renungan hari Jumat, dari milis sebelah
  mudah-mudahan menambah wawasan dalam menilai dan memandang fenomena yang 
ada......
  Burung yang Malang 


Dhahak Ad Damiri berpamitan pada gurunya untuk pergi berniaga. Raut wajahnya 
tampak menyesali diri lantaran tidak bisa mengikuti kajian Ibrahim bin Adham, 
sang gurunya secara runut. Ia mesti memenuhi keperluan hidupnya dengan 
berdagang mengelilingi berbagai penjuru negeri. Biasanya Dhahak berdagang 
hingga beberapa waktu. Kadang sebulan, seminggu atau beberapa hari. 

Kepergiannya untuk berdagang yang memerlukan waktu cukup lama ia lazimkan 
selalu memohon pamit pada gurunya. Hal ini dilakukan sebagai bentuk 
penghormatan dan berharap do'a keberkahan yang dipanjatkan sang guru untuknya. 

"Ya syaikh, saya mohon izin tidak bisa mengikuti kajian seperti biasanya karena 
saya akan pergi mencari karunia Allah SWT di muka bumi ini. Tolong do'akan agar 
saya tetap di jalanNya dan dagangan saya diberkahi Allah SWT," pinta Dhahak 
pada gurunya. 

"Silahkan ya Dhahak, semoga keberkahan Allah SWT selalu menyertai langkah dan 
kehidupanmu. Namun janganlah kau lupa untuk selalu menunaikan hak-hak Allah SWT 
yang ada pada dirimu," syaikh memberikan peringatan untuk muridnya. 

Tak lama kemudian berangkatlah Dhahak untuk menunaikan kewajibannya. Hingga ia 
berhenti menyaksikan peristiwa yang amat menakjubkan dirinya. Rupanya Dhahak 
sedang tertegun menyaksikan seekor burung yang malang. Burung tersebut patah 
kedua sayapnya dan pincang kedua kakinya. 

"Kasihan sekali burung malang itu," ibanya dalam hati. 

"Mungkin burung itu menjelang ajal," pikir Dhahak. 

Ia pun memperhatikan betul gerak demi gerak dari burung itu. Ia berpikir 
bagaimana burung itu akan bisa melanjutkan hidupnya. Kedua sayapnya patah. 
Padahal fungsi sayap bagi seekor burung sangatlah vital untuk bisa menjalani 
hidupnya. Menjangkau dari satu wilayah ke wilayah yang lain. Kedua kakinya pun 
patah. Bagaimana burung itu bisa melangkah untuk mencari bekal hidup. Pikir 
Dhahak ad Damiri sembari memperhatikan nasib burung malang itu. Bagaimana 
burung itu bisa melanjutkan hidupnya untuk hari ini. 

Akan tetapi beberapa waktu kemudian datanglah burung lain yang masih sehat 
menyisakan makanan yang didapatinya untuk diberikan kepada burung yang malang 
itu. Maka burung itu pun memakan makanan yang diberikan kepadanya. Ia pun 
akhirnya bisa menikmati hidup ini. Tidak berapa lama kemudian ada burung 
lainnya yang juga memberikan makanan untuknya. Dan burung malang itu pun 
menyantap makanan yang diberikan kepadanya. Dan ternyata burung itu bisa 
melanjutkan ketentuan hidupnya. 

Dhahak pun berpikir, sebenarnya Tuhan telah menggariskan hidup seseorang dengan 
segala bentuknya. Hidup dan matinya, rezki dan kemalangannya, kesulitan dan 
kemudahannya. Ia merenung sejenak. Lalu buat apa saya susah-susah harus 
menyeberangi sungai, melintasi desa, melewati pegunungan kalau ternyata tuhan 
telah menentukan kehidupan bagi saya. Burung yang malang saja ternyata bisa 
melanjutkan hidupnya. Itulah kesimpulan yang diambil Dhahak setelah menyaksikan 
peristiwa berharga tersebut. Dari kesimpulan yang ia ambil, Dhahak pun 
memutuskan untuk kembali ke rumahnya dan ikut serta dalam kajian Ibrahim bin 
Adham. 

