terpenggal ceritanya...
 

--- On Thu, 2/26/09, Rama Silitonga <[email protected]> wrote:


From: Rama Silitonga <[email protected]>
Subject: [PemudaAdvent] FW: Sebuah kisah tentang salah 
pengertian............................
To: [email protected], [email protected]
Date: Thursday, February 26, 2009, 11:09 PM








 







 



 






 February 27, 2009, 7:21 AM

Sebuah kisah tentang salah pengertian.. 

Tatkala nilai akhir sebuah kehidupan sudah terbuka, tetapi segalanya sudah 
terlambat. Membawa nenek utk tinggal bersama menghabiskan masa tuanya bersama 
kami, malah telah mengkhianati ikrar cinta yg telah kami buat selama 
ini,setelah 2 tahun menikah, saya dan suami setuju menjemput nenek di kampung 
utk tinggal bersama.

Sejak kecil suami saya telah kehilangan ayahnya, dia adalah satu-satunya 
harapan nenek, nenek pula yg membesarkannya dan menyekolahkan dia hingga tamat 
kuliah.

Saya terus mengangguk tanda setuju, kami segera menyiapkan sebuah kamar yg 
menghadap taman untuk nenek, agar dia dapat berjemur, menanam bunga dan 
sebagainya. Suami berdiri didepan kamar yg sangat kaya dgn sinar matahari, 
tidak sepatah katapun yg terucap tiba-tiba saja dia mengangkat saya dan 
memutar-mutar saya seperti adegan dalam film India dan berkata: "Mari,kita 
jemput nenek di kampung".

Suami berbadan tinggi besar, aku suka sekali menyandarkan kepalaku ke dadanya 
yg bidang, ada suatu perasaan nyaman dan aman disana. Aku seperti sebuah boneka 
kecil yg kapan saja bisa diangkat dan dimasukan kedalam kantongnya. Kalau 
terjadi selisih paham diantara kami, dia suka tiba-tiba mengangkatku 
tinggi-tinggi diatas kepalanya dan diputar-putar sampai aku berteriak ketakutan 
baru diturunkan. Aku sungguh menikmati saat-saat seperti itu.

Kebiasaan nenek di kampung tidak berubah. Aku suka sekali menghias rumah dengan 
bunga segar, sampai akhirnya nenek tidak tahan lagi dan berkata kepada 
suami:"Istri kamu hidup foya-foya, buat apa beli bunga? Kan bunga tidak bisa 
dimakan?" Aku menjelaskannya kepada nenek: "Ibu, rumah dengan bunga segar 
membuat rumah terasa lebih nyaman dan suasana hati lebih gembira". Nenek 
berlalu sambil mendumel, suamiku berkata sambil tertawa: "Ibu, ini kebiasaan 
orang kota, lambat laun ibu akan terbiasa juga."

Nenek tidak protes lagi, tetapi setiap kali melihatku pulang sambil membawa 
bunga, dia tidak bisa menahan diri untuk bertanya berapa harga bunga itu, 
setiap mendengar jawabanku dia selalu mencibir sambil 

menggeleng-gelengka n kepala. Setiap membawa pulang barang belanjaan,dia selalu 
tanya itu berapa harganya, ini berapa. Setiap aku jawab, dia selalu berdecak 
dengan suara keras. Suamiku memencet hidungku sambil berkata: "Putriku, kan 
kamu bisa berbohong. Jangan katakan harga yang sebenarnya." Lambat laun, 
keharmonisan dalam rumah tanggaku mulai terusik.

Nenek sangat tidak bisa menerima melihat suamiku bangun pagi menyiapkan sarapan 
pagi untuk dia sendiri, di mata nenek seorang anak laki-laki masuk ke dapur 
adalah hal yang sangat memalukan. Di meja makan, wajah nenek selalu cemberut 
dan aku sengaja seperti tidak mengetahuinya. Nenek selalu membuat bunyi-bunyian 
dengan alat makan seperti sumpit dan sendok, itulah cara dia protes.

