Rekan-rekan Milis yang budiman,
   
  Berikut ini tulisan saya tentang Hari Ibu.
   
  Buat mereka yang belum mendapatkan edisi terbaru Menyiasati Rekonsiliasi, 
silakan cari dan donlot di alamat sebagai berikut  
http://groups.yahoo.com/group/perbendaharaan-list/files/  
   
  Semoga bermanfaat.
   
  Salam,
  Budisan
   
   
   
            MENCARI SOSOK IBU DI HARI IBU
   
   
  Anak saya yang baru akan menginjak usia dewasa pada tanggal 22 Desember 2006 
lalu bertanya kepada saya, mengapa kalau Hari Ibu ada tetapi Hari Bapak tidak 
ada?   Mendengar pertanyaan anak saya tersebut, saya tersenyum.  Dalam hati 
saya teringat ketika pertanyaan yang sama juga pernah ada di benak saya  ketika 
usia saya kurang lebih sama dengan usianya. Lalu, untuk sekedar memuaskan 
keingintahuan anak saya tersebut, saya memberikan penjelasan sekenanya yang 
kira-kira dapat masuk ke dalam logika anak saya.  
   
  Waktu itu saya jelaskan kepada anak saya bahwa Hari Ibu sengaja 
dibuat/diadakan dan diperingati/dirayakan supaya kita sebagai warga Indonesia 
selalu ingat (jangan melupakan) jasa dan pengorbanan seorang Ibu yang sangat 
besar, terutama dalam melahirkan, mengasuh dan membesarkan anak-anaknya.  Satu 
hal yang perlu kita sadari, keberhasilan generasi muda untuk tampil menjadi 
pemimpin bangsa banyak tergantung pada sejauhmana keberhasilan Ibu dalam 
membesarkan, mengasuh dan mendidik anak-anaknya.  Mengingat peran Ibu yang 
demikian penting tersebut, setiap tanggal 22 Desember kita semua diingatkan 
untuk menghormatinya, mengindahkan pesan dan ucapannya, dan memberikan kado 
penghargaan kepadanya.
   
  “Lalu, mengapa Hari Bapak tidak diperingati?”, tanya anak saya.  Setelah 
berhenti sejenak untuk berpikir, lalu saya jelaskan sekenanya bahwa Hari Bapak 
tidak perlu diperingati karena memang tidak ada alasan atau kepentingan yang 
mendesak untuk memperingatinya. Maksud saya, kalau Hari Ibu itu diperingati 
karena ada kecenderungan masyarakat (termasuk sebagian para Ibu dan paling 
tidak pada saat itu) untuk melupakan peran Ibu yang sangat penting tersebut.  
Sedangkan peran Bapak nampaknya (paling tidak sampai saat sekarang ini) sama 
sekali tidak ada yang mempermasalahkannya, sehingga tidak perlu dibuat Hari 
Bapak untuk memperingatinya. Mendengar penjelasan saya tersebut, anak saya pun 
manggut-manggut.  
   
  Saya tidak tahu apakah anak saya dapat menerima sepenuhnya penjelasan saya.  
Tetapi yang pasti adalah saya telah berbohong kepadanya karena saya sendiri 
sebenarnya ragu apakah benar penjelasan yang telah saya sampaikan kepadanya.
   
  Saya memang pernah membaca bahwa pada tahun 1959 Presiden Soekarno menetapkan 
Hari Ibu sebagai hari nasional.  Tanggal 22 Desember dipilih karena hari itu 
bertepatan dengan diselenggarakannya Kongres Perempuan pertama pada tahun 1928 
di Yogyakarta.  Namun saya tidak tahu persis, dan saya juga tidak terlalu 
peduli, apa saja yang dibicarakan dalam pertemuan kaum perempuan pada saat itu. 
  Satu hal yang saat ini saya peduli adalah sosok Ibu macam apa sebenarnya yang 
kita butuhkan pada era sekarang ini?
   
  Ada tiga sosok Ibu yang akan saya tampilkan dalam tulisan ini, dan ketiganya 
mempunyai peran penting dalam proses pembangunan bangsa yang tidak bisa kita 
abaikan begitu saja.  Yang pertama adalah sosok Ibu Rumah Tangga yang saya 
percaya jumlahnya merupakan mayoritas di Indonesia.  Ibu Rumah Tangga sering 
digambarkan sebagai sosok Ibu yang mempunyai perhatian penuh pada anak-anak dan 
juga Sang Suami.  Ia mengabdikan hidupnya secara total kepada mereka.  Namun, 
ada pula sebagian dari kita yang mengkritiknya sebagai manusia yang terlalu 
“nrimo”.  Sama sekali tak terlintas dalam benaknya untuk beremansipasi, 
termasuk merambah ke dunia kerja yang selama ini biasa dilakukan oleh kaum 
lelaki.  Hidupnya bagai burung di dalam sangkar.  Ia sudah merasa dimuliakan 
apabila hidupnya dijamin aman, atau apalagi kalau sangkarnya terbuat dari emas.
   
