Keadilan dalam Profesi, adalah Pemerataan Materi
& Spritual.
PS telah memperoleh penghargaan yg terhormat,
setelah ternyata nasibnya dibicarakan oleh orang banyak. Walaupun sejatinya
para PS tersebut tak mengharapkan untuk dibicarakan. PS bukanlah Parmin Simbolon
yg kita kenal, melainkan Penginjil Sukarela yg setia menguntit rohani kita.
Walaupun
dibidang pelayanan terbilang masih bau kencur, PS adalah ciri penginjil garda
depan namun masih di belakang Gembala.
Dulu juga kita pernah membicarakan suatu topik :
"Gembala yg berkerja di Jakarta vs yg
bekerja di luar Jakarta".
Walaupun Gembala juga tak mengharapkan orang untuk membicarakannya. Namun tetap
saja antusias para ahli pendapat (komentator) terlihat dari tumpah ruahnya
komentar-komentar, usulan dan skakan-skakan mereka yg memenuhi inbox pemilis.
Ada yg pro dan ada yg kontra. Entah siapa yg di pro dan entah siapa pula yg di
kontra. Pokoknya ada yg dipro & ada yg dikontra. Semuanya berujung pada
satu kata yaitu "kesejahteraan", yaitu kata yg halus untuk menyebutkan
uang. Agar dapur PS dapat mengepul.
Bicara tentang kesejahteraan ternyata tak lepas
dari pembicaraan ttg keadilan. Bicara kesejahteraan tak lepas dari pembicaraan
kaya & miskin. Bicara ttg kaya & miskin tak lepas dari pembicaraan ttg
memilih pekerjaan. Bicara pekerjaan tak lepas dari pembicaraan tentang
pendidikan. Bicara pendidikan tak lepas dari pembicaraan tentang sekolah.
Bicara ttg kaya & miskin dan semuanya tadi,
tak lepas dari pilosofis, hukum relatifitas, & realitas, sehingga tak
heran, jiwa sukarela pun kadang-kala terizinkan untuk menuntut pamrih
(pendapatan).
Adalah dua temanku orang SDA yg kaya banget dan
yg miskin banget. Bermaksud berbagi ilmu (pendapat-red), Berkatalah Om Harris
yg kaya ini kpd bang Ucok yg miskin itu : "Banyak orang jadi kaya karena
jerih payahnya. Ia jungkir balik mempertaruhkan segala-galanya untuk
memakmurkan dirinya sendiri. Rumahnya seperti gedung putih. Tanahnya ratusan
hektar. Depositonya di banyak bank bermilyar-milyar, menghitungnya saja sulit,
apa lagi menghabiskannya. Perusahaannya ratusan. Dengan kekayaannya ia
mendapatkan apa saja yg ia mau. Bersalahkah orang itu karena mereka kaya?"
Sebaliknya, banyak orang yg makan hari ini pun
sulit. Pakaiannya dari hari ke hari itu-itu juga. Hidupnya sangat terbatas.
Tetapi itu semua adalah karena kesalahannya sendiri. Banyak kesempatan
ditolaknya, Ia menyia-nyiakan masa
mudanya. Tak mengasah dirinya sebagai pekerja, panggilan Tuhan dijadikan
pamrih, sebab pada dasarnya ia seorang pemalas. Lebih dari itu, ia memang
bermental disusui. Hidupnya menadahkan tangan dan mengharapkan belas kasihan
dari orang yg menengoknya. Bahkan dia nekat beranak banyak. Sepanjang hari ia
memaki nasib buruknya, tapi tak berusaha untuk memperbaikinya. Jangankan
bertindak, mengangankan saja pun dia tak sudi. Ia tak mau susah, ia seorang
pemalas. Berhakkah kecoak itu menikmati kekayaan?
Balada si kaya & miskin, barangkali memang
harus menjadi sesuatu yg ironis. Ketika kedua kenyataan kontras itu muncul
berdampingan, banyak yg cenderung untuk mengatakan sudah tak ada keseimbangan.
Yang kaya terlalu kaya. Yang miskin terlalu dalam terbenam lumpur. Yang kaya
perutnya makin buncit, sedang yg miskin perutnya tetap cungkring.
