Buletin Elektronik

www.Prakarsa-Rakyat.org



SADAR 

Simpul Untuk Keadilan dan Demokrasi
Edisi: 128 Tahun IV - 2008
Sumber: www.prakarsa-rakyat.org


  _____  


10 TAHUN SETELAH TRAGEDI MEI: KOMUNITAS DI KLENDER KEMBALI MENJADI KORBAN

 

Oleh Nurita Siagian *

 

Kebakaran terjadi pada Sabtu, 17 Mei 2008 pukul 12.00 WIB di Klender,
Jakarta. Peristiwa itu mau tak mau memicu kembali kenangan akan peristiwa
(tragedi kerusuhan) Mei 98 di tempat yang sama. Bila dulu anggota keluarga
mereka hilang bersama api yang membakar pusat pertokoan Jogja-Klender, kini
sedikitnya 150 rumah mereka habis dilalap si "jago merah." Dalam tempo
sehari saja, 150 kepala keluarga telah kehilangan tempat tinggalnya karena
menjadi korban kebakaran hebat tersebut.

Dalam peristiwa kebakaran di Klender tersebut juga terdapat 10 keluarga
korban Tragedi Mei'98. Mereka kembali harus menanggung kerugian dan
kesedihan yang amat dalam, sama halnya seperti 10 tahun silam. Betapa tidak,
belum lagi air mata kering karena harus menahan beban dan bekas luka dari
peristiwa 10 tahun lalu, yang sampai saat ini kasusnya tidak kunjung diadili
secara tuntas, mereka harus dihadapkan pada kenyataan pahit kembali dengan
kehilangan tempat tinggal mereka satu-satunya.

Negara Yang Selalu (Sengaja) Teledor 

Korban dari kebakaran amat banyak karena sulitnya memadamkan api di
perumahan padat penduduk tersebut, akibatnya api cepat menyebar jadi
kebakaran. Petugas pemadam kebakaran terlihat sangat kesulitan untuk
menjangkau lokasi kebakaran karena harus melewati jalan-jalan kecil di
perumahan padat tersebut. Namun ketika upaya pemadaman sedang dilakukan oleh
petugas pemadaman kebakaran sedang berlangsung, suatu kejanggalan pun
kemudian terjadi. Tiba-tiba sebuah helikopter kepolisian terbang rendah
tepat di atas kobaran api. Putaran baling-baling helikopter tersebut tentu
saja mempercepat penyebaran api ke daerah pemukiman penduduk sekitar
kebakaran. Kobaran api pun semakin membesar ketika helikopter tersebut
berhenti tepat di atas lokasi kebakaran. Rumah-rumah penduduk yang tadinya
tidak terjilat api pun akhirnya turut menjadi korban kebakaran. 

Apakah ini sebuah kesengajaan? Tidak ada yang tahu, yang jelas akibat angin
yang disebabkan oleh baling-baling helikopter tersebut menyebabkan semakin
meluasnya daerah kobaran api di perumahan Klender. Jika ini sebuah
kesengajaan, maka korban dan keluarga korban tragedi Mei'98 kembali menjadi
korban dari kebiadaban Negara. Negara yang selalu (sengaja) teledor
bertanggung jawab pada rakyat yang miskin dan lemah secara politik --
seperti yang terjadi pada tragedi Mei 10 tahun yang lalu, ketika rakyat
tanpa perlindungan keselamatan dan justru dituduh sebagai perusuh.

 

Korban dan Bantuan

Karena peristiwa tersebut menyebabkan mereka kembali harus merelakan
hartanya yang paling berharga, yaitu tempat berteduhnya mereka selama ini.
Untuk saat ini, mereka pun masih bertahan di puing-puing rumah mereka
sebelumnya. Pilihan tersebut tentunya sangatlah berbahaya, karena bisa saja
sewaktu-waktu dinding pembatas rumah yang masih berdiri dapat roboh seketika
dan menimpa mereka. Namun sebagian lagi memilih untuk tinggal di tenda
pengungsian. Kondisi di tenda pengungsian pun sama seperti tenda pengungsian
lainnya di daerah bencana alam, yaitu jauh dari kondisi yang layak dan
memadai. Para korban terpaksa harus berhimpit-himpitan karena sangat
padatnya korban yang mengungsi ke tenda pengungsian. Kondisi yang tidak
sehat di tenda pengungsian menyebabkan rentannya para korban terhadap
berbagai macam penyakit. Fasilitas yang mereka terima di tenda pengungsian
sangat sederhana dan ala kadarnya.

Telah ada bantuan berupa pakaian, obat-obatan, dan bahan makanan tetapi itu
semua belum cukup untuk menutupi semua kebutuhan mereka yang begitu besar.
Mereka masih membutuhkan bantuan dan pertolongan. Mereka tidak hanya
membutuhkan batuan berupa materil, tetapi mereka juga membutuhkan bantuan
moral berupa dorongan, dan spirit agar goncangan jiwa yang mereka rasakan
dapat lebih ringan terasa. Mereka membutuhkan kita sebagai teman mereka.
Kita yang mau dan rela memberi perhatian lebih kepada mereka. Menemani
mereka, memberi dorongan dan motivasi, agar batin mereka kuat menghadapi
semua akibat dari kejadian ini dan tidak merasa bahwa mereka sendirian dalam
perjuangan untuk perubahan dan keadilan. 

 

* Penulis adalah anggota IKOHI Jakarta, sekaligus anggota Forum Belajar
Bersama Prakarsa Rakyat dari Simpul Jabodetabek.

**Siapa saja dipersilahkan mengutip, menggandakan, menyebarluaskan sebagian
atau seluruh materi yang termuat dalam portal ini selama untuk kajian dan
mendukung gerakan rakyat. Untuk keperluan komersial pengguna harus
mendapatkan ijin tertulis dari pengelola portal Prakarsa Rakyat. Setiap
pengutipan, penggandaan dan penyebarluasan sebagian atau seluruh materi
harus mencantumkan sumber (portal Prakarsa Rakyat atau
www.prakarsa-rakyat.org). 

 


 


 <http://www.prakarsa-rakyat.org> [EMAIL PROTECTED]   

 

Kirim email ke