February 27, 2009, 7:21 AM
        
        Sebuah kisah tentang salah pengertian.. 
        
        Tatkala nilai akhir sebuah kehidupan sudah terbuka, tetapi segalanya 
sudah terlambat. Membawa nenek utk tinggal bersama menghabiskan masa tuanya 
bersama kami, malah telah mengkhianati ikrar cinta yg telah kami buat selama 
ini,setelah 2 tahun menikah, saya dan suami setuju menjemput nenek di kampung 
utk tinggal bersama.
        
        Sejak kecil suami saya telah kehilangan ayahnya, dia adalah 
satu-satunya harapan nenek, nenek pula yg membesarkannya dan menyekolahkan dia 
hingga tamat kuliah.
        
        Saya terus mengangguk tanda setuju, kami segera menyiapkan sebuah kamar 
yg menghadap taman untuk nenek, agar dia dapat berjemur, menanam bunga dan 
sebagainya. Suami berdiri didepan kamar yg sangat kaya dgn sinar matahari, 
tidak sepatah katapun yg terucap tiba-tiba saja dia mengangkat saya dan 
memutar-mutar saya seperti adegan dalam film India dan berkata: "Mari,kita 
jemput nenek di kampung".
        
        Suami berbadan tinggi besar, aku suka sekali menyandarkan kepalaku ke 
dadanya yg bidang, ada suatu perasaan nyaman dan aman disana. Aku seperti 
sebuah boneka kecil yg kapan saja bisa diangkat dan dimasukan kedalam 
kantongnya. Kalau terjadi selisih paham diantara kami, dia suka tiba-tiba 
mengangkatku tinggi-tinggi diatas kepalanya dan diputar-putar sampai aku 
berteriak ketakutan baru diturunkan. Aku sungguh menikmati saat-saat seperti 
itu.
        
        Kebiasaan nenek di kampung tidak berubah. Aku suka sekali menghias 
rumah dengan bunga segar, sampai akhirnya nenek tidak tahan lagi dan berkata 
kepada suami:"Istri kamu hidup foya-foya, buat apa beli bunga? Kan bunga tidak 
bisa dimakan?" Aku menjelaskannya kepada nenek: "Ibu, rumah dengan bunga segar 
membuat rumah terasa lebih nyaman dan suasana hati lebih gembira". Nenek 
berlalu sambil mendumel, suamiku berkata sambil tertawa: "Ibu, ini kebiasaan 
orang kota, lambat laun ibu akan terbiasa juga."
        
        Nenek tidak protes lagi, tetapi setiap kali melihatku pulang sambil 
membawa bunga, dia tidak bisa menahan diri untuk bertanya berapa harga bunga 
itu, setiap mendengar jawabanku dia selalu mencibir sambil 
        
        menggeleng-gelengka n kepala. Setiap membawa pulang barang 
belanjaan,dia selalu tanya itu berapa harganya, ini berapa. Setiap aku jawab, 
dia selalu berdecak dengan suara keras. Suamiku memencet hidungku sambil 
berkata: "Putriku, kan kamu bisa berbohong. Jangan katakan harga yang 
sebenarnya." Lambat laun, keharmonisan dalam rumah tanggaku mulai terusik.
        
        Nenek sangat tidak bisa menerima melihat suamiku bangun pagi menyiapkan 
sarapan pagi untuk dia sendiri, di mata nenek seorang anak laki-laki masuk ke 
dapur adalah hal yang sangat memalukan. Di meja makan, wajah nenek selalu 
cemberut dan aku sengaja seperti tidak mengetahuinya. Nenek selalu membuat 
bunyi-bunyian dengan alat makan seperti sumpit dan sendok, itulah cara dia 
protes.
        
