Suatu masa yg
tertentu, di tahun yg belum jelas, ketika sedang menunggu kedatangan Yesus,
berkatalah om Parmin yg berkulit Obama kepada bang Ucok yg berkulit Jacky Chan
: "hidup bersama dgn berbagai perbedaan, amatlah pelik. Bahkan ada yg
menyebutnya mustahil. Bagaimana mungkin menciptakan harmoni dari sesuatu yg tak
sama, bertentangan, bahkan sering bertolak belakang?"
Secara logika
& perhitungan di atas kertas, apa yg dikatakan om Parmin ada benarnya juga.
Banyak hal tidak dimungkinkan untuk berada di dalam satu wadah tanpa
menimbulkan keguncangan, apabila perbedaan begitu besar, bahkan sampai
mendasar. Keguncangan itu dpt mengahasilkan individu baru ataupun kelompok baru
dgn metode pembaharuannya masing-masing. Umumnya kelompok baru tsb adalah kaum
minoritas.
Di dalam
masyarakat yg meluhurkan nilai-nilai kebersamaan, doktrin yg sama, tradisi yg
sama, terlalu sulit buat individu atau sekelompok kecil orang utk berpikir
lain. Atau untuk melakukan tindakan-tindakan yg tidak seragam ataupun semacam
gerakkan pembaharuan. Barangkali, kondisi wajar ini tak sulit kita jumpai di
kalangan SDA.
Tak banyak
orang yg tahu sejarah, bahwa
pembaharuan Advent mulai bergeliat dari tahun 1949 yg akhirnya melahirkan
Gereja Masehi Advent Confrence Hari Ketujuh (GMACHK) Jambrut. Tak sedikit orang
yg tahu, bahwa akibat dari pembaharuan itu, telah menimbulkan pemikiran2 yg
miring. Mereka dituduh murtad, kependetaan dan baptisan mereka pun dianggap
tidak syah.
Sayangnya, tak
banyak pula orang yg tahu, kalau dari Gereja minoritas itulah awalnya orang SDA
boleh jadi Tentara, boleh jadi Pengacara, bahkan jadi politikus sampai sekarang
ini. Tapi tak sedikit pula orang di zaman ini yg tahu, bahwa kedemokrasian
& pembaharuan dari dalam Gereja Jambrut itu, telah menimbulkan
pemikiran-pemikiran yg lagi-lagi adalah pemikiran miring. Mereka dianggap
murtad oleh kelompok mayoritas (SDA Mission). Mereka dituduh telah membuat
penafsiran terhadap doktrin dan Buku Roh Nubuat yg sangat berbeda, ke luar dari
koridor. Namun untungnya, di sisi yg paling jauh, ternyata ada juga
"pemuja rahasia" kpd sosok Jambrut tsb, yg justru berasal dari kaum
mayoritas.
Sekarang, para
pemuja itu sdh besar, dewasa dan pandai pula. Mereka berjuang, bereproduksi utk
melahirkan bayi dgn kepala yg sdh diisi ramuan2 aliran baru (pembaharuan).
Mereka yg sdh dewasa itu bergerilya dgn mengusung aliran barunya, demi
terwujudnya tradisi baru. Sedang pemuja aliran lama, secara perlahan mengecil,
terhimpit, terkikis & meninggal dunia. Yang tersisa akan habis tergerus
zaman. Barangkali, jika mungkin, mereka akan bangkit kembali.
Itulah
romantika pembaharuan yg pernah terjadi di organisasi SDA di Indonesia dan itu
akan terus bergulir. Pembaharuan/kebaruan itu seringkali dituduh, dihajar dan
dihakimi sbg "kesesatan". Khususnya dari mereka yg sepenuhnya
berkiblat pada peta penyimpangan aliran baru.
Pembaharuan
bahkan seringkali dituduh sbg bentuk penyelewengan. Menyeleweng dari koridor2
yg pernah ada.
Sejarah
mencatat ada beberapa bentuk pembaharuan yg dituduhkan sbg penyelewengan (kata
halus dari murtad). Misalnya, terbentuknya Advent Konfrens 1949. Atau yg lebih
segar lagi dalam ingatan kita adalah terbentuknya Metro Konfrens & Jakarta
Metro. Bahkan profesi sbg Tentara & Pengacara pun tak lolos dari pemikiran
miring kita.
