Memang sudah nasibnya para alumus UT. Sudah susah payah lulusnya,
ijasahnya ggak dihargai. Mungkin saja pejabat di pengembangan masih
model2 pejabat 'JADUL' minjem istilahnya Mas Khobir. Alias Pejabat
jaman dulu yang gak pro perubahan. Saya setuju dg Setyo Utomo. Mas ato
dik saya gak tahu. Lulusan UT soal kualitas bisa ditandingkan dengan
lulusan PT yg lain. Saya sendiri lulusan UT. Beberapa tahun yg lalu
ketika Subbag Pengembangan Pegawai ngadain test TPA buat para sarjana
di DJPBN saya memperoleh nilai yg bagus. Dari 500 an yg ditest saya
diurutan 70 an. Jadi menurut saya lulusan UT layak untuk ikut test bea
siswa S2. Buat subbag pengembangan pegawai; anda jangan jadi pejabat
JADUL. Buktikan anda pro perubahan. Buat alumni UT; mari kita galang
kekuatan dan kekompakan utnuk mendobrak tradisi yang kolot ini

--- In [email protected], SETYO UTOMO <[EMAIL PROTECTED]>
wrote:
>
> Program S1 dan S2 Ditjen Perbendaharaan adalah gebrakan yang cukup
bagus yang dibuat Bag. Kepegawaian. Dengan Bea Siswa yang khusus
diberikan untuk Pegawai DJPBN akan memberikan kesempatan
seluas-luasnya bagi pegawai DJPBN untuk mengembangkan karirnya.
> 
> Namun ada bebarapa persyaratan yang tidak bisa mengakomodir semua
aspirasi pegawai, seperti:
> 1. Untuk Lulusan D1 yang mau ke S1 tidak bisa ikut mendaftar, karena
terkendala harus D3
> 2. Untuk Lulusan S1 UT yang mau ke S2 tidak bisa ikut mendaftar
karena terkendala IP dan Tofel
> 
> Mungkin akan lebih baik jika persyaratannya dibuat terbuka saja,
semua lulusan D1 bisa ikut mendaftar demikian juga dengan Semua
lulusan S2 tanpa syarat IP dan Tofel. Jadi yang penting punya ijazah
/D1/D3/S1. Tidak perlu ada persyaratan tambahan yang akan yang bisa
menimbulkan kecemburuan sosial.
> 
> Belum tentu juga yang lulusan D1 lebih "bodoh" daripada D3, demikian
juga untuk lulusan S1 UT yang rata-rata IPnya rendah belum tentu 
lebih  bodoh daripada  lulusan  Ektension  atau  Swasta.
> 
> Bahkan kalau boleh saya ngomong lulusan UT itu, kualifikasi
lulusannya lebih bagus daripada lainnya, karena rata-rata untuk bisa
lulus itu benar-benar perlu usaha keras.  Hal ini berbeda sekali
dengan Lulusan Ektension atau Swasta, yang kadang-kadang IP dan Ijazah
bisa dibeli. (Maaf..tidak semua sih, cuma kebanyakan).
> 
> Kalau nggak percaya, coba lihat saja yang lulus UPKP V, kebanyakan
adalah lulusan UT. Karena apa? karena Sistem belajarnya UPKP sama
dengan UT, jadi bukan hal yang aneh bagi lulusan UT.
> 
> Mungkin yang dikhawatirkan Bag. Pengembangan Pegawai jika
persyaratannya dibuat terbuka adalah jumlah pendaftar akan membludak.
 Sebenarnya hal tersebut tidak perlu  dijadikan alasan, toh belum
tentu juga pendaftarnya akan membludak. Kenapa?
> 1. Untuk  ikut Tes  dibutuhkan Rokumendasi dari Kepala Kantor  dan
biayanya  juga ditanggung sendiri. 
> 2. Bukankah semakin banyak yang mendaftar,  kualitas lulusannya akan
lebih baik. Jadi kenapa harus dibatasi.