Sore harinya Dhahak pun sudah berada di majelis ilmunya Ibrahim bin Adham. Sang 
guru merasa heran pada muridnya. Kok sudah ada lagi Dhahak di sini. Apakah ia 
tidak jadi berangkat berdagang. Sebab biasanya ia pamit untuk beberapa lama 
meninggalkan majelis tersebut. Akan tetapi hari ini ia sudah berada di barisan 
muridnya. Ada apa gerangan ia tidak berangkat berniaga. Pikir sang guru 
terhadap muridnya. 

Sang guru, Ibrahim bin Adham pun menanyakan kerisauannya tersebut kepada 
muridnya. 

"Apakah kamu tidak jadi berangkat atau menunda keberangkatanmu, ya Dhahak?" 
tanya Ibrahim. 

"Iya ya syaikh, saya tidak jadi berangkat berdagang. Saya putuskan untuk 
mengikuti kajianmu saja," jelas Dhahak. 

"Ada apakah gerangan yang menyebabkan kau mengambil keputusan tersebut," 
selidik sang guru. 

Maka Dhahak pun menceritakan perihal burung yang malang yang ia saksikan secara 
seksama babak demi babak kehidupannya. Ia pun kemudian mengambil kesimpulan 
untuk kembali ke rumah dengan meyakinkan gurunya bahwa burung yang malang saja 
bisa melanjutkan hidupnya. Apalagi saya yang masih punya banyak kesempatan dan 
kemampuan pasti tuhan tetap memberikan bagiannya buat saya. Dhahak menjelaskan 
perihal keputusannya itu kepada Ibrahim bin Adham yang mendengarkan keterangan 
muridnya dengan tekun. 

"Kau keliru, ya Dhahak!" penegasan Ibrahim bin Adham atas kesimpulan sikap 
muridnya. 

"Seharusnya kau berpikir seperti burung yang sehat itu. Ia mencari karunia 
Allah SWT di berbagai tempat namun ia tidak pernah melupakan nasib saudaranya 
yang menderita dan kesusahan sehingga ia sisakan makanan yang dicarinya untuk 
saudaranya yang sakit tersebut," jelas sang guru. 

"Begitu pula pada dirimu, jangan menempatkan dirimu seperti burung malang itu. 
Seharusnya kau posisikan dirimu seperti burung yang sehat itu tapi ia berikan 
makanan untuk yang lain." 

"Oleh karena itu, ya Dhahak! Pergilah mencari karunia Allah SWT dan bagilah 
manfaat yang kau terima untuk orang lain," nasehat gurunya. 

Sebenarnya ajaran Islam telah banyak memberikan rambu-rambu yang jelas 
bagaimana menjadi muslim yang kaffah. Apalagi bila dikaitkan dengan eksistensi 
kita sebagai manusia. Bukankah Rasulullah SAW telah menyatakan bahwa 
sebaik-baik manusia adalah mereka yang bermanfaat bagi orang lain. Karena itu 
marilah kita menjadi produser kebaikan dan bukan menjadi komsumen terhadap 
kebaikan orang lain agar kebaikan selalu dalam keadaan surplus. 

*** 

"Tidak ada balasan kebaikan kecuali kebaikan (pula)." (QS. 55 : 60). 

"Dan carilah pada apa yang telah dianugerahkan Allah kepadamu (kebahagiaan) 
negeri akhirat, dan janganlah kamu melupakan bahagianmu dari (kenikmatan) 
duniawi dan berbuat baiklah (kepada orang lain) sebagaimana Allah telah berbuat 
baik kepadamu, dan janganlah kamu berbuat kerusakan di (muka) bumi. 
Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang berbuat kerusakan. (QS. 28 : 
77).

       
---------------------------------
Luggage? GPS? Comic books? 
Check out fitting  gifts for grads at Yahoo! Search.

[Non-text portions of this message have been removed]

Kirim email ke