Musuh kita adalah SETAN, baik yang berwujud jin ataupun manusia... ia
tidak ada dalam diri kita... ia membisikan kejahatan pada hati kita
tapi ia tidak ada dalam diri kita...please deh ah.. anak gaul aja tau
kok..

--- In [email protected], Luthfie akmal
<[EMAIL PROTECTED]> wrote:
>
> Terima kasih Mas Budi, untuk nasihatnya.
> 
> Saya jadi teringat ucapan seorang Ulama' mujtahid mutlak, peletak
dasar ilmu Ushul Fiqh, yang kepakarannya diakui oleh para ulama' di
jamannya sampai sekarang: Imam Asy-Syafi'i Rahimaahullaah. Beliau
tidak pernah menganggap pendapatnya selalu benar dan memposisikan
dirinya paling tahu. Salah satu ungkapannya yang terkenal adalah "Fa
idza shahhal hadits, fa huwa madzhabi." Yang artinya kurang lebih
apabila ada hadits shahih maka itulah madzhab beliau, yang bermakna
bahwa apabila ada ijtihad beliau yang berbeda dengan hadits shahih,
maka yang benar adalah hadits shahih tersebut. Atau juga perkataan
para ulama' ketika berbeda pendapat, "Pendapat saya bisa jadi benar,
tapi bisa jadi ada kesalahan di dalamnya. Pendapat dia bisa jadi
salah, tapi bisa jadi ada kebenaran didalamnya."
> 
> Allaahu a'lam
> Salam diskusi sehat
> Luthfie
> 
> ----- Original Message ----
> From: Budi Santoso <[EMAIL PROTECTED]>
> To: [email protected]
> Sent: Tuesday, May 8, 2007 10:37:18 AM
> Subject: [Perbendaharaan List] Musuh Kita Ada Dalam Diri (Teman) Kita
> 
> 
> 
> 
> 
> 
> 
> 
> 
>   
> 
> 
>     
>             Teman-teman anggota milis yang budiman,
> 
>    
> 
>   Dalam banyak hal musuh kita itu sebenarnya, kita sadari atau
tidak,  ada di dalam diri kita atau teman kita.  Meskipun banyak di
antara kita yang menunjuk orang, kaum atau bangsa (pencuri, kafir,
Amerika) sebagai musuh kita, saya lebih suka menunjuk pada sifat,
perilaku dan kebijakan (policy) sebagai musuh kita.  Malas, dengki,
pendendam, otoriter dan korup adalah contoh sifat dan perilaku manusia
yang seringkali kita akui sebagai musuh kita. 
> 
>    
> 
>   Ketika kita melihat musuh-musuh kita tersebut ada di dalam diri
kita, biasanya kita bersikap lebih toleran, memaafkan, atau mencari
solusi untuk menghilangkannya secara persuasif/gradual dari dalam diri
kita.  Namun, ketika kita melihat mereka ada di dalam diri orang lain
seringkali kita mengidentikkan orang lain tersebut dengan musuh-musuh
kita. Dengan kata lain, kita cenderung menghakimi atau memandang orang
lain tersebut, bukan sifat dan perilakunya, sebagai musuh kita. 
Bahkan meskipun sebenarnya kita juga melihat banyak hal sama antara
kita dan orang lain tersebut, kita cenderung melupakan persamaan
tersebut yang barangkali kita anggap sebagai sesuatu yang sudah
semestinya (given) sehingga tidak perlu dibahas/diperhatika n lebih
lanjut. Padahal semestinya kita bisa bersikap lebih adil seandainya
kita mampu memilah antara musuh kita dan teman kita yang ada di dalam
diri kita dan juga yang ada di dalam diri teman kita.  