> 
> Kesimpulannya: Almamater lulusan dan IP tidak bisa dijadikan patokan
untuk memilih Pegawai yang Handal dan Berkualitas. Mudah-mudahan ini
bisa jadi masukan bagi Pengembangan Pegawai. 
>  Kenapa harus khawatir? bukankah selama Tes biaya   
> 
>    
> irh mut <[EMAIL PROTECTED]> wrote:                                 
Assalamu'alaikum wrwb
>    Beasiswa S1 dan S2 udah dibuka kembali....
>    maksud hati ingin sekali ikut serta seleksi beasiswa S1, namun
ternyata  syarat tidak memungkinkan...apakah bapak bapak di
pengembangan  kepegawaian tidak bisa mengubah syarat khusus sehingga
bisa  mengakomodir lulusan D1 untuk dapat juga menikmati beasiswa
tersebut???  mungkin saja temen temen lulusan D1 memiliki kualifikasi
yang lebih  baik dari pada D3 hehehehe...meskipun mungkin pertimbangan
lama  pendidikan menjadi hal pokok dalam beasiswa S1 tersebut. namun
sekali  lagi terima kasih untuk Ditjen Perbendaharaan atas adanya
beasiswa  tersebut................
>    
>    love from Banda Aceh
>  
>  wassalam
>  angga firmansyah <[EMAIL PROTECTED]> wrote:                      
                           wah kayaknya boleh juga.. biar kita bisa
mengkritik 
>    sekalian tentang peraturan" yg keluar ato menanyakan 
>    peraturan" yg dirasa blm jelas... tapi siapa yg mo bikin 
>    ???
>    
>    On Fri, 27 Apr 2007 04:01:37 -0000
>      "amirsyahya" <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
>    > Sekadar usul,
>    > kayaknya perlu dibentuk semacam LBH atau organisasi or 
>    >forum yang 
>    > mungkin bisa mengasistensi para pegawai DJPBN untuk 
>    >"melawan" atau 
>    > mengkritisi kebijakan DJPBN yang dirasakan tidak adil, 
>    >tentu saja 
>    > terlebih dahulu semua permasalahan dikaji secara 
>    >mendalam. Bila hasil 
>    > kajian menyimpulkan suatu kebijakan tidak adil, 
>    >bertentanan dengan 
>    > HAM,hukum dan peraturan yang lebih tinggi maka bisa 
>    >ditempuh jalur 
>    > semacam somasi, permintaah klarifikasi hingga menuntut 
>    >ke PTUN.
>    > 
>    > Masalahnya kita perlu orang2 yang mengerti hukum or 
>    >lawyer yang murah 
>    > apalagi gratisan. Apa ada yang tahu LBH yang bisa diajak 
>    >kerjasama?
>    > 
>    > Gimana? Apa perlu kita bentuk lembaga/forum asistensi 
>    >ini?
>    > 
>    > 
>    > 
>    > 
>    > Yahoo! Groups Links
>    > 
>    > 
>    > 
>    
>    ----------------------------------------------------------
>    Mari bergabung dalam e-community kami di www.manggamuda.com  .
Kamu akan bertemu teman-teman baru, berbagi cerita, mendapatkan 
info-info menarik dan masih banyak lagi hal-hal menarik lainnya.
Tunggu  apa lagi, buruan ke ManggaMuda!!! See you there :)
>    ----------------------------------------------------------
>    
>        
>                                      
>  
>  ---------------------------------
>  Ahhh...imagining that irresistible "new car" smell?
>   Check outnew cars at Yahoo! Autos.
>  
>  [Non-text portions of this message have been removed]
>  
>  
>      
>                        
> 
>        
> ---------------------------------
> Kunjungi halaman depan Yahoo! Indonesia yang baru!
> 
> [Non-text portions of this message have been removed]
>


Kirim email ke