terima kasih. salam dari saya



Quoting Deni Ramdan <[EMAIL PROTECTED]>:

> 
> Sumuhun mas, mbo, jeng, de, kek, nek saya setuju dengan kang fairus fauzy,
> jangan jauh2 dulu, sempurnakan dulu diri sendiri kalo bisa, kalo belum
> sempurna ga usah ngomong deh (gw yakin manusia ga ada yang sempurna), kalo
> udah merasa bersih dari dosa, sampai dosa terkecil baru ngomong, kita kaitkan
> ke hal lain, saat ini banyak orang2 miskin, kalo merasa sempurna bikin mereka
> sejahtera, kalo belum bisa membuat sejahtera mendingan diem deh. AGAMAKU
> AGAMAKU, AGAMAMU AGAMAMU.
> 
> Moderatornya lagi membiarkan isyu agama gentayangan seenaknya.
> 
> fairus fauzy <[EMAIL PROTECTED]> wrote: To:
> [email protected]
> From: fairus fauzy <[EMAIL PROTECTED]>
> Date: Tue, 3 Jun 2008 16:37:03 +0700 (ICT)
> Subject: Balasan: :: Milist NB :: BINCANG-BINCANG SOAL ISU
>  :”YESUS TIDAK MATI DISALIB” (Bagian 2)
> 
>                              
> Nabi Isa itu Tidak mati disalib...melainkan sebelum disalib dia telah diambil
> rohnya oleh Allah(dengan kekuasaan Allah tentunya) dan Yang disalib itu
> adalah murid nabi Isa yang dengan kekuasaan Allah tentunya(akal manusia tidak
> akan bisa menelaah) dimiripkan untuk mengagntikan Nabi Isa disalib.Jadi Nabi
> Isa telah Lahir dan Mati...
>   Mengenai Nabi Isa dibangkitkan lagi memang benar diajarkan Islam disebutkan
> Nabi Isa akan bangkit..Namun Bukan bangkit sebagai Yesus melainkan akan
> bangkit diakhir zaman untuk menyelamatkan umat dari Dajjal....
>   Tentunya anda tau mengenai Dajjal bukan..?!
>   Saran saya kepada anda bahwa uruslah agama mu sendiri tidak perlu repot2
> mengurusi agama orang lain....Tidak perlu kalian menjelekkan agama selain
> agama yang anda anut...(kecuali kalau agama anda mengajarkan untuk memusuhi
> dan menjelekan agama lain) karena Islam tidak pernah mengajarkan umatnya
> untuk menjelekan agama lain...
>    thnx
> 
> dede wijaya <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
>         SERI 4: BINCANG-BINCANG SOAL ISU:”YESUS TIDAK MATI DISALIB”
>   (Bagian 1)
>   
> 
>   “dan karena ucapan mereka: “sesungguhnya kami telah membunuh Al Masih….”
> Padahala mereka tidak membunuhnya dan tidak menyalibnya, melainkan orang yang
> diserupakan dengan Isa bagi mereka….” (4:157).
>    “Tetapi (yang sebenarnya) Allah telah mengangkat Isa kepadaNya” (4:158).
>   “Dan mereka itu membuat tipu daya, Allah membalas tipu daya mereka, dari
> Allah sebaik-baiknya tipu daya” (3:54).
>   
> 
>   Teman Muslim sering mencoba mengkoreksi Anda agar kembali sadar dari
> kesesatan:
>   “Isa itu tidak dibunuh, dan tidak disalib seperti yang kalian percayai. Ini
> adalah koreksi dari Allah bagi kalian. Yang disalib adalah seorang Isa-Isa-an
> yang disamarkan Allah kepada orang-orang Yahudi. Sedangkan Isa yang asli
> telah diselamatkan oleh Allah dengan mengangkatnya ke surga. Ketika
> orang-orang kafir berkomplot untuk menipu daya Isa, mereka malahan dibalas
> dengan tipu daya yang lebih canggih dari Allah.”
>   
> 
>   Menghadapi dua koreksi: bahwa Isa tidak mati disalib, dan bahwa yang
> disalib itu bukan Isa, tetapi  “Isa-Isaan”; apa yang dapat Anda tanggapi?
>   
> 
>   Aneh, untuk peristiwa yang justru dianggap sangat berbobot bagi para
> Muslim, ayat Surat 4:157 ini tampil tanpa diulang ditempat lain manapun,
> melainkan diwahyukan secara solo, satu-satunya totally isolated. Padahal bagi
> Muslim (tidak mesti bagi Quran) ayat ini dimaksudkan untuk mengkoreksi suatu
> kesalahan fatal dari sekian miliar umat manusia yang telah terlanjur sesat,
> dan berpotensi masuk neraka! Bandingkan betapa beda seriusnya satu ayat solo
> ini terhadap keseriusan Quran ketika mengulang-ulang ancaman akan siksaan api
> neraka dan laknat Allah. Itu diperingatkan berulang hingga 783 ayat! Atau
> rata-rata 1 ancaman laknat dan siksa neraka setiap ayat Quran!
>   
> 
>   Dengan ayat solo yang satu ini jelas bahwa Muslim tidak cukup mempunyai
> referensi untuk membela kebenaran koreksinya. Satu ayat QS 4:157 itu tidak
> membukti,  jadi bagaiman mengkoreksi. Ia hany melemparkan satu “asumsi”.
> Karena itu pakar Islam harus merekonstruksi pelbagai kisah dengan teori-teori
> kemungkinan ini dan itu. Ada yang menteorikan bahwa Isa-Isa-an yang
> disalibkan itu adalah Yudas Iskariot. Ada yang bilang itu Barabas atau Simon
> dari Kirene. Sekte Ahmadiyah mengklaim bahwa memang Isa-lah yang disalib,
> namun tidak sampai mati melainkan hanya pingsan saja, yang menjadi sembuh
> didalam kesejukan kubur-batu, yang akhirnya keluar dan minggat ke Kashmir dan
> wafat di sana dalam usia 120 tahun setelah menikah dan hidup sejahtera...
>   
> 
>   Ayat dan dongeng yang mengikutinya bisa menjadi mitos, namun segera
> berbalik menjadi salah satu ayat yang paling bermasalah dari seluruh Quran,
> jikalau mereka mau sedikit saja menelusurinya. Tanganilah isu ini dengan
> bijak. Lakukanlah cara ”warming up” dan bertanya dari kejauhan:
>   
> 
>   ”Kami melihat Quran hanya menolak kematian Isa dalam satu ayat, namun
> sebaliknya banyak ayat Quran justru mencatat tentang kematian Isa. Seperti QS
> 5:117, 3:55, 4:159. Dan dalam Surat 19:33 kematian dan bahkan kebangkitan Isa
> diakui Quran! Kita tidak bisa membayangkan ada kematian atau kebangkitan
> terjadi di sorga. Maka kematian Isa dalam ayat ini pastilah sebuah
> kematian/kebangkitan historis dalam satu rangkaian siklus kehidupan di
> dunia:
>   ”Dan kesejahteraan atasku pada hari aku dilahirkan, pada hari aku wafat dan
> pada waktu aku dibangkitkan hidup kembali.”
>   Jadi kenapa kalian bisa lebih yakin bahwa Isa tidak mati dibunuh?”
>   
> 
>   Dan mereka akan memberi alasan dari segi perlindungan Tuhan terhadap para
> nabiNya. Mereka menolak penyaliban isa karena  beralasan bahwa Tuhan pun
> pasti akan menolaknya juga. Isa adalah nabi yang amat suci dan dekat dengan
> Tuhan dan terjaga/terpelihara (maksum) didalamNya; tidak mungkin dia
> dibiarkan terhina, teraniaya dan terbantai begitu rupa oleh manusia bejad.
