isa tidak mati disalib, dan bahwa yang > disalib itu bukan Isa, tetapi ÂIsa-IsaanÂ; apa yang dapat Anda tanggapi? > > > Aneh, untuk peristiwa yang justru dianggap sangat berbobot bagi para > Muslim, ayat Surat 4:157 ini tampil tanpa diulang ditempat lain manapun, > melainkan diwahyukan secara solo, satu-satunya totally isolated. Padahal bagi > Muslim (tidak mesti bagi Quran) ayat ini dimaksudkan untuk mengkoreksi suatu > kesalahan fatal dari sekian miliar umat manusia yang telah terlanjur sesat, > dan berpotensi masuk neraka! Bandingkan betapa beda seriusnya satu ayat solo > ini terhadap keseriusan Quran ketika mengulang-ulang ancaman akan siksaan api > neraka dan laknat Allah. Itu diperingatkan berulang hingga 783 ayat! Atau > rata-rata 1 ancaman laknat dan siksa neraka setiap ayat Quran! > > > Dengan ayat solo yang satu ini jelas bahwa Muslim tidak cukup mempunyai > referensi untuk membela kebenaran koreksinya. Satu ayat QS 4:157 itu tidak > membukti, jadi bagaiman mengkoreksi. Ia hany melemparkan satu ÂasumsiÂ. > Karena itu pakar Islam harus merekonstruksi pelbagai kisah dengan teori-teori > kemungkinan ini dan itu. Ada yang menteorikan bahwa Isa-Isa-an yang > disalibkan itu adalah Yudas Iskariot. Ada yang bilang itu Barabas atau Simon > dari Kirene. Sekte Ahmadiyah mengklaim bahwa memang Isa-lah yang disalib, > namun tidak sampai mati melainkan hanya pingsan saja, yang menjadi sembuh > didalam kesejukan kubur-batu, yang akhirnya keluar dan minggat ke Kashmir dan > wafat di sana dalam usia 120 tahun setelah menikah dan hidup sejahtera... > > > Ayat dan dongeng yang mengikutinya bisa menjadi mitos, namun segera > berbalik menjadi salah satu ayat yang paling bermasalah dari seluruh Quran, > jikalau mereka mau sedikit saja menelusurinya. Tanganilah isu ini dengan > bijak. Lakukanlah cara Âwarming up dan bertanya dari kejauhan: > > > ÂKami melihat Quran hanya menolak kematian Isa dalam satu ayat, namun > sebaliknya banyak ayat Quran justru mencatat tentang kematian Isa. Seperti QS > 5:117, 3:55, 4:159. Dan dalam Surat 19:33 kematian dan bahkan kebangkitan Isa > diakui Quran! Kita tidak bisa membayangkan ada kematian atau kebangkitan > terjadi di sorga. Maka kematian Isa dalam ayat ini pastilah sebuah > kematian/kebangkitan historis dalam satu rangkaian siklus kehidupan di > dunia: > ÂDan kesejahteraan atasku pada hari aku dilahirkan, pada hari aku wafat dan > pada waktu aku dibangkitkan hidup kembali. > Jadi kenapa kalian bisa lebih yakin bahwa Isa tidak mati dibunuh? > > > Dan mereka akan memberi alasan dari segi perlindungan Tuhan terhadap para > nabiNya. Mereka menolak penyaliban isa karena beralasan bahwa Tuhan pun > pasti akan menolaknya juga. Isa adalah nabi yang amat suci dan dekat dengan > Tuhan dan terjaga/terpelihara (maksum) didalamNya; tidak mungkin dia > dibiarkan terhina, teraniaya dan terbantai begitu rupa oleh manusia bejad. > Dan tidak mungkin Tuhan menunjukkan kelemahanNya dengan membiarkan pemaksaan > keji ini oleh kaum najis... > > > Nah, dari apa yang mereka gambarkan ini, Anda menangkap bahwa kematian Isa > yang mereka pikirkan adalah jenis Kematian