> 
>    
> 
>   Sebagai ilustrasi, beberapa waktu lalu saya mendengar seseorang
berkata (dalam suatu acara di TV) "Saya tidak setuju poligami tetapi
saya menghargai praktek poligami yang dilakukan oleh Aa Gym, dan dalam
banyak hal saya masih menganggap Aa Gym sebagai idola saya".   Secara
jelas kita melihat bahwa bagi orang tersebut Aa Gym (dalam banyak hal)
merupakan tokoh panutan, kecuali praktek poligami (yang sesuai dengan
keyakinannya tidak akan ia ikuti). Selain itu, ia juga menghargai
praktek poligami sebagai hak individu.  Kecuali seandainya dalam
praktek poligami tersebut terdapat unsur paksaan, maka ia akan
memasuki domain publik karena telah melanggar hak individu orang lain
(yang dipaksa).    
> 
>    
> 
>   Sekarang mari kita lihat contoh di sekitar (DJPB) kita. Sekitar
dua tahun lalu (tepatnya menjelang hari lebaran) saya pernah secara
vocal memprotes kebijakan Sekditjen (pak Siswo) tentang larangan cuti
lebaran di luar cuti bersama bagi para pegawai DJPB (kecuali untuk
alasan penting karena keluarga meninggal dsj) yang saya yakin akan
sangat merugikan bagi teman-teman kita yang bekerja di daerah nun jauh
di sana (sudah dipaksa cuti bersama, lalu dilarang nabung untuk nambah
cuti lebaran).  Saya berpendapat akan lebih baik seandainya
pelaksanaan cuti (sebelum dan setelah) lebaran diserahkan sepenuhnya
kepada Direktur/Kakanwil untuk mengaturnya karena merekalah yang
paling tahu persis di lapangan tentang kebutuhan pegawai.
Alhamdulillah, kebijakan tersebut tidak diberlakukan lagi pada lebaran
tahun lalu
> 
>    
> 
>   Namun satu hal yang penting dicatat bahwa protes saya terhadap
Sekditjen tersebut sama sekali tidak menghapus kekaguman saya kepada
beliau (yang notabene juga merupakan salah satu arsitek utama pola
mutasi DJPB) khususnya terkait dengan sikap/upaya kerasnya untuk
menolak keberadaan dan peran konsultan asing (termasuk intervensinya)
yang sangat dominan dalam suatu proyek pengembangan sistem manajemen
keuangan berbasis IT yang dibiayai melalui pinjaman LN (walaupun teman
saya secara berseloroh mengatakan bahwa jangan-jangan konsultan asing
tersebut ditolak karena ia sendiri sebenarnya yang ingin menjadi
konsultan).  Saya juga respek terhadap sikap kerasnya memegang prinsip
keilmuan yang  diyakininya sehingga rela mengurbankan gelar S3nya di
Perancis dan juga di Unpad yang menurut beliau (kalau bersedia
mengalah pada sang dosen) sudah ada dalam genggaman. Demikian pula
saya juga respek terhadap peringatan Sekditjen sebelumnya tentang
ketidaksiapan MPN untuk dilaunching yang
> 
>  akhirnya terbukti dengan munculnya permasalahan MPN yang hingga
sekarang belum dapat diselesaikan secara tuntas.  
> 
>    
> 
>   Tetapi tentu saja saya tidak ingin memuji Sekditjen tanpa kritik
sama sekali. Beberapa waktu lalu saya mengkritik beliau terlalu PD
(over confident) ketika awal tahun lalu mengatakan tentang rencana
revolusi aplikasi/database (yang rencananya akan dimotori oleh Bu
Wiwieng) dalam waktu hanya tiga bulan.  Demikian pula ketika di depan
Bu Menteri beliau menyanggupi/ menjanjikan target implementasi KPPN
Prima pada bulan Juli 2007.
> 
>    
> 
>   Kepada semua teman anggota milis ini saya berpesan, marilah kita
berdiskusi dengan argumen yang rasional dan dengan hati yang
dingin/sejuk. Sebaiknya hindari diskusi-diskusi yang cenderung selalu
menempatkan orang dalam keranjang sampah (selalu salah) atau selalu
menempatkannya ke dalam mitos (selalu benar).  Marilah kita biasakan
menghadapi dan melayani musuh kita sebagai teman kita yang dalam
dirinya terdapat musuh dan sekaligus juga teman-teman kita.
> 
>    
> 
>   Selamat berdiskusi.
