lanjut mangggg....

ato g aja yang ngelanjutin yahhh??? hmmmmmmmmm....

kl g yang ngelanjutin, pasti jalan ceritanya jadi berubah...

"bus mengalami kerusakan, dan terpakasa pemberangkatan ditunda hingga besok 
pagi..."

huhuuyyyy.... so, kesampean dong si "om" bermalam satu hari di pekanbaru. 
otomatis kesampean juga cita-cita si "om" buat mendaki gunung dan menyususri 
lembah???!! wooowwwwwww.........

Wi..Loe_sableng
*) Pembela kebenaran dan pembasmi kejahatan
  ----- Original Message ----- 
  From: ed 
  To: [email protected] 
  Sent: Thursday, June 12, 2008 1:52 PM
  Subject: :: Milist NB :: antara pekan baru - jakarta (1)



  Hujan turun demikian derasnya, jakarta kembali kebanjiran akibatnya macet 
dimana mana.

  Jam baru menunjukkan pukul 15 lewat 20 menit, antrian di depan pintu toll 
Rawamangun sudah hampir mencapai lampu merah Hutan kayu. Tidak ada lagi yang 
dapat aku lakukan untuk keluar dari lingkaran kemacetan ini, karena posisi 
mobilku sudah ditengah, kiri kanan.. Kena, begitu juga depan dan belakang.

  Persis diantrian sebelah kiri kulihat seorang gadis dengan rambut dikepang 2 
memandangi kemacetan dengan senyum dikulum. Mungkin bagi dia tidak ada yang 
perlu dipermasalahkan, tinggal duduk enak dikursi bus yang empuk sambil 
menikmati musik dan menonton tayangan video. Lain halnya dengan aku yang harus 
terus menerus menginjak kopleng dan rem serta stress takut bersenggolan dengan 
kendaraan lain, betul betul capek lahir bathin.

  Jakarta-Pekanbaru PP, demikian yang tertulis dikaca depan bus tersebut. Ini 
adalah salah satu bus terbaik yang masih setia melayani trayeknya walaupun 
terus menerus digempur dengan tarif super murah oleh perusahaan penerbangan.

  Dengan sedikit mengangkat kepala aku dapat melihat keseluruhan dari bus 
tersebut, warnanya kombinasi kuning, hijau dan dipermanis dengan garis garis 
warna ungu dibahagian belakangnya.

  Isinya hanya 6 orang, berarti 3 awak bus plus 3 penumpangnya. Sungguh saat 
ini adalah masa masa sulit buat pengusaha bus jarak jauh, apalagi dengan trayek 
dari Jakarta ke kota kota di pulau Sumatera. Harga tiket pesawat adakalanya 
lebih rendah dari pada harga karcis bus executive. Tidak cukup dengan derita 
itu saja, jalan jalan disepanjang lintas Sumatra kondisinya betul betul 
menggenaskan. Kita tidak bisa lagi memilih" Jalan mana yang akan ditempuh, 
tetapi mesti memilih lobang mana yang akan dimasuki" yang tersisa bukan lagi 
jalan tetapi lobang yang sambung menyambung dengan panjang ribuan kilometer.

  Sorry nglantur..!, bus dan gadis tersebut tiba tiba mengusik kenangan lamaku 
dengan seorang gadis dari Pekanbaru. Apalagi dari station FM yang kustel 
sebagai penghilang jemu, berkumandang lagu lama" When a man love a woman" oleh 
Michael Bolton. Lengkaplah sudah pemicu layar kenangan tersebut, semua tiba 
tiba tergambar dengan jelas di depan mata.

  Kejadiannya terjadi beberapa tahun yang lalu, waktu itu musim kemarau sedang 
berada dipuncaknya. Disepanjang pulau Kalimantan dan pulau Sumatera terjadi 
kebakaran hutan yang maha hebat. Asap menyelimuti hampir sepertiga dari wilayah 
Indonesia malah sampai menyeberangi selat Melaka, dengan menutup rata Singapura 
serta membuat hilangnya cahaya matahari di beberapa negara bahagian di Malaysia.

  Pelabuhan udara Sultan Syarief Kasim, Pekanbaru sudah 1 minggu ditutup karena 
jarak pandang yang hanya beberapa meter saja. Jangankan buat pilot pesawat yang 
butuh jarak pandang yang jauh, para pengemudi kendaraan bermotorpun sudah 
sangat kesulitan untuk melaju dengan aman di jalan raya.

  Aku baru saja menyelesaikan tugas di salah satu perusahaan minyak di Duri dan 
harus segera kembali ke Jakarta, tidak ada kamus menunggu dalam pelaksaan tugas 
dari kantorku. Apa boleh buat aku mesti kembali dengan menumpang bus antar Kota 
dan antar Propinsi. Aku sudah membayangkan ketidaknyamanan yang akan dialami 
selama lebih kurang 36 jam diatas bus dengan menelusuri jalan lintas sumatera 
sepanjang 1350 km dan melintasi 4 propinsi di lintas tengah.

