Chris Lie: Tuntutlah Ilmu Komik Sampai ke Amrik Kembalinya seorang Chris Lie dari Amrik, dengan membawa predikat lulusan terbaik MFA, jurusan komik tentu menggelitik untuk ditelisik. Apalagi dia lebih tertarik ikut "menggerakan" komik Indonesia di lingkungan akademik. Namun kiprahnya ngomik selama di Amrik tentu tak kalah seru!
Bagaimana kuliah S-2 nya di Amrik, sudah kelar ya? Khabarnya lulusan terbaik? Iya. Lulusan terbaik S-2 satu sekolah. Aku sebelumnya nggak tahu juga ada pemilihan lulusan terbaik. Tiba-tiba aja diundang interview karena sudah masuk nominasi. Setelah beberapa round eliminasi, akhirnya aku terpilih. Di Savanah College of Art and Design, Savannah, GA ini, aku ambil Master of Fine Arts jurusan Sequential Art. Terjemahan bebasnya jurusan komik. Wah keren banget, lulusan terbaik di Amrik! Sebelumnya jebolan mana sih? Dari ITB, jurusan Arsitektur. Khabarnya juga lulusan terbaik ya? Yang di arsitektur waktu itu cum laude doang. Waktu itu yang cum laude cuma 3 orang satu jurusan, jadi ya termasuk 3 besar kali ye... Kenapa tidak tertarik melanjutkan studi arsitekturnya? Hitung-hitungan income profesi bukankah lebih gede di Arsitektur ketimbang ngomik? Apalagi di Indonesia. Kalo ngomongin duit sih gak ada habisnya. Jadi bankir mungkin malah lebih gede gajinya. Prinsip gue: apapun yang kita sukai, kalo kita kerjain total 100%, pasti kita bakal berhasil (secara reputasi dan finansial). Sebelumnya,setelah lulus aku juga sempat kerja jadi arsitek selama dua tahun, buat cari pengalaman dan dana buat menerbitkan komik sendiri. Artinya setelah aku mengalami sendiri bekerja sebagai arsitek dan komikus, aku ngerasa bisa menyumbang atau menghasilkan sesuatu yang lebih besar di bidang komik. Walaupun aku sadar bahwa itu bukan hal yang bakal mudah dilakukan di Indonesia. Maksudnya? Meski aku merasa ngomik lebih cocok buat aku, namun tuntutan untuk bertahan hidup selalu membuat aku belum bisa total 100% ngomik. Hasilnya selama bertahun-tahun aku ya nyambi sana-sini. Kerja yang bukan ngomik. Memang butuh proses yang tidak sebentar untuk sampai di tahap sekarang ini, sekitar 10 tahun kali. Dalam berproses itu bagaimana? Singkatnya begini, walaupun aku udah banyak komik diterbitin di Indonesia, menang kompetisi dan lain-lain, namun selama proses itu aku ngerasa aku masih belum tahu apa-apa soal komik. Otodidak dalam ngomik bagiku pribadi belum cukup. Dikarenakan aku memang mau total ke komik, jadi aku nggak mau setengah-setengah cari ilmunya. Bukankah otodidak malah lebih "asyik"? Tergantung masing-masing kali ya. Menurutku asyik itu relatif. Soalnya kalo ngerjain suatu pekerjaan dikit-dikit sambil nyantai, banyak sekali pekerjaan yang bisa dikategorikan asyik. Tapi kalo udah menjadi pekerjaan beneran, didera deadline dan sebagainya, pekerjaan yang dulunya asyik bisa jadi gak asyik. Komik menurutku sudah mendarah daging. Karena aku mau total, aku ingin sekolah dan kebetulan kesempatan ada juga, kenapa nggak?. Saat memutuskan untuk ambil Master of Fine Arts jurusan Sequential pertimbangannya apa? Ada sesuatu yang dipertaruhkan atau dikorbankan? Bersekolah ini merupakan proses untuk mencapai tujuanku. Jadi apapun aku lakuin agar bisa total di komik. Apa yang dikorbanin? Gak tahu deh..Semua jerih payah aku anggap sebagai proses. Sebenarnya ilmu komik yang bagaimana yang ingin didapat? Aku lebih ke technical dan storytelling skill. Bisa dijabarkan sedikit? Technical skill: mencoba belajar dan bekerja sesuai dengan