Membaca banyak buku tentang doa, mengikuti seminar doa, meneliti jurnal-jurnal 
dan buah karya mahapenting para saleh tentang doa tidak membuat kita otomatis 
bisa dan pandai berdoa. Tapi untunglah, doa yang efektif tidak identik dengan 
metode, frekuensi, dan kefasihan kalimat yang dipakai dalam berdoa. Allah yang 
kepadaNya kita berdoa adalah pribadi, itu sebabnya doa bukan mantra yang 
impersonal.

Namun perlu diingat bahwa bagaimana seseorang berdoa menunjukkan bagaimana ia 
mengenal Tuhan dan memperlakukan Tuhan dalam doa-doanya. Doa harus dinaikkan 
dengan iman berdasarkan pengenalannya akan Tuhan. Sehingga sikap seseorang 
tentang/terhadap doa mencerminkan hubungan pribadinya dengan Tuhan.

Doa Minta Jodoh
Ya Tuhan, kalau dia memang jodohku, dekatkanlah ...
Tapi kalau bukan jodohku, jodohkanlah ...
Jika dia tidak berjodoh denganku, maka jadikanlah kami jodoh ...
Kalau dia bukan jodohku, jangan sampai dia dapet jodoh yang lain, selain aku ...
Kalau dia tidak bisa dijodohkan denganku, jangan sampai dia dapet jodoh yang 
lain, biarkan dia tidak berjodoh sama seperti diriku ...
Dan saat dia telah tidak memiliki jodoh, jodohkanlah kami kembali ...
Kalau dia jodoh orang lain, putuskanlah! Jodohkanlah denganku ...
Jika dia tetap menjadi jodoh orang lain, biar orang itu ketemu jodoh yang lain 
dan kemudian jodohkan kembali dia denganku ... Aaaamin.

Sumber: E-mail “Doa Minta Jodoh” di Fica-net (beberapa tahun silam)


Setujukah Anda dengan doa tersebut di atas? Mengapa? Diakui atau tidak, banyak 
orang sering berdoa sedemikian. Ini adalah masalah sikap doa. Dan sikap doa 
berkaitan dengan pengenalan seseorang terhadap Allah, yang kepadaNya ia berdoa. 
Sikap kita ketika berbicara dengan seorang guru besar, pejabat, atau orang tua 
yang kita hormati tentu berbeda dengan sikap kita ketika berbicara adik, 
sahabat 
lama, atau pegawai/bawahan kita. Mengapa? Ini berkaitan dengan level pembicara 
dan lawan bicara. Kepada yang (kita pandang) berlevel lebih tinggi biasanya 
kita 
lebih sopan, penuh hormat, tidak membentak, dengan pilihan kata-kata yang apik 
dan tereja dengan baik dan benar. Kepada yang berlevel sama biasanya kita lebih 
akrab, intim, menggunakan bahasa sehari-hari, dan senda gurau. Kepada yang 
berlevel lebih rendah biasanya kita lebih kasar, bernada memerintah, tidak 
perduli perasaan orang lain, dan tidak jarang pula menyakitkan.

Bagaimana sikap Anda ketika berbincang dalam doa kepada Allah yang Mahatinggi 
dan Mahadahsyat itu? Sikap berdoa yang benar seperti apa yang seharusnya kita 
miliki? Belajar dari nabi Habakuk akan menolong kita menjawabnya.

Dalam pergulatannya dengan realita hidup yang dihadapi, nabi Habakuk mengalami 
konflik yang dahsyat dalam batinnya. Konflik antara apa melawan apa? Antara 
kehendak diri dengan kehendak Tuhan. Inilah pergulatan mendasar seseorang yang 
berdoa. Mengapa Tuhan tidak menjawab doaku? Aku harus berdoa seperti apa lagi? 
Berapa lama lagi Tuhan? Kalau doa tidak mengubah kehendak Tuhan, lalu buat apa 
berdoa?