> Dan tidak mungkin Tuhan menunjukkan kelemahanNya dengan membiarkan pemaksaan
> keji ini oleh kaum najis...
>   
> 
>   Nah, dari apa yang mereka gambarkan ini, Anda menangkap bahwa kematian Isa
> yang mereka pikirkan adalah jenis Kematian Martir bagi Tuhan. Mereka tidak
> mengenal Anak Domba Tuhan dalam Kematian Kurban bagi pengikut-pengikutNya.
> Tidak sedikitpun mereka menafsirkan bahwa kematian Isa itu ada kaitannya
> dengan pengorbanan dan penebusan bagi dosa manusia. Disnilah Anda dapat
> melemparkan pertanyaan pancingan Anda:
>   
> 
>   ”Ya, Surat An Nisaa ayat 157 ini menegaskan (tanpa  menjelaskan) bahwa Isa
> tidak mati dalam kematian-martir melawan musuh-musuh Allah. Sedangkan
> kematian Yesus seperti yang kami maksudkan adalah kematian-kurban. Anda tahu
> membedakan kematian martir dan kematian kurban?”
>   
> 
>   Mereka akan tergoda, dan mempersilahkan Anda untuk menjelaskannya dari
> perspektif Kristiani.
>   
> 
>   PENJELASAN KEMATIAN YESUS
>   Pertama-tama jelaskan bahwa kematian martir itu adalah kematian yang
> mempertahankan kebenaran dan bertahan terhadap pemaksaan dari musuh-musuh
> Tuhan hingga akhir hayatnya karena dibunuh. Kematian demi kebenaran ini
> merupakan akibat paksaan yang tidak bisa dihindari lagi kecuali menyangkal
> cinta kasihnya kepada Tuhan dan kebenaranNya. Ia dibunuh dalam kemartiran,
> dimana Tuhanlah yang menjadi pusat pembaktiannya.
>   
> 
>   Berbeda dengan kematian-kurban dimana seseorang merelakan jiwanya sendiri
> untuk dikorbankan (masih bisa dihindari, tetapi ia merelakan) demi kasih yang
> begitu besar untuk menyelamatkan jiwa-jiwa orang yang dikasihinya. Inilah
> sebuah kematian ”tukar guling” yang merupakan ”win-win solution” (semua 
> pihak
> diuntungkan) demi menebus kematian para kekasihnya.
>   
> 
>   Kedua jenis kematian disini total berlandaskan kasih, dan tidak
> diselewengkan dengan dalil-dalil manusia yang melekatkan kebencian dan dendam
> atas nama Tuhan atau ”perjuangan”.
>   ”Dan sekalipun aku membagi-bagikan segala sesuatu yang ada padaku, bahkan
> menyerahkan tubuhku untuk dibakar (mati sahid, dll), tetapi jika aku tidak
> mempunyai kasih, sedikitpun tidak ada faedahnya  bagiku.” Sebab, ”Amarah
> manusia tidak mengerjakan kebenaran dihadapan Tuhan.” (I Kor 13:13; Yak
> 1:20)
>   
> 
>   Quran tampaknya tidak mengenal kematian-kurban. Namun bila Anda jeli,
> sesungguhnya Surat 19:33 di atas tersirat nubuat Isa akan kematian kurban
> bagi dirinya. Yaitu Isa bahkan akan tetap menemui kesejahteraan (perfect
> peace) pada hari ia wafat, karena ia merelakan kematiannya dalam
> damai-sejahtera yang sejati.
>   
> 
>   Untuk melukiskan ujud kematian-kurban kepada teman Muslim, Anda dapat
> memperlihatkan keseluruhan perikop Alkitab HAMBA TUHAN yang MENDERITA dalam
> Yesaya 52:13 dst, 53:1-12. di situ kedatangan seorang Hamba yang akan
> berkorban telah dinubuatkan sejak awal. Ia yang ”hamba” akan menderita,
> dihina, dianiaya dan mati disalibkan  sebagai korban tebusan bagi umat yang
> seharusnya dihukum mati karena dosa-dosanya. Ia sendiri berkata (Lukas
> 24:26):
>   
> 
>   ”Bukankah Mesias harus menderita semuanya itu untuk masuk ke dalam
> kemuliaanNya?”
>   
> 
>   Jadi, berlainan dengan martir, kematian Yesus ini tak ada hubungannya
> dengan emosi kebencian atau karena iming-iming mendapat upah surgawi,
> melainkan justru ”iming-iming” membayar harga tebusan yang dapat langsung
> menyelamatkan jiwa umatNya! Dan kematian-kurban ini dinyatakan dalam bahasa
> Yesus sendiri:
>   
> 
>   ”Akulah gembala yang baik. Gembala yang baik memberikan nyawanya bagi
> domba-dombanya... Aku memberikan nyawaKu untuk menerimanya kembali. Tidak
> seorangpun mengambilnya (nyawa ini) daripadaKu, melainkan Aku memberikannya
> menurut  kehendakKu sendiri...” (Yohanes 10:11,17,18).
>   
> 
>   
> 
>   (Bagian 2)
>   
> KISAH PARA NABI SEGALA ZAMAN VS AL-QURAN
>   Jika Quran hanya mampu menyangkal kematian Isa dengan satu ayat yang
> bersifat klaim, tanpa bukti dan saksi, maka tidak demikian halnya dengan
> Alkitab. Pembuktian akan kebenaran kematian Yesus disalib serta
> kebangkitanNya, tidak terkira kokohnya, internal maupun eksternal. Itu sudah
> terlalu banyak ditulis para ahli tanpa ada sanggahan yang layak. Namun bukti
> yang kita kupas dibawah ini akan menambahi ekstra, yang akan memberikan
> perspektif baru kepada teman Muslim. Sebab kematian-kurban memang eksis bagi
> Mesias, dan itu bukan bikinan atau diada-adakan oleh manusia. Ia sungguh
> telah dijanjikan Tuhan dari mulutNya dan/atau dari tanganNya sendiri, dan
> diteruskan turun-temurun sejak manusia pertama!
>   
> 
>   Lihat, Adam dan Hawa dikala itu masih hidup dalam kenaifan budaya alam
> fauna dan flora. Keduanya tentu tidak bisa memahami apa itu
> “kematian-kurban.” Maka Tuhan harus mengkomunikasikannya secara bertahap
> dalam konsepsi, dengan ilustrasi, dan perlambangan darah yang harus ditumpah
> sebagai kurban penebus dosa. Dan sejak itu, Tuhan terus berjanji kepada
> manusia akan hal yang sama dari zaman ke zaman lewat nabi-nabiNya.
>   
> 
>   Namun cukup mengagetkan bahwa Muhammad justru tidak termasuk dalam deretan
> nabi yang meneruskan janji istimewa itu kepada umatnya. Bahkan lebih dari
> itu, Allah SWT tampaknya sengaja mengosongkan janji itu dari wahyu-wahyu yang
> diturunkan kepadanya, walau masih bisa ditemukan jejak-jejak janji tersebut
> yang akan kita bicarakan dibawah ini.