prosedur, teknik, dan media yang menjadi standar industri komik di Amrik. Storytelling skill: mengeksplorasi berbagai jenis pilihan dalam cara bertutur komik. Skill yang lainnya, semacam drawing, storyboard, concept designer, dan lain-lain? Drawing skill dan lain-lain itu pilihan kita masing-masing. Apakah kita mau memperdalam atau tidak. Soalnya disini tidak dipaksain harus American style, Manga style atau apa. Kita dibantu ke arah mana kita mau berproses. Misalnya saja, kalo mau arahnya ke komik alternatif, ya silahkan. Jadi komik karya orang itu tidak bakal dikritik dari segi anantomi. Tapi kalo kita mau ke superhero, ya anatomi harus oke. Bervariasi sekali. Lagian temen-temen sekolah disini, gak ada yang mau sama stylenya dengan orang lain. Maunya punya style sendiri-sendiri, cuma secara overall, storytelling harus oke. Nah disinilah kenapa storrytelling (semacam cara bertutur) menjadi penting. Storytelling is universal, diatas semua varian style dan skill yang ada. Ilmu komik yang didapat saat ini, sudah cukupkah? Aku masih ngerasa belum cukup, tetapi sekarang aku ngerasa sudah saatnya cari ilmu di industri. Apalagi seni kan sangat relative dan subjektif, ilmunya sangat jamak dan terus berubah secara trend. Dari yang aku dapat saat ini, secara ilmu banyak pilihannya mau ke arah mana, komik, storyboard (animasi), ataupun concept designer. Perbedaan S-2 dibandingkan S-1 itu dari cara belajarnya, lebih mandiri dan personal. Jadi kita diharapkan sudah tahu tujuan kita, tinggal kita dibentuk selama disitu. Apakah semua pekerja kreatif komik disana lulusan S-2? Adakah pengaruhnya pada pendapatan atau karir di industri komik? Tentu tidak. Sebagian ya otodidak. Kita yang sekolah at least punya keuntungan dalam hal tahu mana yang benar secara ilmu, apa yang jadi standar penerbit-penerbit komik, jaringan, koneksi dan lain-lain. Meski begitu, tidak ada jaminan lulus langsung dapat kerjaan. Tergantung kita masing-masing apakah kita work hard enough, take advantage of all the connections dan ke arah mana yang kita tuju. Misalnya, apabila style gambar kita ke arah alternatif, lantas setelah lulus, memaksa mau ke Marvel atau DC, ya susah. Malah nyaris impossible. Tetapi tidak tertutup kemungkinannya dengan jalan yang lain, misalnya: kita tekuni terus style gambar alternatif tadi, kemudian berkarir dan ngetop dulu di indie comic (contoh: Paul Pope), dari situ DC atau Marvel kemungkinan bakal melirik. Jadi semua balik lagi ke diri kita masing-masing dalam berkarir dan mencari pendapatan di industri komik. Tidak ada yang standar dan pasti disini. Apakah di Amrik, ada perbedaan antara penerbit Komik dan penerbit buku (non-komik)? Iya. Beda, dan penerbit buku biasanya tidak nerbitin komik. Tapi sekarang mulai ada penerbit-penerbit buku besar yang punya anak perusahaan buat nerbitin graphic novel. Kalo mau tahu apa saja penerbit komik disini, cek aja PREVIEWS magazine tiap bulan. Sistem industrialnya bagaimana? Yang berdampak langsung, semisal sistem pembayaran yang lazim berlaku bagi penerbit komik disana? Macem-macem. Penerbit komik sangat terbuka untuk negosiasi berbagai sistem pembayaran, seperti: page rate (work for hired), flat fee publishing, self publish, dan royalti. Selain itu masih ada lagi sistem pembayaran yang lain, hanya saja aku gak tahu pasti. Jadi gak ada yang standar. Kayak aku, work for hired. Dibayar tiap lembar yang aku gambar, sementara aku mengerjakan judul atau tokoh mereka. Semua bisa dinegosiasikan dan variabelnya