Habakuk melewati beberapa fase dalam kehidupan doanya sampai akhirnya ia 
mengalami kemenangan dan bertumbuh dalam imannya kepada Tuhan. Bergumul dalam 
doa memang tak terhindarkan dalam kehidupan orang percaya sejati, tetapi 
masalahnya adalah apakah pergumulan itu menuju ke arah yang benar. Pergumulan 
ke 
arah yang salah tidak membawa seseorang bertumbuh di dalam Tuhan, doa menjadi 
sia-sia, membentur langit-langit atap dan jatuh kembali ke bumi. Tidak perduli 
seberapa rajin dan tekunnya seseorang berdoa, doa menjadi tidak berguna selama 
sikap dalam berdoa tidak berubah. Fase-fase pergumulan Habakuk memberikan arah 
yang jelas bagi orang Kristen segala zaman untuk bertumbuh. Rindukah Anda 
bertumbuh melalui pergumulan yang sehat dalam doa? Teladanilah nabi Habakuk!


Fase I: Minta (Habakuk 1:1-11)
“Berapa lama lagi, TUHAN, aku berteriak, tetapi tidak Kaudengar, aku berseru 
kepadaMU: ‘Penindasan!’ tetapi tidak Kautolong? Mengapa Engkau ...” (Hab. 1:2-3)

Pada fase ini yang menjadi fokus dalam doa adalah permintaan, permintaan, dan 
permintaan. Permintaan yang dimaksud di sini adalah permintaan yang bersifat 
antroposentris, yaitu permintaan yang ditujukan untuk pemenuhan kebutuhan 
manusia (diri sendiri dan/atau juga orang lain). Dan ketika permintaan tersebut 
tidak terpenuhi seseorang jadi bertanya-tanya: Apakah Tuhan mendengar doaku? 
Bagi orang yang berdoa dalam fase ini, berdoa berarti meminta dan jawaban doa 
identik dengan pengabulan permintaan. Pemuasan diri menjadi tujuan akhir doa 
dan 
Tuhan diperlakukan sebagai mesin ATM atau dewa-dewi imajinasi yang siap 
kapanpun 
untuk diperalat. Jika Tuhan tidak menjawab seperti yang dia mau dalam waktu 
yang 
cukup lama, biasanya orang pada fase ini akan menganggap Tuhan tidak menjawab 
doanya dan berhenti berdoa, ngambek, kecewa, hilang iman.

Pada fase ini seseorang sedemikian terobsesi dengan dirinya, bukan kepada 
Tuhan. 
Yang penting adalah bagaimana Tuhan bisa memuaskan diri, bukannya diri 
memuliakan Tuhan. Dan karena begitu sibuknya berdoa sampai-sampai tidak punya 
waktu untuk mendengar jawaban doa.

Siapa bilang Tuhan tidak menjawab doa-doa para pendoa pada fase ini? Bukankah 
Dia yang memerintahkan manusia untuk berdoa kepadaNya dan berjanji untuk 
memenuhi setiap permintaan kita dengan cara terbaik? Tuhan menjawab doa Habakuk 
sekalipun dinaikkan dengan sikap yang tidak benar (Hab. 1:5-11). Demikian pula 
dengan doa-doa yang kita naikkan. Hanya saja seperti Habakuk (Hab. 1:12-17), 
kita sering tidak siap untuk menerima jawaban doa dari Tuhan karena tidak 
seperti yang kita mau. Argumentasi dan keberatan atas jawaban doa Tuhan yang 
kita naikkan ke langit seringkali mengabaikan kasih sayang, kemahatahuan, dan 
kedaulatan Tuhan atas hidup kita. Mata jasmani dan rohani kita jadi buta untuk 
sesuatu yang jauh lebih baik dan mulia yang Tuhan janjikan bagi setiap anakNya.

Jika kehidupan doa Anda berada pada fase ini, tidak apa-apa! Ini baru awal 
perjalanan doa Anda. Jangan berhenti! Lanjutkan ke fase berikutnya!