>   
> 
>   1). Kisah di zaman Adam
>   Simaklah Kitab Kejadian 3:15, dimana Tuhan berkata kepada Iblis dalam
> ungkapan yang visioner, dan karenanya harus dipahami secara visioner pula:
>   ”Berfirmanlah TUHAN kepada ular (si Iblis) itu:
>   ’Aku akan mengadakan permusuhan antara engkau dan perempuan ini, antara
> keturunanmu dan keturunannya. Keturunannya (akhirnya Yesus) akan meremukkan
> kepalamu (mengalahkan total), dan engkau akan meremukkan tumitnya 
> (melukainya)’”
>   
> 
>   Tampak sejak awal di Taman Eden, kepada Adam dan Hawa telah dijanjikan
> Tuhan akan datangnya satu sosok Mesias yang akan menyelamatkan keturunannya
> dengan mengalahkan kuasa setan (meremukkan kepalanya), namun dengan
> mengorbankan fisiknya (berdarah, remuk tumitnya). Ini adalah janji besar dari
> mulut Tuhan sendiri, janji yang sayangnya tidak dapat ditemukan dalam Quran.
>   
> 
>   Tidak cukup janji mulut, Tuhan masih melanjutkannya dengan wujud tindakan,
> yang tentu masih bersifat perlambangan visioner yang jauh ke depan. Ini kita
> temukan dalam ayat 21,
>   Kejadian 3:21 
>   ”Dan  TUHAN Allah membuat pakaian dari kulit binatang untuk manusia dan
> untuk isterinya itu, lalu mengenakannya kepada mereka.”
>   
> 
>   Tampak bahwa Tuhan melakukan sebuah penganugerahan kasih kepada Adam dan
> Hawa dengan membuatkan cawat kulit binatang untuk menutupi ketelanjangan
> (dosa) mereka. Tuhan sendirilah yang berinisiatif menggantikan cawat
> daun-daunan yang dibuat oleh Adam dan Hawa bagi diri mereka (ayat 7), dikala
> Ia baru ”terluka hatiNya” oleh dosa pelanggaran Adam! Bukankah itu suatu
> demonstrasi kasih Tuhan yang luar biasa ajaib?
>   
> 
>   Tuhan tidak berkenan dengan cawat daun itu karena hal yang amat prinsip.
> Cawat daun ”made in Adam-Hawa” itu  tidak absah dimata Tuhan karena itu
> adalah lambang usaha diri manusia untuk menutupi ketelanjangan (dosa) mereka.
> Manusia tidak bisa mengusahakannya, dengan amal apapun! Keadilan dan
> kekudusan Tuhan tidak membiarkan satu dosa/kejahatan untuk dihapus oleh 1000
> pahala. Satu kejahatan perkosaan misalnya, tetap harus dihukum, sekalipun
> sipemerkosa telah mendermakan pembangunan 1000 rumah ibadat!
>   
> 
>   Cawat daun-daun penutup itu hanya maya, khayalan manusia yang tidak
> bertahan dan sia-sia. Hanya cawat kulit ”made-in-TUHAN” yang secara hakiki
> mampu menutup/menebus dosa manusia!
>   
> 
>   Perhatikan  bahwa Quran sesungguhnya juga berbicara tentang ’cawat daun
> made in Adam,’ ”Lalu keduanya memakan (buah pohon itu) maka kelihatanlah
> auratnya. Dan keduanya mulai menutupi dari daun-daun surga.” (QS 20:121).
> Namun entah kenapa Quran kembali mengosongkan apa yang justru jauh lebih
> esensial dari daun, yaitu ’cawat kulit made in TUHAN.’
>   
> 
>   Sejumlah teman Muslim tidak mampu menyembunyikan keheranannya, kenapa cawat
> kulit ini justru tidak muncul dalam Quran? Menjadi pertanyaan yang tak
> terhindari: Apakah Alkitab atau AlQuran yang mewahyukan berita yang asli?
> Mungkinkah ayat tentang ’cawat made in TUHAN’ ini sengaja dipalsukan
> (ditambahkan) kepada Alkitab sejak  ribuan tahun sebelum Muhammad, ataukah
> Quran yang sengaja mengosongkannya dengan alasan ”mengoreksinya”? Agaknya
> salah satu harus siap divonis sebagai keliru: yang ”menambahi” atau yang
> ”mengosongi.”
>   
> 
>   Kulit binatang muncul dari penyembelihan binatang. Ada kematian berdarah di
> sini. Diperkenalkan TUHAN untuk pertama kalinya suatu simbol korban-darah
> untuk ”cawat penutup dosa.” Korban darah binatang ini telah 
> memvisualisasikan
> sebuah analogi konsep kematian & penebusan yang dirancang TUHAN demi
> menyelamatkan Adam serta seluruh keturunannya. Hukum Musa berkata, ”Nyawa
> makhluk ada dalam darahnya...dan tanpa penumpahan darah (korban) tak ada
> pengampunan” (Imamat 17:11, Ibrani 9:22). Sebab penutupan/penghapusan dosa
> manusia tidak bisa dilakukan oleh cawat daun: usaha-diri manusia melainkan
> hanya oleh kasih-karunia Tuhan lewat kematian sang Mesias sebagai
> korban-penebusan.
>   
> 
>   2). Kisah di Zaman Abraham
>   Kisah dari pengorbanan anak Abraham yang berakhir dengan penebusan
> kematiannya melalui seekor domba jantan, dicatat dengan lurus dalam Kejadian
> 22:8 dan 13,
>   ”Tuhan yang akan menyediakan anak domba untuk korban bakaran bagiNya”
>   ”Abraham mengambil domba itu, lalu mengorbankannya sebagai korban bakaran
> pengganti  anaknya.”
>   
> 
>   Sama dengan absennya identitas Isa gadungan di kayu salib, di sini Quran
> kembali tidak menjelaskan siapa anak Abraham itu, dan lebih gawat lagi,
> mengosongkan apa makna hakiki dari kisah mahabesar ini! (Disini, kita tidak
> perlu masuk dalam kontroversi siapa sang anak itu, Ismael atau Ishak, agar
> fokus terpenting kita, yaitu konsep PENEBUSAN—tidak mengabur). Bagaimana
> duduk perkaranya? Ya, mungkinkah Tuhan mendadak menyuruh seorang bapak yang
> sangat saleh untuk membunuh anaknya? Dosa apakah yang dilakukan si anak
> sehingga ia layak dibunuh? Ada apakah dibalik sebuah teka-teki yang sangat
> misterius bahkan tak masuk akal ini? Menguji iman? Oke, Tetapi tentu Tuhan
> tidak kehabisan cara menguji, sehingga harus terpaksa  memilih cara yang
> melawan hukumNya. Dia sendiri telah melarang pembunuhan dan pengurbanan darah
> anak (yang sering dilakukan oleh orang kafir, Imamat 18:21), masakan kini
> tiba-tiba justru memerintah Abraham untuk berbalik membunuh? Dalam sebuah
> pembunuhan keluarga
>  nabi.
>   
> 
>   Banyak teman Muslim beranggapan bahwa kisah ini hanya menyangkut ujian
> Allah kepada Ibrahim. KELIRU. Dengan anggapan yang hanya sebatas demikian,
> mereka tidak mampu menghilangkan antagonisme yang dimunculkan Tuhan. Mereka
> belum menyadari bahwa itu adalah suatu penggambaran dahsyat akan sebuah
> konsep penebusan yang dijanjikan Tuhan bagi manusia, yang diperagakan lewat
> sebuah tamsil dimana sang kurban (anak domba) perlu dibunuh demi menebus sang
> anak (anak Abraham). Demi  keadilanNya, Tuhan memang mengharuskan semua orang
> berdosa untuk dihukum mati. Dan orang-orang berdosa itu diibaratkan sebagai
> anak Abraham yang harus disembelih, tetapi diselamatkan Tuhan dengan sebuah
> tebusan Anak Domba Tuhan yang melambangkan Yesus Mesias. Agar perlambangannya
> tidak salah, maka Nabi Yahya diutus untuk mengkonfirmasikan hal tersebut
> ketika Yesus secara fisik datang menghampirinya:
>   "Lihatlah Anak domba Allah, yang menghapus dosa dunia” (Yohanes 1:29).
