anang yang soleh, emang banyak temen itu asyik banget yaak, kita jd nggak stress, apalagi temen yg tulus seperti temen yang mau gendong kita saat kita patah kaki di atas gunung atau temen yang mau nungguin kita saat motor kita mogok kalo lagi touring atau temen yg mau dengerin kita marah2 dan ikut berantem kalo kita lagi on fire hihihi.. kayak temen2 dimilis ini ada yg pinter, ada yang katro, ada yang penuh kasih sayang, ada juga yang gila... asyik warna warni... coba kalo temen di sini putih semua, nggak ada warna lainnya jelas bosenin nih milis, atau bijaksana semua nggak ada yang meledak-ledak gaya anak muda, pasti gak asik lah, aku bersyukur aku nggak pernah beda bedain temen dari usia, pendidikan, latar belakang, profesi atau jabatan... kadang orang suka memagar dirinya dengan itu, lagian apaan sih mesti gitu, selama kita bisa ngasih senyuman ama orang, selama kita bisa membantu orang walopun cuma dgn rokok sebatang dan itu tulus hidup kita bakalan asyik selalu nang...,
zamzam the georgeus --- In [email protected], "anangsoleh" <[EMAIL PROTECTED]> wrote: > > HADIAH TERBAIK UNTUK DIRI SENDIRI > > Setiap orang pernah mengalami masa-masa sulit dalam kehidupan. Ada > masa sulit dalam berumah tangga, kehidupan karir, kesehatan, atau > kehidupan pribadi yang diguncang badai. Kebanyakan juga setuju kalau > masa-masa sulit ini bukanlah keadaan yang diinginkan. Sebagian orang > bahkan berdoa, agar sejarang mungkin digoda oleh keadaan-keadaan > sulit. Sebagian lagi yang dihinggapi oleh kemewahan hidup ala anak- > anak kecil, mau membuang jauh-jauh, atau lari sekencang-kencangnya > dari godaan hidup sulit. > > Akan tetapi, sekencang apapun kita menjauh dari kesulitan, ia tetap > akan menyentuh badan dan jiwa ini di waktu-waktu ketika ia harus > datang berkunjung. Rumus besi kehidupan seperti ini, memang berlaku > pada semua manusia, bahkan juga berlaku untuk seorang raja dan p! > enguasa yang paling berkuasa sekalipun. > > Sadar akan hal inilah, saya sering mendidik diri untuk ikhlas ketika > kesulitan datang berkunjung. Syukur-syukur bisa tersenyum memeluk > kesulitan. Tidak dibuat sakit dan frustrasi saja saya sudah sangat > bersyukur. Pelukan-pelukan kebijakan seperti inilah yang datang > ketika sang hidup sempat membanting saya dari sebuah ketinggian. > Sakit memang, tapi karena ia sudah saatnya datang berkunjung, dan > kita tidak punya pilihan lain terkecuali membukakan pintu rumah > kehidupan, maka seterpaksa apapun hanya keikhlasanlah satu-satunya > modal berguna dalam hal ini. > > Senyum penerimaan terhadap kesulitan memang terasa kecut di bibir. > Dan sebagaimana logam yang sedang dibuat menjadi patung indah, > kesulitan memang terasa seperti semprotan panasnya api mesin las, > dihajar oleh palu besar, kencangnya cubitan tang, menyakitkannya > goresan-goresan amplas kasar, atau malah tidak enaknya bau cat yang > menyelimuti selu! ruh badan patung logam. Semua tahu, kalau badan dan > jiwa ini kemudian akan menjadi 'patung logam' yang lebih indah dari > sebelumnya. Tetapi tetap saja ada sisa-sisa ketakutan - dan bahkan > mungkin trauma - yang membuat kita manusia menghindar dari kesulitan. > > Cuma selebar apapun goresan luka yang dibuat oleh kesulitan, ada > mahluk yang amat berguna dan amat dibutuhkan dalam pengalaman- > pengalaman menyakitkan ini, ia bernama sahabat. Tidak semua sahabat > fasih memberikan nasehat. Tetapi dengan kesediaannya untuk mendengar, > sinaran mata yang berisi