Aku adalah instrukstur tari, seharian terus menari membuat badanku sangat 
letih, aku tidak ingin membuang waktu istirahatku dengan bangun pagi apalagi 
disaat musim dingin. Nenek kadang juga suka membantuku di 

dapur, tetapi makin dibantu aku menjadi semakin repot, misalnya: dia suka 
menyimpan semua kantong-kantong bekas belanjaan, dikumpulkan bisa untuk dijual 
katanya. Jadilah rumahku seperti tempat pemulungan kantong plastik, dimana-mana 
terlihat kantong plastik besar tempat semua kumpulan kantong plastik..

Kebiasaan nenek mencuci piring bekas makan tidak menggunakan cairan pencuci, 
agar supaya dia tidak tersinggung, aku selalu mencucinya sekali lagi pada saat 
dia sudah tidur. Suatu hari, nenek mendapati aku sedang mencuci piring malam 
harinya, dia segera masuk ke kamar sambil membanting pintu dan menangis. 
Suamiku jadi serba salah, malam itu kami tidur seperti orang bisu, aku coba 
bermanja-manja dengan dia, tetapi dia tidak perduli. Aku menjadi kecewa dan 
marah."Apa salahku?" Dia melotot sambil berkata: "Kenapa tidak kamu biarkan 
saja? Apakah memakan dengan piring itu bisa membuatmu mati?"

Aku dan nenek tidak bertegur sapa untuk waktu yg culup lama, suasana menjadi 
kaku. Suamiku menjadi sangat kikuk, tidak tahu harus berpihak pada siapa? Nenek 
tidak lagi membiarkan suamiku masuk ke dapur, setiap pagi dia selalu bangun 
lebih pagi dan menyiapkan sarapan untuknya, suatu kebahagiaan terpancar di 
wajahnya jika melihat suamiku makan dengan lahap, dengan sinar mata yang seakan 
mencemohku sewaktu melihat padaku, seakan berkata dimana tanggung jawabmu 
sebagai seorang istri?

Demi menjaga suasana pagi hari agar tidak terganggu, aku selalu membeli makanan 
diluar pada saat berangkat kerja. Saat tidur, suami berkata:"Luci, apakah kamu 
merasa masakan ibu tidak enak dan tidak bersih sehingga kamu tidak pernah makan 
di rumah?" sambil memunggungiku dia berkata tanpa menghiraukan air mata yg 
mengalir di kedua belah pipiku. Dan dia akhirnya berkata: "Anggaplah ini sebuah 
permintaanku, makanlah bersama kami setiap pagi". Aku mengiyakannya dan kembali 
ke meja makan yg serba canggung itu.

Pagi itu nenek memasak bubur, kami sedang makan dan tiba-tiba ada suatu 
perasaan yg sangat mual menimpaku, seakan-akan isi perut mau keluar semua. Aku 
menahannya sambil berlari ke kamar mandi, sampai disana aku segera mengeluarkan 
semua isi perut. Setelah agak reda, aku melihat suamiku berdiri didepan pintu 
kamar mandi dan memandangku dengan sinar mata yg tajam, diluar sana terdengar 
suara tangisan nenek dan berkata-kata dengan bahasa daerahnya. Aku terdiam dan 
terbengong tanpa 

bisa berkata-kata. Sungguh bukan sengaja aku berbuat demikian!

Pertama kali dalam perkawinanku, aku bertengkar hebat dengan suamiku, nenek 
melihat kami dengan mata merah dan berjalan menjauh…… suamiku segera 
mengejarnya keluar rumah.

Menyambut anggota baru tetapi dibayar dengan nyawa nenek.