  Sosok Ibu yang kedua adalah yang biasa kita kenal sebagai Wanita Karir, yakni 
wanita yang sehari-hari lebih sering menyibukkan diri dalam kegiatan profesi, 
baik di dalam maupun di luar pemerintahan. Wanita Karir pada umumnya mempunyai 
latar belakang pendidikan yang relatif lebih terpelajar dibandingkan dengan 
wanita yang cukup puas dengan predikat sebagai Ibu Rumah Tangga.  Ia juga 
dikenal sebaga wanita yang selalu berusaha untuk mematahkan mitos dunia kerja 
lelaki.  Namun, Wanita Karir juga tidak jarang menerima kritik sebagai manusia 
yang telah melawan kodratnya.  Demi ambisi pribadi ia rela membiarkan suami dan 
anak-anaknya dilayani dan dijaga oleh Pembantu Rumah Tangga. Dan barangkali 
yang paling membuat orang geram, demi karir dan jabatan yang akan diperolehnya 
ia rela memberikan kehormatan atau tubuhnya kepada Boss dan atasannya.
   
  Sosok Ibu berikutnya adalah Perempuan Aktivis. Meskipun ia telah bersuami dan 
bahkan mempunyai banyak anak, tetapi ia lebih suka menyebut dirinya sebagai 
perempuan.  Sosok Ibu Perempuan Aktivis ini sangat idealis dan kritis.  Ia 
selalu memposisikan dirinya dekat dengan rakyat melalui kegiatannya yang 
bertajuk pemberdayaan masyarakat. Sebagian besar waktu hidupnya memang 
dipersembahkan untuk memperbaiki nasib kaum perempuan yang tertindas dan 
teraniaya. Namun, sama halnya dengan Ibu Rumah Tangga dan Wanita Karir, 
Perempuan Aktivis pun tak luput dari sorotan kritik yang bisa membuat wajah 
mereka memerah menahan marah.  
   
  Sama dengan Wanita Karir, Perempuan Aktivis juga dikritik karena terlalu 
banyak melakukan kegiatan di luar rumah sehingga seringkali menelantarkan 
keharmonisan hubungan keluarga (suami, isteri dan anak-anak mereka) dalam rumah 
tangganya sendiri.  Selain itu, tidak jarang kegiatan demonstrasi yang konon 
mereka lakukan untuk memperjuangkan nasib kaum perempuan tersebut sebenarnya 
tidak lebih dari sekadar melaksanakan mandat atau pesan sponsor dari organisasi 
non-pemerintah internasional yang telah mengucurkan dananya kepada organisasi 
LSM tempat mereka bekerja. Teriakan perangnya yang ditujukan kepada pemerintah 
juga sebenarnya tidak lebih dari sekadar sinyal agar pemerintah meresponnya 
dengan memberikan bantuan proyek pemberdayaan masyarakat dimana ia menjadi 
bagian di dalamnya.  Atau siapa tahu, kegarangannya menyerang pemerintah akan 
berbuah sehingga ia ditawari posisi terhormat sebagai wakil rakyat. 
   
  Sebagai catatan, karakter ketiga sosok Ibu tersebut di atas memang sengaja 
saya tampilkan, baik dari sisi positip maupun dari sisi negatipnya.  Sisi 
terang maupun sisi gelapnya.  Maksud saya adalah sekadar untuk mengingatkan 
kita bahwa dalam kenyataan, manapun sosok Ibu yang kita pilih sebagai panutan, 
mereka semua adalah sosok manusia yang masing-masing memiliki kelebihan dan 
juga kekurangan.  Selain itu, dalam kenyataan pula, seringkali kita tidak bisa 
memilah/membedakan secara tegas ketiga sosok Ibu tersebut dengan menggunakan 
pisau/kacamata analisa.  Sebagai contoh, yang dimaksud sosok Wanita Karir atau 
juga Perempuan Aktivis bukanlah mereka yang sama sekali tidak pernah melakukan 
pekerjaan sebagai Ibu Rumah Tangga (memasak, mencuci pakaian, membersihkan 
lantai rumah, dan seterusnya).  Demikian pula halnya dengan sosok Ibu Rumah 
Tangga, ia bukanlah seorang Ibu yang sama sekali tidak pernah melakukan 
aktivitas diluar rumah, misalnya dalam kegiatan organisasi PKK atau
 organisasi keagamaan.  Dengan demikian, kaca mata analisa sosok Ibu dalam hal 
ini hanya dapat digunakan untuk melihat sejauhmana ia lebih banyak memfokuskan 
perhatian pada pekerjaannya sebagai Ibu Rumah Tangga, Wanita Karir atau 
Perempuan Aktivis. 
   
