Saya setuju dengan usulan Mas Kobir. Balai Diklat Keuangan (BDK) yang sudah ada 
selama ini agar bisa menampung Lebih banyak mahasiswa, tidak hanya D1 aja tapi 
seharusnya D3 juga dibuka sehingga ada kesempatan Orang Daerah untuk Berkarir. 
Lebih ideal lagi memang tiap Kanwil di Luar Jawa harus ada BDK.

Jika tidak memungkinkan, paling tidak BDK yang ada saat ini melakukan Rekrutmen 
berdasarkan Perwakilan Kanwil dimana BDK tersebut berada, Misal: BDK Medan 
merekrut Perwakilan dari masing-masing Kanwil di Sumatera. BDK Balikpapan 
merekrut Perwakilan Kanwil dari seluruh Kalimantan, demikian juga dengan BDK 
Makasar, dan lainnya. Setelah lulus maka penempatan diserahkan ke Kanwil 
masing-masing dalam wilayah Kanwil tersebut.  Setelah lulus, penempatan dalam 
wilayah Kanwil tersebut, sampai mencapai Eselon 3 untuk dimutasikan secara 
Nasional.

Sekarang bukannya zamannya lagi sentralisasi. Kita harus bisa melihat seberapa 
Besar Potensi yang ada di Daerah, dan Daerahpun akan bisa membuktikan kalau 
mereka juga mampu berkarir di Departemen Keuangan.

Pada awalnya memang banyak membutuhkan biaya, tetapi kalau dibandingkan dengan 
Biaya SPPD dari tingkat Pelaksana s.d. Eselon 4 secara Nasional tiap tahunnya. 
Saya kira masih lebih hemat dan Praktis membangun BDK dan biaya 
penyelenggarannya.

Mungkin ini Bisa menjadi masukan yang berarti bagi Setditjen dalam rangka 
mencari Bentuk yang Ideal dari Pola Mutasi.

moch kobir <[EMAIL PROTECTED]> wrote:                                  1. 
Rekruitmen Pelaksana
 
 Andai mungkin, DJPBN perlu bekerja sama dengan BPPK agar penerimaan pegawai 
DJPBN dengan pendidikan SMU/D1/DIII dapat dilaksanakan per wilayah (regional) 
dengan jumlah yang sesuai kebutuhan. Pengumuman bisa secara nasional, tetapi 
apabila mereka mengambil tes di Kupang misalnya, maka mereka akan direncanakan 
penempatan di kantor instansi vertikal DJPBN di Kupang sampai mencapai masa 
pensiun, kecuali apabila pendidikan dan karir yang bersangkutan dapat mencapai 
karir eselon III, dimungkinkan mutasi nasional. Mereka yang berbakat boleh 
memilih melaju ke eselon III dengan konsekuensi mutasi nasional atau memilih 
tetap di wilayah Kupang tanpa ada kemungkinan promosi eselon III. Karena mutu 
pendidikan di Indonesia di wilayah Indonesia tidak selalu sama, para lulusan 
SMU Kupang terutama hanya bersaing antar lulusan SMU Kupang. Lulusan SMU di 
luar Kupang (dari Surabaya, misalnya) jika mereka melihat peluang di Kupang 
lebih memungkinkan, diperbolehkan bersaing dan test di Kupang
  jika berminat untuk hanya berkarir di wilayah Kupang dengan syarat tidak 
boleh meminta pindah ke daerah asal di masa mendatang karena ybs. telah memilih 
sejak awal dan mengorbankan kesempatan lulusan Kupang, kecuali jika pendidikan 
dan karir ybs dimungkinkan mencapai eselon III. Sebaliknya, jika lulusan SMU 
Kupang merasa mampu dan ingin bekerja di Jakarta, dia harus test dan bersaing 
dengan para lulusan SMU Jakarta dan lainnya yang berminat berkarir di Jakarta.
 
 Cara rekruitmen ini, diharapkan dapat memutus atau mengurangi masalah mutasi 
pelaksana seperti saat ini. Lebih adil, karena persaingan terjadi antar sesama 
SMU sewilayah yang mutunya sebanding, tetapi juga tidak menutup kemungkinan 
orang lain mencapai dan merencanakan cita-citanya meskipun dari daerah lain. 
 
 Metode dan cara test diserahkan sepenuhnya ke BPPK karena sistem test pegawai 
Depkeu/BPPK, menurut saya, sampai saat ini masih yang terbaik. Tempat 
pendidikan bisa tetap di Jakarta/Jurangmangu, tetapi penempatan setelah lulus 
merujuk tempat pendaftaran/test.
 
 Penempatan pegawai hasil pendidikan SMU/D1/DIII ini didasarkan pada hasil 
akhir nilai akademik (IPK). Meskipun nilai akademik bukan segalanya, tetapi ini 
adalah salah satu tolok ukur yang paling fair dan terukur (yang lain akan 
legowo) karena mereka berasal dari tempat pendidikan yang sama (bukan IPK UI 
ditandingkan dengan IPK ITB, tidak bisa dibandingkan). Untuk memberikan 
apresiasi pada yang berprestasi (10 persen terbaik), mereka diberi kesempatan 
untuk memilih penempatan di kantor yang mereka inginkan. Penghargaan ini, 
meskipun akademik terbaik tidak menjamin mereka pekerja terbaik atau yang 
tecerdas, setidaknya pengalaman awal akan memacu mereka untuk berbuat dan 
bekerja lebih baik di masa mendatang dan sebagai pelajaran yang lainnya. Do the 
best if we want something, bisa diajarkan pada tunas-tunas muda tersebut agar 
mereka tumbuh dan berkembang dengan baik sehingga dapat bermanfaat bagi bangsa 
dan negaranya, melalui DJPBN, rumah kita tercinta.
 
 Bagaimana untuk para pegawai lulusan SMA/DI/ DIII dan Sarjana yang sudah eksis 
saat ini? Saya lagi draft untuk tulisan berikutnya...
 
 From Perth with love,
 
 Kobir
 
 Send instant messages to your online friends http://au.messenger.yahoo.com 
 
 [Non-text portions of this message have been removed]
 
 
     
                       

       
---------------------------------
Kunjungi halaman depan Yahoo! Indonesia yang baru!

[Non-text portions of this message have been removed]

Kirim email ke