Selama 3 hari suamiku tidak pulang ke rumah dan tidak juga meneleponku. Aku 
sangat kecewa, semenjak kedatangan nenek di rumah ini, aku sudah banyak 
mengalah, mau bagaimana lagi? Entah kenapa aku selalu merasa mual dan 
kehilangan nafsu makan ditambah lagi dengan keadaan rumahku yang kacau, sungguh 
sangat menyebalkan. Akhirnya teman sekerjaku berkata:"Luci, sebaiknya kamu 
periksa ke dokter". Hasil pemeriksaan menyatakan aku sedang hamil. Aku baru 
sadar mengapa aku mual-mual pagi itu. Sebuah 

berita gembira yg terselip juga kesedihan. Mengapa suami dan nenek sebagai 
orang yg berpengalaman tidak berpikir sampai sejauh itu?

Di pintu masuk rumah sakit aku melihat suamiku, 3 hari tidak bertemu dia 
berubah drastis, muka kusut kurang tidur, aku ingin segera berlalu tetapi rasa 
iba membuatku tertegun dan memanggilnya. Dia melihat ke 

arahku tetapi seakan akan tidak mengenaliku lagi, pandangan matanya penuh 
dengan kebencian dan itu melukaiku. Aku berkata pada diriku sendiri, jangan 
lagi melihatnya dan segera memanggil taksi. Padahal aku 

ingin memberitahunya bahwa kami akan segera memiliki seorang anak. Dan berharap 
aku akan diangkatnya tinggi-tinggi dan diputar-putar sampai aku minta ampun 
tetapi..... mimpiku tidak menjadi kenyataan. Didalam taksi air mataku mengalir 
dengan deras. Mengapa kesalah pahaman ini berakibat sangat buruk?

Sampai di rumah aku berbaring di ranjang memikirkan peristiwa tadi, memikirkan 
sinar matanya yg penuh dengan kebencian, aku menangis dengan sedihnya. Tengah 
malam,aku mendengar suara orang membuka laci, aku menyalakan lampu dan melihat 
dia dgn wajah berlinang air mata sedang mengambil uang dan buku tabungannya. 
Aku nenatapnya dengan dingin tanpa berkata-kata. Dia seperti tidak melihatku 
saja dan segera berlalu. Sepertinya dia sudah memutuskan utk meninggalkan aku. 
Sungguh lelaki yg sangat picik, dalam saat begini dia masih bisa membedakan 
antara cinta dengan uang. Aku tersenyum sambil menitikan air mata.

Aku tidak masuk kerja keesokan harinya, aku ingin secepatnya membereskan 
masalah ini, aku akan membicarakan semua masalah ini dan pergi mencarinya di 
kantornya.Di kantornya aku bertemu dengan seketarisnya yg melihatku dengan 
wajah bingung."Ibunya pak direktur baru saja mengalami kecelakaan lalu lintas 
dan sedang berada di rumah sakit. Mulutku terbuka lebar. Aku segera menuju 
rumah sakit dan saat menemukannya, nenek sudah meninggal. Suamiku tidak pernah 
menatapku, wajahnya kaku. Aku memandang jasad nenek yg terbujur kaku.. Sambil 
menangis aku menjerit dalam hati: "Tuhan, mengapa ini bisa terjadi?"

Sampai selesai upacara pemakaman, suamiku tidak pernah bertegur sapa denganku, 
jika memandangku selalu dengan pandangan penuh dengan kebencian. 

Peristiwa kecelakaan itu aku juga tahu dari orang lain, pagi itu nenek berjalan 
ke arah terminal, rupanya dia mau kembali ke kampung. Suamiku mengejar sambil 
berlari, nenek juga berlari makin cepat sampai tidak 

melihat sebuah bus yg datang ke arahnya dengan kencang. Aku baru mengerti 
mengapa pandangan suamiku penuh dengan kebencian. Jika aku tidak muntah pagi 
itu, jika kami tidak bertengkar, jika........ .... dimatanya, akulah penyebab 
kematian nenek.

Suamiku pindah ke kamar nenek, setiap malam pulang kerja dengan badan penuh 
dengan bau asap rokok dan alkohol. Aku merasa bersalah tetapi juga merasa harga 
diriku terinjak-injak. Aku ingin menjelaskan bahwa semua ini bukan salahku dan 
juga memberitahunya bahwa kami akan segera mempunyai anak. Tetapi melihat sinar 
matanya, aku tidak pernah menjelaskan masalah ini. Aku rela dipukul atau 
dimaki-maki olehnya 

walaupun ini bukan salahku. Waktu berlalu dengan sangat lambat. Kami hidup 
serumah tetapi seperti tidak mengenal satu sama lain. Dia pulang makin larut 
malam. Suasana tegang didalam rumah.