>   
> 
>   Sesungguhnya konsep penebusan ini sudah dilukiskan juga di dalam Surat
> Quran 37:107 dengan penggambaran yang sesuai, yaitu satu ”kurban yang
> besar/agung” bagi  tebusan sang anak! Namun kejelasan konsep ini terhalang
> oleh terjemahan tafsiran yang apriori menjuruskan makna ”kurban” itu kepada
> pengertian yang amat dipersempit, dipatok menjadi ”seekor binatang
> sembelihan”, padahal wahyu aslinya samasekali tidak memuat teks kata-kata
> seperti itu. Bandingkan dengan kritis sejumlah terjemahan berikut ini:
>   
> 
>   Dan Kami tebus anak itu dengan seekor sembelihan yang besar (terjemahan
> Depag)
>   Dan kami menebusnya dengan sembelihan yang besar (terjemahan Disbintalad)
>   We ransomed his son with a noble sacrifice (satu./sebuah kurban
> agung/mulia, terjemah N.J. Dawood)
>   And  We ransomed him with a mighty sacrifice (sebuah kurban perkasa,
> terjemah Arberry)
>   Then We ransomed him with a tremendous victim (sebuah kurban yang dahsyat,
> terjemah Mohammed Pickthall)
>   And We ransomed him with a great sacrifice (kurban yang besar/hebat,
> terjemah Yusuf Ali)
>   
> 
>   Itu adalah gambaran sebuah konsep penebusan, yang datang secara vertikal
> dari atas ke bawah (dari Tuhan bagi anak-Nya), dengan korban yang amat besar
> nilainya (dahsyat). Sedemikian besar korban itu sehingga pewahyuan Quran
> sengaja memakai kata asli yang sama dengan salah satu diantara 99 nama/asma
> Allah, yaitu Al-Azhim (Yang Maha-Agung).
>   
> 
>   “Wa fa dainaahu bi dzibhin ‘azhiim.”
>   
> 
>   Jadi konteks dan makna kisah dan ayat-ayat tersebut sebenarnya tidak ada
> hubungannya sama sekali dengan pemberian sedekahan dari manusia bagi
> sesamanya (yang bersifat horizontal) pada hari raya Kurban/Haji. Tuhan
> sendiri secara “vertikal dari atas” yang menyediakan (menganugerahkan 
> tebusan
> keselamatanNya kepada manusia, dan bukan manusia Abraham yang
> mengusahakannya! (kembali sama dengan analogi penebusan dari Cawat Kulit
> ‘made-in Tuhan’: sebuah anugerah, bukan cawat daun yang diusahakan Adam).
> Teman Muslim akan mendapat pencerahan apabila berani bertanya 3 hal sederhana
> berikut ini di dalam keheningannya:
>   
> 
>     
>      Apa perlu-perlunya sang anak itu ditebus oleh Tuhan?
> 
>   Bila Tuhan hanya ingin menguji iman Ibrahim (yang toh sudah diketahuiNya),
> Allah cukup melepaskan anaknya tanpa perlu tebusan  kurban. Ujian iman telah
> berakhir pada waktu malaikat berseru kepada Ibrahim: “STOP, jangan bunuh
> anakmu!”
>   
> 
>     
>      Dan kenapa Tuhan memerlukan kematian-kurban?
> 
>   Pakar Islam sulit menjawabnya dari sumbernya. Quran, kecuali mencoba
> mendalil logis tanpa dapat membuyarkan antagonisme dan misteri intinya:
> kenapa Allah sampai memilih memerintahkan sebuah pembunuhan keluarga nabi?
> Itulah. Kematian-kurban ini adalah gambaran analogis dari kematian seorang Al
> Masih, yang diperlukan sebagai kurban penebus (untuk mengganti) kematian yang
> harus dikenakan kepada setiap manusia (karena semua manusia itu berdosa).
> Sebab Hukum Keadilan Tuhan tetap berkata tanpa pandang bulu bahwa setiap
> manusia berdosa harus dihukum mati (Roma 6:23); namun Hukum KASIH Tuhan kini
> dapat berkata, “Anak  Manusia memberikan nyawaNya menjadi tebusan bagi banyak
> orang” (Matius 20:28).
>   
> 
>   (Teologi Islam tidak berdaya menjawab pertanyaan, bagaimanakah Allah SWT
> itu dapat Maha-adil (yang harus menghukum), padahal Ia juga Mahakasih (yang
> akan mengampuni)? Dapatkah Allah mengampuni seseorang tanpa memperkosa
> hakekat diriNya yang Maha-adil?
>   
> 
>   Ketika Tuhan tidak menghukum karena KasihNya, Tuhan menjadi tidak Adil; dan
> ketika menghukum karena AdilNya, Tuhan menjadi tidak Kasih. Ketegangan
> (“Kontradiksi”) ini hanya mungkin direkonsiliasikan dalam kematian-kurban
> sebagai Penebus—Pembayar harga kematian—yang mempertemukan Keadilan Tuhan
> dengan Kasih Tuhan. Kini Ia tetap Mahaadil ketika mengampuni dalam KasihNya,
> karena Tuhan sendiri telah membayar harga Keadilan itu lewat kematian Al
> Masih, Kalimatullah yang diinkarnasikan ke dalam  dunia!)
>   
> 
>     
>      Dan bila itu tebusan bagi sang anak, kenapa menebus (binatang) justru
> dianggap bernilai sangat ”agung-mulia” ketimbang yang ditebusnya (manusia)?
> 
>   Tak ada jawaban selain 2 kemungkinan. Pertama, kalau kita rela dibohongi
> dengan pelbagai terjemahan/tafsiran yang tidak lurus. Kedua, kecuali si
> penebus itu adalah benar Sang Penebus! Itulah kematian-kurban yang
> sebesar-besar dahsyat, mulia, agung, perkasa, pemenang, seperti yang telah
> kita bicarakan di muka. Sebab seberapakah besar dan dahsyatnya korban kita
> jikalau itu hanya terbatas pada pemberian sedekah di hari raya? Korban
> semacam ini tidak mempunyai nilai-tebusan (atoning  value), kecuali nilai
> sosial dan religi.
>   
> 
>   
> 
>   SERI 4:
>   BINCANG-BINCANG SOAL ISU:”YESUS TIDAK MATI DISALIB”
>   (Bagian 3)
>   
> 
>   3). Kisah di Zaman Musa
>   Rupa-rupanya kisah Taurat tentang konfrontasi Musa melawan Firaun adalah
> topik favorit yang dicatat Quran. Begitu favoritnya sehingga Quran merasa
> perlu mencatatnya berulang-ulang hingga 27 kali! Meski demikian, tidak
> sekalipun didalamnya Muhammad mencatat peristiwa yang paling inti dari Kisan
> Keluaran dari Taurat Musa ini, yaitu kisah PASKAH!
>   
> 
>   (bersambung)
>   4) Kisah di Zaman Daud
>   5) Kisah di Zaman Nabi Yesaya
>   6) Kisah di Zaman Nabi Yohanes (Nabi Yahya)
>   (Bagian 4)
>   
> 
>   “Nubuat Adikodrati” Ke Depan VS “Jejak KAKI” KEBELAKANG
>   1). Absennya Novum
>   2). Siapakah sosok Isa-Isaan yang diklaim Quran?
>   3). Memulihkan suasana keraguan, atau menambahinya?
>   4). Dan siapa saksi-saksi-nya?
