Dear Pak Agus,
Kearifan yang diharapkan ada di LH juga menjadi
tanggung jawab kita untuk merespon secara positif
konstruktif mengenai apa yang akan menjadi tujuan dan
sasaran penggunaan co-burner.
Dari sisi komersial perusahan semen di seluruh dunia
melirik utilisasi limbah sebagai suplemental fuel,
mengingat makin melambungnya harga bahan bakar minyak
(BBM) ataupun batu bara, demikian pula gas alam yang
menjadi komoditas sumber energi bersih. Kompetisi ini
harus segera diikuti oleh industri semen di negara ini
kalau ingin tetap menjadi pemain di industri semen.
Jika semua industri dan penghasil limbah padat,
apalagi dengan kandungan bahan organik yang cukup
tinggi seperti industri pulp dan kertas membangun
landfill maka akan berapa banyak kuburan limbah yang
harus dikendalikan dengan persyaratan dan pengawasan
yang harus ketat bahkan ekstra ketat karena yang akan
dicemari adalah air tanah terutamanya, dimana sulit
dirasakan secara langsung apabila bahan pencemar dapat
larut ke air.
Belum lagi mencari lokasi landfill yang sesuai dengan
kriteria yang dipersyaratkan amatlah sulit, karena
tidak sembarang lokasi dapat di jadikan landfill harus
dipertimbangkan tata guna lahan, situasi geologis dan
geohidrologis, jarak dan transportasi dari penghasil
limbah, belum lagi acceptibiltas masyarakat sekitar
akan adanya kuburan limbah tersebut.
Insinerator memang memindahkan masalah dari padat
menjadi gas, tapi apabila dapat dikondisikan reaksi
pembakaran yang terjadi terjamin baik dengan excess
air yang cukup seperti pada pabrik semen, akan
dihindari reaksi pembakaran yang kurang sempurna.
Indikasi kesempurnaan reaksi yang biasanya ditunjukkan
oleh tingakt emisi CO juga selalu dipantau pada
pengoperasian tanur semen pada level tertentu, karena
CO yang berlebih akan mengakibatkan terjadinya
ledakkan pada EP.
Di Indonesia sendiri kita memliki industri semen yang
cukup tersebar, sehingga ke depan pemanfaatan tanur
semen akan juga mengurangi kendala jarak antara
penghasil dan pengolah limbah karena dari mulai Aceh
sampai Makasar kita memiliki pabrik semen.
Semoga kita dapat menyiasati situasi yang berkembang
semaksimal mungkin, dengan tetap menerapkan prinsip ke
hati-hatian dan belajar dari pengalaman negara-negara
lain yang sudah terlebih dulu menerapkan sistem ini.
Salam
HW
--- [EMAIL PROTECTED] wrote:
>
> Dear All,
> semoga LH lebih arif dalam menentukan kebijakan dan
> penerapan di lapangan
> thd aplikasi co-burner di cement kiln...
> kenyataan di lapangan PPLI juga menggandeng Semen
> Cibinong,
> untuk limbah padat dg komposisi organik tinggi, PPLI
> masih menggunakan
> teknologi landfill, yg sebenarnya tidak aplikatif
> dibanding co-burner.
> Permasalahannya tarif PPLI dikenal relatif mahal??
> dibanding dong-woo yg lebih murah, tapi di
> perusahaan korea tsb digunakan
> incinerator, dimana energi yang dihasilkan terbuang
> percuma!!!
>
> Kitapun harus bisa mendorong ke arah implementasi
> yang lebih sesuai dalam
> final disposal dari limbah (terutama-B-3)
>
> Apalagi Memiliki incinerator sendiri! lebih tidak
> efisien, terutama bila
> jumlah limbah relatif sedikit...
> Beban biaya investasi/ depresiasi menjadi tinggi
> beban biaya monitoring... besar atau kecil relatif
> sama
> beban biaya pembuangan abu masih juga harus
> dipertimbangkan!
> Beban operasional... operator etc
> Beban perawatan alat/ maintenance...?
>
> Ttp yg saya dengar dan rasakan... mereka yg punya
> limbah relatif sedikit
> belum menjadi perhatian dari penentu kebijakan
> maupun pihak industri
> semen...
> shg yg kecil-kecil tsb tetap harus melalui PPLI
> dulu....
> Untuk yg gede spt kilang minyak... mungkin bisa deal
> direct sbg potensial
> costumner...
>
> Memang perlu pemikiran untuk juga memperhatikan yg
> kecil-kecil dg
> karakteristik limbah yg tentunya bbrp diantaranya
> bisa di sub kelompokkan
> berdasarkan karakteristik kecocokan untuk co-burner
> tsb...