Fase II: Minta - Dengar (Habakuk 1:12-2:20)
“Aku mau berdiri di tempat pengintaianku dan berdiri tegak di menara, aku mau 
meninjau dan menantikan apa yang akan difirmankanNya kepadaku, dan apa yang 
akan 
dijawabNya atas pengaduanku.” (Hab. 2:1)

Orang yang mau mendengar orang lain adalah lebih bijak daripada orang yang 
hanya 
mau didengar. Pernahkah Anda mempunyai pengalaman memiliki seorang teman yang 
suka berbicara tetapi jarang mau mendengar? Setiap kali bertemu dia bercerita 
tentang dirinya dan bahkan meminta pertolongan kita, namun pada gilirannya kita 
berbagi rasa atau meminta pertolongan dia mengelak dengan seribu satu macam 
alasan. Menyebalkan, bukan? Namun seorang teman yang mau mendengar keluh kesah 
dan pergumulan kita biasa kita sebut sebagai sahabat. Tuhan sudah menjadi 
sahabat terbaik buat kita. Ia mendengar setiap doa dan menjawab sesuai dengan 
apa yang Ia anggap terbaik (dan memang itulah yang terbaik). Tidak pernah 
terlalu cepat dan terlambat. Segala sesuatu indah pada waktu yang tepat, 
waktuNya. Namun apakah kita sudah menjadi sahabat Tuhan, yang selalu rindu 
mendengar perkataan dan pernyataan kehendakNya, yaitu isi hati Tuhan?

Pendoa pada fase kedua ini sudah berhasil melepaskan fokus dari permintaan yang 
bersifat antroposentris. Fokusnya kini adalah jawaban doa. Nabi Habakuk membuat 
sebuah langkah iman untuk memindahkan fokusnya dari permintaan kepada jawaban 
doa. “Aku mau berdiri di tempat pengintaianku dan berdiri tegak di menara ...” 
Berdiri di menara berarti berada di posisi yang lebih tinggi daripada permukaan 
bumi. Dari sana kita bisa melihat segala sesuatu lebih jelas. Para penjaga 
malam 
ditempatkan di menara untuk mengetahui apa yang terjadi di bawah sana sekalipun 
di tempat yang jauh. Seperti seorang penjaga yang menanti utusan yang kembali 
membawa berita, demikianlah pendoa pada fase ini berdoa dan menanti jawaban 
doa. 
Ia tidak menyibukkan diri dengan apa yang dimintanya tetapi “menantikan apa 
yang 
akan difirmankanNya” dan “apa yang akan dijawabNya” atas segala pengaduan dan 
permintaan (Hab. 2:1).

Pada fase ini seseorang harus mengembangkan kepekaan mendengar jawaban doa dan 
seni menunggu. Menunggu memang tidak enak. Tetapi menunggu menghindar-kan kita 
dari tindakan buru-buru yang justru merusak segalanya.

Seorang ibu yang sedang panik karena anaknya tiba-tiba kejang, segera menelepon 
dokter terdekat dan dengan nafas terengah berkata: “Dokter, dokter, cepat 
datang 
ke rumah saya, anak saya kejang-kejang. Cepat dokter, sekarang juga, cepat, 
cepat!!!” Lalu gagang telepon itupun ditutup. Sang dokter yang baru saja hendak 
naik ke tempat tidurnya itu segera mengemasi peralatan dan memasukkannya ke 
dalam tas seperti biasanya. Baru terpikir olehnya, “Siapa tadi yang menelepon 
saya?” Tidak lama kemudian telepon kembali berdering, “Dokter, kenapa belum 
berangkat?” “Sebentar, siapa nama Anda?” jawab sang dokter. “Saya ibu Adeline! 
Cepat dok, cepat berangkat ya? Sekarang!” “Sebentar, alamat Anda ...” (telepon 
terputus). Sang dokter segera membuka buku teleponnya untuk mencari nomor 
telepon dan ia menemukan. Segera sang dokter menelepon ibu Adeline. Namun pada 
waktu yang sama, ibu Adeline juga menelepon sang dokter. Akibatnya, setelah 
hampir setengah jam mereka saling menelepon dan tidak pernah tersambung, 
sesuatu 
yang mengenaskan terjadi. Sang anak tidak tertolong lagi. “Halo, ibu Adeline, 
ini saya, dokter Marvin. Saya mau tanya, alamat Anda di mana?” “Dia sudah 
meninggal, Dok!”
Menanti jawaban Tuhan lebih baik daripada bertindak tergesa-gesa. Tuhan tidak 
pernah terlalu cepat dan terlambat. Percayalah kepadaNya!

