gereja jambrut dmn ya? pengen sekali2 ke sana dan bertemu pak harris.
  :)
   
  

Philips Marbun <[email protected]> wrote:
          Wah asik nih, supaya milis Advent rame lagi. Jadi isinya bukan 
terbatas pada pengumuman, cari alamat, dll. Tapi ada diskusinya juga. :)

Bro Kocu, kalau bagi saya pribadi saya coba permudah untuk diri sendiri.

Di tiap zaman, Tuhan punya pekabaran khusus untuk zaman itu. Di zaman Musa, 
pekabaran untuk umat-Nya contohnya: "keluar dari Mesir". Musa tidak dianggap 
gila or miring, karena Musa punya bukti muzizat dari Tuhan.

Di zaman Ester, Ayub, Daud, Salomo, sampai Paulus, dlsb pekabarannya lain 
lagi... Lain lagi... Tapi semuanya berinti sama: Yesus.

Oh ya ada lagi doktrin baru tapi tidak dianggap miring: "Bertumbuh dalam Yesus" 
(doktrin Advent yang baru ditambah sehingga menjadi 28 buah).

Kalau kesemua tambahan, ide baru, pembaruan, atau apa pun itu namanya 
berdasarkan Yesus, berlandaskan Alkitab, dan tidak menjadi batu sandungan, 
kenapa harus ditolak or dianggap miring? Sejarah justru sudah membuktikan.

Masalahnya selalu ada pada masa TRANSISI. Di masa ini, beberapa orang 
berlomba-lomba, mungkin, ingin terlihat "lebih cepat mengadopsi" entah dengan 
motivasi apa. Lalu beberapa yang lain (bahkan mayoritas) sering "terlambat" 
sehingga mereka terkesan seperti menolak, belum mau ikut, bahkan dianggap 
"menghakimi" orang lain yang lebih cepat menyesuaikan.

Nah, suatu pembaruan yang dianggap "miring", biasanya akan bertumbuh pesat dan 
maju, lalu semakin lama semakin berterima, kalau memang dia berasal dari-Nya 
(anyway, Tuhan juga sering gunakan sesuatu yang salah untuk kebaikan lho...).

Kalau tidak, biasanya fenomena tersebut perlahan-lahan redup dan akhirnya 
dilupakan. Kembali, sejarah sudah membuktikan. 