  Tetapi rupanya bayangan tidaklah selalu sejalan dengan kenyataan. Jam 2 siang 
aku tiba di loket sebuah perusahaan bus jarak jauh yang direkomendasikan oleh 
salah seorang teman sebagai salah satu perusahaan bus yang memiliki armada dan 
pelayanan terbaik di Indonesia.

  Begitu memasuki loket aku mulai ragu" masih ada tempat nggak" aku bergumam 
dalam hati, soalnya penumpang sudah begitu ramainya, maklum disamping karena 
bandara ditutup, hari itu juga bertepatan dengan hari pertama libur sekolah 
secara nasional.. Semua bangku diruang tunggu penuh terisi. Disetiap sudut 
terlihat koper dan kardus yang berisikan barang bawaan calon penumpang 
semrawut, bergeletakan dan membuat kaki sulit dilangkahkan.

  "Abang mau kemana bang," suara lembut petugas loket menyambut kedatanganku. 
Dia duduk dibelakang meja panjang yang berbentuk siku siku, sehingga sekaligus 
menjadi pemisah antara petugas dengan para penumpang.
  "Ke Jakarta dik, masih ada tempat nggak," aku menjawab sambil melirik 
wajahnya. Persis di payudara kirinya tertulis namanya 'Sulistyowati'. Dik Sulis 
ini berwajah asli solo dengan kulit kuning langsat dan sangat serasi dengan 
seragam yang dia pakai yaitu kombinasi hijau, kuning dan ungu.
  "Wah.. Abang sungguh beruntung"
  "Maksudnya.."
  "Tuh.. Ibu itu baru saja membatalkan keberangkatannya, kalau tidak, Abang 
kena menunggu tiga hari untuk dapat tiket," dia berkata sambil menujuk pada 
seorang Ibu yang baru saja lewat disampingku.
  "Oh.. Terimakasih Dik Sulis," aku berkata sambil lebih mebungkukkan badan 
untuk dapat lebih jelas melihatnya.
  "Nih tiketnya bang," dia menyerahkan tiket sambil menyebutkan ongkos yang 
mesti kubayar.

  Cukup mahal memang, tetapi dibandingkan dengan tarif pesawat harganya 
tidaklah sampai tiga puluh persennya. Aku segera membayar harga tiket dan 
berlalu untuk mecari tempat duduk. Kulepaskan pandangan kesekeliling ruangan, 
tetapi semua bangku penuh, dan orang orang yang berdiri justru lebih banyak 
dari yang kebagian tempat duduk. Dalam hati aku berkata,

  "Aduh.. Ini baru jam setengah tiga sedangkan jadwal busku jam empat, berdiri 
1 jam setengah lumayan juga"

  Aku mengoyang goyangkan kaki sambil mengamati tiketku. Rupanya bus yang akan 
kutumpangi betul betul bus yang istimewa. Mereka menamakannya bus" Super 
Executive". Sebuah sebutan yang pantas menurutku. Di jajaran sebelah kiri hanya 
ada satu tempat duduk berjejer kebelakang sedangkan disebelah kanan terdiri 
dari dua buah tempat duduk.

  Bangku bangkunya dilengkapi dengan foot leg dan berbusa empuk persis seperti 
kursi executive class di pesawat. Di antara sisi tempat duduk dan kaca jendela 
dijepitkan beberapa bantal kecil berwarna biru muda. Disandaran kepala terdapat 
selimut hangat dengan warna mirip bendera Italia, merah, putih dan hijau. 
Persis diatas kepala terdapat dua buah ventilasi ac yang dapat dirubah baik 
volume maupun arah semprotannya.

  Melengkapi itu semua adalah sebuah TV 17 inchi tergantung diplatfon disebelah 
kiri pengemudi, sehingga memungkinkan semua penumpang melihatnya dengan jelas. 
Audionya keluaran salah satu pabrik di Jerman, suaranya jernih dan lembut 
karena dilengkapi dengan subwoover.

  Dibelakang tersedia sebuah toilet yang dilengkapi dengan tissue, air, gayung 
dan sebuah cermin kecil didindingnya, tetapi ini 'Hanya Untuk Buang Air Kecil' 
demikian sederet tulisan di depan pintu masuk. Tak lupa mereka juga memanjakan 
para perokok dengan menyediakan ruang khusus untuk merokok atau smoking area.

  "Para penumpang jurusan Jakarta, Bogor, Bandung dan Surabaya dipersilahkan 
menaiki kendaraan, karena bus anda akan segera diberangkatkan"

  Lamunanku terputus dikejutkan oleh suara halus dari pengeras suara dan aku 
bergegas meninggalkan foto besar yang memamerkan interior bus yang tergantung 
didinding. Tiba tiba semua penumpang berdiri serentak dan suara suara yang 
keluar dari mulut mereka sungguh beraneka ragam.

