Teman dan temin, Kawan dan kawin,

Terima kasih banyak atas koreksinya ya.. ntar konsep surat dan verbalnya akan 
segera saya perbaiki (he..he..). Saya memang terkadang salah dan lupa (nebak 
rio_toanto/akal mbuluz saja juga salah ternyata, tapi di Denpasar kayaknya 
(Arisyanto ya..). Al insaanu mahalull khoto' wanissiyaan...Itulah perlunya 
teman dan orang lain, saling mengisi celah dan menutupi kekurangannya. Sekali 
lagi, terima kasih. 

Katur Bli I Gede Made Artha Dharmakarja sane wangiang titiyang, ken-ken kabare? 
Becik-becik maten? Sinampure nggih, tiyang ngesap..tenuning..Jani, sube kude 
panakne?

Selamat juga Buat Dayu Rusanto "Meteo", pasangannya Yenny Abdullah di 
Pacitan..Sorry Dory Mory ya..Lupa Lupita Lopez nich...



----- Original Message ----
From: Maryono Toang <[EMAIL PROTECTED]>
To: [email protected]
Sent: Monday, 30 April, 2007 10:22:32 AM
Subject: Re: [Perbendaharaan List] Balasan Apakah saya pindah ke Menko?

Assalamu'alaikum Wr. Wb

Membaca tulisan/jawaban Mas Kobir (saya manggilnya mas
kobir aja ya) membuat saya bangga menjadi teman Mas
Kobir. Mas telah mencerminkan kualitas sebagai
Pribadi yang cerdas secara Intelektual, maupun
spiritual dan satu hal yang membuat saya kagum 
adalah rasa "care" yang begitu besar mas terhadap
temen2 (baik seangkatan maupun tidak).

terus terang saya selama ini saya hanya sebagai
pembaca dari tulisan, uneg-uneg, ataupun curhat dari
anggota millis, namun setelah membaca tulisan-tulisan
mas kobir, memancing saya untuk mengakhiri
kekonsistenan saya sebagai pembaca yang baik...
Menurut pendapat saya, millis akan lebih berguna
apabila digunakan sebagai ajang bertukar pikiran... 
silaturahmi, ataupun sharing pengalaman.. daripada
sebagai ajang keluh kesah, apalagi sebagai sarana
debat kusir yang tak jelas juntrungannya. ..
Namun demikian saya tidak anti yang suka mengeluh atau
debat kusir bagaimanapun itu merupakan bagian dari
ekspresi diri yang perlu dihargai dan didengar...

Membaca tulisan Pak Hari, Pak Budisan, Mas Kobir, Dik
Moudy (kita satu kelas waktu UPKP V.. inget nggak ya
?)... terus Dik Acep Hadinata (jadi inget waktu KPPN
Palopo dibantai 8-0 sama KPPN Pare-Pare).. . membuat
kita mendapat pencerahan paling tidak kita mendapat
informasi yang up to date tentang organisasi kita ke
depan...
Walaupun saat ini mungkin ide atau pemikiran
beliau-beliau belum "dipakai" oleh DJPB siapa tahu
suatu saat ide terpakai dalam rangka memperbaiki DJPB
tercinta..

Terakhir saya ingin mengoreksi Mas kobir istri saya
bukan dari Poso (Sulteng) tetapi dari Palopo
(Sulsel)... dan PATI itu bukan Bumi Mina Padi tetapi
Bumi Mina Tani... oh tambahan informasi temen kita
yang udah eselon IV selain yang udah disebutkan ada
tambahan.. Mas Dayu Rusanto di ternate dan IGMA
Dharmakarya di Ambon....
Oh ya sebagai tambahan.. Toang pada nama saya itu
pemberian dari "Wiwid" Putra Pak Arwiyanto Aripi (jago
bola) sewaktu menjadi Kasubbag Umum KPKN Palopo ...
kami tinggal serumah dengan beliau.. 

