Saya tertarik mengomentari bagian akhir dari nasehat yang dikemukakan "dari 
milis tetangga" lewat Bapak Yohan Gaol...

Dengan mengilustrasikan seorang anak kecil yang sedang sakit demam dan pilek 
lalu minta dibelikan es kepada orang tuanya adalah ibarat kita yang berdoa 
kepada Allah,
lalu kalimat akhir, " Kita sembuhkan dulu diri kita sendiri dari "pilek" dan 
"demam".... dan terus berdoa"

Saya tergelitik dengan ungkapan iseng saya sendiri, bagaimana bisa kita 
menyembuhkan dulu diri kita sendiri dari sakit demam dan pilek sementara kita 
hanyalah anak kecil yang tidak tahu apa-apa... bukankah anak kecil tidak bisa 
mengobati sendiri sakitnya..? Lalu bagaimana mungkin anak kecil sanggup menahan 
"nafsu" karena harus mengobati dulu sakit demam dan pileknya (yang pada 
kenyataannya tidak bisa dilakukannya) sementara tukang es sudah didepan mata? 
Bukankah sebagai anak kecil dia taunya hanya meminta, tanpa punya pemahaman 
yang baik tentang kondisinya? Bukankah adalah urusan orang tuanya mau 
membelikan atau tidak, yang anak kecil tau hanyalah meminta.. 
Satu hal lagi.. (ini ungkapan saya yang lebih iseng, hehehe..), masih dari 
ilustrasi tersebut, andaikanlah ada anak kecil ajaib bisa menyembuhkan pilek 
dan demamnya sendiri, lalu saat dia pilek dan demam, ada tukang es lewat, dia 
kepengen dan meminta dibelikan oleh orang tuanya. Tapi dia harus menyembuhkan 
dulu sakitnya tersebut... okelah dia sembuhkan dulu (pasti makan waktu to? gak 
mungkin seperti sulap.. bla, bla, bla seketika jadi), anggaplah keesokan 
harinya dia berhasil, ternyata esoknya (setelah dia sembuh) tukang es gak lewat 
padahal dia sudah pengen banget (karena dendam kemaren), atau malah setelah 
sembuh dan tukang es lewat dia sudah tidak kepengen es lagi tapi kepengen 
jagung bakar... nah lho...?? (padahal emang sebenernya tukang jagung bakar gak 
pernah lewat kok..) hehehe...

(ma'af Pak, beribu-ribu ma'af jangan dimasukin hati, saya hanya iseng becanda 
kok...) 

Menurut saya (ini baru gak becanda lagi..), marilah kita jalani kodrat kita 
sebagai manusia yang bisanya hanya "meminta" kepada Allah, bukan berarti kita 
tidak berusaha... Berusahalah sebaik mungkin sebisa dan sekuat apa yang bisa 
kita lakukan untuk mencapai apa yang diinginkan, lalu berdoa semoga Allah 
ridha, dan pasrah atas segala ketentuannya. Ya, memang 3 hal itulah tugas dan 
wilayah kewenangan kita, Usaha, Doa dan Pasrah. Hasil akhir? Allah yang 
menentukan. Yang mana Pasrah adalah memahami tanpa penolakan bahwa segala 
sesuatu berasal dari Allah dan akan kembali kepada-Nya..
Berdoalah kapanpun dan dimanapun... (tapi berdoalah yang baik-baik... karena 
Allah menyukai yang baik-baik atau segala sesuatu yang sesuai tutunan agama)
Meskipun adalah hal yang sah, wajar dan manusiawi jika apa yang kita minta 
adalah melulu urusan duniawi, ada baiknya kita belajar malu kepada Allah, 
karena disadari atau tidak, bahwa yang menyangkut urusan duniawi, Allah sudah 
memberi kita bayak sekali (tak terhingga) tanpa kita minta sekalipun. Jadi 
marilah kita berdoa sebanyak yang kita mau, tapi yaa minimal dengan komposisi 
doa 50% untuk kepentingan pribadi-duniawi, dan 50% untuk kepentingan 
umat-ukhrawi-kehidupan setelah kematian. Lebih baik lagi jika komposisinya 
40-60 atau sesuaikan dengan kebutuhan malu kita.
Sampai demikian kiranya pemahaman yang Allah ridha-kan kepada saya, mohon ma'af 
jika ada kesalahan dan mohon koreksinya.