banyak sekali. Disini komikus kayak atlet atau artis. Banyak yang punya agen. Agenlah yang mengurus negosiasi, kontrak, dan lain-lain. Mereka bakal memastikan kalo kita dapat best deal dengan penerbit. Sejauh ini yang paling ideal dalam industri komik, sistem pembayaran yang mana? Tergantung banyak faktor, yang baru mulai sebaiknya menggunakan sistem work for hired atau self publish. Bila kita punya ide yang bakal jadi the next Harry Potter, gunakan royalti atau kalau berani self publish. Bila mau asal ada yang terbit aja, gunakan self publish. Apabila tidak punya uang buat self publish, coba flat fee. Dan masih banyak lagi alternatif lainnya, tergantung kreatifnya kita menyiasati keadaan. Sekarang lagi gandeng penerbit dari mana saja? Devils Due, Archie Comics, perusahaan mainan Hasbro, dan satu lagi sedang dalam proses. Eh, kok ada perusahaan mainan Hasbro, jobnya apa tuh? Terlibat dalam desain action figure dan illustrasinya GI Joe Sigma 6. First wave of the figures has been out. Aku desain mainannya udah tahun lalu, waktu itu animenya sedang dikerjain di Jepang oleh Gonzo. Jadi sekarang ini anime keluar di TV tiap sabtu pagi, komik keluar tiap bulan, mainan juga keluar terus (karakter baru dan variannya)tiap 3 bulan. Ini bisnis yang gak berhenti dan mengepung konsumen dari berbagai arah. Bukankah ikutan ngerjain komiknya juga? Ceritanya begini, tahun lalu aku intern semacam Kerja Praktek di Devils Due, terus mereka dapet job buat sketch ide untuk action figure. Satu kantor pada nyobain, cuma Hasbro-nya suka punyaku. He..he..he.. Walhasil aku dari yang cuma ngerjain gak jelas, kemudian jadi desainer action figure sampe sekarang. Terus pas animenya mau tayang, komiknya dalam persiapan...nah, mereka pikir, kenapa gak aku aja yang ngerjain karena aku sudah familiar sama karakter-karakternya. Sekarang aku dikontrak untuk 6 issues miniseries. Nomor 1 sudah terbit minggu lalu, terbit tiap bulan sampe nanti Mei 2006. Kalo tertarik bisa pesen di Planet Comics he..he.. Berapa halaman tiap issue? Full Color 22 halaman. Dengan pewarnaan digital. Kalo mau liat previewnya di chriscomic.com ada. Aku yang mengerjakan pensilnya. Inker dikerjain Ramanda Kamarga, temen aku disini, ketemu satu sekolah dan dari Indonesia juga. Kebetulan style kita cocok buat kolaborasi. Sudah kerja tetap di Devils Due? Aku cuma dikontrak enam issues. Kebanyakan komikus yang work for hired sistemnya dikontrak. Entah untuk beberapa buku atau beberapa tenggang waktu. Selama proses pengerjaan itu apa kendala yang paling dominan? Menyelesaikan satu halaman pensil satu hari dengan kualitas yang harus bagus. Satu halaman sehari teorinya gampang, prakteknya susah! Hahaha... Revisi ada, tapi selama ini syukurlah tidak banyak, soalnya aku gak setengah-setengah ngerjakannya. Jadi editor dan writer biasanya puas. Karena schedule terbitnya ketat, jadi kalo kita screw up, ya mungkin resikonya kita nggak dihired lagi. Hahaha... Adalagi kontrak kerja yang lainnya yang berbarengan dengan itu? Bagaimana mengatur waktunya? Ada. Lima halaman Josie and The Pussycats tiap bulan. Yang ini tidak rutin, setiap ada script baru, baru dikerjakan. Yang Sigma 6 action figure juga bukan regular, cuma ada aja terus, soalnya mainannya kan keluar terus. Atur-atur waktunya lumayan mumet. Sekarang ini malah lagi mumet-mumetnya. Masih sempat membuat komik 'single fighter' ala kerja kreatif komik di Indonesia? Sudah ada rencana, moga-moga ada waktu buat deadline April 2006. Terbitnya