Mengubah suatu kebiasaan buruk menjadi kebiasaan baik dan positif tidak semudah 
membalikkan telapak tangan. Butuh ketekunan, kerja keras dan komitmen. Contoh 
sederhana: bila biasanya anda menggunakan jam tangan di sebelah kiri, coba 
sekarang dipakai di sebelah kanan. Apa yang anda rasakan? Pada awalnya rasa 
risi, kagok, tidak biasa, aneh, pasti akan timbul di hati anda. Anda akan lebih 
sering melirik ke tangan kiri untuk melihat jam daripada melirik ke tangan 
kanan. 


Mengubah kebiasaan, ibaratnya seperti orang yang sedang membangun sesuatu, 
entah 
membangun jembatan, rumah, hotel, jalan layang. Tidak langsung tiba-tiba 
bangunan fisiknya ada di depan kita. Butuh proses, butuh waktu dan tentunya 
satu 
hal yang tidak boleh kita lupakan saat hendak mendirikan sebuah bangunan adalah 
pondasi yang kuat. Sia-sia bila kita memiliki bangunan yang indah, mentereng 
namun tidak memiliki pondasi yang kuat. Untuk membangun pondasi inilah butuh 
waktu yang lama, perlu ketepatan, bahan pembentuknya, dan bahan pendukungnya.

Demikian pula dengan membangun karakter, kita harus mendirikannya di atas dasar 
yang kuat yaitu firman Tuhan, dan faktor-faktor pendukungnya adalah pembimbing 
rohani, lingkungan tempat dia bertumbuh, pergaulan, dll.

Banyak hal, Tuhan mengajar saya untuk tidak terpukau pada penampilan lahirian 
tapi melihat jauh di kedalaman hatinya. Hati tidak bisa menipu, hati dapat 
bercerita banyak mengenai pribadi orang tersebut. Ada saat-saat, saya bandel 
juga terhadap Roh Kudus, saat Dia bilang sesuatu mengenai sesuatu hal, pikiran 
saya langsung memotongnya dan berlagak seolah-olah tidak tahu akan hal 
tersebut. 
Padahal yang ada di dalam, itulah yang menentukan kualitas dan tampilan 
luarnya. 
Penampilan lahiriah bisa menipu tapi “apa” yang ada di dalamnya itulah jati 
diri 
yang sesungguhnya.

Seringkali orang mengatakan bahwa yang kelihatan, itu adalah karakter, padahal 
itu adalah “kepribadian”. Kepribadian adalah tampilan luar yang ditonjolkan 
untuk menutupi karakter/kondisi yang sesungguhnya dari orang tersebut. Misalnya 
seorang psikopat, dalam kehidupan sehari-harinya dikenal seorang businessman 
yang hebat, ramah (bukan rajin menjamah loh..), murah hati, tapi pada malam 
hari 
bisa berubah menjadi seorang pembunuh berdarah dingin yang tidak segan-segan 
melukai sang korban. 


Saya punya seorang rekan pria yang secara penampilan OK banget, tampan, tinggi, 
kerja mapan, perhatian, rajin pelayanan. Seiring dengan berjalannya waktu, saya 
mendengar selentingan kabar bahwa orang ini memiliki masalah dalam berpacaran. 
Dia selalu mencari wanita yang berambut panjang dan berbadan kecil (rekan saya 
ini berbadan besar) dan sangat perhatian (wanita mana yang tidak jatuh hati 
diberikan perhatian seperti ini) setelah mereka pacaran, ternyata pacarnya 
diperlakukan dengan over protective dan tidak boleh melakukan kesalahan. Bila 
melakukan kesalahan wanita ini akan di intimidasi berupa perlakuan fisik maupun 
telepon gelap. Dan masalah ini terbongkar, saat mantan pacarnya tanpa sadar 
bercerita pada kami kenapa mereka sampai putus. Dan bukan hanya itu saja, kami 
pun kena tipunya karena ternyata apa yang dia katakan selama ini mengenai 
keluarganya adalah bohong belaka.