>
> Salam,
> agus
>
>
>
>
>
> Hendra Wijaya
>
> <[EMAIL PROTECTED] To:
> [EMAIL PROTECTED]
> o.com> cc:
>
> Sent by:
> Subject: Re: [PB] Re: [Lingk] TSCA Incinerator
> [EMAIL PROTECTED]
>
> .id
>
>
>
>
>
> 06/25/2004 05:57
>
> PM
>
> Please respond to
>
> Pb
>
>
>
>
>
>
>
>
>
> Mas-mas di HMP alhamdulillah sudah lebih enak dibaca
> tulisannya, mudah-mudahan begitu seterusnya.
>
> Pada waktu lalu saya sajikan data mengenai Waste
> Incineration using Cement Kiln. Ada beberapa
> keuntungan dari pemanfaatan cement kiln :
> 1. Temperatur bisa dipastikan mencapai 1400 oC
> karena
> kalau tidak, semen nya nggak akan jadi clinker.
> (Lihat
> kurva temperature zone cement kiln), waktu tinggal
> di
> dalam kiln amatlah lama untuk ukuran sebuah
> incinerator.
> 2. Heavy metal yang terbentuk atau tadinya ada pada
> limbah yang dibakar akan terikut di matriks semen
> yang
> akan tersolidifikasi menjadi matriks padat padat
> saat
> semen digunakan.
> 3. Bahan organik yang ada pada limbah umumnya akan
> teroksidasi hampir sempurna pada temperatur 1000 oC,
> bahkan PCB, Furan, TCDD, PAH (tolong lihat di kurva
> bahwa penurunan konsentrasi bahan organik tersebut
> adalah asimptotis pada temperatur 1000 oC), sehingga
> kekhawatiran yang ada akan dapat di antisipasi
> dengan
> kondisi operasi yang lebih dari incinerator biasa)
> 4. Landfill bagi limbah yang mengandung bahan
> organik
> tinggi (>50%) bukan solusi yang paling tepat karena
> degradasi bahan organik tersebut terus berlangsung
> dan
> mengharuskan adanya pemantauan minimal 30 tahun dari
> sejak limbah tersebut ditempatkan (aturan landfill
> limbah B3).
> 5. Pemanfaatan cement kiln ini masih dalam
> pembahasan
> di kementrian lingkungan hidup, untuk itu masukan
> dari
> rekan-rekan akan sangat berguna untuk dapat
> mengambil
> keputusan yang tepat bagi masalah yang ada di
> sekitar
> kita. Bayangkan disekitar jakarta ada berapa
> industrial estate yang sampai hari ini belum tahu
> mau
> dikemanakan limbah padatnya yang nota bene masih
> mengandung bahan organik > 50%.
> 6. Kemampuan EP pabrik semen pada saat ini sudah
> dapat
> mencapai emisi 50 mg/Nm3 di Indonesia, di luar
> negeri
> bahkan sudah mencapai 25 mg/Nm3 atau 10 mg/Nm3.
> Sehingga cemaran partikulat bisa lebih baik
> dikendalikan pada pabrik semen dari pada insinerator
> biasa.
> 7. Mekanisme automatic process shut down karena
> berbagai kendala operasi sudah sedemikian terkendali
> dibandingkan dengan otomatisasi sebuah insinerator
> biasa.
> 8. Pengalaman di negara maju seperti jerman sudah
> dapat memanfaatkan limbah sebagai supplemental fuel
> pabrik semen dengan emisi terlampir pada artikel
> terdahulu.
> 9. Tinggal kita menelaah apakah peluang pemanfaatan
> insinerator semen dapat kita ambil dengan
> memperhitungkan keselamatan masyarakat di sekitar
> pabrik semen.
>
>
> Hendra Wijaya
> Pemerhati Lingkungan
>
> --- HMP <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
> > IMPACTS OF INCINERATION: EMISSIONS
> >
> > Existing data shows that burning hazardous waste,
> > even in "state-of-the-art"
> > incinerators, will lead to the release of three
> > types of dangerous
> > pollutants into the environment:
> >
> > Heavy metals
> >
> > Unburned toxic chemicals
> >
> > New pollutants - entirely new chemicals formed
> > during the incineration
> > process.
> >
> > Toxic Metals
> >
> > Metals are not destroyed during incineration and
> are
> > often released into the
> > environment in even more concentrated and
> dangerous
> > forms than in the
> > original waste. High-temperature combustion
> releases
> > toxic metals such as
> > lead, cadmium, arsenic, mercury and chromium from
> > wastes that contain these
> > substances, including batteries, paints and
> certain
> > plastics. They are
> > released in the form of tiny particles or gases,
> > increasing the risk of
> > inhalation. An average-sized commercial
> incinerator
> > (32,000 tonnes per year)
>
=== message truncated ===
__________________________________
Do you Yahoo!?
New and Improved Yahoo! Mail - Send 10MB messages!
http://promotions.yahoo.com/new_mail
_______________________________________________
Pb mailing list
[EMAIL PROTECTED]
http://dml.or.id/mailman/listinfo/pb_dml.or.id