Pagi bro Sugih, Benar lho bro Ugie, saya memang gak pandai bahasa Inggris. Buat apa saya berbohong, dgn mengaku sbg orang yg tak pandai bahasa Inggris? Apa untungnya? Malah rugi bro..hehehehe... Sedikit kesaksian yg menurutku adalah hal luar biasa. Jutaan rupiah ku keluarkan untuk belajar bahasa Inggris, tapi hasilnya masih begitu2 juga, kemampuanku tetap dilevel pasif. Saya kepingin pandai bahasa Inggris dengan harapan agar saya bisa nyaman bergabung dgn salah satu Paduan suara orang Advent yg nota bene kerap melantunkan lagu2 berbahasa Inggris. Berbulan-bulan saya berdoa agar Tuhan memberikanku Talenta berbahasa dan bernyanyi. Bahkan saya sengaja mencari pasangan hidupku, yg harus pandai berbahasa inggris hehehehehe...Tapi justru Tuhan memberikanku inspirasi2 untuk menulis dan "memberontak" kepada Paduan Suara orang SDA agar mau bernyanyi dgn bahasa Indonesia saat melakukan pelayanan. Tapi, justru Jemaat Bethany yg kamu kagumi itulah yg melakukan "mimpiku" tsb. Barangkali ada bagusnya bila kita berpegang pada apa yg dikatakan seorang penulis Indonesia bernama Kocu Ratuhapis, yg berjudul "Musik Advent, Riwayatmu Nanti...". Dikatakan seperti ini : "Pagelaran musik kerohanian bukan sekedar hiburan semata, tapi lebih drpd itu. Ia harus menjadi tontonan yg baik, yg akan mengisi penonton dgn berbagai perasaan. Terhibur karena senang, terharu, sedih, gembira, bahagia, was was, bimbang, sadar, dsb. Termasuk juga terhibur karena perasaan yg terancam, gelap, kabur, sakit. Karena dalam format musik rohani, seluruh sensasi perasaan itu memberi satu arti tersendiri buat pendengar atau penonton. Pagelaran musik rohani bukan hanya sebuah ajang keindahan, tetapi mungkin sekali melebihi dari itu. Irama & lirik2nya ibarat sebuah gua pertapaan tempat merenungkan makna2 kehidupan, yg akan memberikan orgasme bathin kpd kita, sehingga segala serbuan2 emosional seperti marah, benci, senang, pedih,kalut, keputus-asaan yg meruap dari dalam diri kita menjadi basah dan mengharukan". Tapi bagaimana mungkin statement kocu Ratuhapis itu terwujud kalau penontonnya tak paham dgn bahasa inggris. Dalam aktifitas penginjilan, Tuhan mau kita tidak bernyanyi dalam bahasa Batak di hadapan penonton orang Manado, Maluku atau Papua (demikian sebaliknya). Sebab firman Tuhan tak akan sampai kepada mereka. Paling hanya beberapa orang yg mengerti, yakni penonton yg pandai berbahasa batak tentunya bukan? Tuhan mau agar kita tidak bernyanyi dalam bahasa Inggris di KKR Wilayah karena saya dan anggota KPA dan Gelandangan2 yg di undang tak mengerti bahasa Inggris, sehingga jgn sampai pesan atau firman yg disampaikan lewat lagu tsb tdk sampai ke mereka alias terbuang dgn sia2. Sesungguhnya Nyanyian itu mempunyai kemampuan yg dashyat utk menarik jiwa, dan inilah yg dilakukan oleh jemaat Bethany yg bro Sugih kagumi itu. Karena Sejatinya, penginjilan dan pelayanan dalam bentuk Nyanyian Rohani itu adalah memberikan "sesuatu" untuk Tuhan, untuk kita sendiri dan untuk penonton/pendengar. Jangan sampai (maaf) di gerbang surga nanti, Tuhan meminta pertanggung jawaban kdp Paduan2 suara Advent sembari bertanya : "hai The seventh, hai living Praise, hai HEJ mengapa engku tidak mengabarkan Injil Ku kpd anggota KPA, kepada Gelandangan di KKR "Tell The World" kemarin? "Sudah Tuhanku", kata mereka serentak. "Tapi kenyataannya, 100 orang Gelandangan yg mendengar kalian bernyanyi, tak seorangpun yg mengerti bahasa Inggris dan kalian paksakan diri kalian bernyanyi dgn bahasa Inggris. Para anggota KPA dan Gelandangan itu menganggap lagu yg kalian lantunkan sebagai ajang keindahan dan hiburan semata," tanya Tuhan ingin tahu. "Salah mereka sendiri dong Tuhan, lagian kenapa mereka tak pandai berbahasa Inggris," tepis mereka. "Kalian saja yg sok keren", kata Tuhan sambil lalu. Moral dari Ilustrasi di atas adalah : Kita sdh capek2 bernyanyi, ternyata cara kita bukanlah keinginan dari Tuhan. Ironis sekali bukan. Barangkali Tuhan punya rencana kpd ku, mengapa Beliau tdk memberi saya kepandaian berbahasa Inggris, agar saya tahu bagaimana perasan para gelandangan dan anggota KPA saat mendengar orang Advent bernyanyi. Barangkali juga Tuhan memakai saya untuk menyampaikan "pesan" Nya tadi kpd kalian. Sebab kalian sdh disibukkan dgn pembahasan ttg peralatan musik yg tak berujung itu. Padahal apapun peralatan musik yg kita gunakan dalam kebaktian atau pagelaran musik rohani, jikalau lagu yg dinyanyikan menggunakan bahasa yg tak dimengerti semua orang, maka mubazirlah semua itu. Jadi kita butuh reformasi. Mereformasi seluruh Paduan suara SDA agar gemar bernyanyi (baca menginjil) dalam bahasa Indonesia. Semoga saja....