Suatu hari, aku berjalan melewati sebuah café, melalui keremangan lampu dan 
kisi-kisi jendela, aku melihat suamiku dengan seorang wanita didalam. Dia 
sedang menyibak rambut sang gadis dengan mesra. Aku tertegun dan mengerti apa 
yg telah terjadi. Aku masuk kedalam dan berdiri di depan mereka sambil menatap 
tajam kearahnya. Aku tidak menangis juga tidak berkata apapun karena aku juga 
tidak tahu harus berkata apa. Sang gadis melihatku dan ke arah suamiku dan 
segera hendak berlalu. Tetapi dicegah oleh suamiku dan menatap kembali ke 
arahku dengan sinar mata yg tidak kalah tajam dariku. Suara detak jantungku 
terasa sangat keras, setiap detak suara seperti suara menuju kematian. 

Akhirnya aku mengalah dan berlalu dari hadapan mereka, jika tidak.. mungkin aku 
akan jatuh bersama bayiku dihadapan mereka. Malam itu dia tidak pulang ke 
rumah. Seakan menjelaskan padaku apa yang telah terjadi. Sepeninggal nenek, 
rajutan cinta kasih kami juga sepertinya telah berakhir. Dia tidak kembali lagi 
ke rumah, kadang sewaktu pulang ke rumah, aku mendapati lemari seperti bekas 
dibongkar. 

Aku tahu dia kembali mengambil barang-barang keperluannya. Aku tidak ingin 
menelepon dia walaupun kadang terbersit suatu keinginan untuk menjelaskan semua 
ini. Tetapi itu tidak terjadi..... . ...., semua berlalu begitu saja.

Aku mulai hidup seorang diri, pergi check kandungan seorang diri. Setiap kali 
melihat sepasang suami istri sedang check kandungan bersama, hati ini serasa 
hancur. Teman-teman menyarankan agar aku membuang saja bayi ini, tetapi aku 
seperti orang yg sedang histeris mempertahankan miliknya. Hitung-hitung sebagai 
pembuktian kepada nenek bahwa aku tidak bersalah.

"Suatu hari pulang kerja, aku melihat dia duduk didepan ruang tamu. Ruangan 
penuh dengan asap rokok dan ada selembar kertas diatas meja, tidak perlu tanya 
aku juga tahu surat apa itu. 2 bulan hidup sendiri, aku sudah bisa mengontrol 
emosi. Sambil membuka mantel dan topi aku berkata kepadanya: "Tunggu sebentar, 
aku akan segera menanda tanganinya". Dia melihatku dengan pandangan awut-awutan 
demikian juga aku. Aku berkata pada diri sendiri, jangan menangis, jangan 
menangis. Mata ini terasa sakit sekali tetapi aku terus bertahan agar air mata 
ini tidak keluar. 

Selesai membuka mantel, aku berjalan ke arahnya dan ternyata dia memperhatikan 
perutku yg agak membuncit. Sambil duduk di kursi, aku menanda tangani surat itu 
dan menyodorkan kepadanya."Luci, kamu hamil?" Semenjak nenek meninggal, itulah 
pertama kali dia berbicara kepadaku. Aku tidak bisa lagi membendung air mataku 
yg mengalir keluar dengan derasnya. Aku menjawab: "Iya, tetapi tidak apa-apa. 
Kamu sudah boleh pergi". Dia tidak pergi, dalam keremangan ruangan kami saling 
berpandangan. Perlahan-lahan dia membungkukan badannya ke tanganku, air matanya 
terasa menembus lengan bajuku. Tetapi di lubuk hatiku, semua sudah berlalu, 
banyak hal yg sudah pergi dan tidak bisa diambil kembali.