>   
> MUSTAHIL ADA WAHYU TUHAN YANG BOLEH KADALUARSA
>   
> 
>   SERI 5: 
>   BINCANG-BINCANG SOAL ISU: ”ALKITAB-MU PALSU”
>   
> 
>   
> 
>     
> 
> 
> 
>     SERI 4: BINCANG-BINCANG SOAL ISU:”YESUS TIDAK MATI DISALIB”
>   (Bagian 1)
>   
> 
>   “dan karena ucapan mereka: “sesungguhnya kami telah membunuh Al Masih….”
> Padahala mereka tidak membunuhnya dan tidak menyalibnya, melainkan orang yang
> diserupakan dengan Isa bagi mereka….”  (4:157).
>   “Tetapi (yang sebenarnya) Allah telah mengangkat Isa kepadaNya” (4:158).
>   “Dan mereka itu membuat tipu daya, Allah membalas tipu daya mereka, dari
> Allah sebaik-baiknya tipu daya” (3:54).
>   
> 
>   Teman Muslim sering mencoba mengkoreksi Anda agar kembali sadar dari
> kesesatan:
>   “Isa itu tidak dibunuh, dan tidak disalib seperti yang kalian percayai. Ini
> adalah koreksi dari Allah bagi kalian. Yang disalib adalah seorang Isa-Isa-an
> yang disamarkan Allah kepada orang-orang Yahudi. Sedangkan Isa yang asli
> telah diselamatkan oleh Allah dengan mengangkatnya ke surga. Ketika
> orang-orang kafir berkomplot untuk menipu daya Isa, mereka malahan dibalas
> dengan tipu daya yang lebih canggih dari Allah.”
>   
> 
>   Menghadapi dua koreksi: bahwa Isa tidak mati disalib, dan bahwa yang
> disalib itu bukan Isa,  tetapi “Isa-Isaan”; apa yang dapat Anda tanggapi?
>   
> 
>   Aneh, untuk peristiwa yang justru dianggap sangat berbobot bagi para
> Muslim, ayat Surat 4:157 ini tampil tanpa diulang ditempat lain manapun,
> melainkan diwahyukan secara solo, satu-satunya totally isolated. Padahal bagi
> Muslim (tidak mesti bagi Quran) ayat ini dimaksudkan untuk mengkoreksi suatu
> kesalahan fatal dari sekian miliar umat manusia yang telah terlanjur sesat,
> dan berpotensi masuk neraka! Bandingkan betapa beda seriusnya satu ayat solo
> ini terhadap keseriusan Quran ketika mengulang-ulang ancaman akan siksaan api
> neraka dan laknat Allah. Itu diperingatkan berulang hingga 783 ayat! Atau
> rata-rata 1 ancaman laknat dan siksa neraka setiap ayat Quran!
>   
> 
>   Dengan ayat solo yang satu ini jelas bahwa Muslim tidak cukup mempunyai
> referensi untuk membela kebenaran koreksinya. Satu ayat QS 4:157 itu tidak 
> membukti, jadi bagaiman mengkoreksi. Ia hany melemparkan satu “asumsi”.
> Karena itu pakar Islam harus merekonstruksi pelbagai kisah dengan teori-teori
> kemungkinan ini dan itu. Ada yang menteorikan bahwa Isa-Isa-an yang
> disalibkan itu adalah Yudas Iskariot. Ada yang bilang itu Barabas atau Simon
> dari Kirene. Sekte Ahmadiyah mengklaim bahwa memang Isa-lah yang disalib,
> namun tidak sampai mati melainkan hanya pingsan saja, yang menjadi sembuh
> didalam kesejukan kubur-batu, yang akhirnya keluar dan minggat ke Kashmir dan
> wafat di sana dalam usia 120 tahun setelah menikah dan hidup sejahtera...
>   
> 
>   Ayat dan dongeng yang mengikutinya bisa menjadi mitos, namun segera
> berbalik menjadi salah satu ayat yang paling bermasalah dari seluruh Quran,
> jikalau mereka mau sedikit saja menelusurinya. Tanganilah isu ini dengan
> bijak. Lakukanlah cara ”warming up” dan bertanya dari  kejauhan:
>   
> 
>   ”Kami melihat Quran hanya menolak kematian Isa dalam satu ayat, namun
> sebaliknya banyak ayat Quran justru mencatat tentang kematian Isa. Seperti QS
> 5:117, 3:55, 4:159. Dan dalam Surat 19:33 kematian dan bahkan kebangkitan Isa
> diakui Quran! Kita tidak bisa membayangkan ada kematian atau kebangkitan
> terjadi di sorga. Maka kematian Isa dalam ayat ini pastilah sebuah
> kematian/kebangkitan historis dalam satu rangkaian siklus kehidupan di
> dunia:
>   ”Dan kesejahteraan atasku pada hari aku dilahirkan, pada hari aku wafat dan
> pada waktu aku dibangkitkan hidup kembali.”
>   Jadi kenapa kalian bisa lebih yakin bahwa Isa tidak mati dibunuh?”
>   
> 
>   Dan mereka akan memberi alasan dari segi perlindungan Tuhan terhadap para
> nabiNya. Mereka menolak  penyaliban isa karena beralasan bahwa Tuhan pun
> pasti akan menolaknya juga. Isa adalah nabi yang amat suci dan dekat dengan
> Tuhan dan terjaga/terpelihara (maksum) didalamNya; tidak mungkin dia
> dibiarkan terhina, teraniaya dan terbantai begitu rupa oleh manusia bejad.
> Dan tidak mungkin Tuhan menunjukkan kelemahanNya dengan membiarkan pemaksaan
> keji ini oleh kaum najis...
>   
> 
>   Nah, dari apa yang mereka gambarkan ini, Anda menangkap bahwa kematian Isa
> yang mereka pikirkan adalah jenis Kematian Martir bagi Tuhan. Mereka tidak
> mengenal Anak Domba Tuhan dalam Kematian Kurban bagi pengikut-pengikutNya.
> Tidak sedikitpun mereka menafsirkan bahwa kematian Isa itu ada kaitannya
> dengan pengorbanan dan penebusan bagi dosa manusia. Disnilah Anda dapat
> melemparkan pertanyaan pancingan Anda:
>   
> 
>   ”Ya, Surat An Nisaa ayat 157 ini  menegaskan (tanpa menjelaskan) bahwa Isa
> tidak mati dalam kematian-martir melawan musuh-musuh Allah. Sedangkan
> kematian Yesus seperti yang kami maksudkan adalah kematian-kurban. Anda tahu
> membedakan kematian martir dan kematian kurban?”
>   
> 
>   Mereka akan tergoda, dan mempersilahkan Anda untuk menjelaskannya dari
> perspektif Kristiani.
>   
> 
>   PENJELASAN KEMATIAN YESUS
>   Pertama-tama jelaskan bahwa kematian martir itu adalah kematian yang
> mempertahankan kebenaran dan bertahan terhadap pemaksaan dari musuh-musuh
> Tuhan hingga akhir hayatnya karena dibunuh. Kematian demi kebenaran ini
> merupakan akibat paksaan yang tidak bisa dihindari lagi kecuali menyangkal
> cinta kasihnya kepada Tuhan dan kebenaranNya. Ia dibunuh dalam kemartiran,
> dimana Tuhanlah yang menjadi pusat pembaktiannya.
>   
> 
>   Berbeda dengan kematian-kurban dimana seseorang merelakan jiwanya sendiri
> untuk dikorbankan (masih bisa dihindari, tetapi ia merelakan) demi kasih yang
> begitu besar untuk menyelamatkan jiwa-jiwa orang yang dikasihinya. Inilah
> sebuah kematian ”tukar guling” yang merupakan ”win-win solution” (semua 
> pihak
> diuntungkan) demi menebus kematian para kekasihnya.