        Aku adalah instrukstur tari, seharian terus menari membuat badanku 
sangat letih, aku tidak ingin membuang waktu istirahatku dengan bangun pagi 
apalagi disaat musim dingin. Nenek kadang juga suka membantuku di 
        
        dapur, tetapi makin dibantu aku menjadi semakin repot, misalnya: dia 
suka menyimpan semua kantong-kantong bekas belanjaan, dikumpulkan bisa untuk 
dijual katanya. Jadilah rumahku seperti tempat pemulungan kantong plastik, 
dimana-mana terlihat kantong plastik besar tempat semua kumpulan kantong 
plastik..
        
        Kebiasaan nenek mencuci piring bekas makan tidak menggunakan cairan 
pencuci, agar supaya dia tidak tersinggung, aku selalu mencucinya sekali lagi 
pada saat dia sudah tidur. Suatu hari, nenek mendapati aku sedang mencuci 
piring malam harinya, dia segera masuk ke kamar sambil membanting pintu dan 
menangis. Suamiku jadi serba salah, malam itu kami tidur seperti orang bisu, 
aku coba bermanja-manja dengan dia, tetapi dia tidak perduli. Aku menjadi 
kecewa dan marah."Apa salahku?" Dia melotot sambil berkata: "Kenapa tidak kamu 
biarkan saja? Apakah memakan dengan piring itu bisa membuatmu mati?"
        
        Aku dan nenek tidak bertegur sapa untuk waktu yg culup lama, suasana 
menjadi kaku. Suamiku menjadi sangat kikuk, tidak tahu harus berpihak pada 
siapa? Nenek tidak lagi membiarkan suamiku masuk ke dapur, setiap pagi dia 
selalu bangun lebih pagi dan menyiapkan sarapan untuknya, suatu kebahagiaan 
terpancar di wajahnya jika melihat suamiku makan dengan lahap, dengan sinar 
mata yang seakan mencemohku sewaktu melihat padaku, seakan berkata dimana 
tanggung jawabmu sebagai seorang istri?
        
        Demi menjaga suasana pagi hari agar tidak terganggu, aku selalu membeli 
makanan diluar pada saat berangkat kerja. Saat tidur, suami berkata:"Luci, 
apakah kamu merasa masakan ibu tidak enak dan tidak bersih sehingga kamu tidak 
pernah makan di rumah?" sambil memunggungiku dia berkata tanpa menghiraukan air 
mata yg mengalir di kedua belah pipiku. Dan dia akhirnya berkata: "Anggaplah 
ini sebuah permintaanku, makanlah bersama kami setiap pagi". Aku mengiyakannya 
dan kembali ke meja makan yg serba canggung itu.
        
        Pagi itu nenek memasak bubur, kami sedang makan dan tiba-tiba ada suatu 
perasaan yg sangat mual menimpaku, seakan-akan isi perut mau keluar semua. Aku 
menahannya sambil berlari ke kamar mandi, sampai disana aku segera mengeluarkan 
semua isi perut. Setelah agak reda, aku melihat suamiku berdiri didepan pintu 
kamar mandi dan memandangku dengan sinar mata yg tajam, diluar sana terdengar 
suara tangisan nenek dan berkata-kata dengan bahasa daerahnya. Aku terdiam dan 
terbengong tanpa 
        
        bisa berkata-kata. Sungguh bukan sengaja aku berbuat demikian!
        
        Pertama kali dalam perkawinanku, aku bertengkar hebat dengan suamiku, 
nenek melihat kami dengan mata merah dan berjalan menjauh...... suamiku segera 
mengejarnya keluar rumah.
        
        Menyambut anggota baru tetapi dibayar dengan nyawa nenek.
        
        Selama 3 hari suamiku tidak pulang ke rumah dan tidak juga meneleponku. 
Aku sangat kecewa, semenjak kedatangan nenek di rumah ini, aku sudah banyak 
mengalah, mau bagaimana lagi? Entah kenapa aku selalu merasa mual dan 
kehilangan nafsu makan ditambah lagi dengan keadaan rumahku yang kacau, sungguh 
sangat menyebalkan. Akhirnya teman sekerjaku berkata:"Luci, sebaiknya kamu 
periksa ke dokter". Hasil pemeriksaan menyatakan aku sedang hamil. Aku baru 
sadar mengapa aku mual-mual pagi itu. Sebuah 
        
        berita gembira yg terselip juga kesedihan. Mengapa suami dan nenek 
sebagai orang yg berpengalaman tidak berpikir sampai sejauh itu?
        
