Waduh pak arie terlalu mengeneralisir persoalan.
Berapa % yang akan pindah dari DJPBN Pegawai yang handal dan berapa % yang akan
tinggal.
Kita bisa buktikan bahwa pegawai setelah dikurangi yang pindah masih banyak
yang potensial yang mengabdi di DJPBN.
Hal ini bisa kita buktikan;
1. Berapa SDM kita lulusan Prodip,
2. Berapa SDM kita yang sudah S1,
3. Berapa SDM kita yang sudah S2
4. Berapa SDM kita yang akan menjadi S3 dan yang sudah S3
Sebenarnya namanya birokrasi itu adalah suatu sistem. bahwa segoblok2nya
pegawai kalau diberikan pelatihan pasti bisa mengerjakan apa saja.
Trus Umur (bukan menjadi Pembelaan) tetapi kita melihat perubahan yang sedang
berlangsung semuanya tidak boleh instan bung (ada tahapan-tahapan).
Misalnya jangan karena dion (mohon maaf) pindah MPN tidak jalan sepengetahuan
saya yang namanya aplikasi itu dibuat oleh tim, jadi bukan personal.
Sekarang Departemen Keuangan (menteri Keuangan) akan memperbaiki sistem
Renumerasi di Depkeu dan dimulai dari Bapepem, DJP, BC dan mungkin akan
menyusul Unit eselon I yang lain tetapi konsekuensinya kita harus bisa membuat
SOP yang dapat dijadikan dasar dalam pemberian TKT dan tentunya Pengurangan
jumlah Pegawai yang tidak produktif.
Jadi seharusnya kita yang masih setia di DJPBN darimanapun kita harus bangga
sambil mengharap semua unek-unek kita dapat dicarikan solusi.
Satu lagi kita jangan hanya melihat keatas tetapi kita harus melihat kebawah.
Misalnya Penghasilan depkeu (DJPBN) dibandingkan dengan penghasilan PNS sudah
3: 1) tapi kita jangan bandingakn penghasilan DJPBN Vs Pajak, BI, ataupun BUMN
(istilah saya mengucap syukur dalam segala hal)
Oke semoga bermanfaat
---------------------------------
Ahhh...imagining that irresistible "new car" smell?
Check outnew cars at Yahoo! Autos.
[Non-text portions of this message have been removed]