Dari kasus ini, saya belajar bahwa seseorang bisa memiliki kepribadian ganda. 
Saat berada di posisi sulit, dia akan beralih ke pribadinya yang lain. Pribadi 
yang lain ini akan bersikap seolah-olah masalah ini tidak mempengaruhi dirinya. 
Beda dengar orang yang tegar, karena memang sifat tegar ini sudah dimiliki dan 
merupakan karakternya. Kasus rekan saya ini, dia lahir dari keluarga yang 
berkekurangan dan lahir sebagai anak bungsu dari 6 bersaudara, sejak kecil dia 
kerap diperlakukan semena-mena oleh kakak-kakaknya dan saat tumbuh besar tanpa 
sadar dia berlaku sama seperti kakaknya yaitu semena-mena terhadap orang yang 
lebih lemah dari dirinya.

“Temperamen” adalah sifat dasar yang dibawa sejak lahir, ada 4 macam tipe 
SANGUIN, KOLERIK, PLEGMATIK, MELANKOLIK. Seorang bayi yang membawa sifat 
kolerik 
tapi dibesarkan dalam lingkungan yang penuh kasih sayang maka sifat dasar itu 
akan menjadi jauh lebih kecil atau bahkan hilang. Berbeda dengan seorang bayi 
yang sudah membawa sifat dasar kolerik dan dibesarkan juga dalam lingkungan 
yang 
keras, bayi itu mungkin akan tumbuh menjadi orang yang kejam dingin, keras, 
arogan, etc. 


Tindakan yang dilakukan terus menerus, berulang-ulang akan menjadi kebiasaan 
baru dan dinamakan “KARAKTER”. Seseorang yang tidak terbiasa bangun pagi pasti 
akan kesulitan saat memulainya, saat dia melakukan terus menerus (tentunya 
diiringi dengan semangat juga),maka bangun pagi itu akan membentuk kebiasaan 
yang baru, saat kebiasaan baru itu terbentuk akan membentuk karakter yang baru 
juga dan tanpa perlu disuruh sudah menjadi bagian dari hidupnya karena memori 
“bangun pagi” sudah tertanam di dalam alam bawah sadarnya. Karakter yang sudah 
terbentuk menjadi kepribadian.

Untuk membangun kebiasaan baru, ada beberapa hal yang bisa anda praktikkan yang 
dapat disingkat dengan nama REPOH, yaitu:
R = Repetition (pengulangan)
E = Easy (mudah)
P = Pleasure (menyenangkan)
O = Often (sering)
H = Habit (kebiasaan)

Ambil contoh kebiasaan buruk yang menghambat kita, misal: malas bangun pagi. 
Ganti kata “malas” menjadi “rajin” jadi “rajin bangun pagi”. Jika diterapkan 
akan menjadi sebagai berikut:
* R = saya mau rajin bangun pagi
* E = jika saya rajin bangun pagi tiap hari maka bangun pagi menjadi mudah bagi 
saya
* P = jika bangun pagi menjadi mudah bagi saya, maka bangun pagi akan 
menyenangkan buat saya,
* O = jika bangun pagi menjadi menyenangkan buat saya, maka bangun pagi akan 
sering saya lakukan
* H = jika bangun pagi sering saya lakukan maka bangun pagi akan menjadi 
kebiasaan saya yang baru

Untuk membangun kebiasaan baru, tidak bisa dilakukan hanya satu kali atau 
sesekali tapi harus terus menerus dan continue.

Filipi 2:12, “Hai saudara-saudaraku yang kekasih, kamu senantiasa taat; karena 
itu tetaplah kerjakan keselamatanmu dengan takut dan gentar.”

Tuhan memanggil kita bukan hanya sebatas untuk selamat tapi juga Tuhan hendak 
memulihkan seluruh area kehidupan kita. Ada 7 area kehidupan yang hendak Tuhan 
ubahkan, tentunya kerjasama dengan kita juga.

1. KEROHANIAN
Ada pertumbuhan rohani hari demi hari, dari yang tadinya bayi rohani yang harus 
terus dilayani mulai untuk melayani orang lain. Belajar menerima tanggung jawab 
yang telah dipercayakan oleh Tuhan.