        Di pintu masuk rumah sakit aku melihat suamiku, 3 hari tidak bertemu 
dia berubah drastis, muka kusut kurang tidur, aku ingin segera berlalu tetapi 
rasa iba membuatku tertegun dan memanggilnya. Dia melihat ke 
        
        arahku tetapi seakan akan tidak mengenaliku lagi, pandangan matanya 
penuh dengan kebencian dan itu melukaiku. Aku berkata pada diriku sendiri, 
jangan lagi melihatnya dan segera memanggil taksi. Padahal aku 
        
        ingin memberitahunya bahwa kami akan segera memiliki seorang anak. Dan 
berharap aku akan diangkatnya tinggi-tinggi dan diputar-putar sampai aku minta 
ampun tetapi..... mimpiku tidak menjadi kenyataan. Didalam taksi air mataku 
mengalir dengan deras. Mengapa kesalah pahaman ini berakibat sangat buruk?
        
        Sampai di rumah aku berbaring di ranjang memikirkan peristiwa tadi, 
memikirkan sinar matanya yg penuh dengan kebencian, aku menangis dengan 
sedihnya. Tengah malam,aku mendengar suara orang membuka laci, aku menyalakan 
lampu dan melihat dia dgn wajah berlinang air mata sedang mengambil uang dan 
buku tabungannya. Aku nenatapnya dengan dingin tanpa berkata-kata. Dia seperti 
tidak melihatku saja dan segera berlalu. Sepertinya dia sudah memutuskan utk 
meninggalkan aku. Sungguh lelaki yg sangat picik, dalam saat begini dia masih 
bisa membedakan antara cinta dengan uang. Aku tersenyum sambil menitikan air 
mata.
        
        Aku tidak masuk kerja keesokan harinya, aku ingin secepatnya 
membereskan masalah ini, aku akan membicarakan semua masalah ini dan pergi 
mencarinya di kantornya.Di kantornya aku bertemu dengan seketarisnya yg 
melihatku dengan wajah bingung."Ibunya pak direktur baru saja mengalami 
kecelakaan lalu lintas dan sedang berada di rumah sakit. Mulutku terbuka lebar. 
Aku segera menuju rumah sakit dan saat menemukannya, nenek sudah meninggal. 
Suamiku tidak pernah menatapku, wajahnya kaku. Aku memandang jasad nenek yg 
terbujur kaku.. Sambil menangis aku menjerit dalam hati: "Tuhan, mengapa ini 
bisa terjadi?"
        
        Sampai selesai upacara pemakaman, suamiku tidak pernah bertegur sapa 
denganku, jika memandangku selalu dengan pandangan penuh dengan kebencian. 
        
        Peristiwa kecelakaan itu aku juga tahu dari orang lain, pagi itu nenek 
berjalan ke arah terminal, rupanya dia mau kembali ke kampung. Suamiku mengejar 
sambil berlari, nenek juga berlari makin cepat sampai tidak 
        
        melihat sebuah bus yg datang ke arahnya dengan kencang. Aku baru 
mengerti mengapa pandangan suamiku penuh dengan kebencian. Jika aku tidak 
muntah pagi itu, jika kami tidak bertengkar, jika........ .... dimatanya, 
akulah penyebab kematian nenek.
        
        Suamiku pindah ke kamar nenek, setiap malam pulang kerja dengan badan 
penuh dengan bau asap rokok dan alkohol. Aku merasa bersalah tetapi juga merasa 
harga diriku terinjak-injak. Aku ingin menjelaskan bahwa semua ini bukan 
salahku dan juga memberitahunya bahwa kami akan segera mempunyai anak. Tetapi 
melihat sinar matanya, aku tidak pernah menjelaskan masalah ini. Aku rela 
dipukul atau dimaki-maki olehnya 
        
        walaupun ini bukan salahku. Waktu berlalu dengan sangat lambat. Kami 
hidup serumah tetapi seperti tidak mengenal satu sama lain. Dia pulang makin 
larut malam. Suasana tegang didalam rumah.
        
