Kejadian yg mengagetkan
ini, terjadi di dlm warung bakso pak Slamet, saat aku sedang makan bakso. 

Sepasang anak SMU
Advent, Ucok & Butet (bukan nama sebenarnya), serasa orang dewasa, duduk 
dekat-merapat
serta saling berdekapan. Sepertinya mereka lagi mabuk. Mabuk Kepayang, mabuk 
asmara.

Lihat saja, dengan
gencar Ucok berusaha menggombal, merayu dan mengelus-elus si Butet. Entah apa
yg dibicarakan sepasang siswa SMU Advent itu, hingga akhirnya Butet hanyut oleh
rayuan dan akhirnya tenggelam dalam dekapan pacarnya itu.

Adegan aduhai yg sepantasnya
dilakukan oleh suami-istri itu bikin batinku terhenyuk & berpikir sejenak.
Inikah gambaran kehidupan anak bau kecur zaman sekarang? Mengapa anak-anak
zaman sekarang lebih cepat dewasanya dibandingkan anak masa lalu? Apakah karena
Omega 3 & DHA plus yg terkandung dlm susu yg mereka minum saat mereka
balita dulukah penyebabnya? Ataukah karena semasa kecilnya dulu, mereka
dicekoki dengan nyanyian-nyanyian, tontonan & Novel yg selayaknya
dikonsumsi orang dewasa?

Memang, anak remaja bila
mencari jati dirinya tak terlepas dari suatu percobaan & improvisasi.
Adegan si Butet & Ucok di warung bakso pak Slamet itu merupakan potret
kehidupan anak bau kencur zaman sekarang. Kita tak pernah membayangkan bahwa 
betapa
beratnya meruntuhkan kondisi seperti itu.

Bagi manusia, kedewasaan
yg prematur terkadang menimbulkan keresahan, kerepotan & masalah
tersendiri. Tapi bagi organisasi, kedewasaan itu justru diharapkan datang lebih
cepat (prematur), & tak ada istilah terlambat bagi munculnya kedewasaan
itu. Dari pada tdk sama sekali, kedewasaan di dalam organisasi tetap dinanti
dan harus dihormati. Tak salah walaupun harus mengadopsi kedewasaan dari "Jesuit
treatment" ataupun dari organisasi2 lainnya.

Tak ada yg menampik, kalau
wujud & nilai kedewasaan Organisasi SDA Indonesia, baru terlihat ketika di
usia 100 tahunnya. Level ini dapat diketahui bilamana kita
rajin mengikuti, mengevaluasi performance dari organisasi SDA tercinta ini.

Cell
Group, Hummeo Echoes Jakarta, MGR, KPA, 1000MM, Mission Imposible of Cempaka
Mas, Hope of Jakarta dan jargon Tell The World, adalah elemen-elemen kedewasaan
itu, dan ongkos yg dikeluarkan pun membutuhkan kedewasaan dari kita sbg juru
hitungnya.

Dulu kita hanya tahu,
kalau kelompok Paduan Suara dalam KKR hanya berperan layaknya seorang artis, 
biduan
cantik yg sdh puas hanya dgn bernyanyi, kemudian duduk manis atau segera pulang
oleh karena bernyanyinya sudah selesai, padahal KKR baru setengah jalan. Tapi
seiring munculnya Kelompok HEJ (Hummeo Echoes Jakarta), Deciples, Orchid dll.,
paradigma itupun hancur, tak telihat lagi. Ini adalah suatu nilai kedewasaan
itu.

Dulu kita tak pernah
melihat penabuh drum serta tepukkan tangan mengiringi nyanyian pujian di
atmosfir SDA. Tapi, setelah munculnya kaum urban kaya & intelek maka hal yg
tidak lazim itupun dapat posisi yg berkenan untuk dilakukan. Barangkali itu
juga hasil dari kedewasaan kita.

Dulu orang SDA adalah
orang yg nrimo dan enggih seperti bang Ucok, tapi sekarang, orang yg berada di
dalam tempurung jemaat pun dapat keluar melihat seluk-beluk, pernak-pernik dan
isi keranjang belanjaan dari pada Konfrens DKI. Barangkali ini jugakah nilai
dari suatu kedewasaan kita?

Kedewasaan memang
menimbulkan perubahan/pergeseran, perubahan menghasilkan 
nilai-nilai,performance,
terobosan-terobosan & tradisi baru. Salah satu yg terpenting adalah
pengakuan tentang adanya perubahan atau pergeseran nilai secara terus menerus
pada kehidupan kita. Saban hari, suka tidak suka, telah terjadi berbagai
perubahan, pergeseran, pertumbuhan dalam segala peri-kehidupan orang SDA. Ada 
yg terlihat, tapi
banyak juga yg tidak kasat mata, ada yg perlahan tapi ada juga yg dipaksakan.