  Kembali pada pertanyaan saya sebelumnya tentang sosok Ibu macam apa 
sebenarnya yang kita butuhkan pada era sekarang ini?    Dengan tegas saya ingin 
menyatakan bahwa di era sekarang ini kita membutuhkan ketiga sosok Ibu yang 
telah kita bicarakan.   Perbedaan pendapat di antara kelompok masyarakat selama 
ini tentang sosok Ibu yang menurut mereka layak dijadikan sebagai panutan lebih 
sering didasarkan pada stereotipe yang selama ini dianut oleh banyak orang 
bahwa pengakuan terhadap peran penting sosok Ibu yang satu berarti sama dengan 
penolakan terhadap peran penting sosok Ibu yang lain.  Hal lain yang pantas 
disesalkan, pendapat tentang sosok Ibu yang layak dijadikan sebagai panutan 
seringkali didasarkan pada ajaran atau kepercayaan yang diwariskan secara 
turun-temurun, dan bukan didasarkan pada sejauhmana etos kerja yang telah 
diperlihatkan dan pengabdian yang telah diberikan olehnya kepada keluarga dan 
juga masyarakat.
  Mengapa ketiga sosok Ibu tersebut kita butuhkan pada era sekarang ini?  
Sebenarnya jawabannya mirip dengan jawaban terhadap pertanyaan “Mengapa sektor 
pertanian dan sektor industri kita perlukan?”, yakni karena kita menginginkan 
supaya produktivitas nasional meningkat.  Seorang Ibu masih mempunyai sisa 
waktu yang cukup banyak setelah menyelesaikan pekerjaannya sebagai Ibu Rumah 
Tangga.  Ia bisa berdagang di dalam atau di luar rumah untuk menambah 
penghasilan suami yang barangkali kurang mencukupi.  Ia juga masih mempunyai 
sisa waktu untuk belajar memasak, merajut, merangkai bunga, dan lain-lain pada 
kegiatan PKK yang diselenggarakan tidak jauh dari rumahnya.  Saya percaya bahwa 
kegiatan-kegiatan positip yang dilakukan di luar waktu untuk mengurus suami dan 
anak-anaknya tersebut sangat bermanfaat baginya dan bagi keluarganya.
   
  Lalu, mengapa kita juga membutuhkan sosok Ibu Wanita Karir?  Seorang ibu yang 
dalam kolom pekerjaan di KTPnya tertulis sebagai PNS dan bukan sebagai Ibu 
Rumah Tangga tentu punya alasan lain lagi mengapa ia bekerja sebagai pegawai 
negeri, padahal suaminya juga telah bekerja dan kebetulan sama sebagai pegawai 
negeri.  Seorang Ibu Guru PNS pernah mengatakan kepada saya bahwa ia bekerja 
sebagai guru karena penghasilan suaminya kurang mencukupi kebutuhan 
keluarganya. Selain itu, sebagai Guru ia juga bisa belajar dari pengalamannya 
mengajar selama ini untuk diterapkan kepada anak-anaknya, dan juga kepada 
siswa-siswanya yang lain tahun ajaran berikutnya.   Sebagian pekerjaan rumahnya 
seperti mencuci dan menyeterika pakaian dikerjakan oleh pekerja rumah tangga 
yang ia gaji secara bulanan.  Dengan demikian, pilihan profesinya sebagai 
seorang Guru PNS telah memberikan banyak manfaat kepada dirinya, keluarganya, 
siswa-siswanya, dan juga kepada pekerja rumah tangganya.
   
  Alasan yang kurang lebih sama juga berlaku terhadap pertanyaan mengapa kita 
juga membutuhkan sosok Ibu Perempuan Aktivis.  Pada intinya mereka masih 
mempunyai sisa waktu yang cukup banyak, di luar kegiatan internal 
rumahtangganya, yang dapat dimanfaatkan untuk kepentingan dirinya, keluarganya 
dan juga masyarakat.
   
  Kembali lagi pada pertanyaan saya tentang sosok Ibu macam apa sebenarnya yang 
kita butuhkan pada era sekarang ini.   Setelah memperhatikan peran penting 
ketiga sosok Ibu tersebut diatas, saya berkesimpulan bahwa kita membutuhkan 
sosok Ibu yang mampu membuktikan bahwa semua kritik dan sorotan negatip yang 
ditujukan kepadanya adalah salah.  Kita membutuhkan sosok Ibu Rumah Tangga yang 
mampu bekerja di dalam dan juga di luar “sangkar”. Kita juga membutuhkan sosok 
Ibu Wanita Karir yang tidak menelantarkan anak-anak dan suaminya, dan tidak 
pula menggadaikan kehormatannya kepada atasannya. Dan kita juga membutuhkan 
sosok Ibu Perempuan Aktivis yang berdemonstrasi karena sesuai dengan tuntutan 
hati nurani. Bukan karena dibayar oleh organisasi LSM yang mensponsorinya, dan 
bukan pula karena ingin mendapatkan tempat terhormat sebagai wakil rakyat.
   
  Siapakah mereka?  Barangkali mereka adalah mirip dengan sosok-sosok Ibu 
“Bhineka Tunggal Ika” yang wajahnya dipampang di mingguan Tempo edisi minggu 
lalu.  Yang pasti, mereka bukanlah perempuan biasa.
      
  Bandung, 24 Desember 2006
   
  Budisan
  Jl. Riung Jembar No. 18
  Bandung
  (HP 08156256550)
   
   
   
          
   


 __________________________________________________
Do You Yahoo!?
Tired of spam?  Yahoo! Mail has the best spam protection around 
http://mail.yahoo.com 

[Non-text portions of this message have been removed]

Kirim email ke