empati, kesediaan untuk menjaga rahasia, > sahabat menjadi permata berlian yang amat berguna dalam keadaan- > keadaan ini. > > Di rumah saya memiliki seorang sahabat yang amat mengagumkan. Dari > segi pendidikan formal ia hanya tamatan SMU. Bahkan SMU tempat ia > bersekolah dulu sudah bubar, sebagai tanda ia bukanlah berasal dari > sekolah yang terlalu membanggakan. Namun nasehat serta keteladanan > hidupnya kadang mengagumkan. > > Di kantor saya memiliki sejumlah bawahan yang datang sama manisnya > baik ketika dipuji maupun setelah di! maki. Seorang tetangga > menelpon, mengirim SMS dan bahkan menyempatkan diri berkunjung ke > rumah. Tidak untuk memberikan ceramah, hanya untuk mendengar. Seorang > sahabat dekat yang memimpin sebuah raksasa teknologi informasi bahkan > mengatakan bangga menjadi sahabat saya. > > Ketika tulisan ini dibuat, seorang sahabat lama yang tinggal di > Surabaya menelepon, tanpa bermaksud menggurui ia mengutip kata-kata > indah Confucius : > 'Manusia salah itu biasa, tetapi menarik pelajaran dari kesalahan itu > baru luar biasa'. > > Apa yang mau saya tuturkan dengan semua ini, rupanya sahabat adalah > hadiah paling berharga yang bisa kita berikan pada diri kita sendiri. > Secara lebih khusus ketika kita ditimpa kesulitan yang menggunung. > Sehingga patut direnungkan, kalau kita perlu menabung perhatian, > empati, cinta buat para sahabat. Tidak untuk berdagang dengan > kehidupan. Dalam arti, memberi dengan harapan agar diberi kelak. > Melainkan, sebagaimana cerita dan pengalaman di atas, dalam dunia > persahabatan, dalam memberi kita sebenarnya sudah diberi. Bahkan, > setiap sahabat yang memberi perhatian dan empati pada sahabat > lainnya, ketika itu juga mengalami the joy of giving. Ketika itu juga > seperti ada beban di bahu yang berkurang jauh beratnya. > > Ada memang orang yang memiliki banyak sekali teman. Kemana-mana > namanya dipanggil orang. Cuman, sedikit diantara semua teman yang > banyak ini kemudian bisa menjadi sahabat. Bercermin dari kenyataan > inilah, maka saya lebih memusatkan diri untuk mencari dan membina > sahabat. Jumlahnya memang tidak akan pernah banyak. Bahkan ia lebih > sedikit dari jumlah jari tangan. Cuma sesedikit apapun jumlahnya, > sahabat tetap sejenis hadiah terbaik yang bisa kita bisa berikan buat > diri sendiri. > > Mobil mewah memang bisa membawa kita ke tempat jauh lengkap dengan > gengsinya. Rumah mewah memang bisa meningkatkan kenyamanan tinggal > sekaligus meningkatkan kelas. Ijazah lengkap dengan gelarnya yang > mentereng juga bisa meningkatkan percaya diri. Akan tetapi, baik > mobil mewah, rumah mewah maupun ijazah tidak bisa menghadirkan empati > yang menyentuh hati > > Di sebuah Sabtu pagi, seorang sahabat yang membaca harian Kompas yang > memberitakan bahwa saya mengundurkan diri dari jabatan presiden > direktur di sebuah kelompok usaha amat besar di negeri ini, langsung > menelepon saya dari tempat yang jauh. Ia berucap sederhana : 'saya > bangga jadi teman Anda'. Inilah hadiah terbaik yang bisa dihadiahkan > ke diri sendiri. Ia tidak dibungkus kado, ia juga tidak hanya datang > ketika hari raya atau ulang tahun. Ia justru lebih sering datang > ketika kita amat membutuhkannya. (Sumber: Hadiah Terbaik Untuk Diri > Sendiri oleh Gede Prama). > > ==Sekedar pengalih perhatian, daripada munyeng mikirin masa depan > yang anprediktabel di DJPBN tercinta==Salam atuk eks ponjay 95, bone > 95-00, pctn 2006. Terus Maju dan Tetaplah semangat!! >