Martir bagi Tuhan. Mereka tidak > mengenal Anak Domba Tuhan dalam Kematian Kurban bagi pengikut-pengikutNya. > Tidak sedikitpun mereka menafsirkan bahwa kematian Isa itu ada kaitannya > dengan pengorbanan dan penebusan bagi dosa manusia. Disnilah Anda dapat > melemparkan pertanyaan pancingan Anda: > > > ÂYa, Surat An Nisaa ayat 157 ini menegaskan (tanpa menjelaskan) bahwa Isa > tidak mati dalam kematian-martir melawan musuh-musuh Allah. Sedangkan > kematian Yesus seperti yang kami maksudkan adalah kematian-kurban. Anda tahu > membedakan kematian martir dan kematian kurban? > > > Mereka akan tergoda, dan mempersilahkan Anda untuk menjelaskannya dari > perspektif Kristiani. > > > PENJELASAN KEMATIAN YESUS > Pertama-tama jelaskan bahwa kematian martir itu adalah kematian yang > mempertahankan kebenaran dan bertahan terhadap pemaksaan dari musuh-musuh > Tuhan hingga akhir hayatnya karena dibunuh. Kematian demi kebenaran ini > merupakan akibat paksaan yang tidak bisa dihindari lagi kecuali menyangkal > cinta kasihnya kepada Tuhan dan kebenaranNya. Ia dibunuh dalam kemartiran, > dimana Tuhanlah yang menjadi pusat pembaktiannya. > > > Berbeda dengan kematian-kurban dimana seseorang merelakan jiwanya sendiri > untuk dikorbankan (masih bisa dihindari, tetapi ia merelakan) demi kasih yang > begitu besar untuk menyelamatkan jiwa-jiwa orang yang dikasihinya. Inilah > sebuah kematian Âtukar guling yang merupakan Âwin-win solution (semua > pihak > diuntungkan) demi menebus kematian para kekasihnya. > > > Kedua jenis kematian disini total berlandaskan kasih, dan tidak > diselewengkan dengan dalil-dalil manusia yang melekatkan kebencian dan dendam > atas nama Tuhan atau ÂperjuanganÂ. > ÂDan sekalipun aku membagi-bagikan segala sesuatu yang ada padaku, bahkan > menyerahkan tubuhku untuk dibakar (mati sahid, dll), tetapi jika aku tidak > mempunyai kasih, sedikitpun tidak ada faedahnya bagiku. Sebab, ÂAmarah > manusia tidak mengerjakan kebenaran dihadapan Tuhan. (I Kor 13:13; Yak > 1:20) > > > Quran tampaknya tidak mengenal kematian-kurban. Namun bila Anda jeli, > sesungguhnya Surat 19:33 di atas tersirat nubuat Isa akan kematian kurban > bagi dirinya. Yaitu Isa bahkan akan tetap menemui kesejahteraan (perfect > peace) pada hari ia wafat, karena ia merelakan kematiannya dalam > damai-sejahtera yang sejati. > > > Untuk melukiskan ujud kematian-kurban kepada teman Muslim, Anda dapat > memperlihatkan keseluruhan perikop Alkitab HAMBA TUHAN yang MENDERITA dalam > Yesaya 52:13 dst, 53:1-12. di situ kedatangan seorang Hamba yang akan > berkorban telah dinubuatkan sejak awal. Ia yang Âhamba akan menderita, > dihina, dianiaya dan mati disalibkan sebagai korban tebusan bagi umat yang > seharusnya dihukum mati karena dosa-dosanya. Ia sendiri berkata (Lukas > 24:26): > > > ÂBukankah Mesias harus menderita semuanya itu untuk masuk ke dalam > kemuliaanNya? > > > Jadi, berlainan dengan martir, kematian Yesus ini tak ada hubungannya > dengan emosi kebencian atau karena iming-iming mendapat upah surgawi, > melainkan justru Âiming-iming membayar harga tebusan yang dapat langsung > menyelamatkan jiwa