the man behind the machine
Siapa yang tak kenal Valentino Rossi? Ia seorang pembalap motor asal Italia
yang sangat jagoan. Membalap serius sejak 1996, kini ia sudah meraih 3 kali
juara dunia balap motor mulai dari kelas 125 cc bersama Aprilia, 250 cc
bersama Aprilia, 500 cc bersama Honda, dan akhirnya menyabet pula 4 kali
juara dunia MotoGP (dua bersama tim Honda dan dua bersama tim Yamaha).
Pada tahun 2003, Rossi yang baru saja merebut juara dunia MotoGP
kedua kalinya bersama tim Honda, memutuskan keluar dan pindah ke tim Yamaha.
Suatu pilihan yang dianggap tidak logis, karena? Tim Honda adalah tim yang
sangat efisien dengan kualitas mesin motor terbaik. Kebalikan dengan hal
tersebut, tim Yamaha hampir tak pernah memenangi satu balapan pun karena
motor mereka memang kalah cepat dibandingkan tim-tim lainnya, apalagi Honda.
Mengapa Rossi pindah? Alasannya terdengar sangat spektakuler:
Ingin membuktikan bahwa mesin hebat bukan yang segalanya. Tetap dibutuhkan
manusia di belakang atau diatasnya, yang menjadi pengendara. Sebab, setelah
menjadi juara dunia, seluruh tim Honda (termasuk bos perusahaan dan
mekaniknya), mulai beranggapan bahwa siapapun pembalapnya, asal membalap
dengan mesin Honda, mereka pasti akan menang. Rossi ingin membuktikan bahwa
manusia tetap lebih penting dari mesin! Dan, impian tersebut tercapai. Dalam
lomba di Welkom, Afsel 2004, Rossi menjadi juara pertama bersama tim Yamaha.
Hal yang sama terbukti pada Perang Dunia II, dimana Jepang
sebetulnya mempunyai kualitas senjata yang kalah baik dibanding sekutu,
namun mempunyai semangat Bushido yang menyala seakan mampu menembus baja,
sehingga Amerika terpaksa mengeluarkan The Little Boy dan The Fat Man, dua
bom atom Uranium-235.
Bagaimana di perusahaan? Sama saja. Biar Pentium IV diapakai
untuk komputer karyawan, tetapi lebih sering digunakan untuk asah otak main
Minesweeper, Solitaire atau Chatting, the machine takkan menghasilkan suatu
karya kerja spektakuler apapun. PT Phapros di Semarang pada tahun 1995-an
kalau tak salah masih memakai mesin buatan jaman Oei Thiong Ham Concern yang
ternyata tetap produktif dan bersaing dengan jaman sekarang, karena
dijalankan oleh karyawan yang bermutu!
Tentu saja, cerita ini bukan berarti mau menafikan perkembangan
kecanggihan teknologi. Namun, ingin membuktikan ungkapan Man Behind the Gun,
seperti yang dilakukan oleh Rossi, bahwa yang lebih penting adalah manusia
yang mengoperasikan mesin yang digunakannya. Ketertinggalan kualitas
mesin/alat/sistem dengan perusahaan masih bisa dikejar dengan meningkatkan
kualitas manusianya. Apalagi, jika mempunyai kualitas mesin yang hebat plus
dengan kualitas manusianya yang juga hebat, lengkaplah
sudah..................
Salam menjadi Man Behind your Machine, Whatever its Like
regards
[EMAIL PROTECTED]
[Non-text portions of this message have been removed]
Yahoo! Groups Links
<*> To visit your group on the web, go to:
http://groups.yahoo.com/group/perbendaharaan-list/
<*> Your email settings:
Individual Email | Traditional
<*> To change settings online go to:
http://groups.yahoo.com/group/perbendaharaan-list/join
(Yahoo! ID required)
<*> To change settings via email:
mailto:[EMAIL PROTECTED]
mailto:[EMAIL PROTECTED]
<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
[EMAIL PROTECTED]
<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
http://docs.yahoo.com/info/terms/