Habakuk belajar percaya kepada Tuhan. Ia menanti jawaban atas segala doanya. 
Dan 
Tuhan (seperti pada fase sebelumnya) tetap menjawab doa yang dinaikkan. Jawaban 
Tuhan tidak pernah berubah karena sikap manusia yang berubah. Jawaban Tuhan 
bersifat progresif tapi tidak pernah berkontradiksi. Rencana Tuhan tidak pernah 
berubah hanya karena kita berdoa. Kalau pada pasal pertama kitab Habakuk Allah 
menyatakan bahwa Ia sedang menghukum bangsa Israel dengan membangkitkan bangsa 
Kasdim, maka pada pasal kedua Allah menyatakan bahwa bangsa Kasdim pun akan 
menerima hukuman atas kesombongan dan keangkuhannya. Menerima jawaban pertama 
membuat nabi Habakuk bingung (Hab. 1:12). Tetapi jawaban berikutnya 
menentramkan 
hati. Jawaban demi jawaban doa yang progresif, yang membentuk kerangka pikir 
kita tentang Allah dan karyaNya akan diterima ketika kita belajar menyerahkan 
semuanya kepada Tuhan, menanti jawaban Tuhan, menanti Tuhan bekerja. Pasal 
kedua 
ditutup dengan kesimpulan yang luar biasa: “Tetapi TUHAN ada di dalam baitNya 
yang kudus” (Hab. 2:20a). Melalui kalimat ini nabi Habakuk mengekspresikan 
imannya kepada Allah YAHWEH,

Allah yang selalu setia dalam menepati janjiNya. Dia adalah Allah yang selalu 
bertahta atas segala sesuatu, termasuk segala kejadian di bumi, termasuk juga 
pernak-pernik kehidupan kita. Mengenal Allah yang demikian, Habakuk menyerukan: 
“Berdiam dirilah di hadapanNya, ya segenap bumi!” Sudahkah Anda mendapatkan 
rahasia besar nan luar biasa ini? Jika kehidupan doa Anda berada pada fase ini, 
tidak apa-apa! Jangan berhenti! Lanjutkan ke fase berikutnya!


Fase III: Minta - Dengar - Beriman (Habakuk 3)
“Sekalipun pohon ara tidak berbunga, pohon anggur tidak berbuah, hasil pohon 
zaitun mengecewakan, sekalipun ladang-ladang tidak menghasilkan bahan makanan 
... namun aku bersorak-sorak di dalam Tuhan, beria-ria di dalam Allah yang 
menyelamatkan aku. ALLAH Tuhanku itu kekuatanku ...” (Hab. 3:17-19)

Apakah Anda melihat perubahan nada dan suasana dalam doa nabi Habakuk di pasal 
3 
ini? Apa yang berubah di sini? Apakah bangsa Israel dilepaskan dari tangan 
orang 
Kasdim? Apakah Allah berubah? Apakah seluruh pertanyaan nabi Habakuk —Berapa 
lama lagi, TUHAN?— terjawab? Tidak! Segala yang ada di luar diri nabi Habakuk 
tidak berubah. Yang berubah adalah yang ada di dalam diri sang nabi. Dan inilah 
doa yang memberi kemenangan dan pertumbuhan rohani. Inilah perubahan yang 
sejati, yang esensial, dan bernilai kekal. Dari mengikut diri menjadi mengikut 
Tuhan. Dari hidup untuk diri sendiri menjadi hidup untuk Tuhan. Bukankah 
perubahan ini yang berdampak di dalam kekekalan?

Pada fase ini pendoa tidak berhenti meminta dan mendengar. Meminta dan 
mendengar 
adalah unsur yang penting dalam sebuah doa, hanya saja meminta dan mendengar 
bukan lagi menjadi fokus doa. Fokus pendoa pada fase ini adalah diri Allah 
sendiri. Ia akan menganggap pengenalannya akan Allah secara pribadi jauh lebih 
penting daripada pemberian atau jawaban doa. Paulus pernah berkata: “Yang 
kukehendaki ialah mengenal Dia dan kuasa kebangkitanNya dan persekutuan dalam 
penderitaanNya, di mana aku menjadi serupa dengan Dia dalam kematianNya ...” 
(Flp. 3:10). Doa para pendoa pada fase ini akan dipenuhi dengan puji-pujian 
yang 
tulus (tidak bermulut manis yang manipulatif) dan penyerahan total kepada 
kehendak Allah (“Biarlahkehendak Tuhan yang jadi”). Perhatikan pujian dan 
penyerahan diri nabi Habakuk dalam pasal 3 ini! Perhatikan pula pengenalannya 
akan Allah yang telah menyatakan diri melalui segenap perbuatanNya dalam 
sejarah 
peradaban manusia!