Rgds, Harris Sipahutar (anggota Paduan Suara HEJ) --- On Tue, 1/6/09, Sugih Bastian <[email protected]> wrote: From: Sugih Bastian <[email protected]> Subject: Re: [PemudaAdvent] kita butuh reformasi (adventist youth - sharing) - harris S To: [email protected] Date: Tuesday, January 6, 2009, 12:54 PM hahaha, si bro bisa aja merendah.. pasti jago bahasa inggris nech... aku setuju yang bisa membuat menangis itu karena bahasa indonesia.. tapi di balik itu ada juga penyebab lainnya.... siapa disini yang bukan orang indonesia? saya pikir >90% adalah orang indonesia ya khan? jadi kalo menyanyi bahasa indonesia maka sebagian besar mengerti khan dengan lagu itu? kalo versi ugie nech ya.. seseorang bisa menangis apabila hatinya tersentuh.. kalo aku menangis ketika bernyanyi penyebabnya adalah karena ngerasa berdosaaaaa banget.. ngerasa banyak dosaa banget.. ngerasa aku sama aja kaya orang yang nyalibin Tuhan dulu.. karna setiap dosa yang kulakukan, Yesus yang bayar.. itu yang bisa bikin aku nangis.. karena tersentuh.. aku menangis, seperti ingin berteriak minta ampun sama Tuhan, karna aku sadar aku manusia yang penuh dosa, tapi aku ga kapok untuk selalu menyalibkan Yesus... jadi kenapa lagu indonesia bisa bikin menangis? karena lagu itu dimengerti.. . justru lagu itu yang baik. karena dengan lagu itu kita bisa berkomunikasi dengan Tuhan.. kita bisa merasa sukacita, bisa juga sedih.. kalo kita nyanyi tapi ga ada perasaan yang terbawa, itu sama aja kaya ngomong sama Tuhan, ga pake nada, dah gitu ngomongnya bukan dari dalem hati, tapi asal baca teks doank.. kalo anda bisa menangis, berarti anda bisa mengerti lagu itu.. yang saya mau tanya. anda pernah menangis ketika bernyanyi di gereja selain pada saat perjamuan kudus dan baptisan? especciali lagu "Sebagaimana Ku Ada".... coba lagu "aku senang dan girang selalu".. anda pernah liat secara alami ketika orang bernyanyi lagu itu, dia akan bergembira, bertepuk tangan menandakan dia senang dan girang selalu? kalo ada saya boleh acungin jempol.. hehe hum.. buat bro harris segitu dulu ya.. yuk kita terusin diskusinya.. :p GBU Bro Harris, have a great dae.. Rgds, Ugie bro Harris Wrote: Hi all, Yang membuat orang menangis saat bernyanyi di Gereja Betany adalah karena lagunya berbahasa Indonesia. Pada acara NEP-3 (Never Ending Praise ke 3) di akhir November 2008 yg lalu, acara tersebut di isi dgn 80 persen lagu bahasa Inggris dan Selebihnya bahasa Melayu dan bahasa Daerah. Ternyata yg membuat penonton dan para Biduan menangis adalah lagu yg berbahasa Indonesia justru. Khususnya saat Franky Sihombing bernyanyi lagu ciptaannya dalam bahasa Indonesia, penonton yg duduk di belakang saya, salah satunya dari Grup Musik Koinonia dari UNAI banyak yg menangis. Bahkan ketika acara Natal yg di adakan oleh Mt Carmel kemarin, justru banyak yg menangis saat bernyanyi lagu yg berbahasa Indonesia. Demikian teori saya perihal menangisnya seseorang saat bernyanyi di Gereja Bethany. Kalau saya pribadi, semacam apapun irama musik dan liriknya, sejauh itu berbahasa Inggris, belum pernah bikin saya menangis, sebab saya tak pandai berbahasa Inggris. Sumpah, saya tidak bohong. Harris Sipahutar (Tukang Kasih Pendapat)