> 
>    
> 
>   Salam,
> 
>   budisan      
> 
> 
> 
> ------------ --------- --------- ---
> 
> Ahhh...imagining that irresistible "new car" smell?
> 
>  Check outnew cars at Yahoo! Autos.
> 
> 
> 
> [Non-text portions of this message have been removed]
> 
> 
> 
> 
> 
>     
>   
> 
>     
>     
> 
> 
> 
> 
> <!--
> 
> #ygrp-mlmsg {font-size:13px;font-family:arial, helvetica, clean,
sans-serif;}
> #ygrp-mlmsg table {font-size:inherit;font:100%;}
> #ygrp-mlmsg select, input, textarea {font:99% arial, helvetica,
clean, sans-serif;}
> #ygrp-mlmsg pre, code {font:115% monospace;}
> #ygrp-mlmsg * {line-height:1.22em;}
> #ygrp-text{
> font-family:Georgia;
> }
> #ygrp-text p{
> margin:0 0 1em 0;}
> #ygrp-tpmsgs{
> font-family:Arial;
> clear:both;}
> #ygrp-vitnav{
> padding-top:10px;font-family:Verdana;font-size:77%;margin:0;}
> #ygrp-vitnav a{
> padding:0 1px;}
> #ygrp-actbar{
> clear:both;margin:25px
0;white-space:nowrap;color:#666;text-align:right;}
> #ygrp-actbar .left{
> float:left;white-space:nowrap;}
> .bld{font-weight:bold;}
> #ygrp-grft{
> font-family:Verdana;font-size:77%;padding:15px 0;}
> #ygrp-ft{
> font-family:verdana;font-size:77%;border-top:1px solid #666;
> padding:5px 0;
> }
> #ygrp-mlmsg #logo{
> padding-bottom:10px;}
> 
> #ygrp-vital{
> background-color:#e0ecee;margin-bottom:20px;padding:2px 0 8px 8px;}
> #ygrp-vital #vithd{
>
font-size:77%;font-family:Verdana;font-weight:bold;color:#333;text-transform:uppercase;}
> #ygrp-vital ul{
> padding:0;margin:2px 0;}
> #ygrp-vital ul li{
> list-style-type:none;clear:both;border:1px solid #e0ecee;
> }
> #ygrp-vital ul li .ct{
>
font-weight:bold;color:#ff7900;float:right;width:2em;text-align:right;padding-right:.5em;}
> #ygrp-vital ul li .cat{
> font-weight:bold;}
> #ygrp-vital a {
> text-decoration:none;}
> 
> #ygrp-vital a:hover{
> text-decoration:underline;}
> 
> #ygrp-sponsor #hd{
> color:#999;font-size:77%;}
> #ygrp-sponsor #ov{
> padding:6px 13px;background-color:#e0ecee;margin-bottom:20px;}
> #ygrp-sponsor #ov ul{
> padding:0 0 0 8px;margin:0;}
> #ygrp-sponsor #ov li{
> list-style-type:square;padding:6px 0;font-size:77%;}
> #ygrp-sponsor #ov li a{
> text-decoration:none;font-size:130%;}
> #ygrp-sponsor #nc {
> background-color:#eee;margin-bottom:20px;padding:0 8px;}
> #ygrp-sponsor .ad{
> padding:8px 0;}
> #ygrp-sponsor .ad #hd1{
>
font-family:Arial;font-weight:bold;color:#628c2a;font-size:100%;line-height:122%;}
> #ygrp-sponsor .ad a{
> text-decoration:none;}
> #ygrp-sponsor .ad a:hover{
> text-decoration:underline;}
> #ygrp-sponsor .ad p{
> margin:0;}
> o {font-size:0;}
> .MsoNormal {
> margin:0 0 0 0;}
> #ygrp-text tt{
> font-size:120%;}
> blockquote{margin:0 0 0 4px;}
> .replbq {margin:4;}
> -->
> 
> 
> 
> 
> 
> 
> 
> __________________________________________________
> Do You Yahoo!?
> Tired of spam?  Yahoo! Mail has the best spam protection around 
> http://mail.yahoo.com 
> 
> [Non-text portions of this message have been removed]
>


Kirim email ke