Setelah membaca2 artikel tentang Pak Boed :-)

Saya jadi terkesan rasanya.

Mirip sekali dengan pendidikan yg pernah diajarkan kepada saya :-)

Pada saat berangkat diwanti2...Kalo cari tempat itu, jangan cari tempat yg 
membuat orang lain iri, atau tempat yg orang lain tdk mau menempati tempat 
itu...yg niscaya akan menjadi tempat yg orang pengin menempati tempat itu tapi 
tdk bisa :-)

Kalo bekerja atau berusaha, agar selalu ingat YMK.
Drajat lan pangkat iku dudu tujuan, banda ndonya minangka srana utawa 
tumpakan.... :-)


eh ndilalah kog sudah terlihat jelas contohnya pada karakter Pak Boed :-) 
-Terharu...:-)- (baru tahu soalnya)

> >> mereka. Akhirnya, Pak Boed menduduki jabatan Menko Perekonomian. >> Mungkin
> >> sahabat-sahabat saya itu masih terngiang-ngiang sinyal penolakan >> Pak 
> >> Boed
> >> dengan selalu mengatakan bahwa ia sudah cukup tua dan sekarang 
>> giliran yang
> >> muda-muda untuk tampil. Memang, Pak Boed selalu memilih ekonom 
>> muda untuk
> >> mendampinginya: Mas Anggito, Bung Ikhsan, Bung Chatib Basri, Mas >> Bambang
> >> Susantono, dan banyak lagi. Semua mereka lebih atau jauh lebih 
>> muda dari
> >> saya.

Kalo membaca sebenarnya beliau sudah capek untuk berurusan dengan kekuasaan, 
tapi karena suatu mandat atau tanggung jawab kepada YMK dan kpd yg membutuhkan, 
saya pikir tdk akan bisa untuk menolak, atau bahasa jawanya wiradat. Sehingga 
sumarah/pasrah adalah jawabannya :-p
Dan mulai mepersiapkan generasi penerus :-)

Terkait dengan orang yg menjelek2kan beliau. Kata Pak Mario Teguh sih tdk ada 
orang jelek yg dijelekkan he he...yg ada pasti orang baik...dan saya pikir 
sudah biasalah Pak Boed menerima itu untuk selalu Legowo....
Tuhan selalu berkepentingan untuk menjaga Hamba2 yg setia kepadaNya.:-)

Apapun yg terjadi, Semoga bisa menjadikan Indonesia lebih baik...

Artikel yg cukup menarik.
Tks Atas Kirimannya.