Wassalam
Maryono
dari Kota Cantik Palangka Raya 
--- moch kobir <[EMAIL PROTECTED] com.au> wrote:

> Assalamualaikum Wr. Wb.
> 
> Sahabatku-sahabatku ,
> 
> Izinkan saya perkenalkan Pak Zaenal Abidin kepada
> para milist, beliau berasal dari Cirebon, adalah
> teman seangkatan dengan usia termuda nomor dua
> setelah Burju Antony Swardy Simatupang-Istri Namboru
> Windarty A. Siallagan, MA-angk.96 (Hepeng na
> mambangon nagaraon, Lai!). Jadi, beliau2 akan
> pensiun paling akhir dibandingkan temannya, dengan
> asumsi eselonnya sama. Secara fisik, "dulu" seperti
> cover boy, tetapi jadi pegawai negeri. Yang
> beruntung mempersuami adalah Ce' Siti Nur Haliza, eh
> Siti Nur Azizah (angk.94) setelah dengan sukses
> "dimakcomblangi' Pak Solihin (beliau setelah jadi
> Kabu Kanwil Papua sekarang di mana ya?). Saya
> menghadiri "pesta kebun" perkawinan Pak Zaenal waktu
> di Denpasar. Sudah berapa putra Pak Zaenal sekarang?
> 
> Kalau Pak Maryono, asal Batangan, Bumi Mina Padi
> PATI. Lulusan S2 Undip dengan IPK 3,8-an (masya
> Allah). Pak Maryono, feeling saya untuk tahun
> berikutnya setelah Pak Suminto dan Pak Moudy, Pak
> Maryono yang dapat lho(amiin). Ayo tunjukkan
> angkatan kita ada yang S3 dong, kalau saya khan
> sudah memenuhi tantangan teman seangkatan yang bisa
> ke luar negeri (belum lulus sih.., lagian sudah
> mulai ABCD, alias AhBooCapeeDeeh) ....Pak Maryono ini
> (kok sekarang ada Toang-nya), teman satu kamar saya
> waktu magang, kost di atas atap seng di Percetakan
> Negara dengan Hardiyanto, waktu itu sebulan 150 ribu
> dibagi 3. NIP-nya, selisih sedikit dengan NIP saya
> yang 060082152, (selisih kurang dari 10-ya?, soalnya
> saya bukan Mama Lorentz). Orangnya baik hati dan
> tidak sombong, cerdas cermat bersahaja, rajin
> trampil dan ceria. Istrinya orang Poso, jago
> analysis soal seperti ini: Jika 5 dokter tidak boleh
> dipasangkan dengan 4 perawat, siapakah pasiennya?.
> Ingat waktu duduk disebelahku pas ujian TPA
> UPKP V, lupa matiin HP/calculator dan disemprot
> pengawas gak? Waktu itu, Bang Cimod duduk paling
> belakang, belajar buku TPA terus, saya belum berani
> kenalan sih, malu...Dulu saya nggak tahu tes verbal,
> analysisTPA itu apa, lha katanya kalau TPA untuk
> mengukur kecerdasan, jadi nggak perlu belajar, ya
> saya nggak belajar, eh..tahu tahunya teman mbahas
> banyak yang ambil dari buku TPA, nyesel juga..untung
> lulus ya..he he..
> 
> Pak Zaenal, kalau anak saya baru dua. Pertama,
> Farchan Sobirul Muttaqin 7th (artinya: Orang yang
> taqwa dan sabar akan bahagia) yang kedua Taffania
> Diva Qur'ana 4th(artinya: Anak Cantik yang ahli
> Alqur'an. Saya ingin dia bisa jadi hafidzah seperti
> kakak pertama saya, atau jika mungkin seperti adik
> kelas idola saya, al-hafidz DUL ARIEF -hafal alquran
> 30 juz-the best DIII Pajak-1995, the best DIV STAN
> pada masanya-dan sekarang dapat S2 di ANU
> Australia). Istri saya, bernama Nihayatun Ulfa
> (artinya: Anak Terakhir yang Ramah dan Ceria).
> Mereka semua bersama saya di Australia.
> 
> O ya sekedar saran buat milisi (istilah Mang Junas,
> sang Jurnalis Majalah Purnawarman dan Anggaran),
> kalau punya anak, dan ingin suatu saat mereka
> sekolah ke luar negeri, sebaiknya nama anak jangan
> panjang2, juga jangan cuma satu kata. Ribet dengan
> surename, given name, family name, last name, first