Semoga Allah senantiasa me-ridha-i, amin.



yohan gaol <[EMAIL PROTECTED]> wrote:                                  Mari 
kita merenungkanya sejenak,
    
   Ketika manusia berdo'a, "Ya Allah ambillah kesombonganku dariku." 
 Allah berkata, "Tidak. Bukan Aku yang mengambil, tapi kau yang harus 
 menyerahkannya." 
 
 Ketika manusia berdo'a, "Ya Allah sempurnakanlah kekurangan anakku yang 
cacat." 
 Allah berkata, "Tidak. Jiwanya telah sempurna, tubuhnya hanyalah sementara." 
 
 Ketika manusia berdo'a, "Ya Allah beri aku kesabaran." 
 Allah berkata, "Tidak. Kesabaran didapat dari ketabahan dalam 
 menghadapi cobaan, tidak diberikan, kau harus meraihnya sendiri." 
 
 Ketika manusia berdo'a, "Ya Allah beri aku kebahagiaan." 
 Allah berkata, "Tidak. Kuberi keberkahan, kebahagiaan tergantung 
 kepadamu sendiri untuk menghargai keberkahan itu." 
 
 Ketika manusia berdo'a, "Ya Allah jauhkan aku dari kesusahan." 
 Allah berkata, "Tidak. Penderitaan menjauhkanmu dari jerat duniawi dan 
 mendekatkanmu pada-Ku." 
 
 Ketika manusia berdo'a, "Ya Allah beri aku segala hal yang menjadikan hidup 
ini nikmat." 
 Allah berkata, "Tidak. Aku beri kau kehidupan supaya kau menikmati segala 
hal." 
 
 Ketika manusia berdo'a, "Ya Allah bantu aku MENCINTAI orang lain, 
 Sebesar cinta-Mu padaku. 
 Allah berkata... "Akhirnya kau mengerti .!!" 
 
 Kadang kala kita berpikir bahwa Allah tidak adil, kita telah susah 
 payah memanjatkan doa, meminta dan berusaha, pagi-siang-malam, tapi tak ada 
hasilnya. Kita mengharapkan diberi pekerjaan, puluhan-bahkan ratusan 
 lamaran telah kita kirimkan tak ada jawaban sama sekali, sementara orang lain 
 dengan mudahnya mendapatkan pekerjaan. Kita sudah bekerja keras dalam 
 pekerjaan mengharapkan jabatan, tapi justru orang lain yang 
mendapatkannya-tanpa susah payah. 
 Kita mengharapkan diberi pasangan hidup yang baik dan sesuai, berakhir 
 dengan penolakkan dan kegagalan, orang lain dengan mudah berganti 
 pasangan. 
 Kita menginginkan harta yang berkecukupan, namun kebutuhanlah yang 
 terus meningkat. Coba kita bayangkan diri kita seperti anak kecil yang sedang 
 demam dan pilek lalu kita melihat tukang es. Kita yang sedang panas 
 badannya merasa haus dan merasa dengan minum es dapat mengobati rasa demam 
(maklum anak kecil). Lalu kita meminta pada orang tua kita (seperti kita berdoa 
memohon pada Allah) dan merengek agar dibelikan es. Orangtua kita tentu lebih 
tahu kalau es dapat memperparah penyakit kita. Tentu dengan segala dalih kita 
tidak dibelikan es. Orangtua kita tentu ingin kita sembuh dulu 
 baru boleh minum es yang lezat itu. Begitu pula dengan Allah, segala yang 
 kita minta Allah tahu apa yang paling baik bagi kita. Mungkin tidak sekarang, 
atau tidak di dunia ini Allah mengabulkannya. Karena Allah tahu yang terbaik 
yang kita tidak tahu. 
 Kita sembuhkan dulu diri kita sendiri dari "pilek" dan "demam".... dan terus 
berdoa
 
 ---------------------------------
 TV dinner still cooling?
 Check out "Tonight's Picks" on Yahoo! TV.
 
 [Non-text portions of this message have been removed]
 
 
     
                       


# begitu dekat, tapi tak terjangkau #
# begitu nyata, tapi tak terlihat mata #
# begitu rindu aku #

 
---------------------------------
Never miss an email again!
Yahoo! Toolbar alerts you the instant new Mail arrives. Check it out.

[Non-text portions of this message have been removed]

Kirim email ke