ya biasalah.. ada oknum2 yang belum dewasa tapi ngaku2 udah dewasa.. oklah body 
bisa dewasa, tapi otak masik kayk anak yang baru mo merangkak, trus justru 
orang yang kita anggap dewasa malah tidak menunjukkan sifat kedewasaan 
mereka... trus lagi orang yang betul2 udah dewasa malah pura2 tidak 
dewasa...so? biarlah waktu yang membuktikannya..
TEPUK TANGAN BUAT DEWASA...

--- On Thu, 10/23/08, harris budi <[EMAIL PROTECTED]> wrote:

From: harris budi <[EMAIL PROTECTED]>
Subject: [Pemuda Advent] Diduga Mabuk, seorang Siswi SMU Advent Tenggelam
To: [EMAIL PROTECTED], [email protected]
Date: Thursday, October 23, 2008, 2:30 AM













Kejadian yg mengagetkan ini, terjadi di dlm warung bakso pak Slamet, saat aku 
sedang makan bakso. 
Sepasang anak SMU Advent, Ucok & Butet (bukan nama sebenarnya), serasa orang 
dewasa, duduk dekat-merapat serta saling berdekapan. Sepertinya mereka lagi 
mabuk. Mabuk Kepayang, mabuk asmara .
Lihat saja, dengan gencar Ucok berusaha menggombal, merayu dan mengelus-elus si 
Butet. Entah apa yg dibicarakan sepasang siswa SMU Advent itu, hingga akhirnya 
Butet hanyut oleh rayuan dan akhirnya tenggelam dalam dekapan pacarnya itu.
Adegan aduhai yg sepantasnya dilakukan oleh suami-istri itu bikin batinku 
terhenyuk & berpikir sejenak. Inikah gambaran kehidupan anak bau kecur zaman 
sekarang? Mengapa anak-anak zaman sekarang lebih cepat dewasanya dibandingkan 
anak masa lalu? Apakah karena Omega 3 & DHA plus yg terkandung dlm susu yg 
mereka minum saat mereka balita dulukah penyebabnya? Ataukah karena semasa 
kecilnya dulu, mereka dicekoki dengan nyanyian-nyanyian, tontonan & Novel yg 
selayaknya dikonsumsi orang dewasa?
Memang, anak remaja bila mencari jati dirinya tak terlepas dari suatu percobaan 
& improvisasi. Adegan si Butet & Ucok di warung bakso pak Slamet itu merupakan 
potret kehidupan anak bau kencur zaman sekarang. Kita tak pernah membayangkan 
bahwa betapa beratnya meruntuhkan kondisi seperti itu.
Bagi manusia, kedewasaan yg prematur terkadang menimbulkan keresahan, kerepotan 
& masalah tersendiri. Tapi bagi organisasi, kedewasaan itu justru diharapkan 
datang lebih cepat (prematur), & tak ada istilah terlambat bagi munculnya 
kedewasaan itu. Dari pada tdk sama sekali, kedewasaan di dalam organisasi tetap 
dinanti dan harus dihormati. Tak salah walaupun harus mengadopsi kedewasaan 
dari "Jesuit treatment" ataupun dari organisasi2 lainnya.
Tak ada yg menampik, kalau wujud & nilai kedewasaan Organisasi SDA Indonesia, 
baru terlihat ketika di usia 100 tahunnya. Level ini dapat diketahui bilamana 
kita rajin mengikuti, mengevaluasi performance dari organisasi SDA tercinta ini.
Cell Group, Hummeo Echoes Jakarta, MGR, KPA, 1000MM, Mission Imposible of 
Cempaka Mas, Hope of Jakarta dan jargon Tell The World, adalah elemen-elemen 
kedewasaan itu, dan ongkos yg dikeluarkan pun membutuhkan kedewasaan dari kita 
sbg juru hitungnya.
Dulu kita hanya tahu, kalau kelompok Paduan Suara dalam KKR hanya berperan 
layaknya seorang artis, biduan cantik yg sdh puas hanya dgn bernyanyi, kemudian 
duduk manis atau segera pulang oleh karena bernyanyinya sudah selesai, padahal 
KKR baru setengah jalan. Tapi seiring munculnya Kelompok HEJ (Hummeo Echoes 
Jakarta), Deciples, Orchid dll., paradigma itupun hancur, tak telihat lagi. Ini 
adalah suatu nilai kedewasaan itu.
Dulu kita tak pernah melihat penabuh drum serta tepukkan tangan mengiringi 
nyanyian pujian di atmosfir SDA. Tapi, setelah munculnya kaum urban kaya & 
intelek maka hal yg tidak lazim itupun dapat posisi yg berkenan untuk 
dilakukan. Barangkali itu juga hasil dari kedewasaan kita.
Dulu orang SDA adalah orang yg nrimo dan enggih seperti bang Ucok, tapi 
sekarang, orang yg berada di dalam tempurung jemaat pun dapat keluar melihat 
seluk-beluk, pernak-pernik dan isi keranjang belanjaan dari pada Konfrens DKI. 
Barangkali ini jugakah nilai dari suatu kedewasaan kita?
Kedewasaan memang menimbulkan perubahan/pergesera n, perubahan menghasilkan 
