DEAR ALL,

SAYA MAU KELUAR DARI MILIST INI KARENA SAYA TIDAK PERNAH MENDAFTAR KE MILIST 
INI MULAI RABU, 11/6/2008.

TERIMA KASIH.

 


-----Original Message-----
From: "Andi K. Yuwono" <[EMAIL PROTECTED]>
To: <[EMAIL PROTECTED]>, <[EMAIL PROTECTED]>, 
<[EMAIL PROTECTED]>, <[EMAIL PROTECTED]>, 
<[email protected]>, "'warisan otoriterian'" 
<[EMAIL PROTECTED]>, <[EMAIL PROTECTED]>
Date: Tue, 10 Jun 2008 17:35:13 +0700
Subject: :: Milist NB :: Buletin Elektronik SADAR Edisi 129 Tahun IV 2008

Buletin Elektronikwww.Prakarsa-Rakyat.org

SADAR 
Simpul Untuk Keadilan dan Demokrasi
Edisi: 129 Tahun IV - 2008
Sumber: www.prakarsa-rakyat.org



INDONESIA PASKA KENAIKAN HARGA BBM
 
Oleh Muhammad Haedir *
 
Kondisi negara belakangan ini sedang dirundung nasib yang buruk. Kenaikan 
harga BBM dunia hingga 130 US$/barel sangat berpengaruh kepada sistem 
perekonomian Indonesia. Hal ini wajar, karena sistem perekonomian yang 
diterapkan merupakan sistem ekonomi yang sangat tergantung pada sistem 
ekonomi luar negeri, dalam hal ini sistem ekonomi neo-liberal (globalisasi). 