umatNya! Dan kematian-kurban ini dinyatakan dalam bahasa > Yesus sendiri: > > > ÂAkulah gembala yang baik. Gembala yang baik memberikan nyawanya bagi > domba-dombanya... Aku memberikan nyawaKu untuk menerimanya kembali. Tidak > seorangpun mengambilnya (nyawa ini) daripadaKu, melainkan Aku memberikannya > menurut kehendakKu sendiri... (Yohanes 10:11,17,18). > > > > > SERI 4: > BINCANG-BINCANG SOAL ISU:ÂYESUS TIDAK MATI DISALIB > (Bagian 2) > > > KISAH PARA NABI SEGALA ZAMAN VS AL-QURAN > Jika Quran hanya mampu menyangkal kematian Isa dengan satu ayat yang > bersifat klaim, tanpa bukti dan saksi, maka tidak demikian halnya dengan > Alkitab. Pembuktian akan kebenaran kematian Yesus disalib serta > kebangkitanNya, tidak terkira kokohnya, internal maupun eksternal. Itu sudah > terlalu banyak ditulis para ahli tanpa ada sanggahan yang layak. Namun bukti > yang kita kupas dibawah ini akan menambahi ekstra, yang akan memberikan > perspektif baru kepada teman Muslim. Sebab kematian-kurban memang eksis bagi > Mesias, dan itu bukan bikinan atau diada-adakan oleh manusia. Ia sungguh > telah dijanjikan Tuhan dari mulutNya dan/atau dari tanganNya sendiri, dan > diteruskan turun-temurun sejak manusia pertama! > > > Lihat, Adam dan Hawa dikala itu masih hidup dalam kenaifan budaya alam > fauna dan flora. Keduanya tentu tidak bisa memahami apa itu > Âkematian-kurban. Maka Tuhan harus mengkomunikasikannya secara bertahap > dalam konsepsi, dengan ilustrasi, dan perlambangan darah yang harus ditumpah > sebagai kurban penebus dosa. Dan sejak itu, Tuhan terus berjanji kepada > manusia akan hal yang sama dari zaman ke zaman lewat nabi-nabiNya. > > > Namun cukup mengagetkan bahwa Muhammad justru tidak termasuk dalam deretan > nabi yang meneruskan janji istimewa itu kepada umatnya. Bahkan lebih dari > itu, Allah SWT tampaknya sengaja mengosongkan janji itu dari wahyu-wahyu yang > diturunkan kepadanya, walau masih bisa ditemukan jejak-jejak janji tersebut > yang akan kita bicarakan dibawah ini. > > > 1). Kisah di zaman Adam > Simaklah Kitab Kejadian 3:15, dimana Tuhan berkata kepada Iblis dalam > ungkapan yang visioner, dan karenanya harus dipahami secara visioner pula: > ÂBerfirmanlah TUHAN kepada ular (si Iblis) itu: > ÂAku akan mengadakan permusuhan antara engkau dan perempuan ini, antara > keturunanmu dan keturunannya. Keturunannya (akhirnya Yesus) akan meremukkan > kepalamu (mengalahkan total), dan engkau akan meremukkan tumitnya > (melukainya) > > > Tampak sejak awal di Taman Eden, kepada Adam dan Hawa telah dijanjikan > Tuhan akan datangnya satu sosok Mesias yang akan menyelamatkan keturunannya > dengan mengalahkan kuasa setan (meremukkan kepalanya), namun dengan > mengorbankan fisiknya (berdarah, remuk tumitnya). Ini adalah janji besar dari > mulut Tuhan sendiri, janji yang sayangnya tidak dapat ditemukan dalam Quran. > > > Tidak cukup janji mulut, Tuhan masih melanjutkannya dengan wujud tindakan, > yang tentu masih bersifat perlambangan visioner yang jauh ke depan. Ini kita > temukan dalam ayat 21, > Kejadian 3:21 > ÂDan TUHAN Allah membuat pakaian dari kulit binatang untuk manusia