Pernah gue berhelo-helo sama kartunis Rahmad "Timun" Riyadi. Dia cerita tentang peneliatian yang dilakukan oleh seorang kartunis (?), yang membuat buku, ternyata karakter kartun yang dibuat oleh banyak kartunis itu, paling banyak menyerupai karakter kartunisnya sendiri. Gue jadi ngeh, waktu lihat RA Kosasih, ternyata gambar tokoh wayang yang dia buat juga rada-rada mirip dengan wajahnya. Juga si Timun sendiri, mirip pembuatnya, yang jogrokannya kayah si Lat.
Eh, buat pertamakali gue ketemu Benny en Mice, ternyata tampangnya betul kayak kartunnya yang selalu tampil di Kompas minggu selama beberapa tahun ini. Benny jangkung dan kelihatan agak berwibawa, tapi Mice pendek dengan idung betetnya dan selalu tersenyum ramah. Boleh juga jogrokan sendiri bisa dipake buat model. Mungkin secara naluri kebanyakan manusia selalu menampilkan tampangnya sendiri, kalau dia seorang kartunis. Tapi gimana Walt Disney? Hahaha... Nah, ini cerita yang paling penting. Workshopnya kedua kartunis itu. Mereka menyediakan makalah "Sekilas ttg kartun". Dan mulai si Benny ngoceh tentang teori elementer ttg kartun menurut dia, dengan bantuan komputer lantas disemprot sebuah layar besar, yang ditonton oleh sekitar 100 peserta workshop yang kebanyakan siswa SMA dan mahasiswa. Benny bilang, kartun itu adalah gambar garis yang menyampaikan pesan lucu. Kelucuan itu bisa kejadian sehari-hari, tren. Yang terpenting kartun itu nggak boleh "menelanjangi" orang, menghujat, atau mempermalukan seseorang. Dan, jangan membuat kartun menyinggung SARA, kata Benny yang lebih dominan ngoceh, ketimbang Mice yang lebih merasa pas sebagai figuran. Setelah selesai mendengar kuliah teori elementer itu, rasa gue berasa kosong melompong. Tentang kartun itu harus lucu dan tak menyinggung SARA, sudah menjadi ungkapan basi dan menjadi mitos di antara kartunis kita entah yang masih bau kencur sampe yang sudah bangkotan. Apa memang tindakan berbudaya kita memang di situ-situ aja, dan nggak bisa berubah. Kembali lagi memang kita nggak punya referensi yang betul digali. Jadi cuma kutip-kutip omong orang lain di warung kopi aja. Dan jago ngeles, mengelak. hahaha... (pelatihan membuat kartunnya, nggak ada yang baru, cuma suruh gambar di tiga panel, nggak boleh manusia tapi dalam bentuk benda, kewan atau lain-lain, dan nggak komentar yang ngomong tentang teori semiotika. hahaha) Ceramahnya sih kering dan agak tegang, karena lebih berkutat pada teori -- yang basi dan sudah jadi mitos. Hampir-hampir tanpa menyebut contoh kartunis lain selain diri mereka berdua. Hebat. Maunya sih mereka berdua cerita pengalaman mereka bagaimana mereka jatuh cinta dengan kartun. Itu mungkin bagus untuk membuat para peserta timbul antusiasmenya. Aku ingat ketika si Lat, cerita dia selalu dibeliin tinta cina dan kertas oleh bokapnya. Dan kalau dia habis nonton film, harus menggambar apa yang dia lihat di bioskop itu. Atau gimana, ketika karyanya dimuat di koran dan dapat honorarium ketika usianya masih baru belasan tahun. Itu si Lat. Ada banyak yang bisa dibawa pulang dari Lat, ketimbang kita harus mengunyah-nguyah teori basi dan sudah menjadi zombie itu. Tapi ada sebuah pujian buat Benny-Mice, karya mereka yang ditampilkan di Kompas minggu memang bagus dan asli lucu. Itu yang bisa menolong mereka ketimbang sebagai pemberi acara workshop yang kurang antuasias, Jumat, 13 Januari 2006 lalu dk. _________________________________________________________________ FREE pop-up blocking with the new MSN Toolbar - get it now! http://toolbar.msn.click-url.com/go/onm00200415ave/direct/01/ Yahoo! Groups Links <*> To visit your group on the web, go to: http://groups.yahoo.com/group/pakarti/ <*> To unsubscribe from this group, send an email to: [EMAIL PROTECTED] <*> Your use of Yahoo! Groups is subject to: http://docs.yahoo.com/info/terms/