Lalu muncullah kaum melankolistik, kaum yg lebih
melihat rasa dari pada usaha. Mereka bersuara lewat hatinya, & terkadang
berteriak :
"harus ada pemerataan", hilangkan kesenjangan sosial," Itu baru
namanya adil", kata mereka.
Apakah sama rata itu adil? Apakah pemerataan itu
keadilan? Haruskah kita sedot lemak dari buncit perut orang kaya &
mencangkoknya ke cungkring perut orang-orang miskin di sepanjang jalan?
Atau semuanya itu memang sudah adil? Artinya
sudah layaklah yg bekerja keras hidup enak (delicious live). Sebaliknya yg
doyan malas-malasan terbenam selama-lamanya.
"Kesenjangan sosial adalah musuh keadilan
& kesetiaan. Kita harus memberantas kesenjangan sosial, kalau ingin
menegakkan keadilan, menaikkan kesejahteraan & mempertahankan kesetiaan,
dengan cara mengaturnya, menyalurkannya & kalau perlu membetotnya dengan
tegas, sebagaimana seorang seniman patung mempergunakan pahatnya ketika hendak
membikin hasil karya yg indah. Tidak semua batu-batu yg berasal dari proses
alam sudah merupakan bentuk yg indah. Sentuhan tangan, sentuhan kekuasaan,
diperlukan untuk mengatur semuanya agar menjadi proporsional", kata sebuah
buku.
Keadilan yg ditakar adalah keadilan yg kering,
karena ukuran rasa tidak bisa ditimbang bobotnya secara material. Tidak semua
orang berbahagia karena berlimpah harta. Tidak semua pula orang bersedih walau
harus hidup seadanya. Tidak semua orang bekerja untuk memburu duit.
Banyak orang sudah puas & merasa adil
meskipun harus hidup sederhana, asal segala kelengkapan/kebutuhan rohaninya
terpenuhi. Yakni, dia merasa hak-haknya sudah mendapat perlindungan secara
semestinya.
Karenanya kesenjangan sosial tidak bertentangan dengan keadilan, tetapi justru
merupakan keadilan, karena ia akan memberikan pelajaran moral bahwa hanya
orang-orang yg bekerja yg berpeluang hidup mapan. Mereka yg bermalas-malas akan
tetap miskin. Asal saja, sekali lagi asal saja kesenjangan sosial itu tidak
terjadi karena ketidak-adilan", kata buku lain lagi.
Keadilan terus dipersoalkan, terus dikuntit.
Tetapi masih saja tetap tidak ada jawaban telak (jitu). Barangkali inilah
permukaan yg paling penting dalam keadilan. Ia tidak berhenti pada
jawaban-jawaban. Ia tidak mati dalam sebuah definisi. Ia selalu bergerak,
sehingga kita selalu repot untuk menguntitnya. Lain tempat, lain pula keadilan
itu. Lain budaya, lain pula keadilan itu. Lain zaman, lain pula model keadilan
itu.Barangkali oleh karena itu, keadilan tidak boleh hanya diukur dari
pemerataan materi atau pemerataan spritual, tetapi beban pikul yg justru tidak
memungkinkan dilakukan pemerataan juga harus dipertimbangkan.
Akan tetapi, pantaskah kita bila membandingkan,
menyamakan kisah kesejahteraan orang yg bekerja di dunia kerohanian dengan
orang yg bekerja di dunia non kerohanian seperti Om Harris & bang Ucok?
Memang sih, di zaman yg susah sekarang ini, uang
adalah segala-galanya. Barangkali karena itulah Jemaat Anggrek ingin membangun
sekolahnya yg berdinding tripleks itu dengan uang dan menjalankannya dengan
Iman, bahkan menunjuk kita sebagai donaturpun diarahkan oleh iman pula. Dan
kita pun tahu bagaimana merespon niat baik saudara kita itu. Bukan
"pendapat", tapi "pendapatan" lah yg kita berikan, walaupun
sekedar kemurahan doang.
Rgds,
-Kocu Ratuhapis-