dan > untuk isterinya itu, lalu mengenakannya kepada mereka. > > > Tampak bahwa Tuhan melakukan sebuah penganugerahan kasih kepada Adam dan > Hawa dengan membuatkan cawat kulit binatang untuk menutupi ketelanjangan > (dosa) mereka. Tuhan sendirilah yang berinisiatif menggantikan cawat > daun-daunan yang dibuat oleh Adam dan Hawa bagi diri mereka (ayat 7), dikala > Ia baru Âterluka hatiNya oleh dosa pelanggaran Adam! Bukankah itu suatu > demonstrasi kasih Tuhan yang luar biasa ajaib? > > > Tuhan tidak berkenan dengan cawat daun itu karena hal yang amat prinsip. > Cawat daun Âmade in Adam-Hawa itu tidak absah dimata Tuhan karena itu > adalah > lambang usaha diri manusia untuk menutupi ketelanjangan (dosa) mereka. > Manusia tidak bisa mengusahakannya, dengan amal apapun! Keadilan dan > kekudusan Tuhan tidak membiarkan satu dosa/kejahatan untuk dihapus oleh 1000 > pahala. Satu kejahatan perkosaan misalnya, tetap harus dihukum, sekalipun > sipemerkosa telah mendermakan pembangunan 1000 rumah ibadat! > > > Cawat daun-daun penutup itu hanya maya, khayalan manusia yang tidak > bertahan dan sia-sia. Hanya cawat kulit Âmade-in-TUHAN yang secara hakiki > mampu menutup/menebus dosa manusia! > > > Perhatikan bahwa Quran sesungguhnya juga berbicara tentang Âcawat daun made > in Adam, ÂLalu keduanya memakan (buah pohon itu) maka kelihatanlah > auratnya. > Dan keduanya mulai menutupi dari daun-daun surga. (QS 20:121). Namun entah > kenapa Quran kembali mengosongkan apa yang justru jauh lebih esensial dari > daun, yaitu Âcawat kulit made in TUHAN. > > > Sejumlah teman Muslim tidak mampu menyembunyikan keheranannya, kenapa cawat > kulit ini justru tidak muncul dalam Quran? Menjadi pertanyaan yang tak > terhindari: Apakah Alkitab atau AlQuran yang mewahyukan berita yang asli? > Mungkinkah ayat tentang Âcawat made in TUHAN ini sengaja dipalsukan > (ditambahkan) kepada Alkitab sejak ribuan tahun sebelum Muhammad, ataukah > Quran yang sengaja mengosongkannya dengan alasan ÂmengoreksinyaÂ? Agaknya > salah satu harus siap divonis sebagai keliru: yang Âmenambahi atau yang > Âmengosongi. > > > Kulit binatang muncul dari penyembelihan binatang. Ada kematian berdarah di > sini. Diperkenalkan TUHAN untuk pertama kalinya suatu simbol korban-darah > untuk Âcawat penutup dosa. Korban darah binatang ini telah > memvisualisasikan > sebuah analogi konsep kematian & penebusan yang dirancang TUHAN demi > menyelamatkan Adam serta seluruh keturunannya. Hukum Musa berkata, ÂNyawa > makhluk ada dalam darahnya...dan tanpa penumpahan darah (korban) tak ada > pengampunan (Imamat 17:11, Ibrani 9:22). Sebab penutupan/penghapusan dosa > manusia tidak bisa dilakukan oleh cawat daun: usaha-diri manusia melainkan > hanya oleh kasih-karunia Tuhan lewat kematian sang Mesias sebagai > korban-penebusan. > > > 2). Kisah di Zaman Abraham > Kisah dari pengorbanan anak Abraham yang berakhir dengan penebusan > kematiannya melalui seekor domba jantan, dicatat dengan lurus dalam Kejadian > 22:8 dan 13, > ÂTuhan yang akan menyediakan anak domba untuk korban bakaran bagiNya > ÂAbraham mengambil domba itu, lalu mengorbankannya sebagai