--- James Maramis <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
SYALOM.........,
Terimaksih banyak Pak James Maramis untuk cerita yang
sangat menginspirasi'
Sebenarnya dengan Cerita ini sudah Cukup membuka
pemikiran kita kenapa Juga Mahasiswa kita di UNAI yang
notabennya sekolah TUHAN juga mengalami KESURUPAN!!DAN
ITU KESURUPAN SETAN!!
mungkin sudah banyak tanggapan,pemikiran,etc dalam
kasus KESURUPAN SETAN di Unai.tapi saya punya sedikit
tanggapan kenapa bisa terjadi;
Menurut saya secara Pribadi,GMAHK di negara kita
sekarang adalah Gereja yang Sudah mulai KEHILANGAN
NILAI-NILAI gereja itu sendiri dan Mualai Menggunakan
TOPENG NILAI-NILAI.dan ini berimbas kepda semua
sendi-sendi gereja termasuk lembaga pendidikan gereja
dan sekarang terbukti dengan KESURUPAN SETAN
diUnai(apapun alasannya).
Gereja kita sudah tidak lagi dipandang sebagai
pemimpin diBidang MORAL.hal ini terjadi karena gereja
sendiri pada dasarnya telah mulai bahkan sudah
menanggalkan peranan mereka sebagai PENENTU
NILAI-NILAI MORAL yang harus diAnut Jemaatnya secara
khusus dan masyarakat pada Umumnya.secara
keseluruhan,gereja kita kini tampaknya Justru
berpegang pada RELATIVISME (Nilai-nilai yang bersifat
tidak Mutlak)dan tidak lagi dapat menentukan secara
Pasti mana yang benar dan Mana yang Salah,sehingga
sikap gerejapun sudah sama saja bahkan kadang lebih
Rusak dengan sikap Masyarakat pada Umumnya.
Ini beberapa Contoh Bagaimana Gereja Kita sudah
semakin melakukan Penggantian(memakai TOPENG
NILAI_NILAI);
1.URAPAN dengan TALENTA;suatu bukti bahwa gereja
sekarang lebih mengandalkan hal-hal yang eksternal
daripada yang Internal(gereja lebih mendengarjan orang
kaya dari pada orang yang biasa apalai yang
miskin)Namun,kita harus menyadari Bahwa ALLAH
memperhitungkan KARAKTER bukan TALENTA!!
2.PERTOBATAN dengan PENYESALAN ; Dukacita karena
ketahuan berbuat salah tidak sama dengan dukacita
karena sadar sudah melakukan Dosa(dalam hal
Disiplin,greja sudah tidak mampu membedakannya.karena
gereja hanya Mampu menbedakan ORANG BATAK dan ORANG
MENADO,ORANG JAWA dan ORANG TIMOR,etc).padahal
perbedaan dukacita manusia dengan dukacita menurut
kehendak ALLAH itu sejauh letak Sorga dan
Neraka(2Koritus 7;9-11)'
3.PERINTAH ALLAH dengan TRADISI; Tata perIbadatan
gereja itu tidaklah sama dengan Kekristenan.(UNAI
pernah buat KKR diSolo dengan MengKotak-kotaka Ras
dengan alasan Tradisi,masih banyak contoh
lagi).padahal TUHAN YEDUS KRISTUS pernah menegur
orang-orang yang mengganti perintah ALLAH dengan
Tradisi Manusia (Matius 15;1-11)
4.KEBENARAN dengan KEHORMATAN; kita tidak diselanatkan
oleh kebenaran Doktrin yang kita punya,atau oleh
sistem budaya gereja yang kita miliki.(GMAHK merasa
paling benar dan Sorga adalah Kaplingan mereka).kita
Lupa bahwa hanya Oleh Darah KRISTUS manusia
diselamatkan(yohanis 3;16).ada mungkin gereja yang
secara lahiriah bernasib lebih baik,namun karunia
alami itu bukanlah pengganti KASIH KARUNIA yang
menyelamatkan Jiwa.