  "Oi capeklah baok barang tu.. A" Itu pasti orang Minang, yang populasinya 
didaerah Riau cukup besar.
  "Wes sampeyan naek dulu.." Ini kayaknya dari Surabaya, orangnya kalem 
berjaket kulit warna hitam, sedangkan temannya memakai kaos warna hijau 
Persebaya dengan dua gigi emas yang sangat menonjol.
  "Tos.. Teteh naik di payun atuh," nggak salah lagi urang Sunda, mungkin mau 
ke Bandung.

  Aku yang tadinya mau buru buru naik ke atas bus jadi terkesima melihat 
kesibukan mereka. Ada yang bersalaman, berangkulan dan ada yang saling 
menggeserkan pipi mereka, bersalaman gaya Arab..

  "Silahkan Bang" Si Sulis tersenyum sambil merentangkan tangannya..

  Aku melangkah naik ke atas bus dengan menginjak keranjang plastik tempat teh 
botol sebagai alat bantu untuk mencapai tangga utama yang cukup tinggi. Dalam 
hati aku bertanya,"Tempat dudukku nomor berapa ya" memang dari tadi aku tidak 
sempat mencek hal itu. Rupanya aku harus duduk di kursi no. 4C, berarti deretan 
ke empat dari depan berada disisi sebelah kanan atau bangku dua dua dan persis 
dipinggir jendela. Wah kebetulan ini adalah tempat duduk favouritku kalau naik 
bus, karena dengan duduk disamping jendela aku bisa melepaskan pandangan 
kesegala arah sehingga perjalanan tidak terlalu membosankan.

  Aku meletakkan tas ku dirak tepat diatas kepala dan memasukkan beberapa koran 
serta majalah ke dalam kantong pada bagian belakang, bangku depan.

  "Bapak bapak dan Ibu ibu selamat datang di atas bus super executive kami, dan 
semoga perjalanan anda selamat sampai ditujuan". Sulis si cewek bertetek besar 
memberikan kata sambutan persis kayak pramugari dipesawat.
  "Bus ini dilengkapi dengan AC, karena itu kami minta anda yang merokok untuk 
hanya menikmati rokoknya di smoking area yang telah kami sediakan."

  Wah.. Si Sulis kembali melanjutkan kata pengantarnya sambil berjalan pelan ke 
arah tempat dudukku.

  "Dibelakang juga tersedia toilet tetapi hanya dipergunakan untuk buang air 
kecil saja, kecuali jika anda semua sepakat untuk bersama sama menikmati bau e 
e.." Sulis tidak melanjutkan kalimatnya karena hampir semua penumpang tertawa 
terbahak bahak.
  "A.. Indak do, indak talok dek awak manahan baun nyo do"

  Ibu ibu dibelakangku memberikan komentarnya dalam bahasa Minang.

  "Baiklah para penumpang sekalian, terimakasih atas pilihan anda terhadap 
armada kami dan selamat jalan"

  Sulis segera meminta tanda tangan pengemudi sebagai pengesahan surat jalan 
dan meberikan beberapa copynya kepada kondektur untuk disimpan, kemudian dia 
menghadiahkan sejumput senyum manis ke arahku sambil melambaikan tangannya.

  "Oh.. Sulis, seandainya aku punya sedikit waktu untuk bisa menginap di 
Pekanbaru, maka aku yakin kesuburan gunung payudaramu akan dapat kudaki, 
tetapi.. Yah.. Pekerjaan tidak mengenal waktu untuk menunggu"

  Setelah kondektur bus selesai membagikan snack, kendaraan mulai bergerak 
menuju Jakarta dan kulihat jam tanganku persis menunjukkan pukul 4 sore. Wah.. 
Aku salut atas cara kerja yang profesional dari segenap crew dan pengurus bus, 
yang dapat mengalahkan perusahaan penerbangan dalam soal tepat waktu 
keberangkatan.

  Lho ada yang aneh kok bangku disebelahku no. 4B masih kosong!!

  "Bang ini bangku kosong ya" aku bertanya ke kondektur bus yang berseragam 
ungu kombinasi hijau.

  "Tidaklah bang, mana ada tempat kosong sekarang ini, kayaknya penumpang 
pesawat tumplek semua kesini, apalagi kan libur sekolah!" dia berkata sambil 
membetulkan letak barang barang bawaan penumpang agar tidak terjatuh selama 
dalam perjalanan.
  "Tapi.. Ini kosong kok" aku penasaran sambil menepuk nepuk bangku tersebut 
dengan tangan kiriku.
  "Penumpangnya naik di Teratak Buluh" (nama sebuah kampung diluar kota 
Pekanbaru)
  "Oh.." Aku terdiam sambil mengamati deretan toko toko yang berlalu satu 
persatu seiring dengan kecepatan bus yang makin meningkat.

   bersambung apa ngga ya?


   

  __________ NOD32 3028 (20080415) Information __________

  This message was checked by NOD32 antivirus system.
  http://www.eset.com

Kirim email ke