korban bakaran > pengganti anaknya. > > > Sama dengan absennya identitas Isa gadungan di kayu salib, di sini Quran > kembali tidak menjelaskan siapa anak Abraham itu, dan lebih gawat lagi, > mengosongkan apa makna hakiki dari kisah mahabesar ini! (Disini, kita tidak > perlu masuk dalam kontroversi siapa sang anak itu, Ismael atau Ishak, agar > fokus terpenting kita, yaitu konsep PENEBUSANÂtidak mengabur). Bagaimana > duduk perkaranya? Ya, mungkinkah Tuhan mendadak menyuruh seorang bapak yang > sangat saleh untuk membunuh anaknya? Dosa apakah yang dilakukan si anak > sehingga ia layak dibunuh? Ada apakah dibalik sebuah teka-teki yang sangat > misterius bahkan tak masuk akal ini? Menguji iman? Oke, Tetapi tentu Tuhan > tidak kehabisan cara menguji, sehingga harus terpaksa memilih cara yang > melawan hukumNya. Dia sendiri telah melarang pembunuhan dan pengurbanan darah > anak (yang sering dilakukan oleh orang kafir, Imamat 18:21), masakan kini > tiba-tiba justru memerintah Abraham untuk berbalik membunuh? Dalam sebuah > pembunuhan keluarga > nabi. > > > Banyak teman Muslim beranggapan bahwa kisah ini hanya menyangkut ujian > Allah kepada Ibrahim. KELIRU. Dengan anggapan yang hanya sebatas demikian, > mereka tidak mampu menghilangkan antagonisme yang dimunculkan Tuhan. Mereka > belum menyadari bahwa itu adalah suatu penggambaran dahsyat akan sebuah > konsep penebusan yang dijanjikan Tuhan bagi manusia, yang diperagakan lewat > sebuah tamsil dimana sang kurban (anak domba) perlu dibunuh demi menebus sang > anak (anak Abraham). Demi keadilanNya, Tuhan memang mengharuskan semua orang > berdosa untuk dihukum mati. Dan orang-orang berdosa itu diibaratkan sebagai > anak Abraham yang harus disembelih, tetapi diselamatkan Tuhan dengan sebuah > tebusan Anak Domba Tuhan yang melambangkan Yesus Mesias. Agar perlambangannya > tidak salah, maka Nabi Yahya diutus untuk mengkonfirmasikan hal tersebut > ketika Yesus secara fisik datang menghampirinya: > "Lihatlah Anak domba Allah, yang menghapus dosa dunia (Yohanes 1:29). > > > Sesungguhnya konsep penebusan ini sudah dilukiskan juga di dalam Surat > Quran 37:107 dengan penggambaran yang sesuai, yaitu satu Âkurban yang > besar/agung bagi tebusan sang anak! Namun kejelasan konsep ini terhalang > oleh terjemahan tafsiran yang apriori menjuruskan makna Âkurban itu kepada > pengertian yang amat dipersempit, dipatok menjadi Âseekor binatang > sembelihanÂ, padahal wahyu aslinya samasekali tidak memuat teks kata-kata > seperti itu. Bandingkan dengan kritis sejumlah terjemahan berikut ini: > > > Dan Kami tebus anak itu dengan seekor sembelihan yang besar (terjemahan > Depag) > Dan kami menebusnya dengan sembelihan yang besar (terjemahan Disbintalad) > We ransomed his son with a noble sacrifice (satu./sebuah kurban > agung/mulia, terjemah N.J. Dawood) > And We ransomed him with a mighty sacrifice (sebuah kurban perkasa, > terjemah Arberry) > Then We ransomed him with a tremendous victim (sebuah kurban yang dahsyat, > terjemah Mohammed Pickthall) > And We ransomed him with a great sacrifice (kurban yang besar/hebat, > terjemah Yusuf Ali) > > > Itu