nilai-nilai, performance, terobosan-terobosan & tradisi baru. Salah satu yg 
terpenting adalah pengakuan tentang adanya perubahan atau pergeseran nilai 
secara terus menerus pada kehidupan kita. Saban hari, suka tidak suka, telah 
terjadi berbagai perubahan, pergeseran, pertumbuhan dalam segala peri-kehidupan 
orang SDA. Ada yg terlihat, tapi banyak juga yg tidak kasat mata, ada yg 
perlahan tapi ada juga yg dipaksakan.
Bagaimanapun perubahan itu terus berlangsung & bergulir sementara orang tidak 
menyadarinya. Dia makin cepat sementara orang melupakannya. Dia makin riuh 
meskipun tak terdengar. Dia makin tergesa-gesa buat yg tidak siap, dan semakin 
kompleks buat mereka yg menekuninya. Bahkan dia semakin tak tercegah buat 
mereka yg mencoba membendungnya.
Perubahan oleh karena kedewasaan tersebut, barangkali tak semuanya kita 
kehendaki, tak semuanya kita setujui, bahkan tak semuanya kita perlukan. Karena 
tak semuanya memiliki guna untuk membangun iman & persatuan kita. Bahkan ada 
juga perubahan-perubahan yg melawan, menentang & membelokkan kita kepada apa yg 
terasa salah. Namun tak kecil kemungkinan, perubahan-perubahan tersebut juga 
berguna, karena dia mengantarkan kita kepada perubahan berikutnya yg memang 
penting. Tetapi itu tak akan pasti sebelum terjadi.
Memang, nanti akan terbukti juga bahwa tidak semua perubahan sebenarnya 
positif, bahkan tidak ada gunanya sama sekali. Ada yg telak-telak merupakan 
langkah anjlok ke belakang (langkah mundur) dan ini bukanlah perubahan yg kita 
tunggu. Sebagian orang mengatakan ini kegagalan. Kalau ada suatu kegagalan, 
sebenarnya bukan organisasi yg gagal, bukan Jemaat yg tak serius, tetapi memang 
harus ada “proses gagal” yg harus kita lewati untuk suatu pendewasaan. 
Dalam buku Pena Inspirasi bang Ucok dikatakan :”kedewasaan itu adalah suatu 
pilihan, oleh karena itu dlm suatu tatanan dimana manusialah yg mengawali 
pendewasaan itu, sehingga pendewasaan akhirnya menjadi sesuatu yg mutlak. 
Karena tanpa ada pendewasaan, manusia akan merasa dunia tak layak lagi dihuni”. 
Yg kemudian menjadi persoalan adalah karena pengejawantahan terhadap 
pendewasaan dlm diri setiap manusia dpt berbeda-beda, menganggap diri sudah 
dewasa, maka inilah yg menyebabkan kemudian ada benturan. Akhirnya lahir 
ketakutan, lahir ketidak-siapan, lahir ketidak-sesuaian. Ada nilai2, ada 
tradisi2, ada aturan main yg bergeser terlalu cepat. Ada yg terlalu melompat. 
Ada nilai2 yg lenyap sebelum siap dilepaskan, bahkan ketika ingin 
dipertahankan. Bahkan pula merasa tabu bila hanya jalan di tempat. 
Ketidak-samaan reaksi dlm menanggapi/menyikap i perubahan ini, menjadikan 
manusia bisa berbeda satu sama lain. Bertentangan, bahkan saling bertikai satu 
sama lain. Bukan saja dari orang-orang yg sdh berbeda dari awalnya, juga dari 
mereka yg semula merasa satu kubu, satu kampung, satu Almamater, bahkan satu 
arah mata angin. Akibatnya muncullah pemaknaan akan minoritas & mayoritas 
seperti yg terjadi di ranah SDA, UIKB maupun UIKT. Sebagian orang SDA 
beranggapan bahwa kondisi seperti ini akan terlihat menjelang musim “Pemilihan” 
tiba. Tapi, dengan bergulirnya waktu, kesemuanya itu akan menjadi wajar, dapat 
diterima bahkan menjadi tradisi yg baru.
Banyak orang percaya & memuja nilai/tradisi baru itu menjadi sesuatu yg lebih 
patut & realistis. Kata mereka itulah tuntutan hidup masa kini. Itulah 
pergumulan hidup dan itulah kiat baru. Munculnya tradisi baru tak serta merta 
menelurkan Doktrin yg baru pula. Doktrin bukanlah tradisi, tapi dia semacam 
kelenturan spritual untuk membaca perubahan zaman. Segala perubahan itu harus 
terlebih dahulu menuntut suatu pendewasaan. Atau sebaliknya, munculnya 
pendewasaan justru menghasilkan perubahan. Agar tidak terjadi ketegangan dalam 
menerjemahkan perubahan2 itu, haruslah selalu memerlukan kedewasaan. Dan tentu 
saja tak semuanya berhasil.
Kedewasaan menyadarkan bahwa manusia memiliki "Converter" dalam dirinya, 
sehingga segala perubahan bahkan tanda-tanda perubahan itu langsung ia 