Salam,
Philips Marbun

  2009/1/27 harris budi <[email protected]>
            
          
  Suatu masa yg tertentu, di tahun yg belum jelas, ketika sedang menunggu 
kedatangan Yesus, berkatalah om Parmin yg berkulit Obama kepada bang Ucok yg 
berkulit Jacky Chan : "hidup bersama dgn berbagai perbedaan, amatlah pelik. 
Bahkan ada yg menyebutnya mustahil. Bagaimana mungkin menciptakan harmoni dari 
sesuatu yg tak sama, bertentangan, bahkan sering bertolak belakang?"
  Secara logika & perhitungan di atas kertas, apa yg dikatakan om Parmin ada 
benarnya juga. Banyak hal tidak dimungkinkan untuk berada di dalam satu wadah 
tanpa menimbulkan keguncangan, apabila perbedaan begitu besar, bahkan sampai 
mendasar. Keguncangan itu dpt mengahasilkan individu baru ataupun kelompok baru 
dgn metode pembaharuannya masing-masing. Umumnya kelompok baru tsb adalah kaum 
minoritas.
  Di dalam masyarakat yg meluhurkan nilai-nilai kebersamaan, doktrin yg sama, 
tradisi yg sama, terlalu sulit buat individu atau sekelompok kecil orang utk 
berpikir lain. Atau untuk melakukan tindakan-tindakan yg tidak seragam ataupun 
semacam gerakkan pembaharuan. Barangkali, kondisi wajar ini tak sulit kita 
jumpai di kalangan SDA.
  Tak banyak orang  yg tahu sejarah, bahwa pembaharuan Advent mulai bergeliat 
dari tahun 1949 yg akhirnya melahirkan Gereja Masehi Advent Confrence Hari 
Ketujuh (GMACHK) Jambrut. Tak sedikit orang yg tahu, bahwa akibat dari 
pembaharuan itu, telah menimbulkan pemikiran2 yg miring. Mereka dituduh murtad, 
kependetaan dan baptisan mereka pun dianggap tidak syah.
  Sayangnya, tak banyak pula orang yg tahu, kalau dari Gereja minoritas itulah 
awalnya orang SDA boleh jadi Tentara, boleh jadi Pengacara, bahkan jadi 
politikus sampai sekarang ini. Tapi tak sedikit pula orang di zaman ini yg 
tahu, bahwa kedemokrasian & pembaharuan dari dalam Gereja Jambrut itu, telah 
menimbulkan pemikiran-pemikiran yg lagi-lagi adalah pemikiran miring. Mereka 
dianggap murtad oleh kelompok mayoritas (SDA Mission). Mereka dituduh telah 
membuat penafsiran terhadap doktrin dan Buku Roh Nubuat yg sangat berbeda, ke 
luar dari koridor. Namun untungnya, di sisi yg paling jauh, ternyata ada juga 
"pemuja rahasia" kpd sosok Jambrut tsb, yg justru berasal dari kaum mayoritas. 
  Sekarang, para pemuja itu sdh besar, dewasa dan pandai pula. Mereka berjuang, 
bereproduksi utk melahirkan bayi dgn kepala yg sdh diisi ramuan2 aliran baru 
(pembaharuan). Mereka yg sdh dewasa itu bergerilya dgn mengusung aliran 
barunya, demi terwujudnya tradisi baru. Sedang pemuja aliran lama, secara 
perlahan mengecil, terhimpit, terkikis & meninggal dunia. Yang tersisa akan 
habis tergerus zaman. Barangkali, jika mungkin, mereka akan bangkit kembali.
  Itulah romantika pembaharuan yg pernah terjadi di organisasi SDA di Indonesia 
dan itu akan terus bergulir. Pembaharuan/kebaruan itu seringkali dituduh, 
dihajar dan dihakimi sbg "kesesatan". Khususnya dari mereka yg sepenuhnya 
berkiblat pada peta penyimpangan aliran baru. 
  Pembaharuan bahkan seringkali dituduh sbg bentuk penyelewengan. Menyeleweng 
dari koridor2 yg pernah ada.
  Sejarah mencatat ada beberapa bentuk pembaharuan yg dituduhkan sbg 
penyelewengan (kata halus dari murtad). Misalnya, terbentuknya Advent Konfrens 
1949. Atau yg lebih segar lagi dalam ingatan kita adalah terbentuknya Metro 
Konfrens & Jakarta Metro. Bahkan profesi sbg Tentara & Pengacara pun tak lolos 
dari pemikiran miring kita.
  Dan sekarang, sedang aktual dibicarakan tentang munculnya kelompok2 orang 
Advent yg mengusung pembaharuan Musik. Sebagaimana biasanya, seperti sdh 
tradisi, pemikiran miring pun selalu muncul. Penyelewengan pun menjadi bentuk 