>   
> 
>   Kedua jenis kematian disini total berlandaskan kasih, dan tidak
> diselewengkan dengan dalil-dalil manusia yang melekatkan kebencian dan dendam
> atas nama Tuhan atau ”perjuangan”.
>   ”Dan sekalipun aku membagi-bagikan segala sesuatu yang ada padaku, bahkan
> menyerahkan tubuhku untuk dibakar (mati sahid, dll), tetapi jika aku tidak
> mempunyai kasih, sedikitpun tidak ada  faedahnya bagiku.” Sebab, ”Amarah
> manusia tidak mengerjakan kebenaran dihadapan Tuhan.” (I Kor 13:13; Yak
> 1:20)
>   
> 
>   Quran tampaknya tidak mengenal kematian-kurban. Namun bila Anda jeli,
> sesungguhnya Surat 19:33 di atas tersirat nubuat Isa akan kematian kurban
> bagi dirinya. Yaitu Isa bahkan akan tetap menemui kesejahteraan (perfect
> peace) pada hari ia wafat, karena ia merelakan kematiannya dalam
> damai-sejahtera yang sejati.
>   
> 
>   Untuk melukiskan ujud kematian-kurban kepada teman Muslim, Anda dapat
> memperlihatkan keseluruhan perikop Alkitab HAMBA TUHAN yang MENDERITA dalam
> Yesaya 52:13 dst, 53:1-12. di situ kedatangan seorang Hamba yang akan
> berkorban telah dinubuatkan sejak awal. Ia yang ”hamba” akan menderita,
> dihina, dianiaya dan mati  disalibkan sebagai korban tebusan bagi umat yang
> seharusnya dihukum mati karena dosa-dosanya. Ia sendiri berkata (Lukas
> 24:26):
>   
> 
>   ”Bukankah Mesias harus menderita semuanya itu untuk masuk ke dalam
> kemuliaanNya?”
>   
> 
>   Jadi, berlainan dengan martir, kematian Yesus ini tak ada hubungannya
> dengan emosi kebencian atau karena iming-iming mendapat upah surgawi,
> melainkan justru ”iming-iming” membayar harga tebusan yang dapat langsung
> menyelamatkan jiwa umatNya! Dan kematian-kurban ini dinyatakan dalam bahasa
> Yesus sendiri:
>   
> 
>   ”Akulah gembala yang baik. Gembala yang baik memberikan nyawanya bagi
> domba-dombanya... Aku memberikan nyawaKu untuk menerimanya kembali. Tidak
> seorangpun mengambilnya (nyawa ini) daripadaKu, melainkan Aku  memberikannya
> menurut kehendakKu sendiri...” (Yohanes 10:11,17,18).
>   
> 
>   
> 
>   SERI 4: 
>   BINCANG-BINCANG SOAL ISU:”YESUS TIDAK MATI DISALIB”
>   (Bagian 2)
>   
> 
>   KISAH PARA NABI SEGALA ZAMAN VS AL-QURAN
>   Jika Quran hanya mampu menyangkal kematian Isa dengan satu ayat yang
> bersifat klaim, tanpa bukti dan saksi, maka tidak demikian halnya dengan
> Alkitab. Pembuktian akan kebenaran kematian Yesus disalib serta
> kebangkitanNya, tidak terkira kokohnya, internal maupun eksternal. Itu sudah
> terlalu banyak ditulis para ahli tanpa ada sanggahan yang layak. Namun bukti
> yang kita kupas dibawah ini akan  menambahi ekstra, yang akan memberikan
> perspektif baru kepada teman Muslim. Sebab kematian-kurban memang eksis bagi
> Mesias, dan itu bukan bikinan atau diada-adakan oleh manusia. Ia sungguh
> telah dijanjikan Tuhan dari mulutNya dan/atau dari tanganNya sendiri, dan
> diteruskan turun-temurun sejak manusia pertama!
>   
> 
>   Lihat, Adam dan Hawa dikala itu masih hidup dalam kenaifan budaya alam
> fauna dan flora. Keduanya tentu tidak bisa memahami apa itu
> “kematian-kurban.” Maka Tuhan harus mengkomunikasikannya secara bertahap
> dalam konsepsi, dengan ilustrasi, dan perlambangan darah yang harus ditumpah
> sebagai  kurban penebus dosa. Dan sejak itu, Tuhan terus berjanji kepada
> manusia akan hal yang sama dari zaman ke zaman lewat nabi-nabiNya.
>   
> 
>   Namun cukup mengagetkan bahwa Muhammad justru tidak termasuk dalam deretan
> nabi yang meneruskan janji istimewa itu kepada umatnya. Bahkan lebih dari
> itu, Allah SWT tampaknya sengaja mengosongkan janji itu dari wahyu-wahyu yang
> diturunkan kepadanya, walau masih bisa ditemukan jejak-jejak janji tersebut
> yang akan kita bicarakan dibawah ini.
>   
> 
>   1). Kisah di zaman Adam
>   Simaklah Kitab Kejadian 3:15, dimana Tuhan berkata kepada Iblis dalam
> ungkapan yang visioner, dan karenanya harus dipahami secara visioner pula:
>   ”Berfirmanlah TUHAN kepada ular (si Iblis) itu:
>   ’Aku  akan mengadakan permusuhan antara engkau dan perempuan ini, antara
> keturunanmu dan keturunannya. Keturunannya (akhirnya Yesus) akan meremukkan
> kepalamu (mengalahkan total), dan engkau akan meremukkan tumitnya
> (melukainya)’”
>   
> 
>   Tampak sejak awal di Taman Eden, kepada Adam dan Hawa telah dijanjikan
> Tuhan akan datangnya satu sosok Mesias yang akan menyelamatkan keturunannya
> dengan mengalahkan kuasa setan (meremukkan kepalanya), namun dengan
> mengorbankan fisiknya (berdarah, remuk tumitnya). Ini adalah janji besar dari
> mulut Tuhan sendiri, janji yang sayangnya tidak dapat ditemukan dalam Quran.
>   
> 
>   Tidak cukup janji mulut, Tuhan masih melanjutkannya dengan wujud tindakan,
> yang tentu masih bersifat  perlambangan visioner yang jauh ke depan. Ini kita
> temukan dalam ayat 21,
>   Kejadian 3:21 
>   ”Dan TUHAN Allah membuat pakaian dari kulit binatang untuk manusia dan
> untuk isterinya itu, lalu mengenakannya kepada mereka.”
>   
> 
>   Tampak bahwa Tuhan melakukan sebuah penganugerahan kasih kepada Adam dan
> Hawa dengan membuatkan cawat kulit binatang untuk menutupi ketelanjangan
> (dosa) mereka. Tuhan sendirilah yang berinisiatif menggantikan cawat
> daun-daunan yang dibuat oleh Adam dan Hawa bagi diri mereka (ayat 7), dikala
> Ia baru ”terluka hatiNya” oleh dosa pelanggaran Adam! Bukankah itu suatu
> demonstrasi kasih Tuhan yang luar biasa ajaib?
>   
> 
>   Tuhan tidak berkenan dengan cawat daun itu karena hal yang amat prinsip.
> Cawat daun ”made in Adam-Hawa” itu tidak absah dimata Tuhan karena itu 
> adalah
> lambang usaha diri manusia untuk menutupi ketelanjangan (dosa) mereka.
