>Assalamualaikum Wr.Wb. Buat akang Lutfhie, salut euy atas tip dan trik na, hatur nuhun...tapi, kalau urusan melanggar lalin sih saya juga sering, cuma nggak ketahuan aja kali yah...
Buat Azhar, ane belum pernah berani lagi masuk dalam kota Makassar, kalo transit sih sering, tapi Pare's City one of the deepest memories I've ever had...Gak tahu, males aja masuk kota Makassar, takut ketemu di jalan kali yah he..3x, Buat Oka dan teman2 di seluruh penjuru mata angin...Kalao boleh saran, jangan ada dikotomi Prodip dan Non Prodip. Kita semua memiliki advantages dan disadvantages yang equal. Banyak dari teman2 saya yang bukan Non Prodip juga memiliki pengetahuan mendalam tentang Perbendaharaan. Kalo mereka lebih tahu kulit luarnya, wajar dong karena mereka dapatkan itu setelah jadi pegawai...Kalo kita kan lebih dulu tahu, setahun setelah lulus SMA kalo nggak salah...Mereka yang masuk lewat jalur Non Prodip juga banyak yang sudah berjuang untuk kuliah (mungkin dengan segala keterbatasan) dan ingin merubah nasib dan peruntungan...Disaat yang sama saat mereka bersusah payah mbayar kuliah yang terus2an naik, naik dan naik, eh mahasiswa prodip nggak bayar kuliah, gratis dan terima uang saku (yang terima uang saku, yang nggak, kan langsung II/C) Banyak juga dari prodip yang ndableg, tapi tidak sedikit yang 'future oriented framework' yang sangat ingin perubahan...Kita semua sejak awal (maaf) sejak keluar dari Bapak kita juga sudah berkompetisi, satu dibanding sejuta untuk mencapai sel telur dalam rahim ibunda kita...Semangat kompetisi itu yang mesti kita ambil...Kalao dalam skala kecil kita sudah membuat dikotomi seperti itu, takut dalam skala besar keterusan...Anda semua calon pemimpin negeri ini...one good example : Bu Ani, juga NON PRODIP (koreksi kalo saya salah), but one of her biggest vision is bring Ministry of Finance to be more transparent... Kita harus membagun sinergi, dengan siapa saja yang ingin berubah menuju kondisi lebih baik...Kita harus merangkul adik2 kita seperi Nurman (yang teman seangkatannya bilang sangat pendiam) tapi bisa memilih kata-kata yang cocok untuk mengungkapkan perasaan nya yang mungkin mewakili perasaan teman2 lainnya di seluruh nusantara... Kita harus mendengar kakak2 kita yang punya visi perubahan seperti Mas Khobir dan Moudy, dan meminta solusi serta saran konstruktif untuk memperbaiki kondisi yang ada... PLEASE....Jangan ada dikotomi diantara kita semua... Kebaikan biar Alloh SWT yang menilai, keburukan biar jadi masa lalu yang perlu diperbaiki...Ketika kita menuding orang lain dengan satu jari, empat jari yang lain menunjuk siempunya tangan... Satu buah lidi tidak berarti apa-apa untuk membersihkan sesuatu, tetapi seratus buah lidi yang diikat kuat dengan tali (ukhuwah) bisa membersihkan apa saja yang merintangi jalan... Mudah2an kita semua adalah seratus lidi dibandingkan hanya satu seprti yang saya sebutkan... Wassalamualaikum Wr.Wb. Salam Perubahan.... Adin-Somewhere at Gorontalo > --- In [email protected], "okalaksana" > <okalaksana@> wrote: > > > > Bedanya anak prodip dianggap lebih kuat dalam menghadapi cobaan dan > > lebih cerdas dalam menangani masalah pekerjaan. Sebenarnya dalam > > fikiran saya anak prodip adalah pahlawan perubahan. Sayang ide ini > > kurang tersosialisasikan malah sepertinya jadi termarginalkan. > > Bayangkan : Anak prodip dikumpulkan dari berbagai belahan bumi > > nusantara untuk didik menjadi pegawai treasury secara khusus. > Setelah > > selesai mereka disebar ke seluruh nusantara untuk memberikan > perubahan > > di kantornya, memberi masukan-masukan yang positif untuk perubahan > > kantor kita. Setelah selesai di satu kota untuk sebuah penyegaran > > mereka