Setelah mengalami peningkatan dalam pengenalan pribadinya akan Allah (pribadi, 
sifat, dan karyaNya) ia tidak lagi menjadi kuatir akan apapun juga, termasuk 
hari depan. Sekalipun masih tebersit ketakutan dan ketidakmengertian secara 
manusiawi, namun imannya kepada TUHAN memberinya kekuatan untuk mampu “berjejak 
di bukit-bukit” batu kehidupannya.

Apakah pada fase ini sang pendoa akan berhenti meminta sesuatu melalui doanya 
karena sudah menyerahkan semuanya kepada Tuhan? Tidak! Lalu apa bedanya? Ia 
tetap meminta tetapi tidak sembarangan meminta. Ia tahu apa yang seharusnya 
diminta, yang terpenting, yang esensial, yang sesuai dengan kehendak Tuhan. 
Inilah kunci kuasa doa! Doa yang PASTI dikabulkan adalah doa yang sesuai dengan 
kehendak Tuhan, bukan doa yang memanipulasi Tuhan untuk kepentingan diri. Tuhan 
Yesus sendiri menyibakkan rahasia kuasa doa ini pada malam sebelum Ia 
disalibkan: “Jikalau kamu tinggal di dalam Aku dan firmanKu tinggal di dalam 
kamu, mintalah apa saja yang kamu kehendaki, dankamu akan menerimanya. Dalam 
hal 
inilah BapaKu dipermuliakan, yaitu jika kamu berbuah banyak ... Sampai sekarang 
kamu belum meminta sesuatupun dalam namaKu. Mintalah maka kamu akan menerima, 
supaya penuhlah sukacitamu” (Yoh. 15:7-8, 24). Yakobus menulis: “Kamu tidak 
memperoleh apa-apa, karena kamu tidak berdoa. Atau kamu berdoa juga, tetapi 
kamu 
tidak menerima apa-apa, karena kamu salah berdoa, sebab yang kamu minta itu 
hendak kamu habiskan untuk memuaskan hawa nafsumu” (Yak. 4:2b-3).

Di tengah pergumulan dan masalah hidupnya pendoa pada fase ini akan menuntut 
diri untuk mengenal Allah dan kehendakNya secara pribadi (dengan Alkitab 
sebagai 
sarana). Ia akan semakin rajin berdoa karena Tuhan pasti menjawab setiap doa 
yang dipanjatkan. Ia tidak takut salah meminta karena ia tahu bahwa Tuhan tahu 
ia sedang berada dalam proses belajar mengenal kehendakNya. Dan Tuhan pasti 
menjawab sesuai dengan kehendakNya, bukan kehendak diri. Dalam sikap penuh iman 
dan sedia untuk taat kepada Tuhan seperti inilah seseorang bertumbuh dalam 
pengenalan akan Tuhan dan mengalami kemenangan demi kemenangan dalam hidupnya.

Jangan teladani "Doa Minta Jodoh" di atas, tapi maukah Anda lebih rajin berdoa 
untuk masa depan Anda dengan sikap yang benar? Bersediakah Anda menaklukkan 
diri 
di bawah tangan Tuhan yang mengasihi Anda? Siapkah Anda melihat tangan Tuhan 
bekerja leluasa dalam hidup Anda? (Yuzo Adhinarta)

"Doa orang yang benar, bila dengan yakin didoakan, sangat besar kuasanya." 
(Yak. 
5:16)
 
 Salam

Maxwel Kapitan

<<send from BerryBerry Pinjaman, Pulsa Baru Minjam dan sinyal timbul tenggelam, 
meski dekat BTS TELKOMSEL>> 


Kirim email ke