> name. Cukup 2 kata saja, lebih baik nama belakang
> nama ayah. "Adithya Ramaputra", atau "Iqbal Zaenal
> (Iqbal, anaknya Pak Zaenal).
> 
> Anyway, saya ingin mengucapkan selamat dari lubuk
> hati yang paling dalam atas dilantiknya menjadi
> eselon IV bersama teman-teman seangkatan yang lain,
> urut abjad ya..(Pak Mahfud, Pak Maryono, Pak Mohd.
> Zeki Arifuddin, Pak Tunggul Yunanto, Pak Haris
> Effendi, dan ada yang lain-kah?). Maaf, mungkin
> sangat terlambat karena saat SK tersebut keluar,
> saya sudah di luar negeri, dan belum jadi member
> media "one clik mouse silaturahmi" (Hadinata, A.
> 2007). Halah, "kaku" dan "wagu" juga nyebut teman
> sekelas dengan Pak, tapi tak apalah membiasakan diri
> dan membahasakan diri kalau ada anak buahnya anggota
> milist juga. Semoga amanah tersebut bisa dijalankan
> dengan sebaik-baiknya, lebih baik lagi daripada
> pendahulu-pendahulu nya. Semoga promosi tersebut
> memberikan perubahan ke arah yang lebih baik. Amin.
> 
> Kedua, penjelasan tentang pelantikan saya di Menko
> Perekonomian. Sekaligus menjawab ssst..nya dari Mang
> Junas (Mang, jangan ssst galo mak itu na, cak apo
> bae..to the point, cak mano, tanya langsung, akan
> saya jawab. Jangan merajuk tuo yo...he he he).
> Katanya mau belajar transparan dan akuntabel. Begini
> asbabun nuzulnya, semoga ada hikmah dan pelajaran
> yang bisa dipetik oleh kita semua:
> 
> 1. "Apakah usul Interview of Leaving ada kaitannya
> dengan pengalaman ke Menko Perekonomian? "
> 
> Sesungguhnya, itu lebih kepada berpikir ke depan
> untuk mengantisipasi migrasi yang berikutnya dan
> untuk memberi salah satu solusi untuk kebaikan kita
> semua. Namun demikian, kalau dikait-kaitkan ya
> memang ada hubungannya dengan pengalaman itu.
> 
> 2. "Bagaimana ceritanya ke Menko Perekonomian? "
> 
> Pada sebuah kesempatan, setelah lulus D4, saya
> ditawari secara lisan oleh Bapak Drs. Soetijono,
> M.Si, dulu dosen Administrasi Bantuan Luar Negeri di
> STAN Prodip tahun 94-95, mungkin dosennya Mang Junas
> juga, mungkin dulu teman sekelasnya Pak Hari Ribawa.
> Beliau orang Anggaran, menjadi eselon II di Menko
> Perekonomian saat itu. Kurang lebih begini,"Saya
> perlu tenaga eselon IV yang berkualitas, kerjanya
> ikhlas, mau kerja keras, dan cerdas sebagai
> syaratnya. Selain itu minimal harus sudah berpangkat
> III/b, sudah lulus S2 dan lulus UPKP VI jika dari
> DN. Menko tidak ada supply human resources seperti
> Depkeu, biasanya minta dari Depkeu atau Dep./Lembaga
> lainnya. Saya juga sudah menawari Achmat Subekan
> (lulusan terbaik DIII Anggaran 1995, sudah III/b,
> lulus S2 dan UPKP VI, guru "spiritual" dan sahabat
> saya lahir-batin) , tetapi dia sudah lebih dahulu
> diterima sebagai widyaiswara di BPPK sebelum saya
> tawari. "Apakah kamu mau?", tanya beliau. Karena
> saya tidak menyangka dan kaget,
> saya tidak langsung menjawab, tetapi saya
> istikharah dulu dan diskusi dengan istri. Hingga
> pada beberapa hari kemudian, saya jawab, "Saya siap
> bekerja di mana saja Pak, tetapi satu syarat prinsip
> yang harus dipenuhi adalah "pengambilan" saya harus
> sepengetahuan dan seizin atasan saya (sekretaris
> DJPB) "jawab saya kemudian. Beliau bilang akan
> mengurus surat permintaannya dan saya pasif tidak
> pernah memikirkan lagi. Di Menko alhamdulillah, di