Sebenarnya Nabi Yeheskiel sudah Menegaskan keadaan
ini" Dengan manis dan Sopan Mereka berbicara tentang
mengasihi TUHAN,padahal didalam hatinya mereka lebih
mengasihi Uang!!" (Yeheskiel 33;31)
Inilah beberapa pendapat Pribadi saya tentang
KESURUPAN SETAN di UNAI,karena bisa Jadi ada KESURPAN
SETAN lagi di UNKLAB,PEMATANG SIANTAR ataupun mungkin
di kantor-kantor Wilayah,Daerah/konfrens,atau bahkan
diKantor UIKB/UIKT.
Marilah Gereja terus belajar untuk bertumbuh,yang
berarti Berubah.BRAVO GMAHK di Negara Indonesia
tercinta ini...!!
SELAMAT HARI SABATH DAN SELAMAT MENIKMATI BERKAT
BERKAT SABATH
JESUS IS COOMING SOON;
Lomboan Djahamou
Wartawan Koran Jarak Wilayah NTT
> Dear friends,
>
>
>
> kebetulan dapat bacaan menarik hari ini. semoga bisa
> Dua Manusia Super
>
> Siang ini 6 February 2008, tanpa sengaja, saya
> bertemu dua manusia super.
> Mereka mahluk mahluk kecil, kurus, kumal berbasuh
> keringat. Tepatnya di atas
> jembatan penyeberangan SetiaBudi, dua sosok kecil
> berumur kira kira delapan
> tahun menjajakan tissue dengan wadah kantong plastik
> hitam. Saat menyeberang
> untuk makan siang mereka menawari saya tissue di
> ujung jembatan, dengan
> keangkuhan khas penduduk Jakarta saya hanya
> mengangkat tangan lebar-lebar
> tanpa tersenyum yang dibalas dengan sopannya oleh
> mereka dengan ucapan
> "Terima kasih Oom !" Saya masih tak menyadari
> kemuliaan mereka dan cuma
> mulai membuka sedikit senyum seraya mengangguk ke
> arah mereka.
>
> Kaki-kaki kecil mereka menjelajah lajur lain di atas
> jembatan, menyapa
> seorang laki laki lain dengan tetap berpolah seorang
> anak kecil yang penuh
> keceriaan, laki laki itupun menolak dengan gaya yang
> sama dengan saya, lagi
> lagi sayup-sayup saya mendengar ucapan terima kasih
> dari mulut kecil mereka.
> Kantong hitam tempat stok tissue dagangan mereka
> tetap teronggok di sudut
> jembatan tertabrak derai angin Jakarta. Saya
> melewatinya dengan lirikan
> kearah dalam kantong itu, duapertiga terisi tissue
> putih berbalut plastik
> transparan.
>
> Setengah jam kemudian saya melewati tempat yang sama
> dan mendapati mereka
> tengah mendapatkan pembeli seorang wanita, senyum di
> wajah mereka terlihat
> berkembang seolah memecah mendung yang sedang
> menggayut langit Jakarta.
>
> "Terima kasih ya mbak ... semuanya dua ribu lima
> ratus rupiah!" tukas
> mereka, tak lama si wanita merogoh tasnya dan
> mengeluarkan uang sejumlah
> sepuluh ribu rupiah.
> "Maaf, nggak ada kembaliannya ... ada uang pas nggak
> mbak ?" mereka
> menyodorkan kembali uang tersebut. Si wanita
> menggeleng, lalu dengan
> sigapnya anak yang bertubuh lebih kecil menghampiri
> saya yang tengah
> mengamati mereka bertiga pada jarak empat meter.
> "Oom boleh tukar uang nggak, receh sepuluh ribuan ?"
> suaranya mengingatkan
> kepada anak lelaki saya yang seusia mereka. Sedikit
> terhenyak saya merogoh
> saku celana dan hanya menemukan uang sisa kembalian
> food court sebesar empat
> ribu rupiah.
> "Nggak punya!", tukas saya. Lalu tak lama si wanita
> berkata
> "Ambil saja kembaliannya, dik !" sambil berbalik
> badan dan meneruskan
> langkahnya ke arah ujung sebelah timur.