jinakkan, ia adaptasi, baik dengan cara sintesa, simbiose mutualistik, 
simulasi, bahkan tak terkecuali juga akulturasi atau manipulasi timbal balik. 
Tergantung dari  kondisi dirinya, strategi & wujud  perubahan itu.
Walhasil, dalam diri kita sebenarnya sudah ada mekanisme penyesuaian yg dengan 
sendirinya berjalan, kalau saja segala fungsi budinya berjalan dgn baik. 
Terlambat atau bisa lebih dini, memang adalah masalah kepekaan, kecekatan, 
keawasan & mungkin juga kualitas, tetapi cepat atau lambat segala disharmoni 
(ketdk serasian) yg terjadi akibat pergeseran nilai, akan sampai kepada harmoni 
kembali. Baik harmoni dalam konteks pribadi manusia itu, maupun harmoni dalam 
hubungannya sebagai anggota kelompok, berhubungan dengan komunitasnya.
Barangkali, tak semua orang berhasil menyelesaikan perubahan itu. Dan ia 
menunggu dukungan orang lain untuk mendapatkan kekuatan. Untuk mendapatkan 
konvensi. Untuk memanfaatkan "preseden". Tak semua komunitas & kubu berhasil 
dengan segera menghadapi, menyelesaikan perubahan-perubahan itu, sementara akan 
terus beruntun datang perkara-perkara yg lain, sesuai dengan denyut pergeseran 
nilai. Kasus-kasus yg lama & belum selesai masih mengambang, tak ubahnya 
seperti kiambang yg menutupi empang, dia akan menutupi permukaan hati & 
menyebabkan kita menjadi buta pada situasi. Akal budipun terganggu & bisa jadi 
sakit, tak berdaya. Dalam keadaan yg cacat budi tersebut, maka segala perubahan 
nilai niscaya menjadi semacam deraan yg menyakitkan.
Jika sudah demikian diperlukanlah kehadiran tata nilai yg akan memandu kita 
secara spritual, untuk memberikan terobosan & penyelamatan dari siksaan 
perubahan nilai.
Kehadiran tata nilai itu tak terlepas dari kontrol Roh Nubuat, karena Roh 
Nubuat pada dasarnya adalah konsep yg menciptakan harmoni sekaligus konsep 
penghayatan terhadap harmoni tersebut, Roh Nubuat akhirnya menjadi penyusun 
tata nilai. Sehingga, bila berhadapan dengan perubahan nilai di SDA, Roh Nubuat 
adalah sebuah Converter. Sebuah converter massal, sebuah converter raksasa yg 
mengatur, menerjemahkan nilai-nilai baru ke dalam diri masing-masing kita.
Tradisi baru mengaktifkan Roh Nubuat sebagai Converter hingga segala pergeseran 
nilai itu menjadi positif. Tetapi dengan dalih converter, Roh Nubuat dapat saja 
berbalik menjadi senjata ampuh sekali untuk berdalih. Dengan mudah, atas nama 
Roh Nubuat dapat dimanipulasi segala perubahan nilai yg semula negatif menjadi 
positif. Tapi dari yg sudah jadi positif itu, segera bisa dinegatifkan kembali. 
Dan seterusnya kembali dipositifkan, begitulah tanpa batas, tergantung dari 
kemampuan, kepandaian orang menerjemahkan bahasa asli Roh Nubuat (bahasa 
Inggris) ke bahasa, ke dialek, ke atmosfir orang-orang Melayu. Tidaklah jarang 
kita jumpai sesuatu hal yg dulunya dilarang kini menjadi boleh, sesuatu hal yg 
biasa menjadi wajib sehingga yg wajib tidak menjadi wajib lagi.
Barangkali inilah potret kedewasaan kita sekarang, yg membawa kita ke alam 
filosofis bahwa kedewasaan bukanlah hikmat.
Marilah kita lebih dewasa menyikapi keadaan yg susah ini, tetaplah setia 
walaupun dunia tak seindah surga. Dengan demikian kita tak akan seperti siswa 
SMA Advent yg di warung bakso itu. Mabuk-mabukan asmara, hanyut terbawa arus 
rayuan, dan akhirnya tenggelam dalam dekapan.
Menjelang musim Pemilu yg organisasi SDA akan lakukan, cobalah kita bersikap 
dan berfikir lebih dewasa untuk melihat rencana ke depan nanti.
Kalau ada kegagalan, sebenarnya bukan regenerasi yg gagal, tetapi adanya proses 
yg harus dijalani utk suatu pendewasaan. Barangkali sdh ada "sambungan" yg 
disharmonis yg memerlukan perubahan orientasi akibat perkembangan zaman dan 
sepertinya menginginkan/ membutuhkan pelayan dan pelayanan dgn cita rasa yg 
baru. Bukan pelayan yg mabuk jabatan, hanyut oleh sanjungan dan akhirnya 
tenggelam dalam neraka jahanam.
 
 
Rgds,
Kocu Ratuhapis



Judul Asli : Roh Nubuat sebagai Converter

 


 














      

Kirim email ke