Dan sekarang,
sedang aktual dibicarakan tentang munculnya kelompok2 orang Advent yg mengusung
pembaharuan Musik. Sebagaimana biasanya, seperti sdh tradisi, pemikiran miring
pun selalu muncul. Penyelewengan pun menjadi bentuk tuduhan. Kelompok
pembaharuan musik tsb dituding sbg oknum/jemaah yg memasukkan musik duniawi ke
lingkungan gereja. Walaupun orang Advent yg jadi Tentara, Pengacara &
politisi, mendapat tanggapan miring sebelumnya, tapi akhirnya dapat juga
diterima oleh orang SDA. Malah, tak jarang mereka dipakai untuk sebuah fungsi
oleh organisasi SDA mayoritas (Advent Mission-red)..
Sejak
Pagelaran Musik Rohani di Jambrut, geliat musik baru tsb perlahan-lahan
menuliskan sejarah baru. Selain membudi dayakan dirinya sbg karya, dlm berbagai
usaha merubah musik Advent, juga membentuk konvensi2nya sendiri. Gereja2 dan
Pemuda2 Advent yg menampilkan musik aliran baru dgn alat2 musik yg bervariasi
semakin banyak jumlahnya, bak jamur di musim hujan. Sebut saja nama, Gereja Mt.
Carmel, Never Ending Praise, Grasia dari Manado, Country & Keroncong dari
Tebet, Acapela dari mana-mana. Mereka membentuk tata nilai sendiri. Membentuk
struktur yg kendati belum sempurna, karena akan terus berkembang & ada yg
sdh menampilkan sosok & arah yg relatif jelas. Arah yg nampaknya sebahagian
sama dgn musik di Gereja Kharismatik. Tetapi jiwanya berbeda, tetap sbg jiwa
Adventis.
Barangkali,
berangkat dari sinilah "orang baru" SDA itu merasa yakin bahwa musik
barunya bakal diterima. Gonjang-ganjing & tanggapan miring, bagi mereka
adalah sebuah proses dan vitamin. Pemikiran yg miring adalah suatu proses yg
terjadi secara alami & harus terjadi. Karena tanpa proses yg sedang
berjalan itu, tanggapan miring tak akan mungkin hilang. Menerima tanggapan
miring ibarat menelan vitamin pahit yg akan menghasilkan kekuatan rahasia yg
amat dahsyat untuk mencegah para pembaharu2 tercabut dari akar identitas Advent
yg sdh kita bentuk bersama. Jadi pemikiran miring dari rekan kita yg lain
bukanlah hal yg menakutkan, dihindarkan, melainkan justru sebagai pupuk batin
agar kita tetap sbg rohaniawan sejati di pertiwi ini. Cuma terkadang agak
menjengkelkan bagi orang yg tidak punya persiapan mental, alias mental kropos.
Diterimanya
orang2 berprofesi Tentara, Pengacara & Politisi menjadi bagian dari
keluarga besar SDA, seperti Tehano, Kolonel J Tutoroong, Kolonel M Ritonga,
Sopar Siburian, SH, Jois Siagian, SH, Intan Ritonga, SH, Desmond Boss, Dr.
Patrick Alan, Johson Toribiong, Dr. Tehano & Harris Sipahutar , seolah
menghembuskan/memberikan angin segar bagi para pembaharu musik Advent untuk
bergerak agresif.
Orang mungkin
menyebut kondisi seperti itu "demokrasi", alami. Seyogyanya kondisi2
ini tak perlu dicemaskan. Ia sebenarnya lebih merupakan sebuah jawaban untuk
kebutuhan manusia. Dasarnya adalah sebuah sikap arif karena pengalaman : bahwa
tak satu orang dan pihak pun berhak dianggap memikirkan kepentingan semua
orang.
Karena itulah
harus ada peluang agar berbagai pihak mencoba memperjuangkan kepentingan &
pendapat. Tapi pada saat yg sama, harus ada suatu "hukum" ataupun
aturan main yg tidak main main, yg mengatur agar pihak yg satu tidak akan
menghilangkan sama sekali kemungkinan pihak yg lain ; siapa tahu dia kelak
lebih baik ketimbang kita. Dengan kata lain, kebaruan (pembaharuan) hanyalah
sebuah manajemen SDA yg sadar akan ketidak-sempurnaannya sendiri, ketika
mengelola ketidak-sempurnaan manusia.
Kalau begitu,
Pemikiran miring sbg upaya akan menjadikan jembatan yg sangat fungsional dalam
menghadapi lompatan & patahan fenomena sosial di SDA yg tiba2. Ia merupakan
sendi yg amat berguna, agar dalam perubahan2 itu jangan sampai terjadi
"bencana perpecahan" antara aku, kau dan bekas pacarku.....[KR]
Ditulis oleh :
Kocu Ratuhapis
Dipostingkan oleh : Harris Sipahutar.
-Kuningan-
Sent by s...@wberry