DJPBN nggak mau me reformasi diri bang amir ??? tidak juga paling
dinamis malah dibanding sejawatnya, DJPBN ini usianya muda, willing
nya untuk perubahan sangat kuat, bisa dilihat dari percobaan2 KPPN
Khusus, KPPN Fillial, dan usaha perbaikan layanan lainnya, hanya saja
ada oknum2 yg kayaknya kuat merasa khawatir bila berubah total mereka
nggak bisa melakukan hal2 yg " biasa mereka lakukan " ada oknum oknum
yg merasa pintar sekali di pusat dalam bikin keputusan tapi tak mau
denger pendapat person di front row... tapi nggak lama, setelah
komunikasi jalan, pengetahuan pegawai rada setara semua bisa
dilaksanakan, gw yakin..
1995  saya diketawain  temen kantor saat bilang bendaharawan mestinya
tinggal gesek kartu kredit aja yang disediakan KPPN, atau cukup tiga
orang aja peg KPPN di satu ruang Bank Operasional di daerah terpencil
yg nanganin pelayanan Kas Negara, sekarang semua mendekat ke arah
situ... semoga semua KPPN bisa niru sistem KPPN Khusus dengan dibantu
KPPN Fillial dan sistem lama yg sarat dengan kebocoran hendaknya mulai
kita tinggalkan...   

zamzam

--- In [email protected], amir syah <[EMAIL PROTECTED]>
wrote:
>
> Bank Acep, selamat ya pindah ke DJKN! Setidaknya ente udah selamat
dari DJPBN yang nggak pernah mau mereformasi diri. Tunjukin yang
terbaik di DJKN bahwa mantan DJPBN yang cabut adalah SDM yang
berkualitas:)
> 
> Acep Hadinata <[EMAIL PROTECTED]> wrote:          Pondasi
Menciptakan R&D 
> 
> Membaca wacana Bapak Budisan dan Mas Moudy, saya yang rada awam soal
R&D ingin ikut nimbrung curhat opini saya. Bapak Budisan sudah
memberikan wacana yang patut dikaji, mengenai R&D di Depkeu. Untuk
skala depkeu, kita sudah memiliki BKF, untuk internal DJPb kita sudah
memiliki pengembangan pegawai dan Dit. Sistem Perbendaharaan.
> 
> Yang saya lihat, pak Budisan `menerawang' ke sepuluh tahun silam di
negara yang relatif sudah maju. Contoh yang bagus pak, analoginya
mungkin bisa seperti ini : Sepuluh tahun yang lalu sudah seperti itu,
masak kita sepuluh tahun setelahnya tidak bisa meniru apa yang mereka
capai sampai saat itu (Koreksi kalau saya salah pak)
> 
> Jepang, negara yang sangat menjunjung tinggi R&D juga sepuluh tahun
yang lalu diberikan rekomendasi oleh Keindaren (lembaga riset) yang
menyarankan, untuk menciptakan iklim R&D yang mungkin akan merubah
Jepang menjadi lebih menarik dan atraktif untuk perusahaan-perusahaan
Multinasional. Untuk itu Jepang mendapatkan rekomendasi dari Keindaren
antara lain pertama: Meningkatkan dana untuk penelitian dan
menciptakan sistem yang mendukung R&D, kedua: Revitalisasi hubungan
diantara Industri, birokrasi dan akademis dan memperkuat segitiga
koalisi antara: univeritas, national research intitut (LIPI di
Indonesia) dan masyarakat akademis, dan ketiga: sumber daya manusia.
> 
> Saya setuju kita memiliki Divisi R&D di Departemen Keuangan. Yang
saya tahu Ditjen Dikti Depdiknas saja memiliki Balitbang Dikti yang
tahun 2005 memiliki dana sekitar 55 Milyar/tahun. Contoh lain,
Balitbang nakertrans, Depnakertrans juga memiliki dan yang cukup besar
setiap tahun. Harusnya kita tidak terjebak untuk membuat `wadah' baru
untuk mendukung R&D, tetapi memanfaatkan `wadah' lama dengaa
merevitalisasi peran yang dimiliki. Saya ambil contoh dengan STAN
Prodip Keuangan, menurut UU Sisdiknas tahun 2003 harus dihapuskan
karena sudah ada jurusan sejenis di universitas-universitas, dan wadah
satu-satunya penyelenggara pendidikan tinggi harus berada pada tangan
Ditjen Dikti Depdiknas. Kalau memang STAN Prodip jadi dihapus (Kecuali
Program Bea Cukai mungkin), dan sekolah-sekolah kedinasan lainnya di
bawah departemen maka STAN Prodip dan BPPK harus bisa merevitalisasi
peran untuk menjadi `centre of Excellence' yang lain misalnya R&D di
bidang keuangan negara.
> Hambatan-hambatan birokrasi yang mungkin timbul seandainya ingin
meneliti `perilaku' SDM-SDM dilingkungan Depkeu, harus bisa diatasi
oleh Biro/Bagian Organisasi dan Tata Laksana dan unit Biro/Bagian
Kepegawaian Departemen. Sinergi antara BKF, BPPK dan Bagian
Pengembangan Kepegawaian masing-masing eselon satu harus diperkuat
untuk menciptakan output-output riset yang `aplicable' buat
stakeholder di lingkungan keuangan negara. Malah kalau memungkinkan di
kanwil-kanwil harusnya ada Bidang R&D, karena mereka lebih dekat
jangkauannya dengan stakeholder keuangan negara. Saya lihat dan amati
teman-teman yang berada di BPPK rata-rata menjadi senior researcher di
lembaga riset, mereka tertarik untuk `get involve' karena mungkin
(cuma pendapat saya loh), dana yang disediakan lembaga riset swasta
itu besar, tidak memiliki hambatan birokratis dalam meniliti serta
dapat menterjemahkan ide-ide terbaik mereka dalam lingkup penelitian.
> 
> Kalau kepanjangan, mohon disorry…
> 
> Salam hangat,
> Adin – Somewhere at Gorontalo 
> 
> 
> ---------------------------------
> Ahhh...imagining that irresistible "new car" smell?
> Check outnew cars at Yahoo! Autos.
> 
> [Non-text portions of this message have been removed]
> 
> 
> 
> 
> 
> ---------------------------------
> Ahhh...imagining that irresistible "new car" smell?
> Check outnew cars at Yahoo! Autos.
> 
> [Non-text portions of this message have been removed]
> 
> 
> 
>          
> 
>        
> ---------------------------------
> Ahhh...imagining that irresistible "new car" smell?
>  Check outnew cars at Yahoo! Autos.
> 
> [Non-text portions of this message have been removed]
>


Kirim email ke