ikutan masuk dalam sebuah kumpulan atau anthology komik: FLIGHT . Tapi mentok-mentok paling sepuluh halaman dan semua aku kerjakan sendiri. Proyek ini bukan mencari duit, tapi merupakan kebanggaan kalo bisa masuk disini. Soalnya artis-artisnya dari berbagai penjuru dunia, dan keren-keren semua! Kebetulan editornya ke sekolahku, terus liat karyaku di gallery show disini. Besoknya dia menyapaku dan mengundang buat ikut kontribusi. Proses kritik dalam pembuatan buku ini dilakukan oleh para kontributor secara online sebuah inovasi yang bagus. Obsesi apalagi yang pingin dicapai selama tinggal di Amrik? Cuma pingin terus eksis aja di dunia perkomikan. Maintain job sekarang ini, soalnya maintain lebih susah daripada nge-dapetinnya. Kalo ditanyain apakan pingin nge-gambar Spiderman? Ya pingin-pingin saja. Cuma sekarang aku sudah bersyukur sekali bisa ngerjain versi baru karakter kartun kesayangan masa kecilku. Kalo obsesi terus ya gak bakal ada abisnya. Filosofiku jangan selalu liat keatas terus, tapi juga liat ke sekitar. Semuanya, temen-teman kuliah disini, masa laluku. At least aku bangga sekarang aku bisa hidup layak dari ngomik, setelah lama berusaha. Kalo kerja ngomik ya mungkin selama hayat masih di kandung badan. Bakal berapa lama lagi di Amrik? Ada rencana balik lagi ke Indonesia? Balik ke indo tahun depan. Aku ke Amrik disponsori oleh Fulbright, jadi tahun depan aku pulang. Cepet bener? Selama ini usahanya hampir sepuluh tahun lebih kan? Hahaha... iya... kalo dipikir-pikir udah kerja sepuluh tahun cari duit dari komik di Indonesia, tetep gak cukup buat sekolah S-2 disini. Hahaha...harus mengandalkan sponsor dari luar komik. Lantaran mentok di model royalti yang hanya 10% dan harus dibagi berlima? Hahaha... Aku ngalamin tuh! Tambah lagi kita tidak tahu komiknya terjual berapa. Lepas dari itu, aku turut seneng banyak temen-temen yang siap meluncur lagi dengan karya-karya komiknya seperti Erfan, Sunny, Rhoald, Alfi, Oyas dan lain-lain. Juga para jawara muda komik kita yang bersiap untuk turun gunung seperti Admiranto, Pe-Ong, Thoriq, Motulz, dll. Ngomong-ngomong Anto dan Alexander Hendro dulu adalah guruku dalam menggambar anatomi. (kemanakah dikau Alex? e-mail gue ya kalo kamu baca ini) Tidak ada niatan jadi citizen di Amrik? Tidak. Ikut mengembangkan industri komik kita? Gimana caranya ya? Hahaha...(becanda). Nanti diliat dulu kalo aku udah pulang. Lihat keadaan sebenarnya dulu, soalnya selama ini aku cuma ngikutin berita dari milis saja. Kalo niat ngembangin komik di Indonesia ya pasti ada, cuma nanti cari bagaimana cara dan tempat yang tepat dimana aku bisa berguna dan efektif. Mungkin mengembangkan pendidikannya yang paling penting. Wah... tengkyu interview dan sharingnya. Kapan nanti disambung lagi. Sama-sama. Aku juga mau gambar lagi. Ngejar setoran :P *FOTO: Saat aku di WizardWorld Boston. Aku buka meja,terima bikin sketsa, jual original art. Intinya: promosi dan cari duit. (Kapan di event komik kita ada beginian ya?) | interview oleh shuciantow | Selasa, 27 Desember 2005 ) _________________________________________________________________ FREE pop-up blocking with the new MSN Toolbar - get it now! http://toolbar.msn.click-url.com/go/onm00200415ave/direct/01/ Yahoo! Groups Links <*> To visit your group on the web, go to: http://groups.yahoo.com/group/pakarti/ <*> To unsubscribe from this group, send an email to: [EMAIL PROTECTED] <*> Your use of Yahoo! Groups is subject to: http://docs.yahoo.com/info/terms/