dipindah ke tempat lain, tempat yang memang memerlukan > > orang-orang pembaharu. Di kota-kota terpencil anak prodip > memberikan > > pencerahan mengenai teknologi informasi. Mereka memberi contoh > tentang > > pentingnya pendidikan pada masyarakat setempat. Banyak dari anak > > prodip melanjutkan sekolahnya melalui universitas terbuka. Dan tak > > jarang berhasil sampai pendidikan jenjang selanjutnya. Masyarakat > > setempat berharap anak-anak mereka bisa seperti anak-anak prodip > itu. > > Tak jarang ada yang menjadikan mereka menantu. Sehingga terjadi > > naturalisasi. Apalagi banyak dari mereka yang mempunyai pemahaman > > agama yang menakjubkan. Dzikir matsurat dan tilawah 1 juz perhari > > bukanlah beban, malah memberi mereka kekuatan. Dibanding dengan > > suasana kantor daerah yang tidak mempunyai prodip, kantor kita > relatif > > lebih profesional. Semua pekerjaan semakin efisien dilakukan. > Sehingga > > ekses negatifnya adalah banyaknya waktu luang. Namun anak prodip > tidak > > kehilangan akal. Yang suka olahraga membuat perkumpulan olahraga > untuk > > meningkatkan raganya (body), yang suka dengan hal-hal spiritualitas > > membuat pengajian atau halaqoh yang meningkatkan jiwanya(soul) , > yang > > suka hal-hal intelektual terus menyebarkan pemikiran-pemikirannya > > (mind). Terkadang yang menakjubkan hal itu bersatu dalam satu sosok > > anak prodip. Yang lebih menakjubkan , anak prodip ukhuwahnya kuat. > > Mungkin karena sudah lama bergaul di kampusnya. Walaupun mereka > > terpisah jarak, mereka tetap menjalin tali ukhuwah itu. Moto mereka > > adalah minimalnya adalah husnudzon (berprasangka baik), > > mudah-mudahanan bisa itsar(mendahulukan orang lain atas kepentingan > > sendiri). Yang dipusat berusaha memperjuangkan aspirasi teman- > teman di > > daerah. Yang di daerah memberikan masukan-masukan positip bagi > > teman-temannya di daerah. Yang di pusat berharap suatu saat > > teman-teman di daerah bisa menggantikan dirinya di pusat, > mendapatkan > > kesemapatan untuk menyerap ilmu sebanyak-banyaknya, dan yang di > daerah > > berharap teman -teman yang di pusat bisa merasakan kenikmatan > beramal > > di daerah. Komunikasi mereka yang intense satu sama lain membuat > > mereka saling mengenal (taaruf), dan juga saling mengerti (tafahum) > > yang pada akhirnya melahirkan sinergi (taawun) dan kegemaran > berbagi > > beban (takaful). Tahun demi tahun berganti, akhirnya dari anak > prodip > > itu ada yang dipercaya menjadi menteri, dan mereka didukung oleh > > anak-anak buahnya yang siap memberikan terbaik bagi negeri ini... > > > > Sekian : Happy End > > > > --- In [email protected], iqbal muhammad > > <iqbal_abil@> wrote: > > > > > > apa sih ya bedanya Pegawai DJPBN Prodip dgn Pegawai DJPBN Non > Prodip..? > > > padahal dalam hak dan kewajiban sama saja, tidak ada beda.. > > > tapi kenapa dalam mutasi selalu dibedakan..? > > > kalau hanya karena SEKOLAH GRATIS, okelah... tapi kan ada namanya > > masa ikatan dinas.. > > > Nah, sesudah masa ikatan dinas selesai, mestinya kan perlakuan > jadi > > sama, baik hak, kewajiban maupun mutasi. > > > Banyak sekali contoh yang bisa kita lihat, bahwa pegawai non > prodip, > > dari pertama diangkat pegawai (pelaksana), korpel, sampai jadi > kasie > > pun di daerah itu juga. > > > > > > ah gak taulah... lieur euy... > > > > > > > > > # begitu dekat, tapi tak terjangkau # > > > # begitu nyata, tapi tak terlihat mata # > > > # begitu rindu aku # > > > > > > > > > --------------------------------- > > > Ahhh...imagining that irresistible "new car" smell? > > > Check outnew cars at Yahoo! Autos. > > > > > > [Non-text portions of this message have been removed] > > > > > >