tuduhan. Kelompok pembaharuan musik tsb dituding sbg oknum/jemaah yg memasukkan 
musik duniawi ke lingkungan gereja. Walaupun orang Advent yg jadi Tentara, 
Pengacara & politisi, mendapat tanggapan miring sebelumnya, tapi akhirnya dapat 
juga diterima oleh orang SDA. Malah, tak jarang mereka dipakai untuk sebuah 
fungsi oleh organisasi SDA mayoritas (Advent Mission-red)..
  Sejak Pagelaran Musik Rohani di Jambrut, geliat musik baru tsb perlahan-lahan 
menuliskan sejarah baru. Selain membudi dayakan dirinya sbg karya, dlm berbagai 
usaha merubah musik Advent, juga membentuk konvensi2nya sendiri. Gereja2 dan 
Pemuda2 Advent yg menampilkan musik aliran baru dgn alat2 musik yg bervariasi 
semakin banyak jumlahnya, bak jamur di musim hujan. Sebut saja nama, Gereja Mt. 
Carmel, Never Ending Praise, Grasia dari Manado, Country & Keroncong dari 
Tebet, Acapela dari mana-mana. Mereka membentuk tata nilai sendiri. Membentuk 
struktur yg kendati belum sempurna, karena akan terus berkembang & ada yg sdh 
menampilkan sosok & arah yg relatif jelas. Arah yg nampaknya sebahagian sama 
dgn musik di Gereja Kharismatik. Tetapi jiwanya berbeda, tetap sbg jiwa 
Adventis.
  Barangkali, berangkat dari sinilah "orang baru" SDA itu merasa yakin bahwa 
musik barunya bakal diterima. Gonjang-ganjing & tanggapan miring, bagi mereka 
adalah sebuah proses dan vitamin. Pemikiran yg miring adalah suatu proses yg 
terjadi secara alami & harus terjadi. Karena tanpa proses yg sedang berjalan 
itu, tanggapan miring tak akan mungkin hilang. Menerima tanggapan miring ibarat 
menelan vitamin pahit yg akan menghasilkan kekuatan rahasia yg amat dahsyat 
untuk mencegah para pembaharu2 tercabut dari akar identitas Advent yg sdh kita 
bentuk bersama. Jadi pemikiran miring dari rekan kita yg lain bukanlah hal yg 
menakutkan, dihindarkan, melainkan justru sebagai pupuk batin agar kita tetap 
sbg rohaniawan sejati di pertiwi ini. Cuma terkadang agak menjengkelkan bagi 
orang yg tidak punya persiapan mental, alias mental kropos.
  Diterimanya orang2 berprofesi Tentara, Pengacara & Politisi menjadi bagian 
dari keluarga besar SDA, seperti Tehano, Kolonel J Tutoroong, Kolonel M 
Ritonga, Sopar Siburian, SH, Jois Siagian, SH, Intan Ritonga, SH, Desmond Boss, 
Dr. Patrick Alan, Johson Toribiong, Dr. Tehano & Harris Sipahutar , seolah 
menghembuskan/memberikan angin segar bagi para pembaharu musik Advent untuk 
bergerak agresif.
  Orang mungkin menyebut kondisi seperti itu "demokrasi", alami. Seyogyanya 
kondisi2 ini tak perlu dicemaskan. Ia sebenarnya lebih merupakan sebuah jawaban 
untuk kebutuhan manusia. Dasarnya adalah sebuah sikap arif karena pengalaman : 
bahwa tak satu orang dan pihak pun berhak dianggap memikirkan kepentingan semua 
orang.
  Karena itulah harus ada peluang agar berbagai pihak mencoba memperjuangkan 
kepentingan & pendapat. Tapi pada saat yg sama, harus ada suatu "hukum" ataupun 
aturan main yg tidak main main, yg mengatur agar pihak yg satu tidak akan 
menghilangkan sama sekali kemungkinan pihak yg lain ; siapa tahu dia kelak 
lebih baik ketimbang kita. Dengan kata lain, kebaruan (pembaharuan) hanyalah 
sebuah manajemen SDA yg sadar akan ketidak-sempurnaannya sendiri, ketika 
mengelola ketidak-sempurnaan manusia.
  Kalau begitu, Pemikiran miring sbg upaya akan menjadikan jembatan yg sangat 
fungsional dalam menghadapi lompatan & patahan fenomena sosial di SDA yg tiba2. 
Ia merupakan sendi yg amat berguna, agar dalam perubahan2 itu jangan sampai 
terjadi "bencana perpecahan" antara aku, kau dan bekas pacarku.....[KR]
   
  

  Ditulis oleh : Kocu Ratuhapis
  Dipostingkan oleh : Harris Sipahutar.
  -Kuningan-
   
  Sent by s...@wberry









-- 
Salam,
Philips Marbun
Pulomas
  

                           

       

Kirim email ke