        Suatu hari, aku berjalan melewati sebuah café, melalui keremangan lampu 
dan kisi-kisi jendela, aku melihat suamiku dengan seorang wanita didalam. Dia 
sedang menyibak rambut sang gadis dengan mesra. Aku tertegun dan mengerti apa 
yg telah terjadi. Aku masuk kedalam dan berdiri di depan mereka sambil menatap 
tajam kearahnya. Aku tidak menangis juga tidak berkata apapun karena aku juga 
tidak tahu harus berkata apa. Sang gadis melihatku dan ke arah suamiku dan 
segera hendak berlalu. Tetapi dicegah oleh suamiku dan menatap kembali ke 
arahku dengan sinar mata yg tidak kalah tajam dariku. Suara detak jantungku 
terasa sangat keras, setiap detak suara seperti suara menuju kematian. 
        
        Akhirnya aku mengalah dan berlalu dari hadapan mereka, jika tidak.. 
mungkin aku akan jatuh bersama bayiku dihadapan mereka. Malam itu dia tidak 
pulang ke rumah. Seakan menjelaskan padaku apa yang telah terjadi. Sepeninggal 
nenek, rajutan cinta kasih kami juga sepertinya telah berakhir. Dia tidak 
kembali lagi ke rumah, kadang sewaktu pulang ke rumah, aku mendapati lemari 
seperti bekas dibongkar. 
        
        Aku tahu dia kembali mengambil barang-barang keperluannya. Aku tidak 
ingin menelepon dia walaupun kadang terbersit suatu keinginan untuk menjelaskan 
semua ini. Tetapi itu tidak terjadi...... ...., semua berlalu begitu saja.
        
        Aku mulai hidup seorang diri, pergi check kandungan seorang diri. 
Setiap kali melihat sepasang suami istri sedang check kandungan bersama, hati 
ini serasa hancur. Teman-teman menyarankan agar aku membuang saja bayi ini, 
tetapi aku seperti orang yg sedang histeris mempertahankan miliknya. 
Hitung-hitung sebagai pembuktian kepada nenek bahwa aku tidak bersalah.
        
        "Suatu hari pulang kerja, aku melihat dia duduk didepan ruang tamu. 
Ruangan penuh dengan asap rokok dan ada selembar kertas diatas meja, tidak 
perlu tanya aku juga tahu surat apa itu. 2 bulan hidup sendiri, aku sudah bisa 
mengontrol emosi. Sambil membuka mantel dan topi aku berkata kepadanya: "Tunggu 
sebentar, aku akan segera menanda tanganinya". Dia melihatku dengan pandangan 
awut-awutan demikian juga aku. Aku berkata pada diri sendiri, jangan menangis, 
jangan menangis. Mata ini terasa sakit sekali tetapi aku terus bertahan agar 
air mata ini tidak keluar. 
        
        Selesai membuka mantel, aku berjalan ke arahnya dan ternyata dia 
memperhatikan perutku yg agak membuncit. Sambil duduk di kursi, aku menanda 
tangani surat itu dan menyodorkan kepadanya."Luci, kamu hamil?" Semenjak nenek 
meninggal, itulah pertama kali dia berbicara kepadaku. Aku tidak bisa lagi 
membendung air mataku yg mengalir keluar dengan derasnya. Aku menjawab: "Iya, 
tetapi tidak apa-apa. Kamu sudah boleh pergi". Dia tidak pergi, dalam 
keremangan ruangan kami saling berpandangan. Perlahan-lahan dia membungkukan 
badannya ke tanganku, air matanya terasa menembus lengan bajuku. Tetapi di 
lubuk hatiku, semua sudah berlalu, banyak hal yg sudah pergi dan tidak bisa 
diambil kembali.
        