> DJPB alhamdulillah. 
> 
> Hingga pada suatu saat, ada teman yang bekerja di
> kepegawaian Setjen Depkeu telepon "Dik Kobir mau
> pindah ke Menko ya, kok tadi saya lihat surat yang
> meminta nama kamu?". "Tidak tahu, Bu, mungkin saja".
> Setelah itu, saya terpaksa sekali bertanya ke
> kasubbag mutasi kepegawaian, disela-sela
> kesibukannya yang sangat padat karena saya
> ditempatkan sementara di kepegawaian. Dijawab
> singkat: " Tidak tahu". Saya langsung maklum,
> mungkin saat itu belum sampai ke beliau, mungkin
> masih di meja Sekretaris, mungkin rahasia jabatan.
> Cuma setelah itu, sesekali saya pernah disindir sama
> Pak Taukhid, "Kobir sudah tidak mau lagi bekerja di
> DJPB", saya cuma diam tidak bisa berkata apa, lha
> wong proses dan suratnya juga tidak tahu. 
> 
> Minggu berganti minggu, bulan berganti bulan, saya
> tidak tahu bagaimana prosesnya, saya percaya dan
> pasrahkan pada Allah dan semua yang berwenang yang
> terbaik buat saya, kalau lancar ya lancar, kalau
> tidak, pasti ada saja halangannya (saya tidak mau
> mengganggu wewenang dan kerahasiaan kepegawaian) ,
> hingga suatu saat saya mendapat surat dinas
> panggilan untuk pelantikan dari Menko Perekonomian
> yang menyebut dengan lengkap nama saya, tempat dan
> tanggal pelantikan, baju yang harus dipakai. Saya
> konfirmasi secara lisan ke kepegawaian Menko,
> "apakah ada surat resmi persetujuan saya dari DJPB?"
> Mereka jawab ada, tetapi saya tidak minta copy surat
> resminya. Setelah menerima surat panggilan
> pelantikan, saya lapor dan diskusikan duduk
> perkaranya, dengan atasan2 langsung saya, kasubbag
> dan Kabag OTL, secara prinsip beliau mendukung dan
> menyerahkan kepada saya karena itu promosi. Karena
> diundang, maka saya pun hadir dalam pelantikan
> eselon IV di sore itu, waktu ketemu Pak Zaenal
> "tertegun". 
> 
> Saya juga belum pernah punya pengalaman "lintas
> ditjen/departemen/ eselon" seperti yang disarankan
> Acep Hadinata, belum ada basis kompetensi lintas
> ditjen, dan tidak ada orang yang bisa saya tanya dan
> "sharing"pengalaman nya karena terlalu jauh jaraknya
> untuk berkomunikasi. Saya cuma melihat "pattern" Pak
> Taukhid, Pak Sis, dan Pak Nas pernah di BAKUN dan
> lainnya, Pak Rochjadi pernah di BAF, Pak Anshari
> dari DJP masuk DJA, dosen saya itu dari DJA ke Menko
> Perekonomian, Prof. Boediono dari Menkeu jadi Menko
> dan banyak contoh yang lainnya. Saya cuma belajar
> dari melihat dan mendengar, tetapi tidak menanyakan
> langsung asbabun nuzulnya ke yang bersangkutan.
> "Guru kencing duduk, ya murid kencing duduk" karena
> mereka belum pernah berbagi pengalaman, bagaimana
> cara duduk yang baik seperti mereka. Mungkin jika
> beliau-beliau jadi anggota milis perbendaharaan,
> sahabat dekatnya, atau siapa saja yang tahu persis,
> dengan senang hati pasti saya dan anggota milist
> bisa belajar dari
> pengalaman mereka. "Oo mungkin apa yang saya alami
> sekarang, seperti yang mereka alami pada masanya,"
> pikir 
=== message truncated ===

____________ _________ _________ _________ _________ __
Do You Yahoo!?
Tired of spam? Yahoo! Mail has the best spam protection around 
http://mail. yahoo.com 



Send instant messages to your online friends http://au.messenger.yahoo.com 

[Non-text portions of this message have been removed]

Kirim email ke