adalah gambaran sebuah konsep penebusan, yang datang secara vertikal > dari atas ke bawah (dari Tuhan bagi anak-Nya), dengan korban yang amat besar > nilainya (dahsyat). Sedemikian besar korban itu sehingga pewahyuan Quran > sengaja memakai kata asli yang sama dengan salah satu diantara 99 nama/asma > Allah, yaitu Al-Azhim (Yang Maha-Agung). > > > ÂWa fa dainaahu bi dzibhin Âazhiim. > > > Jadi konteks dan makna kisah dan ayat-ayat tersebut sebenarnya tidak ada > hubungannya sama sekali dengan pemberian sedekahan dari manusia bagi > sesamanya (yang bersifat horizontal) pada hari raya Kurban/Haji. Tuhan > sendiri secara Âvertikal dari atas yang menyediakan (menganugerahkan > tebusan > keselamatanNya kepada manusia, dan bukan manusia Abraham yang > mengusahakannya! (kembali sama dengan analogi penebusan dari Cawat Kulit > Âmade-in TuhanÂ: sebuah anugerah, bukan cawat daun yang diusahakan Adam). > Teman Muslim akan mendapat pencerahan apabila berani bertanya 3 hal sederhana > berikut ini di dalam keheningannya: > > > > Apa perlu-perlunya sang anak itu ditebus oleh Tuhan? > > Bila Tuhan hanya ingin menguji iman Ibrahim (yang toh sudah diketahuiNya), > Allah cukup melepaskan anaknya tanpa perlu tebusan kurban. Ujian iman telah > berakhir pada waktu malaikat berseru kepada Ibrahim: ÂSTOP, jangan bunuh > anakmu! > > > > Dan kenapa Tuhan memerlukan kematian-kurban? > > Pakar Islam sulit menjawabnya dari sumbernya. Quran, kecuali mencoba > mendalil logis tanpa dapat membuyarkan antagonisme dan misteri intinya: > kenapa Allah sampai memilih memerintahkan sebuah pembunuhan keluarga nabi? > Itulah. Kematian-kurban ini adalah gambaran analogis dari kematian seorang Al > Masih, yang diperlukan sebagai kurban penebus (untuk mengganti) kematian yang > harus dikenakan kepada setiap manusia (karena semua manusia itu berdosa). > Sebab Hukum Keadilan Tuhan tetap berkata tanpa pandang bulu bahwa setiap > manusia berdosa harus dihukum mati (Roma 6:23); namun Hukum KASIH Tuhan kini > dapat berkata, ÂAnak Manusia memberikan nyawaNya menjadi tebusan bagi banyak > orang (Matius 20:28). > > > (Teologi Islam tidak berdaya menjawab pertanyaan, bagaimanakah Allah SWT > itu dapat Maha-adil (yang harus menghukum), padahal Ia juga Mahakasih (yang > akan mengampuni)? Dapatkah Allah mengampuni seseorang tanpa memperkosa > hakekat diriNya yang Maha-adil? > > > Ketika Tuhan tidak menghukum karena KasihNya, Tuhan menjadi tidak Adil; dan > ketika menghukum karena AdilNya, Tuhan menjadi tidak Kasih. Ketegangan > (ÂKontradiksiÂ) ini hanya mungkin direkonsiliasikan dalam kematian-kurban > sebagai PenebusÂPembayar harga kematianÂyang mempertemukan Keadilan Tuhan > dengan Kasih Tuhan. Kini Ia tetap Mahaadil ketika mengampuni dalam KasihNya, > karena Tuhan sendiri telah membayar harga Keadilan itu lewat kematian Al > Masih, Kalimatullah yang diinkarnasikan ke dalam dunia!) > > > > Dan bila itu tebusan bagi sang anak, kenapa menebus (binatang) justru > dianggap bernilai sangat Âagung-mulia ketimbang yang ditebusnya (manusia)? > > Tak ada jawaban selain 2 kemungkinan. Pertama, kalau kita rela dibohongi > dengan