        Entah sudah berapa kali aku mendengar dia mengucapkan kata: "Maafkan 
aku, maafkan aku". Aku pernah berpikir untuk memaafkannya tetapi tidak bisa. 
Tatapan matanya di cafe itu tidak akan pernah aku lupakan. Cinta diantara kami 
telah ada sebuah luka yg menganga. Semua ini adalah sebuah akibat kesengajaan 
darinya.
        
        Berharap dinding es itu akan mencair, tetapi yang telah berlalu tidak 
akan pernah kembali. Hanya sewaktu memikirkan bayiku, aku bisa bertahan untuk 
terus hidup.. Terhadapnya, hatiku dingin bagaikan es, tidak pernah menyentuh 
semua makanan pemberian dia, tidak menerima semua hadiah pemberiannya tidak 
juga berbicara lagi dengannya. Sejak menanda tangani surat itu, semua cintaku 
padanya sudah berlalu, harapanku telah lenyap tidak berbekas.
        
        Kadang dia mencoba masuk ke kamar untuk tidur bersamaku, aku segera 
berlalu ke ruang tamu, dia terpaksa kembali ke kamar nenek. Malam hari, 
terdengar suara orang mengerang dari kamar nenek tetapi aku tidak perduli. Itu 
adalah permainan dia dari dulu. Jika aku tidak perduli padanya, dia akan 
berpura-pura sakit sampai aku menghampirinya dan bertanya apa yang sakit. Dia 
lalu akan memelukku sambil tertawa terbahak-bahak. Dia lupa........ , itu 
adalah dulu, saat cintaku masih membara, sekarang apa lagi yg aku miliki?
        
        Begitu seterusnya, setiap malam aku mendengar suara orang mengerang 
sampai anakku lahir. Hampir setiap hari dia selalu membeli barang-barang 
perlengkapan bayi, perlengkapan anak-anak dan buku-buku bacaan untuk anak-anak. 
Setumpuk demi setumpuk sampai kamarnya penuh sesak dengan barang-barang. Aku 
tahu dia mencoba menarik simpatiku tetapi aku tidak bergeming. Terpaksa dia 
mengurung diri dalam kamar, malam hari dari kamarnya selalu terdengar suara 
pencetan keyboard komputer. Mungkin dia lagi tergila-gila chatting dan 
berpacaran di dunia maya pikirku. Bagiku itu bukan lagi suatu masalah.
        
        Suatu malam di musim semi, perutku tiba-tiba terasa sangat sakit dan 
aku berteriak dengan suara yg keras. Dia segera berlari masuk ke kamar, 
sepertinya dia tidak pernah tidur. Saat inilah yg ditunggu-tunggu olehnya. Aku 
digendongnya dan berlari mencari taksi ke rumah sakit. Sepanjang jalan, dia 
mengenggam dengan erat tanganku, menghapus keringat dingin yg mengalir di 
dahiku. Sampai di rumah sakit, aku segera 
        
        digendongnya menuju ruang bersalin. Di punggungnya yg kurus kering, aku 
terbaring dengan hangat dalam dekapannya. Sepanjang hidupku, siapa lagi yg 
mencintaiku sedemikian rupa jika bukan dia?
        
        Sampai dipintu ruang bersalin, dia memandangku dengan tatapan penuh 
kasih sayang saat aku didorong menuju persalinan, sambil menahan sakit aku 
masih sempat tersenyum padanya. Keluar dari ruang bersalin, dia memandang aku 
dan anakku dengan wajah penuh dengan air mata sambil tersenyum bahagia. Aku 
memegang tangannya, dia membalas memandangku dengan bahagia, tersenyum dan 
menangis lalu terjerambab ke lantai. Aku berteriak histeris memanggil namanya.
        
