Nice grab mbak :) tapi kayaknya ada tuh yang salah memahami (rancu antara pengandaian anak dengan orang tua seperti Tuhan dan ciptaanNya. jadinya dicampur adukkan anak-orang tua-Tuhan, hehehe. pantes tak woco bolak balik gak mudeng)
cheers and have a nice day... ----- Original Message ----- From: Marlina Rus Ananti To: [email protected] Sent: Wednesday, March 07, 2007 8:34 AM Subject: Balasan: Re: [Perbendaharaan List] Ketika Allah bilang TIDAK (dari Milis Tetangga) Ketika manusia A bilang Allah berkata TIDAK ketika manusia B berdoa (meminta sesuatu kepadaNya), manusia A tidak bermaksud agar manusia B berhenti berdoa. Manusia A hanya berharap agar, selain berdoa manusia B juga bekerja keras untuk mendapatkan apa yang diinginkannya. Jangan sekali-kali mengantungkan hanya pada doa (minta) untuk mendapatkan apa yang kita inginkan. Pesan manusia A lainnya, agar jangan sekali-kali kita menyalahkan kepadaNya ataupun putus asa apabila kita gagal mendapatkan apa yang kita inginkan. Berpikir dan berbuatlah sesuatu yang positip ketika ternyata doa kita tidak/belum dikabulkanNya. Dalam hal ini saya lebih melihatnya sebagai pesan positip dari manusia (A) kepada manusia lainnya (B). Salam, Marlina iqbal muhammad <[EMAIL PROTECTED]> wrote: Saya tertarik mengomentari bagian akhir dari nasehat yang dikemukakan "dari milis tetangga" lewat Bapak Yohan Gaol... Dengan mengilustrasikan seorang anak kecil yang sedang sakit demam dan pilek lalu minta dibelikan es kepada orang tuanya adalah ibarat kita yang berdoa kepada Allah, lalu kalimat akhir, " Kita sembuhkan dulu diri kita sendiri dari "pilek" dan "demam".... dan terus berdoa" Saya tergelitik dengan ungkapan iseng saya sendiri, bagaimana bisa kita menyembuhkan dulu diri kita sendiri dari sakit demam dan pilek sementara kita hanyalah anak kecil yang tidak tahu apa-apa... bukankah anak kecil tidak bisa mengobati sendiri sakitnya..? Lalu bagaimana mungkin anak kecil sanggup menahan "nafsu" karena harus mengobati dulu sakit demam dan pileknya (yang pada kenyataannya tidak bisa dilakukannya) sementara tukang es sudah didepan mata? Bukankah sebagai anak kecil dia taunya hanya meminta, tanpa punya pemahaman yang baik tentang kondisinya? Bukankah adalah urusan orang tuanya mau membelikan atau tidak, yang anak kecil tau hanyalah meminta.. Satu hal lagi.. (ini ungkapan saya yang lebih iseng, hehehe..), masih dari ilustrasi tersebut, andaikanlah ada anak kecil ajaib bisa menyembuhkan pilek dan demamnya sendiri, lalu saat dia pilek dan demam, ada tukang es lewat, dia kepengen dan meminta dibelikan oleh orang tuanya. Tapi dia harus menyembuhkan dulu sakitnya tersebut... okelah dia sembuhkan dulu (pasti makan waktu to? gak mungkin seperti sulap.. bla, bla, bla seketika jadi), anggaplah keesokan harinya dia berhasil, ternyata esoknya (setelah dia sembuh) tukang es gak lewat padahal dia sudah pengen banget (karena dendam kemaren), atau malah setelah sembuh dan tukang es lewat dia sudah tidak kepengen es lagi tapi kepengen jagung bakar... nah lho...?? (padahal emang sebenernya tukang jagung bakar gak pernah lewat kok..) hehehe... (ma'af Pak, beribu-ribu ma'af jangan dimasukin hati, saya hanya iseng becanda kok...) Menurut saya (ini baru gak becanda lagi..), marilah kita jalani kodrat kita sebagai manusia yang bisanya hanya "meminta" kepada Allah, bukan berarti kita tidak berusaha... Berusahalah sebaik mungkin sebisa dan sekuat apa yang bisa kita lakukan untuk mencapai apa yang diinginkan, lalu berdoa semoga Allah ridha, dan pasrah atas segala ketentuannya. Ya, memang 3 hal itulah tugas dan wilayah kewenangan kita, Usaha, Doa dan Pasrah. Hasil akhir? Allah yang menentukan. Yang mana Pasrah adalah memahami tanpa penolakan bahwa segala sesuatu berasal dari Allah dan akan kembali kepada-Nya.. Berdoalah kapanpun dan dimanapun... (tapi berdoalah yang baik-baik... karena Allah menyukai yang baik-baik atau segala sesuatu yang sesuai tutunan agama) Meskipun adalah hal yang sah, wajar dan manusiawi jika apa yang kita minta adalah