Title: Republika Koran: Rumah Sakit Penyebar Penyakit?
 
Subject: Republika Koran Rumah Sakit Penyebar Penyakit.htm

 
       
 
 
Home| Koran| Propinsi|
 
Sampaikan kepada rekan Cetak berita ini
 

Rabu, 15 Oktober 2003 14:05
Rumah Sakit Penyebar Penyakit?
Laporan:

Tidak sedikit masyarakat mengalami iritasi kulit bahkan keracunan akibat kontak langsung dengan air sungai. Ironis. Rumah sakit yang selama ini dianggap sebagai tempat penyembuhan penyakit bagi lapisan masyarakat, justru menjadi sumber bibit penyakit baru. Kondisi ini terjadi karena manajemen rumah sakit lalai atau sengaja lalai menyediakan instalasi pengolahan air limbah (IPAL).

Akibatnya, seluruh limbah yang dihasilkan rumah sakit, langsung dibuang ke aliran sungai di sekitarnya. Di sisi lain, kebiasaan buruk itu nyaris tak pernah disikapi serius oleh pengelola rumah sakit, termasuk pemerintah daerah setempat.

Setidaknya, hal itu terjadi di Kabupaten Bandung, khususnya di Kecamatan Soreang. Hingga kini, Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Soreang belum memiliki IPAL.

''Saya heran kenapa direktur utama RSUD Soreang dan pemkab belum berinisiatif menyediakan IPAL,'' kata anggota Komisi D DPRD Kabupaten Bandung, H Bambang Setiadi.

Bahkan Bambang mensinyalir, hampir seluruh rumah sakit di Kabupaten Bandung belum memiliki IPAL. Meskipun produksi limbah kimia dari rumah sakit itu tidak terlalu banyak dibanding dengan industri. Namun, kata dia, hal itu tidak pantas jika dilakukan oleh lembaga kesehatan.

Menurut Kepala Sub Instalasi Kesehatan Lingkungan Rumah Sakit Hasan Sadikin (RSHS) Bandung, Irna Kurnia, kendala ketiadaan IPAL di sejumlah rumah sakit adalah karena faktor biaya.

''Untuk membangun sebuah IPAL, butuh biaya yang besar. Harganya tergantung dari kualitas dan banyaknya proses yang dilakukan pada IPAL tersebut,'' ungkap Irna.

Namun, Irna tidak mengetahui nilai nominal pasti harga IPAL yang ada di RSHS. Ia memperkirakan biayanya bisa mencapai hampir Rp 1 miliar. Maka sangat wajar, bila kemudian pengelola rumah sakit itu enggan untuk membuat IPAL akibat biaya untuk membangunnya sangat mahal. Namun, bila dibandingkan dengan imbas yang ditimbulkannya, maka pembangunan IPAL lebih banyak manfaatnya.

Menurut Irna, pengolahan limbah di RSHS meliput pengolahan biologis, fisik dan kimia. Pengolahan ini, lanjut dia, selalu dipantau oleh dinas-dinas terkait seperti BPLHD, dan Dinas Kesehatan.

Bila pengolahan limbah ini tidak dikontrol, dampaknya seperti banyak dirasakan warga Soreang. Belum lama ini, kata Bambang, masyarakat Soreang mengeluhkan ulah RSUD yang seenaknya membuang limbah ke sungai umum.

Akibatnya, tidak sedikit masyarakat yang terkena iritasi kulit bahkan keracunan dari air sungai yang tercemar limbah tersebut. Bahkan, tidak sedikit pepohonan yang mati akibat tersentuh limbah dari RSUD itu. ''Memang alasan yang dipaparkan dirut RSUD Soreang sangat sederhana, kekurangan dana,'' katanya.

Meski demikian, kata Bambang, tidak lantas manajemen RSUD dan pemkab mengabaikan dampak yang ditimbulkan dari pembuangan limbah secara sembarangan itu. Kedua institusi itu harus konsisten terhadap peningkatan kesehatan masyarakat. Menurut dia, pengadaan IPAL menjadi prioritas utama dan kebutuhan wajib.

''Kami sangat prihatin dengan ulah RSUD Soreang dan rumah sakit lainnya yang justru menjadi penyebab munculnya penyakit di masyarakat,'' ungkap Bambang. Dalam waktu dekat, pihaknya akan membahas permasalahan limbah rumah sakit pada rapat DPRD. Pasalnya, kata dia, masyarakat tidak boleh terus merasakan dampak buruk dari limbah rumah sakit itu.

Dikatakan Irna, untuk menghindari terjadinya dampak buruk dari pembuangan limbah, RSHS melakukan pemeriksaan terhadap limbah itu setiap satu bulan sekali.Tujuannya, untuk mengecek apakah IPAL berfungsi secara maksimal atau tidak.

Irna mengungkapkan, sebelum RSHS memakai fasilitas IPAL, pihaknya menggunakan septic tank untuk menampung limbah rumah sakit. ''Kita harus membuat banyak septic tank untuk menampung limbah,'' katanya.

Konsekuensinya, hampir setiap ruangan yang ada di rumah sakit, memiliki penampungan limbah sendiri. Karena itu, lanjut Irna, menjadi cukup sulit untuk melakukan pembersihan. ''Dengan septic tank, rumah sakit harus melakukan pembersihan setiap satu tahun sekali,'' katanya. mth/san

 
 
 
� 2003 Hak Cipta oleh Republika Online
Dilarang menyalin atau mengutip seluruh atau sebagian isi berita tanpa ijin tertulis dari Republika
_______________________________________________
Pb mailing list
[EMAIL PROTECTED]
http://dml.or.id/mailman/listinfo/pb_dml.or.id

Kirim email ke