Best regards




--- In [email protected], Lucky Trader <soluckytra...@...> wrote:
>
> Sekedar menambahkan dari pengalaman pribadi :
> 
> Anaknya P.Boed yg terakhir (cowok) adalah teman saya satu kantor. Sebelumnya
> saya tidak tahu kalo dia adalah anaknya P.Boed yg kala itu menjabat menjadi
> Menko di jaman Megawati. Bukan karena saya kuper, tapi anaknya memang sangat
> sederhana. Singkatnya, seperti kita2 yg tumbuh dari keluarga biasa2, bahkan
> terkesan "irit". Kalo sarapan ya hampir sama, Pop Mie dan dia juga masih
> suka jual CD ketengan di kantor, jadi beli 1 dos, lalu dijual ketengan, krn
> memang bidangnya IT (Programmer).
> 
> Saya berpikir, kalau seandainya P.Boed seperti kebanyakan pejabat yg lain,
> tentu tidak rela anaknya kerja di tempat yg jauh (tidak di jakt) dan
> salarynya "normal". Cukup mendirikan PT INI-ITU, dan bertindak sebagai
> broker, tentu pendapatan anaknya ini, akan 10-100x dalam sekejap. Rumah
> tidak lagi kontrak....Oya, kelupaan, waktu mash jadi kolega saya, rumahnya
> ngontrak, pas di sebelah rumah saya. Kalau P.Boed datang menjenguk, terutama
> stlh lahir cucunya, suka diem2 dan gak ada rame2. Bahkan agar pejabat daerah
> tidak setor muka, sering di jemput diem2 di bandara ama anaknya, pake mobil
> Forza buntut, beli bekas dari temen sekantor. Kalau ada pejabat daerah yg
> denger biasanya suka rame, dijemput ini-itu...biasa setor muka, terutama,
> pejabat daerah pajak, bank dll.
> 
> Mengenai kesederhanaan, kebersajaan dan sikap rendah hati, TIDAK PERLU
> DIRAGUKAN. saya sebagai saksi disini. Mudah2an sikap itu tercermin juga di
> KEBIJAKSANAAN yg akan diambil P.Boed utk kesejahteraan masy. Indonesia.
> 
> Salam,
> -LT
> 
> 2009/5/15 Iman <widgetena...@...>
> 
> >
> >
> > Memang orangnya sederhana dan bersahaja gitu kok.
> >
> > Dulu jaman kuliah, biarpun beliau menteri, kemana-mana cuma ditemani satu
> > ajudan/sopir. Walau jadi pejabat tinggi, orangnya tetap sederhana, tidak
> > sombong, dan tidak meremehkan mahasiswanya. Jaman sekarang kan dosen
> > belagunya minta ampun sama mahasiswa. Pernah di kelas kehabisan spidol,
> > beliau sendiri turun tangga, ambil sendiri ke bagian tata usaha. Mana ada
> > pejabat model begitu?
> >
> > Yang seru nih meramalkan siapa penggantinya Boediono. Apalagi kalau
> > kampanye sampai dua putaran, posisi Boediono tdk boleh sampai kosong. Dulu
> > SBY mengajukan Agus Martowardojo (Dirut Bank Mandiri) dan Raden Pardede
> > (Ketua PPA), tapi mungkin karena mereka mainnya bersih, ditolak oleh DPR.
> > Selain itu konon katanya ada kekuatan dalam BI utk memuluskan jalan buat
> > Miranda Goeltom.
> >
> > Akhirnya SBY terpaksa merelakan posisi Menko Perekonomian dipindah ke BI.
> > Jabatan lama dirangkap Sri Mulyani. Kalau sudah begini, nggak mungkin buat
> > DPR utk menolak Boediono tanpa alasan jelas karena bakal jatuh imej mereka
> > di mata rakyat. Jadilah waktu itu DPR bungkam dan MG gagal jadi Gubernur BI.
> > Sekarang skenarionya bakal terulang lagi. Tapi menurut saya sih penggantinya
> > adalah nama-nama di atas. Nama lain mungkin Irzan Tandjung (UI), Dubes RI
> > untuk Philipina, yang pernah jadi economic adviser SBY.
> >
> > Lieur ah sayah.
> >
> >
> >
> > 2009/5/14 <riil_inves...@...>
> >
> >
> >>
> >>  Apa yg dikatakan Faisal bener adanya, makanya partai2 yg ribut krn
> >> Budiono naik tidak memikirkan kepentingan bangsanya!
> >>
> >> Tx
> >>
> >> Powered by Telkomsel BlackBerry®
> >>
> >> ------------------------------
> >> *From*: "ID"
> >> *Date*: Thu, 14 May 2009 13:45:09 +0000
> >> *To*: <[email protected]>
> >> *Subject*: Re: [ob] Tulisan Faisal Basri tentang Boediono, bener ga ya ?