2. KELUARGA
Selama ini mungkin kita telah disibukkan oleh pekerjaan dan hubungan antar 
keluarga mulai renggang. Suami istri yang hanya bertemu saat mau tidur atau 
mungkin bahkan sudah berminggu-minggu, bertahun-tahun tidak bertemu. Rekreasi 
keluarga yang tinggal kenangan, komunikasi yang sudah dingin dengan hanya 
berkata “ Hmm….”, “Ya”, “Tidak”, atau bahkan sudah tidak ada komunikasi sama 
sekali. Saat ini mulailah ambil sikap untuk untuk memperbaiki hubungan dan 
menjalin kerjasama yang lebih erat lagi.

3. KARAKTER

4. KARIER/USAHA/PEKERJAAN
Bila dulu kita menganggap bahwa kerja hanya untuk mendapatkan uang, 
menghalalkan 
semua cara demi mendapatkan uang sebanyak-banyaknya, menjadikan karyawan 
sebagai 
sapi perah kita, menjadikan klien sebagai mesin uang kita. Berubahlah! Tuhan 
memanggil kita dalam dunia kerja adalah untuk menjadi berkat bagi dunia kerja. 
Sekarang mulailah membangun persahabatan dengan karyawan dan klien kita, jujur 
dalam membuat neraca pembayaran, jujur dalam bernegosiasi dengan pembeli, etc.

5. KEUANGAN
Akibat ambisi pribadi dan tuntutan memenuhi kepuasan, banyak orang saat ini 
terlibat hutang. Dan seluruh hidupnya diperbudak oleh mamon (uang). Mamon 
adalah 
hamba yang baik tetapi hamba yang jahat. Karena itu kita harus bisa mengatur 
mamon ini dan tidak dikuasai mamon.

6. KESEHATAN
Tubuh adalah bait Allah tempat Roh Allah berdiam, kita harus bertanggung jawab 
atasnya, dengan memperhatikan asupan dan pola makan, kebersihan, berolah raga 
dengan teratur, tidur yang cukup. Ada sebuah penelitian yang mengatakan bahwa 
tidur yang baik minimal 8 jam dan itu dimulai pukul 21.00–05.00. Pada jam-jam 
itu tubuh sedang mendetoksinasi racun dan perbaikan sel-sel yang rusak. Dan 
tahukah anda, dengan cukup berjalan kaki minimal 50 menit, dapat mengobati 
penyakit radang sendi, diabetes, osteoporosis, stroke, penyakit jantung, 
kanker, 
berat badan, dll.

7. KEHIDUPAN SOSIAL
Tuntutan profesi, tuntunan kebutuhan hidup, membuat manusia menjadi 
individualistis. Sudah tidak peduli lagi dengan sesama. Dan hal ini juga 
melanda 
umat Tuhan, mereka datang ke gereja, mencari tempat yang nyaman, selesai ibadah 
langsung bubar jalan. Hingga genaplah nas yang dikatakan oleh kitab suci, bahwa 
pada akhir jaman ini kasih manusia menjadi dingin dan manusia hanya peduli pada 
diri nya sendiri. Kalaupun terjadi kontak dengan orang lain, itu hanya sebatas 
“simbiosis mutualisme” (saling menguntungkan = apa yang bisa aku dapatkan 
melalui kerjasama ini). Hubungan yang dibangun bukan lagi atas dasar memberkati 
orang lain dan kasih yang memberi tapi sudah bergeser menjadi kasih pamrih.

Kita dipanggil di dunia ini, untuk mengembangkan hidup kekeluargaan, 
mengembangkan kasih Kristus kepada orang-orang yang belum mengenalnya. Melalui 
diri kitalah, kerajaan Allah itu nyata di muka bumi ini. Anda tidak perlu ngoyo 
untuk berubah, tapi bekerja keraslah berubah. Perubahan bukanlah suatu 
perubahan 
tanpa disertai perubahan. (Liesye Herlyna)
 
 Salam

Maxwel Kapitan

<<send from BerryBerry Pinjaman, Pulsa Baru Minjam dan sinyal timbul tenggelam, 
meski dekat BTS TELKOMSEL>> 


Kirim email ke