----- 




----- 


Dear teman-teman,



Hidup kita dipenuhi dengan berbagai hal. Dalam kesibukan, banyak hal lalu 
lalang tanpa pandang bulu. Pernahkah kita sejenak berhenti untuk bertanya, ”apa 
yang sebenarnya paling penting dan berharga dalam hidup kita...?”

Di bawah ini ada sebuah tulisan sederhana. Barangkali teman-teman sudah pernah 
membacanya. Selagi kita masih sehat sejahtera, bolehlah kita menengok kembali 
ke tulisan ini sejenak.

Silakan berbagi pengalaman dan perjuangan kita, agar kehidupan kita semakin 
berkualitas dari dalam ke luar. Terimakasih untuk semangat senantiasa berbagi 
pengalaman di antara kita..

Marilah senantiasa berjuang menjadi sempurna...

Positively, 
cms


=========+++=========

Tiada Seorang Pun Yang Tahu

"Setelah 21 tahun menikah, saya tiba-tiba menemukan cara baru dalam menyalakan 
api cinta kami. Api yang muncul tak terduga, dari orang-orang yang begitu 
berharga, tapi jarang saya sadari kehadirannya,
karena terlalu terbiasa."

Beberapa waktu lalu istri saya mengusulkan agar saya berkencan dengan seorang 
perempuan lain, besok malam. "Kamu akan mencintainya," kata istri. "Apa-apaan 
sih," protes saya. "Mengapa kamu tidak ikut?"
"Itu acara kamu berdua dengan dia," jawab istri.

Perempuan yang dimaksudkan adalah ibu saya yang telah menjanda selama 19 tahun 
belakangan ini. Saya jarang menemuinya karena kesibukan kerja dan mengurus tiga 
anak kami. Malam itu saya telepon ibu, mengajaknya makan malam dan nonton film. 
Berdua saja.

"Ada apa dengan istrimu?" kata ibu dari ujung telepon. Ibu saya adalah tipe 
yang selalu curiga kalau menerima telepon di tengah malam atau undangan yang 
datangnya tiba-tiba. Bagi dia, itu pasti akan membawa berita buruk. "Saya 
pikir, pasti akan menyenangkan kalau kita sekali-sekali ke luar berdua saja," 
jawab saya. "Ibu mau sekali," jawabnya setelah terdiam beberapa lama. Aha, dia 
masih curiga.

Besok malam, sepulang kantor saya ke rumah ibu. Dia terlihat agak senewen tapi 
berdandan resmi sekali. Ibu jelas telah menata rambutnya di salon, dan dia 
memakai gaunnya yang terbaik. Gaun yang dipakai
pada pesta ulang tahun perkawinan yang terakhir ketika ayah masih hidup. Ibu 
menyambut saya dengan senyum lebar. "Saya bilang ke kawan-kawan tentang rencana 
kita ini. Mereka semua kaget dan merasa ikut senang seperti ibu sekarang," kata 
ibu seraya masuk mobil. "Mereka bilang besok pagi ingin tahu ceritanya."

Kami pergi ke restoran yang agak mahal. Suasananya elegan, menyenangkan. Ibu 
menggandeng lengan saya ketika memasuki ruangan, persis seperti first lady. 
Jalannya anggun.

Saya harus membacakan daftar menu karena ibu tak bisa lagi membacanya walau 
dengan kacamata tebal.Ketika sedang membaca daftar itu, saya berhenti sejenak 
menengok ke ibu. Dia sedang memandangi saya dengan senyum kasih.. "Dulu, ibu 
yang membacakan kamu daftar menu ketika kau masih kecil," katanya. "Sekarang 
ibu santai saja. Giliran saya yang melayani ibu," jawab saya. Sambil makan, 
kami membincangkan banyak hal sehari-hari. Tidak ada topik yang istimewa tapi 
obrolan mengalir saja sampai-sampai kami terlambat untuk menonton film. 
Mengantarnya pulang, di muka pintu ibu berkata, "Ibu mau pergi lagi dengan 
kamu, tapi lain kali ibu yang bayar." Saya setuju.

"Bagaimana kencanmu?" tanya istri saya di rumah. "Sangat menyenangkan. Lebih 
dari yang saya duga. Tadinya tidak tahu mau ngomongin apa."

Beberapa hari kemudian, ibu meninggal karena serangan jantung. Begitu tiba-tiba 
kejadiannya, saya tidak sempat berbuat apa-apa untuk menolongnya.

Satu minggu berlalu, sepucuk surat tiba dari restoran tempat ibu dan saya makan 
malam. Surat itu dilampiri kopi tanda lunas. Ada selembar kertas diselipkan di 
situ, bertuliskan: "Ibu sudah bayar makan malam kita karena rasanya tak mungkin 
kita makan bersama lagi. Walaupun begitu, ibu sudah bayarkan untuk dua orang, 
barangkali untuk kau dan istrimu. Anakku, besar sekali arti undanganmu malam 
itu."

Pada detik itulah saya mengerti apa pentingnya arti bahwa kita mengatakan 
kepada orang-orang yang kita sayangi mengenai perasaan kita itu...

Mengatakan pada orang yang kita sayangi bahwa kita sungguh mencintainya, selagi 
kita sempat.

Karena itu, katakanlah cinta hari ini, jangan pernah menunggu nanti...

Siapa tahu, ketika cinta itu kita tahan, saat akan mengucapkan, sudah 
terlambat... seseorang yang istimewa itu sudah tidak ada lagi...



--------------------------------------------------------------------------------
::BCA:: 


 


--------------------------------------------------------------------------------
::BCA:: 


::BCA::

Kirim email ke