Setelah Uza mati karena memegang Tabut Tuhan yang tergelincir, Daud merasa 
sangat ketakutan. Suatu perasaan wajar karena ia berpikir jangan-jangan ia 
sendiri juga akan mati seperti Uza. Maka ia memutuskan untuk berhenti melayani 
Tuhan. Ia cuti untuk sementara waktu. Tapi itu bahasa halusnya. Bahasa kasarnya 
dia ngambek dengan TUHAN. Ia tidak mau peduli lagi dengan apapun mengenai 
pemindahan Tabut TUHAN. 

Pada waktu itu Daud menjadi takut kepada TUHAN, lalu katanya: "Bagaimana tabut 
TUHAN itu dapat sampai kepadaku?" Sebab itu Daud tidak mau memindahkan tabut 
TUHAN itu ke tempatnya, ke kota Daud, tetapi Daud menyimpang dan membawanya ke 
rumah Obed-Edom, orang Gat itu.

Betapa banyak orang Kristen seringkali merajuk dan ngambek dengan tidak lagi 
mau 
melayani karena persoalan atau musibah datang. Mereka mundur dan apatis. Tidak 
lagi mau memikirkan pelayanan Tuhan apalagi mengambil bagian dalam pelayanan. 
Mereka minta cuti  dan kalau bisa cuti panjang. Katanya istirahat dulu, tapi 
dalam hati tidak akan lagi melayani. Untung saja Tuhan baik dan tidak 
membiarkan 
jantung mereka cuti juga berdenyut. Sungguh Tuhan maha pengasih dan sangat 
penyayang sehingga DIA membiarkan umatNya yang mengalami persoalan itu bisa 
duduk dan berbaring sambil merenungkan masalah yang dialami dan mengambil 
hikmah 
dari sana.

 
Tuhan membiarkan Daud selama tiga bulan lamanya dalam keadaan terombang ambing 
dan perasaan yang campur aduk. Sampai kemudian Daud melihat bahwa kemarahannya, 
kesedihannya dan semua perasaannya itu tidak berpengaruh terhadap berkat yang 
Tuhan berikan bagi mereka yang melayani DIA. Meski Daud cuti tapi Tuhan tidak 
pernah cuti untuk membalaskan semua perbuatan baik umatNYA. Dia memberkati 
keluarga Obed Edom yang menerima dan memelihara tabut Tuhan itu di dalam 
rumahnya.

Tiga bulan lamanya tabut Tuhan itu tinggal di rumah Obed-Edom, orang Gat itu, 
dan TUHAN memberkati Obed-Edom dan seisi rumahnya. Diberitahukanlah kepada raja 
Daud, demikian: "TUHAN memberkati seisi rumah Obed-Edom dan segala yang ada 
padanya oleh karena tabut Allah itu." Lalu Daud pergi mengangkut tabut Allah 
itu 
dari rumah Obed-Edom ke kota Daud dengan sukacita.
Apabila pengangkat-pengangkat tabut TUHAN itu melangkah maju enam langkah, maka 
ia mengorbankan seekor lembu dan seekor anak lembu gemukan. Dan Daud 
menari-nari 
di hadapan TUHAN dengan sekuat tenaga; ia berbaju efod dari kain lenan. Daud 
dan 
seluruh orang Israel mengangkut tabut TUHAN itu dengan diiringi sorak dan bunyi 
sangkakala.

Semua perasaan Daud yang tadinya campur aduk dengan kesedihan hati bahkan marah 
kepada Tuhan berubah. Ia berpikir bahwa ia tidak harus terus-terusan dalam 
kondisi itu. Ia mesti bangkit dan melakukan lagi apa yang tadinya ia lakukan. 
Jika ia mau berkat Tuhan datang kepadanya maka ia harus bangkit, melupakan apa 
yang dibelakang dan berlari-lari pada hadiah yang Tuhan sudah sediakan. Daud 
bisa menangani musibah dengan benar bagaimana dengan anda? (Hendra Kasenda)
  Salam

Maxwel Kapitan

<<send from BerryBerry Pinjaman, Pulsa Baru Minjam dan sinyal timbul tenggelam, 
meski dekat BTS TELKOMSEL>> 


Kirim email ke