>
> Anak ini terkesiap, ia menyambar uang empat ribuan
> saya dan menukarnya
> dengan uang sepuluh ribuan tersebut dan
> meletakkannya kegenggaman saya yang
> masih tetap berhenti, lalu ia mengejar wanita
> tersebut untuk memberikan uang
> empat ribu rupiah tadi. Si wanita kaget, setengah
> berteriak ia bilang
> "Sudah buat kamu saja , nggak apa..apa ambil saja
> !", namun mereka berkeras
> mengembalikan uang tersebut.
> "Maaf mbak, cuma ada empat ribu, nanti kalau lewat
> sini lagi saya kembalikan
> !"
>
> Akhirnya uang itu diterima si wanita karena si kecil
> pergi meninggalkannya.
> Tinggallah episode saya dan mereka. Uang sepuluh
> ribu digenggaman saya tentu
> bukan sepenuhnya milik saya. Mereka menghampiri saya
> dan berujar
> "Om, bisa tunggu ya, saya ke bawah dulu untuk tukar
> uang ketukang ojek !"
> "Eeh ... nggak usah ... nggak usah ... biar aja ...
> nih !"
> saya kasih uang itu ke si kecil, ia menerimanya,
> tapi terus berlari ke bawah
> jembatan menuruni tangga yang cukup curam menuju ke
> kumpulan tukang ojek.
> Saya hendak meneruskan langkah tapi dihentikan oleh
> anak yang satunya,
> "Nanti dulu Om, biar ditukar dulu ... sebentar."
> "Nggak apa apa, itu buat kalian" lanjut saya.
> "Jangan ... jangan oom, itu uang oom sama mbak yang
> tadi juga" anak itu
> bersikeras.
> "Sudah ... saya ikhlas, mbak tadi juga pasti ikhlas
> !", saya berusaha
> membargain, namun ia menghalangi saya sejenak dan
> berlari ke ujung jembatan
> berteriak memanggil temannya untuk segera cepat.
>
> Secepat kilat juga ia meraih kantong plastik
> hitamnya dan berlari kearah
> saya.
> "Ini deh om, kalau kelamaan, maaf ..".
> Ia memberi saya delapan pack tissue.
> "Buat apa ?", saya terbengong
> "Habis teman saya lama sih oom, maaf, tukar pakai
> tissue aja dulu".
> Walau dikembalikan ia tetap menolak.
>
> Saya tatap wajahnya, perasaan bersalah muncul pada
> rona mukanya. Saya kalah
> set, ia tetap kukuh menutup rapat tas plastic hitam
> tissuenya. Beberapa saat
> saya mematung di sana, sampai si kecil telah kembali
> dengan genggaman uang
> receh sepuluh ribu, dan mengambil tissue dari tangan
> saya serta memberikan
> uang empat ribu rupiah.
>
> "Terima kasih Om !"..mereka kembali keujung jembatan
> sambil sayup sayup
> terdengar percakapan,
> "Duit mbak tadi gimana ..?" suara kecil yang lain
> menyahut,
> "Lu hafal kan orangnya, kali aja ketemu lagi ntar
> kita kasihin .......".
>
> Percakapan itu sayup sayup menghilang, saya
> terhenyak dan kembali ke kantor
> dengan seribu perasaan.
>
> Tuhan ......
> Hari ini saya belajar dari dua manusia super,
> kekuatan kepribadian mereka
> menaklukan Jakarta membuat saya trenyuh, mereka
> berbalut baju lusuh tapi
> hati dan kemuliaannya sehalus sutra, mereka tahu hak
> mereka dan hak orang
> lain, mereka berusaha tak meminta minta dengan
> berdagang tissue.
>
> Dua anak kecil yang bahkan belum baligh, memiliki
> kemuliaan di umur mereka
> yang begitu belia.
>
> YOU ARE ONLY AS HONORABLE AS WHAT YOU DO
> Engkau hanya semulia yang kau kerjakan.
>
> Sumber: Unknown (Tidak diketahui)
>
____________________________________________________________________________________
Never miss a thing. Make Yahoo your home page.
http://www.yahoo.com/r/hs