> Manusia tidak bisa mengusahakannya, dengan amal apapun! Keadilan dan
> kekudusan Tuhan tidak membiarkan satu dosa/kejahatan untuk dihapus oleh 1000
> pahala. Satu kejahatan perkosaan misalnya, tetap harus dihukum, sekalipun
> sipemerkosa telah mendermakan pembangunan 1000 rumah ibadat!
>   
> 
>   Cawat daun-daun penutup itu hanya maya, khayalan manusia yang tidak
> bertahan dan sia-sia. Hanya cawat kulit ”made-in-TUHAN” yang secara hakiki
> mampu menutup/menebus dosa manusia!
>   
> 
>   Perhatikan bahwa Quran sesungguhnya juga berbicara tentang ’cawat daun made
> in Adam,’ ”Lalu keduanya memakan (buah pohon itu) maka kelihatanlah 
> auratnya.
> Dan keduanya mulai menutupi dari daun-daun surga.” (QS 20:121). Namun entah
> kenapa Quran kembali mengosongkan apa yang justru jauh lebih esensial dari
> daun, yaitu ’cawat kulit made in TUHAN.’
>   
> 
>   Sejumlah teman Muslim tidak mampu menyembunyikan keheranannya, kenapa cawat
> kulit ini justru tidak muncul dalam Quran? Menjadi pertanyaan yang tak
> terhindari: Apakah Alkitab atau AlQuran yang mewahyukan berita yang asli?
> Mungkinkah ayat tentang ’cawat made in TUHAN’ ini sengaja dipalsukan
> (ditambahkan) kepada Alkitab sejak ribuan tahun sebelum Muhammad, ataukah
> Quran yang sengaja mengosongkannya dengan alasan ”mengoreksinya”? Agaknya
> salah satu harus siap divonis sebagai keliru: yang ”menambahi” atau yang
> ”mengosongi.”
>   
> 
>   Kulit binatang muncul dari penyembelihan binatang. Ada kematian berdarah di
> sini. Diperkenalkan TUHAN untuk pertama kalinya suatu simbol korban-darah
> untuk ”cawat penutup dosa.” Korban darah binatang ini telah 
> memvisualisasikan
> sebuah analogi konsep kematian & penebusan yang dirancang TUHAN demi 
> menyelamatkan Adam serta seluruh keturunannya. Hukum Musa berkata, ”Nyawa
> makhluk ada dalam darahnya...dan tanpa penumpahan darah (korban) tak ada
> pengampunan” (Imamat 17:11, Ibrani 9:22). Sebab penutupan/penghapusan dosa
> manusia tidak bisa dilakukan oleh cawat daun: usaha-diri manusia melainkan
> hanya oleh kasih-karunia Tuhan lewat kematian sang Mesias sebagai
> korban-penebusan.
>   
> 
>   2). Kisah di Zaman Abraham
>   Kisah dari pengorbanan anak Abraham yang berakhir dengan penebusan
> kematiannya melalui seekor domba jantan, dicatat dengan lurus dalam Kejadian
> 22:8 dan 13,
>   ”Tuhan yang akan menyediakan anak domba  untuk korban bakaran bagiNya”
>   ”Abraham mengambil domba itu, lalu mengorbankannya sebagai korban bakaran
> pengganti anaknya.”
>   
> 
>   Sama dengan absennya identitas Isa gadungan di kayu salib, di sini Quran
> kembali tidak menjelaskan siapa anak Abraham itu, dan lebih gawat lagi,
> mengosongkan apa makna hakiki dari kisah mahabesar ini! (Disini, kita tidak
> perlu masuk dalam kontroversi siapa sang anak itu, Ismael atau Ishak, agar
> fokus terpenting kita, yaitu konsep PENEBUSAN—tidak mengabur). Bagaimana
> duduk perkaranya? Ya, mungkinkah Tuhan mendadak menyuruh seorang bapak yang
> sangat saleh untuk membunuh anaknya? Dosa apakah  yang dilakukan si anak
> sehingga ia layak dibunuh? Ada apakah dibalik sebuah teka-teki yang sangat
> misterius bahkan tak masuk akal ini? Menguji iman? Oke, Tetapi tentu Tuhan
> tidak kehabisan cara menguji, sehingga harus terpaksa memilih cara yang
> melawan hukumNya. Dia sendiri telah melarang pembunuhan dan pengurbanan darah
> anak (yang sering dilakukan oleh orang kafir, Imamat 18:21), masakan kini
> tiba-tiba justru memerintah Abraham untuk berbalik membunuh? Dalam sebuah
> pembunuhan keluarga
>  nabi.
>   
> 
>   Banyak teman Muslim beranggapan bahwa kisah ini hanya menyangkut ujian
> Allah kepada Ibrahim. KELIRU. Dengan anggapan yang hanya sebatas demikian,
> mereka tidak mampu menghilangkan antagonisme yang dimunculkan Tuhan. Mereka
> belum menyadari bahwa itu adalah suatu penggambaran dahsyat akan sebuah
> konsep penebusan yang dijanjikan  Tuhan bagi manusia, yang diperagakan lewat
> sebuah tamsil dimana sang kurban (anak domba) perlu dibunuh demi menebus sang
> anak (anak Abraham). Demi keadilanNya, Tuhan memang mengharuskan semua orang
> berdosa untuk dihukum mati. Dan orang-orang berdosa itu diibaratkan sebagai
> anak Abraham yang harus disembelih, tetapi diselamatkan Tuhan dengan sebuah
> tebusan Anak Domba Tuhan yang melambangkan Yesus Mesias. Agar perlambangannya
> tidak salah, maka Nabi Yahya diutus untuk mengkonfirmasikan hal tersebut
> ketika Yesus secara fisik datang menghampirinya:
>   "Lihatlah Anak domba Allah, yang menghapus dosa dunia” (Yohanes 1:29).
>   
> 
>    Sesungguhnya konsep penebusan ini sudah dilukiskan juga di dalam Surat
> Quran 37:107 dengan penggambaran yang sesuai, yaitu satu ”kurban yang
> besar/agung” bagi tebusan sang anak! Namun kejelasan konsep ini terhalang
> oleh terjemahan tafsiran yang apriori menjuruskan makna ”kurban” itu kepada
> pengertian yang amat dipersempit, dipatok menjadi ”seekor binatang
> sembelihan”, padahal wahyu aslinya samasekali tidak memuat teks kata-kata
> seperti itu. Bandingkan dengan kritis sejumlah terjemahan berikut ini:
>   
> 
>   Dan Kami tebus anak itu dengan seekor sembelihan yang besar (terjemahan
> Depag)
>   Dan kami menebusnya dengan sembelihan yang  besar (terjemahan Disbintalad)
>   We ransomed his son with a noble sacrifice (satu./sebuah kurban
> agung/mulia, terjemah N.J. Dawood)
>   And We ransomed him with a mighty sacrifice (sebuah kurban perkasa,
> terjemah Arberry)
>   Then We ransomed him with a tremendous victim (sebuah kurban yang dahsyat,
> terjemah Mohammed Pickthall)
>   And We ransomed him with a great sacrifice (kurban yang besar/hebat,
> terjemah Yusuf Ali)
>   
> 
>   Itu adalah gambaran sebuah konsep penebusan, yang datang secara vertikal
> dari atas ke bawah (dari Tuhan bagi anak-Nya), dengan korban yang amat besar
> nilainya (dahsyat). Sedemikian besar korban itu sehingga pewahyuan Quran
> sengaja  memakai kata asli yang sama dengan salah satu diantara 99 nama/asma
> Allah, yaitu Al-Azhim (Yang Maha-Agung).
>   
> 
>   “Wa fa dainaahu bi dzibhin ‘azhiim.”