pelbagai terjemahan/tafsiran yang tidak lurus. Kedua, kecuali si > penebus itu adalah benar Sang Penebus! Itulah kematian-kurban yang > sebesar-besar dahsyat, mulia, agung, perkasa, pemenang, seperti yang telah > kita bicarakan di muka. Sebab seberapakah besar dan dahsyatnya korban kita > jikalau itu hanya terbatas pada pemberian sedekah di hari raya? Korban > semacam ini tidak mempunyai nilai-tebusan (atoning value), kecuali nilai > sosial dan religi. > > > > > SERI 4: > BINCANG-BINCANG SOAL ISU:ÂYESUS TIDAK MATI DISALIB > (Bagian 3) > > > 3). Kisah di Zaman Musa > Rupa-rupanya kisah Taurat tentang konfrontasi Musa melawan Firaun adalah > topik favorit yang dicatat Quran. Begitu favoritnya sehingga Quran merasa > perlu mencatatnya berulang-ulang hingga 27 kali! Meski demikian, tidak > sekalipun didalamnya Muhammad mencatat peristiwa yang paling inti dari Kisan > Keluaran dari Taurat Musa ini, yaitu kisah PASKAH! > > > (bersambung) > 4) Kisah di Zaman Daud > 5) Kisah di Zaman Nabi Yesaya > 6) Kisah di Zaman Nabi Yohanes (Nabi Yahya) > > > SERI 4: > BINCANG-BINCANG SOAL ISU:ÂYESUS TIDAK MATI DISALIB > (Bagian 4) > > > ÂNubuat Adikodrati Ke Depan VS ÂJejak KAKI KEBELAKANG > 1). Absennya Novum > 2). Siapakah sosok Isa-Isaan yang diklaim Quran? > 3). Memulihkan suasana keraguan, atau menambahinya? > 4). Dan siapa saksi-saksi-nya? > > > MUSTAHIL ADA WAHYU TUHAN YANG BOLEH KADALUARSA > > > SERI 5: > BINCANG-BINCANG SOAL ISU: ÂALKITAB-MU PALSU > http://www.dedewijaya.co.cc > http://www.dede-wijaya.co.cc > http://dedewijaya.blogspot.com > > > > > > > > --------------------------------- > Sent from Yahoo! Mail. > A Smarter Email. > > > > > > > --------------------------------- > Yahoo! Toolbar kini dilengkapi dengan Search Assist. Download sekarang > juga. > > > > ------------------------------------ ************************************************** Dear Nongkrong-Mania Di Minta untuk dapat beriklan pada hari Minggu *************************************************** Kalau ada yang mau bagi Info Lowongan Kerja Juga Boleh *************************************************** Bersama Group Nongkrong Bareng Kita Ciptakan Suasana yang Menyenangkan. -Nongkrong Bareng Tempat Gaul Yang Asik, Bebaskan Expresi mu- -Sesuatu Perubahan Bukan Untuk ditakuti, Tetapi Untuk Dimengerti- ------------------------------------------------------ Pasang iklan anda disini.... Hanya dengan Rp 30000/bulan iklan anda akan dibaca 800 orang cukup efektif kirim email ke [EMAIL PROTECTED] atau [EMAIL PROTECTED] penawaran yang menarik, tunggu apa lagi ------------------------------------------------------ Yahoo! Groups Links <*> To visit your group on the web, go to: http://groups.yahoo.com/group/Nongkrong_bareng/ <*> Your email settings: Individual Email | Traditional <*> To change settings online go to: http://groups.yahoo.com/group/Nongkrong_bareng/join (Yahoo! ID required) <*> To change settings via email: mailto:[EMAIL PROTECTED] mailto:[EMAIL PROTECTED] <*> To unsubscribe from this group, send an email to: [EMAIL PROTECTED] <*> Your use of Yahoo! Groups is subject to: http://docs.yahoo.com/info/terms/