Bagaimanapun
perubahan itu terus berlangsung & bergulir sementara orang tidak
menyadarinya. Dia makin cepat sementara orang melupakannya. Dia makin riuh
meskipun tak terdengar. Dia makin tergesa-gesa buat yg tidak siap, dan semakin
kompleks buat mereka yg menekuninya. Bahkan dia semakin tak tercegah buat
mereka yg mencoba membendungnya.

Perubahan oleh karena
kedewasaan tersebut, barangkali tak semuanya kita kehendaki, tak semuanya kita
setujui, bahkan tak semuanya kita perlukan. Karena
tak semuanya memiliki guna untuk membangun iman & persatuan kita. Bahkan ada 
juga
perubahan-perubahan yg melawan, menentang & membelokkan kita kepada apa yg
terasa salah. Namun tak kecil kemungkinan, perubahan-perubahan tersebut juga
berguna, karena dia mengantarkan kita kepada perubahan berikutnya yg memang
penting. Tetapi itu tak akan pasti sebelum terjadi.

Memang, nanti akan
terbukti juga bahwa tidak semua perubahan sebenarnya positif, bahkan tidak ada
gunanya sama sekali. Ada
yg telak-telak merupakan langkah anjlok ke belakang (langkah mundur) dan ini
bukanlah perubahan yg kita tunggu. Sebagian orang mengatakan ini kegagalan. 
Kalau
ada suatu kegagalan, sebenarnya bukan organisasi yg gagal, bukan Jemaat yg tak
serius, tetapi memang harus ada “proses gagal” yg harus kita lewati untuk suatu
pendewasaan. 

Dalam buku Pena
Inspirasi bang Ucok dikatakan :”kedewasaan itu adalah suatu pilihan, oleh
karena itu dlm suatu tatanan dimana manusialah yg mengawali pendewasaan itu,
sehingga pendewasaan akhirnya menjadi sesuatu yg mutlak. Karena tanpa ada
pendewasaan, manusia akan merasa dunia tak layak lagi dihuni”. Yg kemudian
menjadi persoalan adalah karena pengejawantahan terhadap pendewasaan dlm diri 
setiap
manusia dpt berbeda-beda, menganggap diri sudah dewasa, maka inilah yg
menyebabkan kemudian ada benturan. Akhirnya lahir ketakutan, lahir
ketidak-siapan, lahir ketidak-sesuaian. Ada nilai2, ada
tradisi2, ada aturan main yg bergeser terlalu cepat. Ada yg terlalu melompat.
Ada nilai2 yg lenyap sebelum siap dilepaskan, bahkan ketika ingin dipertahankan.
Bahkan pula merasa tabu bila hanya jalan di tempat. 

Ketidak-samaan
reaksi dlm menanggapi/menyikapi perubahan ini, menjadikan manusia bisa berbeda
satu sama lain. Bertentangan, bahkan saling bertikai satu
sama lain. Bukan saja dari orang-orang yg sdh berbeda dari awalnya, juga dari
mereka yg semula merasa satu kubu, satu kampung, satu Almamater, bahkan satu
arah mata angin. Akibatnya muncullah pemaknaan akan minoritas & mayoritas
seperti yg terjadi di ranah SDA, UIKB maupun UIKT. Sebagian orang SDA
beranggapan bahwa kondisi seperti ini akan terlihat menjelang musim “Pemilihan”
tiba. Tapi, dengan bergulirnya waktu, kesemuanya itu akan menjadi wajar, dapat
diterima bahkan menjadi tradisi yg baru.

Banyak
orang percaya & memuja nilai/tradisi baru itu menjadi sesuatu yg lebih patut
& realistis. Kata mereka itulah tuntutan hidup masa kini. Itulah pergumulan
hidup dan itulah kiat baru. Munculnya tradisi baru tak serta merta menelurkan
Doktrin yg baru pula. Doktrin bukanlah tradisi, tapi dia semacam kelenturan
spritual untuk membaca perubahan zaman. Segala perubahan itu harus terlebih
dahulu menuntut suatu pendewasaan. Atau sebaliknya, munculnya pendewasaan
justru menghasilkan perubahan. Agar tidak terjadi ketegangan dalam
menerjemahkan perubahan2 itu, haruslah selalu memerlukan kedewasaan. Dan tentu
saja tak semuanya berhasil.

Kedewasaan
menyadarkan bahwa manusia memiliki "Converter" dalam dirinya,
sehingga segala perubahan bahkan tanda-tanda perubahan itu langsung ia
jinakkan, ia adaptasi, baik dengan cara sintesa, simbiose mutualistik,
simulasi, bahkan tak terkecuali juga akulturasi atau manipulasi timbal balik.
Tergantung dari  kondisi dirinya,
strategi & wujud  perubahan itu.