>   
> 
>   Jadi konteks dan makna kisah dan ayat-ayat tersebut sebenarnya tidak ada
> hubungannya sama sekali dengan pemberian sedekahan dari manusia bagi
> sesamanya (yang bersifat horizontal) pada hari raya Kurban/Haji. Tuhan
> sendiri secara “vertikal dari atas” yang menyediakan (menganugerahkan 
> tebusan
> keselamatanNya kepada manusia, dan bukan manusia Abraham yang
> mengusahakannya! (kembali sama dengan analogi penebusan dari Cawat Kulit
> ‘made-in Tuhan’: sebuah anugerah, bukan cawat daun yang diusahakan Adam).
> Teman Muslim akan mendapat pencerahan apabila berani bertanya 3 hal sederhana
> berikut ini di dalam keheningannya:
>   
> 
>     
>       Apa perlu-perlunya sang anak itu ditebus oleh Tuhan?
> 
>   Bila Tuhan hanya ingin menguji iman Ibrahim (yang toh sudah diketahuiNya),
> Allah cukup melepaskan anaknya tanpa perlu tebusan kurban. Ujian iman telah
> berakhir pada waktu malaikat berseru kepada Ibrahim: “STOP, jangan bunuh
> anakmu!”
>   
> 
>     
>      Dan kenapa Tuhan memerlukan kematian-kurban?
> 
>   Pakar Islam sulit menjawabnya dari sumbernya. Quran, kecuali mencoba
> mendalil logis tanpa dapat membuyarkan antagonisme dan misteri intinya:
> kenapa Allah sampai memilih memerintahkan sebuah pembunuhan keluarga nabi?
> Itulah. Kematian-kurban ini adalah gambaran analogis dari kematian seorang Al
> Masih, yang diperlukan sebagai kurban penebus (untuk mengganti) kematian yang
> harus dikenakan kepada  setiap manusia (karena semua manusia itu berdosa).
> Sebab Hukum Keadilan Tuhan tetap berkata tanpa pandang bulu bahwa setiap
> manusia berdosa harus dihukum mati (Roma 6:23); namun Hukum KASIH Tuhan kini
> dapat berkata, “Anak Manusia memberikan nyawaNya menjadi tebusan bagi banyak
> orang” (Matius 20:28).
>   
> 
>   (Teologi Islam tidak berdaya menjawab pertanyaan, bagaimanakah Allah SWT
> itu dapat Maha-adil (yang harus menghukum), padahal Ia juga Mahakasih (yang
> akan mengampuni)? Dapatkah Allah mengampuni seseorang tanpa memperkosa
> hakekat diriNya yang Maha-adil?
>   
> 
>   Ketika Tuhan tidak menghukum karena KasihNya, Tuhan menjadi tidak Adil; dan
> ketika menghukum karena AdilNya, Tuhan menjadi tidak Kasih. Ketegangan
> (“Kontradiksi”) ini hanya mungkin direkonsiliasikan dalam kematian-kurban
> sebagai  Penebus—Pembayar harga kematian—yang mempertemukan Keadilan Tuhan
> dengan Kasih Tuhan. Kini Ia tetap Mahaadil ketika mengampuni dalam KasihNya,
> karena Tuhan sendiri telah membayar harga Keadilan itu lewat kematian Al
> Masih, Kalimatullah yang diinkarnasikan ke dalam dunia!)
>   
> 
>     
>      Dan bila itu tebusan bagi sang anak, kenapa menebus (binatang) justru
> dianggap bernilai sangat ”agung-mulia” ketimbang yang ditebusnya (manusia)?
> 
>   Tak ada jawaban selain 2 kemungkinan. Pertama, kalau kita rela dibohongi
> dengan pelbagai terjemahan/tafsiran yang tidak lurus. Kedua, kecuali si
> penebus itu adalah benar Sang Penebus! Itulah kematian-kurban yang
> sebesar-besar dahsyat, mulia, agung, perkasa, pemenang, seperti yang telah
> kita bicarakan di muka. Sebab seberapakah besar dan dahsyatnya korban kita
> jikalau itu hanya terbatas pada pemberian sedekah di hari raya? Korban
> semacam ini tidak mempunyai nilai-tebusan (atoning value), kecuali nilai
> sosial dan religi.
>   
> 
>   
> 
>   SERI 4:
>   BINCANG-BINCANG SOAL ISU:”YESUS TIDAK MATI DISALIB”
>   (Bagian 3)
>   
> 
>   3). Kisah di Zaman Musa
>   Rupa-rupanya kisah Taurat tentang konfrontasi Musa melawan Firaun adalah
> topik favorit yang dicatat Quran. Begitu favoritnya sehingga Quran merasa 
> perlu mencatatnya berulang-ulang hingga 27 kali! Meski demikian, tidak
> sekalipun didalamnya Muhammad mencatat peristiwa yang paling inti dari Kisan
> Keluaran dari Taurat Musa ini, yaitu kisah PASKAH!
>   
> 
>   (bersambung)
>   4) Kisah di Zaman Daud
>   5) Kisah di Zaman Nabi Yesaya
>   6) Kisah di Zaman Nabi Yohanes (Nabi Yahya)
>   
> 
>   SERI 4:
>   BINCANG-BINCANG SOAL ISU:”YESUS TIDAK MATI DISALIB”
>   (Bagian 4)
>   
> 
>    “Nubuat Adikodrati” Ke Depan VS “Jejak KAKI” KEBELAKANG
>   1). Absennya Novum
>   2). Siapakah sosok Isa-Isaan yang diklaim Quran?
>   3). Memulihkan suasana keraguan, atau menambahinya?
>   4). Dan siapa saksi-saksi-nya?
>   
> 
>   MUSTAHIL ADA WAHYU TUHAN YANG BOLEH KADALUARSA
>   
> 
>   SERI 5: 
>   BINCANG-BINCANG SOAL ISU: ”ALKITAB-MU PALSU”
>   http://www.dedewijaya.co.cc
>   http://www.dede-wijaya.co.cc
>   http://dedewijaya.blogspot.com
> 
> 
>   
> 
>   
> 
>     
> ---------------------------------
>   Sent from Yahoo! Mail. 
> A Smarter Email.  
> 
> 
> 
> 
>         
> 
> ---------------------------------
>  Yahoo! Toolbar kini dilengkapi dengan Search Assist.   Download sekarang
> juga.
>      
>                                        
> 
>        




------------------------------------

**************************************************
Dear Nongkrong-Mania 
Di Minta untuk dapat beriklan pada hari Minggu
***************************************************
Kalau ada yang mau bagi Info Lowongan Kerja Juga Boleh
***************************************************
Bersama Group Nongkrong Bareng
Kita Ciptakan Suasana yang Menyenangkan.
-Nongkrong Bareng Tempat Gaul Yang Asik, Bebaskan Expresi mu-
-Sesuatu Perubahan Bukan Untuk ditakuti, Tetapi Untuk Dimengerti-
------------------------------------------------------
Pasang iklan anda disini....
Hanya dengan Rp 30000/bulan iklan anda akan dibaca 800 orang cukup efektif
kirim email ke [EMAIL PROTECTED] atau [EMAIL PROTECTED] penawaran yang menarik, 
tunggu apa lagi
------------------------------------------------------
Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/Nongkrong_bareng/

<*> Your email settings:
    Individual Email | Traditional

<*> To change settings online go to:
    http://groups.yahoo.com/group/Nongkrong_bareng/join
    (Yahoo! ID required)

<*> To change settings via email:
    mailto:[EMAIL PROTECTED] 
    mailto:[EMAIL PROTECTED]

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [EMAIL PROTECTED]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/

Kirim email ke