Entah sudah berapa kali aku mendengar dia mengucapkan kata: "Maafkan aku, 
maafkan aku". Aku pernah berpikir untuk memaafkannya tetapi tidak bisa. Tatapan 
matanya di cafe itu tidak akan pernah aku lupakan. Cinta diantara kami telah 
ada sebuah luka yg menganga. Semua ini adalah sebuah akibat kesengajaan darinya.

Berharap dinding es itu akan mencair, tetapi yang telah berlalu tidak akan 
pernah kembali. Hanya sewaktu memikirkan bayiku, aku bisa bertahan untuk terus 
hidup.. Terhadapnya, hatiku dingin bagaikan es, tidak pernah menyentuh semua 
makanan pemberian dia, tidak menerima semua hadiah pemberiannya tidak juga 
berbicara lagi dengannya. Sejak menanda tangani surat itu, semua cintaku 
padanya sudah berlalu, harapanku telah lenyap tidak berbekas.

Kadang dia mencoba masuk ke kamar untuk tidur bersamaku, aku segera berlalu ke 
ruang tamu, dia terpaksa kembali ke kamar nenek. Malam hari, terdengar suara 
orang mengerang dari kamar nenek tetapi aku tidak perduli. Itu adalah permainan 
dia dari dulu. Jika aku tidak perduli padanya, dia akan berpura-pura sakit 
sampai aku menghampirinya dan bertanya apa yang sakit. Dia lalu akan memelukku 
sambil tertawa terbahak-bahak. Dia lupa........ , itu adalah dulu, saat cintaku 
masih membara, sekarang apa lagi yg aku miliki?

Begitu seterusnya, setiap malam aku mendengar suara orang mengerang sampai 
anakku lahir. Hampir setiap hari dia selalu membeli barang-barang perlengkapan 
bayi, perlengkapan anak-anak dan buku-buku bacaan untuk anak-anak. Setumpuk 
demi setumpuk sampai kamarnya penuh sesak dengan barang-barang. Aku tahu dia 
mencoba menarik simpatiku tetapi aku tidak bergeming. Terpaksa dia mengurung 
diri dalam kamar, malam hari dari kamarnya selalu terdengar suara pencetan 
keyboard komputer. Mungkin dia lagi tergila-gila chatting dan berpacaran di 
dunia maya pikirku. Bagiku itu bukan lagi suatu masalah.

Suatu malam di musim semi, perutku tiba-tiba terasa sangat sakit dan aku 
berteriak dengan suara yg keras. Dia segera berlari masuk ke kamar, sepertinya 
dia tidak pernah tidur. Saat inilah yg ditunggu-tunggu olehnya. Aku 
digendongnya dan berlari mencari taksi ke rumah sakit. Sepanjang jalan, dia 
mengenggam dengan erat tanganku, menghapus keringat dingin yg mengalir di 
dahiku. Sampai di rumah sakit, aku segera 

digendongnya menuju ruang bersalin. Di punggungnya yg kurus kering, aku 
terbaring dengan hangat dalam dekapannya. Sepanjang hidupku, siapa lagi yg 
mencintaiku sedemikian rupa jika bukan dia?

Sampai dipintu ruang bersalin, dia memandangku dengan tatapan penuh kasih 
sayang saat aku didorong menuju persalinan, sambil menahan sakit aku masih 
sempat tersenyum padanya. Keluar dari ruang bersalin, dia memandang aku dan 
anakku dengan wajah penuh dengan air mata sambil tersenyum bahagia. Aku 
memegang tangannya, dia membalas memandangku dengan bahagia, tersenyum dan 
menangis lalu terjerambab ke lantai. Aku berteriak histeris memanggil namanya.