> >>
> >>  Terima kasih atas Artikel yang sangat baik ini
> >>
> >> Best Regards,
> >> ID
> >>
> >> Powered by Telkomsel BlackBerry
> >>
> >> ------------------------------
> >> *From*: Muttaqien yk
> >> *Date*: Thu, 14 May 2009 21:23:27 +0800
> >> *To*: <[email protected]>
> >> *Subject*: [ob] Tulisan Faisal Basri tentang Boediono, bener ga ya ?
> >>
> >>  Sisi lain Pak Boed yang saya kenalOleh Faisal Basri - 14 Mei 2009 -
> >> Dibaca 93 Kali -
> >>
> >> Saya pertama kali mengenal Pak Boed pada akhir 1970-an lewat buku-bukunya
> >> yang enak dibaca, ringkas, dan padat. Pada akhir 1970-an. Kalau tak salah,
> >> judul-judul bukunya selalu dialawali dengan kata "sinopsis," ada Sinopsis
> >> Makroekonomi, Sinopsis Mikroekonomi, Sinopsis Ekonomi Moneter, dan Sinopsis
> >> Ekonomi Internasional. Kita mendapatkan saripati ilmu ekonomi dari
> >> buku-bukunya yang mudah dicerna.
> >>
> >> Pada suatu kesempatan, Pak Boed mengutarakan pada saya niatnya untuk
> >> merevisi buku-bukunya itu. Mungkin ia berniat untuk menulis lebih serius
> >> sehingga bisa menghasilkan buku teks yang lebih utuh. Kala itu saya
> >> menangkap keinginan kuat Pak Boed untuk kembali ke kampus dan menyisihkan
> >> waktu lebih banyak menulis buku. Karena itu, ia tak lagi berminat untuk
> >> kembali masuk ke pemerintahan setelah masa tugasnya selesai sebagai Menteri
> >> Keuangan di bawah pemerintihan Ibu Megawati.
> >>
> >> Pak Boed dan Pak Djatun (Dorodjatun Kuntjoro-Jakti, Menko Perekonomian)
> >> bekerja keras memulihkan stabilitas ekonomi yang "gonjang-ganjing" di bawah
> >> pemerintahan Gus Dur. Hasilnya cukup mengesankan. Pertumbuhan ekonomi
> >> mengalami peningkatan terus menerus. Di tengah hingar bingar masa kampanye
> >> seperti dewasa ini, Ibu Mega ditinggalkan oleh wapresnya, dua menko, dan
> >> seorang menteri (Agum Gumelar). Ternyata perekonomian tak mengalami 
> >> gangguan
> >> berarti. Kedua ekonom senior ini bekerja keras mengawal perekonomian.
> >> Hasilnya cukup menakjubkan, pertumbuhan ekonomi pada triwulan keempat 2004
> >> mencapai 6,65 persen, tertinggi sejak krisis hingga sekarang.
> >>
> >> Selama dua tahun pertama pemerintahan SBY-JK, perekonomian Indonesia
> >> mengalami kemunduran. Tatkala muncul gelagat Pak SBY hendak merombak
> >> kabinet, sejumlah kawan mengajak Pak Boed bertemu. Niat para kolega ini
> >> adalah membujuk Pak Boed agar mau kembali masuk ke pemerintahan seandainya
> >> Pak SBY memintanya. Agar lebih afdhol, kolega-kolega saya ini juga mengajak
> >> Ibu Boed. Mungkin di benak mereka, Ibu bisa turut luluh dengan pengharapan
> >> mereka. Akhirnya, Pak Boed menduduki jabatan Menko Perekonomian. Mungkin
> >> sahabat-sahabat saya itu masih terngiang-ngiang sinyal penolakan Pak Boed
> >> dengan selalu mengatakan bahwa ia sudah cukup tua dan sekarang giliran yang
> >> muda-muda untuk tampil. Memang, Pak Boed selalu memilih ekonom muda untuk
> >> mendampinginya: Mas Anggito, Bung Ikhsan, Bung Chatib Basri, Mas Bambang
> >> Susantono, dan banyak lagi. Semua mereka lebih atau jauh lebih muda dari
> >> saya.
> >>
> >> Interaksi langsung terjadi ketika Pak Boed menjadi salah seorang anggota
> >> Dewan Ekonomi Nasional (DEN). Saya ketika itu anggota Tim Asistensi Ekonomi
> >> Presiden (anggota lainnya adalah Pak Widjojo Nitisastro, Pak Alim Markus,
> >> dan Ibu Sri Mulyani Indrawati). Ibu Sri Mulyani memiliki jabatan rangkap
> >> (jadi bukan sekarang saja), selain sebagai anggota Tim Asistensi juga
> >> menjadi sekretaris DEN. Pak BOed tak pernah mau menonjolkan diri, walau ia
> >> sempat jadi menteri pada masa transisi.
> >>