Walhasil,
dalam diri kita sebenarnya sudah ada mekanisme penyesuaian yg dengan sendirinya
berjalan, kalau saja segala fungsi budinya berjalan dgn baik. Terlambat atau 
bisa
lebih dini, memang adalah masalah kepekaan, kecekatan, keawasan & mungkin
juga kualitas, tetapi cepat atau lambat segala disharmoni (ketdk serasian) yg
terjadi akibat pergeseran nilai, akan sampai kepada harmoni kembali. Baik
harmoni dalam konteks pribadi manusia itu, maupun harmoni dalam hubungannya
sebagai anggota kelompok, berhubungan dengan komunitasnya.

Barangkali, tak semua orang berhasil
menyelesaikan perubahan itu. Dan ia menunggu dukungan orang lain untuk
mendapatkan kekuatan. Untuk mendapatkan konvensi. Untuk memanfaatkan
"preseden". Tak semua komunitas & kubu berhasil dengan segera
menghadapi, menyelesaikan perubahan-perubahan itu, sementara akan terus
beruntun datang perkara-perkara yg lain, sesuai dengan denyut pergeseran nilai.
Kasus-kasus yg lama & belum selesai masih mengambang, tak ubahnya seperti
kiambang yg menutupi empang, dia akan menutupi permukaan hati & menyebabkan
kita menjadi buta pada situasi. Akal budipun terganggu & bisa jadi sakit,
tak berdaya. Dalam keadaan yg cacat budi tersebut, maka segala perubahan nilai
niscaya menjadi semacam deraan yg menyakitkan.

Jika sudah demikian diperlukanlah
kehadiran tata nilai yg akan memandu kita secara spritual, untuk memberikan
terobosan & penyelamatan dari siksaan perubahan nilai.

Kehadiran tata nilai itu tak
terlepas dari kontrol Roh Nubuat, karena Roh Nubuat pada dasarnya adalah konsep
yg menciptakan harmoni sekaligus konsep penghayatan terhadap harmoni tersebut,
Roh Nubuat akhirnya menjadi penyusun tata nilai. Sehingga, bila berhadapan
dengan perubahan nilai di SDA, Roh Nubuat adalah sebuah Converter. Sebuah
converter massal, sebuah converter raksasa yg mengatur, menerjemahkan
nilai-nilai baru ke dalam diri masing-masing kita.

Tradisi baru mengaktifkan Roh Nubuat
sebagai Converter hingga segala pergeseran nilai itu menjadi positif. Tetapi
dengan dalih converter, Roh Nubuat dapat saja berbalik menjadi senjata ampuh
sekali untuk berdalih. Dengan mudah, atas nama Roh Nubuat dapat dimanipulasi
segala perubahan nilai yg semula negatif menjadi positif. Tapi dari yg sudah
jadi positif itu, segera bisa dinegatifkan kembali. Dan seterusnya kembali
dipositifkan, begitulah tanpa batas, tergantung dari kemampuan, kepandaian
orang menerjemahkan bahasa asli Roh Nubuat (bahasa Inggris) ke bahasa, ke
dialek, ke atmosfir orang-orang Melayu. Tidaklah jarang kita jumpai sesuatu hal
yg dulunya dilarang kini menjadi boleh, sesuatu hal yg biasa menjadi wajib
sehingga yg wajib tidak menjadi wajib lagi.

Barangkali inilah potret
kedewasaan kita sekarang, yg membawa kita ke alam filosofis bahwa kedewasaan
bukanlah hikmat.

Marilah kita lebih
dewasa menyikapi keadaan yg susah ini, tetaplah setia walaupun dunia tak
seindah surga. Dengan demikian kita tak akan seperti siswa SMA Advent yg di
warung bakso itu. Mabuk-mabukan asmara, hanyut terbawa
arus rayuan, dan akhirnya tenggelam dalam dekapan.

Menjelang
musim Pemilu yg organisasi SDA akan lakukan, cobalah kita bersikap dan berfikir
lebih dewasa untuk melihat rencana ke depan nanti.

Kalau ada kegagalan, sebenarnya bukan regenerasi yg gagal,
tetapi adanya proses yg harus dijalani utk suatu pendewasaan. Barangkali sdh
ada "sambungan" yg disharmonis yg memerlukan perubahan orientasi
akibat perkembangan zaman dan sepertinya menginginkan/ membutuhkan pelayan dan
pelayanan dgn cita rasa yg baru. Bukan pelayan yg mabuk jabatan, hanyut oleh
sanjungan dan akhirnya tenggelam dalam neraka jahanam.

 

 

Rgds,

Kocu Ratuhapis

Judul Asli : Roh Nubuat sebagai Converter


 






      

Kirim email ke