        Setelah sadar, dia tersenyum tetapi tidak bisa membuka matanya...... 
aku pernah berpikir tidak akan lagi meneteskan sebutir air matapun untuknya, 
tetapi kenyataannya tidak demikian, aku tidak pernah merasakan sesakit seperti 
saat ini. Kata dokter, kanker hatinya sudah sampai pada stadium mematikan, bisa 
bertahan sampai hari ini sudah merupakan sebuah mukjizat. Aku tanya kapankah 
kanker itu terdeteksi? 5 bulan yg lalu kata dokter, bersiap-siaplah menghadapi 
kemungkinan terburuk. Aku tidak lagi peduli dengan nasehat perawat, aku segera 
pulang ke rumah dan ke kamar nenek lalu menyalakan komputer.
        
        Ternyata selama ini suara orang mengerang adalah benar apa adanya, aku 
masih berpikir dia sedang bersandiwara...... Sebuah surat yg sangat panjang ada 
di dalam komputer yg ditujukan kepada anak kami. "Anakku, demi dirimu aku terus 
bertahan, sampai aku bisa melihatmu. Itu adalah harapanku.. Aku tahu dalam 
hidup ini, kita akan menghadapi semua bentuk kebahagiaan dan kekecewaan, 
sungguh bahagia jika aku bisa melaluinya bersamamu tetapi ayah tidak mempunyai 
kesempatan untuk itu. Didalam komputer ini, ayah mencoba memberikan saran dan 
nasehat terhadap segala kemungkinan hidup yg akan kamu hadapi. Kamu boleh 
mempertimbangkan saran ayah. "Anakku, selesai menulis surat ini, ayah merasa 
telah menemanimu hidup selama bertahun-tahun. Ayah sungguh bahagia. Cintailah 
ibumu, dia sungguh menderita, dia adalah orang yg paling mencintaimu dan adalah 
orang yg paling ayah cintai".
        
        Mulai dari kejadian yg mungkin akan terjadi sejak TK , SD , SMP, SMA 
sampai kuliah, semua tertulis dengan lengkap didalamnya. Dia juga menulis 
sebuah surat untukku. "Kasihku, dapat menikahimu adalah hal yg paling bahagia 
aku rasakan dalam hidup ini. Maafkan salahku, maafkan aku tidak pernah 
memberitahumu tentang penyakitku. Aku tidak mau kesehatan bayi kita terganggu 
oleh karenanya. Kasihku, jika engkau menangis sewaktu membaca surat ini, 
berarti kau telah memaafkan aku. Terima kasih atas cintamu padaku selama ini. 
Hadiah-hadiah ini aku tidak punya kesempatan untuk memberikannya pada anak 
kita.. Pada bungkusan hadiah tertulis semua tahun pemberian padanya".
        
        Kembali ke rumah sakit, suamiku masih terbaring lemah. Aku menggendong 
anak kami dan membaringkannya diatas dadanya sambil berkata: "Sayang, bukalah 
matamu sebentar saja, lihatlah anak kita. Aku mau dia merasakan kasih sayang 
dan hangatnya pelukan ayahnya". Dengan susah payah dia membuka matanya, 
tersenyum... ....... anak itu tetap dalam dekapannya, dengan tangannya yg 
mungil memegangi tangan ayahnya yg kurus dan lemah. Tidak tahu aku sudah 
menjepret berapa kali momen itu dengan kamera di tangan sambil berurai air 
mata........ .........
        
        Teman2 terkasih, aku sharing cerita ini kepada kalian, agar kita semua 
bisa menyimak pesan dari cerita ini. Mungkin saat ini air mata kalian sedang 
jatuh mengalir atau mata masih sembab sehabis menangis, ingatlah 
        
        pesan dari cerita ini: "Jika ada sesuatu yg mengganjal di hati diantara 
kalian yg saling mengasihi, sebaiknya utarakanlah jangan simpan didalam hati"..
        
        Siapa tau apa yg akan terjadi besok? Ada sebuah pertanyaan: Jika kita 
tahu besok adalah hari kiamat, apakah kita akan menyesali semua hal yg telah 
kita perbuat? atau apa yg telah kita ucapkan? Sebelum segalanya 
        
        menjadi terlambat, pikirlah matang2 

        semua yg akan kita lakukan sebelum kita menyesalinya seumur hidup.

         


Kirim email ke