Adalah sebuah sistem yang sangat mendewakan sistem pasar di atas segalanya. 
Yang terjadi adalah sistem-sistem ekonomi kita akan diseret pada satu 
kepentingan yaitu keuntungan besar bagi tuan-tuan kapitalis di negara-negara 
dunia pertama dan kemiskinan bagi rakyat di negeri sendiri. Bagaimana tidak, 
sudah lebih dari seminggu subsidi bahan bakar dicabut, perlawanan rakyat 
tidak berhenti dalam melakukan penolakan terhadap kebijakan tersebut. Ini 
pertanda bahwa akibat kebijakan tersebut, rakyat yang selain harus 
menanggung beban diakibatkan kenaikan harga pangan internasional, akan 
semakin terjerumus ke jurang kemiskinan.
Sebenarnya masih banyak tindakan-tindakan yang harus diambil dalam menangani 
persoalan kenaikan harga minyak dunia, tidak harus dengan mencabut subsidi. 
Akan tetapi pemerintah sepertinya tidak mau tahu akan hal itu. Kebijakan 
yang paling bisa diambil adalah dengan melakukan pemotongan pada gaji 
departemen dan para anggota dewan, dan dialihkan untuk menutupi subsidi, 
atau dengan memberdayakan teknologi energi yang belakangan ini banyak 
ditemukan oleh rakyat sendiri sebagai solusi penghematan terhadap BBM. Atau 
bisa juga dengan mengembangkan teknologi biodiesel.
Sayang sekali pemerintah sepertinya tidak mau peduli terhadap solusi-solusi 
tersebut dan mencoba bermain api dengan mencabut subsidi paling vital dalam 
kehidupan produksi masyarakat. Belajar dari sejarah pencabutan subsidi tahap 
kedua pada tahun 2005 kemarin, pemerintah bukannya memotong tunjangan para 
anggota dewan dan departemen, yang ada malah sebaliknya pemerintah malah 
menaikkan tunjangan para anggota dewan. 
Paska kenaikan harga BBM, di media-media diberitakan terjadi kenaikan harga 
bahan pokok yang disebabkan oleh naiknya biaya produksi. Hal ini akan 
memukul mundur kondisi perekonomian rakyat ke jurang kemiskinan yang semakin 
dalam. Kampanye pemerintah di media-mediapun semakin mengilusi rakyat aga 
rakyat mau menerima begitu saja keputusan pemerintah tersebut, seolah 
kehidupan rakyat akan baik-baik saja paska kenaikan harga BBM. Seakan-akan 
dengan kenaikan harga itu mereka tidak akan kelaparan, mereka tidak akan 
resah, mereka tidak akan menderita penyakit kemiskinan yang disebut busung 
lapar.
Pemerintahpun menyalurkan Bantuan Langsung Tunai (BLT) sebagai alat untuk 
semakin mengilusi rakyat agar tidak melawan. Bagaimana tidak, di 
tengah-tengah kenaikan semua harga kebutuhan pokok mereka seolah tertolong 
dengan adanya BLT. Padahal kebijakan tersebut tidak lebih dari alat untuk 
menyogok rakyat agar tidak berontak, jika menemukan harga kebutuhan mereka 
sudah naik di pasar.
Dalam keterpurukan rakyat pasca kenaikan harga BBM ini, para politisi busuk 
yang kita tahu juga harus ikut bertanggung jawab terhadap kerusakan negeri 
ini, malah sibuk mencari muka.
Mereka seolah tidak tahu malu sambil menyembunyian kebusukan-kebusukannya 
dan menganggap merekalah yang paling bersih dan tidak bernoda dalam 
keputusan pemerintahan SBY-JK yang menaikkan harga BBM. Padahal kita tahu 
bahwa merekalah sebenarnya benalu yang menghambat kemajuan bangsa ini selama 
sepuluh tahun reformasi. 
Sementara itu, gerakan dalam melakukan penolakan kebijakan tersebut, belum 
menuai hasil yang maksimal hingga hari ini. Hal ini diakibatkan oleh karena 
belum turut sertanya seluruh kekuatan rakyat dalam melakukan gerakan menolak 
kebijakan tersebut. Masyarakat malah diilusi dan dimobilisasi ke 
tempat-tempat penerimaan BLT. 
Sebuah solusi alternatif pun cenderung tenggelam dalam setiap isu, akibatnya 
para politisi busuklah yang kemudian menuai kemenangan propaganda dalam 
setiap kampanye-kempanye anti kenaikan harga BBM. Hal ini terjadi karena 
tidak adanya gerakan yang terus- menerus mengkonsolidasikan diri dalam 
mengkampanyekan sebuah alternatif baru yang mesti diambil dalam setiap 
krisis yang terjadi di negeri ini.
Justru yang mencuat ke permukaan adalah cap brutalisme dari kelompok 
gerakan, padahal yang melakukan hal tersebut adalah aparat negara sendiri 
yang selalu menganggap bahwa kelompok gerakan, dalam melakukan penolakan 
terhadap kenaikan harga BBM, selalu bertindak brutal. Hal ini sebenarnya 
merupakan bentuk propaganda hitam dari pemerintah terhadap kelompok gerakan 
agar rakyat tidak ikut-ikutan dalam melakukan tindakan brutal bersama 
kelompok gerakan tersebut.
Belajar dari sejarah, saat kelompok buruh berkehendak untuk melakukan aksi 
mogok pada Hari Buruh Internasional Satu Mei lalu, mereka selalu dicap bahwa 
mereka akan melakukan tindakan-tindakan anarki. Namun kita bisa lihat 
sendiri, aksi May Day berjalan dengan tertib sehingga anggapan pemerintahpun 
tidak terbukti. Hanya dengan aksi yang terorganisir, gerakan tidak akan 
terpancing oleh provokasi dari aparatus negara.
Selain itu, tugas dari gerakan adalah bagaimana menemukan sebuah format 
gerakan dalam mengusung isu menolak kenaikan harga BBM. Format ini penting 
agar mampu mencuatkan sebuah program alternatif sebagai sebuah antitesa dari 
program yang ditawarkan oleh para politisi busuk yang sudah pasti tidak akan 
mau melepaskan diri dari kekuatan modal internasional.
 
* Penulis adalah Sekretaris Kota, Perhimpunan Rakyat Pekerja (PRP) Komite 
Kota Makassar, sekaligus anggota Forum Belajar Bersama Prakarsa Rakyat dari 
Simpul Sulawesi Selatan.
** Siapa saja dipersilahkan mengutip, menggandakan, menyebarluaskan sebagian 
atau seluruh materi yang termuat dalam portal ini selama untuk kajian dan 
mendukung gerakan rakyat. Untuk keperluan komersial pengguna harus 
mendapatkan ijin tertulis dari pengelola portal Prakarsa Rakyat. Setiap 
pengutipan, penggandaan dan penyebarluasan sebagian atau seluruh materi 
harus mencantumkan sumber (portal Prakarsa Rakyat atau 
www.prakarsa-rakyat.org).
 
 

[EMAIL PROTECTED]   


 
 


**************************************************************************************************************

The contents of this e-mail message and any attachments  are  confidential and  
are  intended  solely  for  the addressee. If you have received this  
transmission  in  error,  please  immediately  notify  the sender by return 
e-mail and delete this message and its attachments. Any unauthorized use, 
copying or dissemination of  this transmission is prohibited. Neither the 
confidentiality nor the integrity of  this message can be  vouched  for 
following transmission on

**************************************************************************************************************

Kirim email ke