Setelah sadar, dia tersenyum tetapi tidak bisa membuka matanya…… aku pernah 
berpikir tidak akan lagi meneteskan sebutir air matapun untuknya, tetapi 
kenyataannya tidak demikian, aku tidak pernah merasakan sesakit seperti saat 
ini. Kata dokter, kanker hatinya sudah sampai pada stadium mematikan, bisa 
bertahan sampai hari ini sudah merupakan sebuah mukjizat. Aku tanya kapankah 
kanker itu terdeteksi? 5 bulan yg lalu kata dokter, bersiap-siaplah menghadapi 
kemungkinan terburuk. Aku tidak lagi peduli dengan nasehat perawat, aku segera 
pulang ke rumah dan ke kamar nenek lalu menyalakan komputer.

Ternyata selama ini suara orang mengerang adalah benar apa adanya, aku masih 
berpikir dia sedang bersandiwara…… Sebuah surat yg sangat panjang ada di dalam 
komputer yg ditujukan kepada anak kami. "Anakku, demi dirimu aku terus 
bertahan, sampai aku bisa melihatmu. Itu adalah harapanku.. Aku tahu dalam 
hidup ini, kita akan menghadapi semua bentuk kebahagiaan dan kekecewaan, 
sungguh bahagia jika aku bisa melaluinya bersamamu tetapi ayah tidak mempunyai 
kesempatan untuk itu. Didalam komputer ini, ayah mencoba memberikan saran dan 
nasehat terhadap segala kemungkinan hidup yg akan kamu hadapi. Kamu boleh 
mempertimbangkan saran ayah. "Anakku, selesai menulis surat ini, ayah merasa 
telah menemanimu hidup selama bertahun-tahun. Ayah sungguh bahagia. Cintailah 
ibumu, dia sungguh menderita, dia adalah orang yg paling mencintaimu dan adalah 
orang yg paling ayah cintai".

Mulai dari kejadian yg mungkin akan terjadi sejak TK , SD , SMP, SMA sampai 
kuliah, semua tertulis dengan lengkap didalamnya. Dia juga menulis sebuah surat 
untukku. "Kasihku, dapat menikahimu adalah hal yg paling bahagia aku rasakan 
dalam hidup ini. Maafkan salahku, maafkan aku tidak pernah memberitahumu 
tentang penyakitku. Aku tidak mau kesehatan bayi kita terganggu oleh karenanya. 
Kasihku, jika engkau menangis sewaktu membaca surat ini, berarti kau telah 
memaafkan aku. Terima kasih atas cintamu padaku selama ini. Hadiah-hadiah ini 
aku tidak punya kesempatan untuk memberikannya pada anak kita.. Pada bungkusan 
hadiah tertulis semua tahun pemberian padanya".

Kembali ke rumah sakit, suamiku masih terbaring lemah. Aku menggendong anak 
kami dan membaringkannya diatas dadanya sambil berkata: "Sayang, bukalah matamu 
sebentar saja, lihatlah anak kita. Aku mau dia merasakan kasih sayang dan 
hangatnya pelukan ayahnya". Dengan susah payah dia membuka matanya, 
tersenyum... ....... anak itu tetap dalam dekapannya, dengan tangannya yg 
mungil memegangi tangan ayahnya yg kurus dan lemah. Tidak tahu aku sudah 
menjepret berapa kali momen itu dengan kamera di tangan sambil berurai air 
mata........ .........

Teman2 terkasih, aku sharing cerita ini kepada kalian, agar kita semua bisa 
menyimak pesan dari cerita ini. Mungkin saat ini air mata kalian sedang jatuh 
mengalir atau mata masih sembab sehabis menangis, ingatlah 

pesan dari cerita ini: "Jika ada sesuatu yg mengganjal di hati diantara kalian 
yg saling mengasihi, sebaiknya utarakanlah jangan simpan didalam hati"..

Siapa tau apa yg akan terjadi besok? Ada sebuah pertanyaan: Jika kita tahu 
besok adalah hari kiamat, apakah kita akan menyesali semua hal yg telah kita 
perbuat? atau apa yg telah kita ucapkan? Sebelum segalanya 

menjadi terlambat, pikirlah matang2 
semua yg akan kita lakukan sebelum kita menyesalinya seumur hidup.
 



















      

Kirim email ke