melulu urusan duniawi, ada baiknya kita belajar malu kepada Allah, karena disadari atau tidak, bahwa yang menyangkut urusan duniawi, Allah sudah memberi kita bayak sekali (tak terhingga) tanpa kita minta sekalipun. Jadi marilah kita berdoa sebanyak yang kita mau, tapi yaa minimal dengan komposisi doa 50% untuk kepentingan pribadi-duniawi, dan 50% untuk kepentingan umat-ukhrawi-kehidupan setelah kematian. Lebih baik lagi jika komposisinya 40-60 atau sesuaikan dengan kebutuhan malu kita. Sampai demikian kiranya pemahaman yang Allah ridha-kan kepada saya, mohon ma'af jika ada kesalahan dan mohon koreksinya. Semoga Allah senantiasa me-ridha-i, amin. yohan gaol <[EMAIL PROTECTED]> wrote: Mari kita merenungkanya sejenak, Ketika manusia berdo'a, "Ya Allah ambillah kesombonganku dariku." Allah berkata, "Tidak. Bukan Aku yang mengambil, tapi kau yang harus menyerahkannya." Ketika manusia berdo'a, "Ya Allah sempurnakanlah kekurangan anakku yang cacat." Allah berkata, "Tidak. Jiwanya telah sempurna, tubuhnya hanyalah sementara." Ketika manusia berdo'a, "Ya Allah beri aku kesabaran." Allah berkata, "Tidak. Kesabaran didapat dari ketabahan dalam menghadapi cobaan, tidak diberikan, kau harus meraihnya sendiri." Ketika manusia berdo'a, "Ya Allah beri aku kebahagiaan." Allah berkata, "Tidak. Kuberi keberkahan, kebahagiaan tergantung kepadamu sendiri untuk menghargai keberkahan itu." Ketika manusia berdo'a, "Ya Allah jauhkan aku dari kesusahan." Allah berkata, "Tidak. Penderitaan menjauhkanmu dari jerat duniawi dan mendekatkanmu pada-Ku." Ketika manusia berdo'a, "Ya Allah beri aku segala hal yang menjadikan hidup ini nikmat." Allah berkata, "Tidak. Aku beri kau kehidupan supaya kau menikmati segala hal." Ketika manusia berdo'a, "Ya Allah bantu aku MENCINTAI orang lain, Sebesar cinta-Mu padaku. Allah berkata... "Akhirnya kau mengerti .!!" Kadang kala kita berpikir bahwa Allah tidak adil, kita telah susah payah memanjatkan doa, meminta dan berusaha, pagi-siang-malam, tapi tak ada hasilnya. Kita mengharapkan diberi pekerjaan, puluhan-bahkan ratusan lamaran telah kita kirimkan tak ada jawaban sama sekali, sementara orang lain dengan mudahnya mendapatkan pekerjaan. Kita sudah bekerja keras dalam pekerjaan mengharapkan jabatan, tapi justru orang lain yang mendapatkannya-tanpa susah payah. Kita mengharapkan diberi pasangan hidup yang baik dan sesuai, berakhir dengan penolakkan dan kegagalan, orang lain dengan mudah berganti pasangan. Kita menginginkan harta yang berkecukupan, namun kebutuhanlah yang terus meningkat. Coba kita bayangkan diri kita seperti anak kecil yang sedang demam dan pilek lalu kita melihat tukang es. Kita yang sedang panas badannya merasa haus dan merasa dengan minum es dapat mengobati rasa demam (maklum anak kecil). Lalu kita meminta pada orang tua kita (seperti kita berdoa memohon pada Allah) dan merengek agar dibelikan es. Orangtua kita tentu lebih tahu kalau es dapat memperparah penyakit kita. Tentu dengan segala dalih kita tidak dibelikan es. Orangtua kita tentu ingin kita sembuh dulu baru boleh minum es yang lezat itu. Begitu pula dengan Allah, segala yang kita minta Allah tahu apa yang paling baik bagi kita. Mungkin tidak sekarang, atau tidak di dunia ini Allah mengabulkannya. Karena Allah tahu yang terbaik yang kita tidak tahu. Kita sembuhkan dulu diri kita sendiri dari "pilek" dan "demam".... dan terus berdoa --------------------------------- TV dinner still cooling? Check out "Tonight's Picks" on Yahoo! TV. [Non-text portions of this message have been removed] # begitu dekat, tapi tak terjangkau # # begitu nyata, tapi tak terlihat mata # # begitu rindu aku # --------------------------------- Never miss an email again! Yahoo! Toolbar alerts you the instant new Mail arrives. Check it out. [Non-text portions of this message have been removed] --------------------------------- Kunjungi halaman depan Yahoo! Indonesia yang baru! [Non-text portions of this message have been removed] [Non-text portions of this message have been removed]