> >> Sikap rendah hati itulah yang paling membekas pada saya. Lebih banyak
> >> mendengar ketimbang bicara. Kalau ditanya yang "nyerempet-nyerempet ,"
> >> jawabannya cuma dengan tersenyum. Saya tak pernah dengar Pak Boed
> >> menjelek-jelekkan orang lain, bahkan sekedar mengkritik sekalipun.
> >>
> >> Tak berarti bahwa Pak Boed tidak tegas. Seorang sahabat yang membantunya
> >> di kantor Menko Perekonomian bercerita pada saya ketegasan Pak Boed ketika
> >> hendak memutuskan nasib proyek monorel di Jakarta yang sampai sekarang
> >> terkatung-katung. Suatu waktu menjelang lebaran, Pak Boed dan sejumlah staf
> >> serta, kalau tak salah, Menteri Keuangan dipanggil Wapres. Sebelum meluncur
> >> bertemu Wapres, Pak Boed wanti-wanti kepada seluruh stafnya agar kukuh pada
> >> pendirian berdasarkan hasil kajian yang mereka telah buat. Pak Boed sempat
> >> bertanya kepada jajarannya, kira-kira begini: "Tak ada yang konflik
> >> kepentingan, kan? Ayo kita jalan, Bismillah …  Keesokan harinya, saya
> >> membaca di media massa bahwa sekeluarnya dari ruang pertemuan dengan 
> >> Wapres,
> >> semua mereka berwajah "cemberut" tanpa komentar satu kata pun kepada
> >> wartawan.
> >>
> >> Adalah Pak Boed pula yang memulai tradisi tak memberikan "amplop" kalau
> >> berurusan dengan DPR. Tentang ini, saya dengar sendiri perintahnya kepada
> >> Mas Anggito.
> >>
> >> Ada dua lagi, setidaknya, pengalaman langsung saya berjumpa dengan Pak
> >> Boed. Pertama, satu pesawat dari Jakarta ke Yogyakarta tatkala Pak Boed
> >> masih Menteri Keuangan. Berbeda dengan pejabat pada umumnya, Pak Boed
> >> dijemput oleh Ibu. Dari kejauhan saya melihat Ibu menyetir sendiri mobil 
> >> tua
> >> mereka.
> >>
> >> Kedua, saya dan isteri sekali waktu bertemu Pak Boed dan Ibu di
> >> Supermarket dekat kediaman kami. Dengan santai, Pak Boed mendorong 
> >> keranjang
> >> belanja. Rasanya, hampir semua orang di sana tak sadar bahwa si pendorong
> >> keranjang itu adalah seorang Menko.
> >>
> >> Banyak lagi cerita lain yang saya dapatkan dari berbagai kalangan. Kemarin
> >> di bandara Soekarno Hatta setidaknya dua orang (pramugara dan staf ruang
> >> tunggu) bercerita pada saya pengalaman mengesankan mereka ketika bertemu 
> >> Pak
> >> Boed. Seperti kebanyakan yang lain, kesan paling mendalam keduanya adalah
> >> sikap rendah hati dan kesederhanaannya.
> >>
> >> Dua hari lalu saya dapat cerita lain dari pensiunan pejabat tinggi BI. Ia
> >> mengalami sendiri bagaimana Pak Boed memangkas berbagai fasilitas yang
> >> memang terkesan serba "wah." Dengan tak banyak cingcong, ia mencoret banyak
> >> item di senarai fasilitas. Kalau tak salah, Pak Boed juga menolak mobil
> >> dinas baru BI sesuai standar yang berlaku sebelumnya. Entah apa yang
> >> terjadi, jangan-jangan mobil para deputi dan deputi senior lebh mewah dari
> >> mobil dinas gubernur.
> >>
> >> Kalau mau tahu rumah pribadi Pak Boed di Jakarta, datang saja ke kawasan
> >> Mampang Prapatan, dekat Hotel Citra II. Kebetulan kantor kami, Pergerakan
> >> Indonesia, persis berbelakangan dengan rumah Pak Boed. Rumah itu tergolong
> >> sederhana. Bung Ikhsan pernah bercerita pada saya, ia menyaksikan sendiri
> >> kursi di rumah itu sudah banyak yang bolong dan lusuh.
> >>
> >> Bagaimana sosok seperti itu dituduh sebagai antek-antek IMF,
> >> simbol Neoliberalisme yang bakal merugikan bangsa, dan segala tuduhan 
> >> miring
> >> lainnya. Lain kesempatan kita bahas tentang sikap dan falsafah ekonomi Pak
> >> Boed. Kali ini saya hanya sanggup bercerita sisi lain dari sosok Pak Boed
> >> yang kian terasa langka di negeri ini.
> >>
> >> Maju terus Pak Boed.
> >>
> >>
> >  
> >
>


Kirim email ke